Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Kasarnya di Telinga, Tapi Hangatnya di Hati: Tentang Logat, Malang, dan Rasa Pulang

Kasarnya di Telinga, Tapi Hangatnya di Hati: Tentang Logat, Malang, dan Rasa Pulang

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
28 Oktober 2025, 14.23 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Malang

JurnalPost.com - Terkadang, hal-hal kecil dalam hidup justru menyimpan arti yang tak terduga. Mungkin bagi sebagian orang, logat hanyalah cara berbicara. Namun bagiku, logat adalah jejak hati yang dimulai dari rasa asing, melewati jalan penerimaan, hingga bermuara pada keakraban yang tak ternilai. Dan itu semua berawal ketika saya menapakkan kaki di Malang, kota yang namanya terukir indah dalam nyanyian "Malang Suantai Sayang" milik Sal Priadi.

Kala itu, pertama kali menyapa Bumi Malang, saya merasa seperti tokoh utama dalam drama korea yang tiba-tiba pindah sekolah, ada rasa bingung, grogi, sekaligus excited. Bedanya, alih-alih membawa koper imut seperti di drama, saya malah menyeret dua koper jumbo ditambah ransel segede gaban. Kalau ada yang melihat, mungkin mereka mengira saya pindahan rumah, bukan sekadar merantau untuk kuliah.

IKLAN

Begitu sampai pesantren, hawa dingin Malang langsung menusuk kulit. “Oke, ini bukan kota saya,” batinku. Namun dalam hati juga ada bisikan, “Eh, bisa jadi kota kedua loh ini.” Malang dikenal sebagai Kota Pendidikan dan Kota Apel, tetapi bagi saya label yang paling tepat adalah Kota Logat. Sebab di sini, logat bukan sekadar bagaimana seseorang berbicara, melainkan identitas sekaligus cara diterima.

Relawan Kota Malang
Baca Juga

Rawat Diri agar Tetap Peduli: Relawan Kota Malang Ikuti Psikoedukasi “Bangkit Hati”

Hari pertama, kamar masih kosong. Awalnya terasa enak, sepi, dan bebas. Namun, menjelang sore satu per satu teman kamar berdatangan. Ada yang dari Jakarta, Pasuruan, Lamongan, Bondowoso, dan Malang. Malam itu, obrolan ringan pun pecah. Diva, anak Jakarta dengan gaya jakselnya nyeletuk, “Guys, lu pada tim tidur lampu on or off nih?” (Teman-teman, kalian kalau tidur suka lampu yang nyala apa mati).

Dengan sigap, Fahima yang asalnya dari malang menjawab lantang, “Yo jelas mati, rek! Lek lampune murup, ndas mumet!” (Ya jelas mati, kalau lampunya nyala kepala pusing) Saya terdiam, logatnya terdengar keras sekali, seperti sedang debat kusir. Belum sempat mencerna, Bian dengan logat khas kental Pasuruan ikut nimbrung, “Lek aku yo murup seh, soale lek mati yo wedi ae” (Kalau aku lampu nyala, karena kalau mati takut). Mereka ribut sambil tertawa, sementara saya hanya menjadi penonton. Awalnya mengira mereka sedang bertengkar, ternyata begitulah gaya bercandanya.

Hari-hari berikutnya terasa seperti ikut kursus bahasa gratis. Setiap pagi, suara teman-teman sudah riuh. Saat antre kamar mandi, tiba-tiba ada yang berteriak, “Hee, sopo rek ndek jedeng?” (Hei, siapa di kamar mandi?). Hampir saja sikat gigi terlepas dari tangan saya. Dengan pelan menjawab, “Saya… Syahida,” setengah takut. Tak disangka, yang bertanya malah menanggapi santai, “Ohh, koen sek sue ta?” (Oh, kamu masih lama?). Dalam hati menggerutu, “Ya Allah, ini bahasa planet apa lagi, ada koen koen segala?”

Momen itu membuat saya sadar, logat bisa terasa menakutkan sekaligus menenangkan, semuanya tergantung pada bagaimana kita memahaminya. Awal mulanya terasa masih kikuk.

Penampilan seni tradisional
Baca Juga

Beskalan dan Remo Suarakan Kesetaraan dari Panggung Inklusif di Malang

Setiap kali mendengar kata “koen” atau “rek”, jantung saya otomatis berdegup. Telinga yang terbiasa dengan bahasa Jawa krama halus merasa logat Malang seperti ombak besar; keras, deras, dan tak bisa dihindari.

IKLAN

Titik balik datang dari seorang teman sekamar bernama Kape, yang ucapannya selalu terdengar akrab dan khas daerah Malang. Suatu sore ia berkata, “Rek, koen kok mlaku dewean seh?” (Kamu kok jalan sendirian?). Saya sempat terdiam, tapi Kape tersenyum lalu menjelaskan, “Kalau aku memanggilmu begitu, artinya aku sudah menganggapmu teman dekat. Kalau tidak, aku tidak akan memanggilmu seperti itu”.

Sejak saat itu, pandangan saya berubah. Kata-kata yang tadinya terasa kasar justru menjadi simbol kedekatan. Logat bukan lagi terdengar menakutkan, melainkan kode rahasia pertemanan.

Saya pun mulai memberanikan diri. Suatu hari Kape bertanya, “Rek, tugasmu wis mari aa?” (Kawan, tugasmu sudah selesai belum?). Dengan sok percaya diri, saya menjawab, “Durung, isih separo. Nyapo? te nyonto, aa?” (Belum, masih separuh. Kenapa? kamu mau menyontek, ya?). Seketika kamar pecah oleh tawa. Sedikit malu, tapi perlahan saya justru merasa hangat. Seolah baru mendapat kartu anggota tak resmi“Selamat, Anda kini sah menjadi arek Malang KW!”

De Tour Travel
Baca Juga

De Tour Travel, Layanan Pariwisata dari Kota Malang yang Melayani Wisatawan Domestik hingga Mancanegara

Sejak tinggal di Malang, logat itu perlahan menempel di lidah. Awal-awal memang masih kaku, namun lama-lama menjadi bagian dari keseharian. Dari hal kecil itu, saya belajar bahwa bahasa bukan sekadar alat bicara, melainkan jembatan keakraban. Melalui logat, jarak antar teman mencair, tawa lebih mudah muncul, dan kebersamaan terasa alami.

Saat liburan semester, saya pulang ke rumah dan baru menyadari betapa logat Malang telah melekat dalam cara berbicara. Awalnya terasa aneh, seolah ada yang berubah, tapi perlahan muncul rasa tentram dan bangga. Saya tak kehilangan jati diri, justru bertambah kaya memiliki dua bahasa yang saling melengkapi, krama Jawa yang halus dan logat Malang yang lugas.

Keduanya tidak saling menghapus, justru saling melengkapi seperti kopi dan gula. Krama menjaga rasa hormat kepada orang tua, sedangkan logat Malang membuat pergaulan terasa lebih luwes.  Dan inilah refleksi terbesar saya, bahwasannya bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan cermin identitas yang lentur. Ia mampu menyesuaikan dengan tempat dan orang tanpa membuat kita kehilangan jati diri.

Nyatanya setiap kali kembali ke Malang dan mendengar orang berkata, “Koen kate nangdi e?” saya otomatis tersenyum. Kata-kata yang dulu membingungkan, kini menjadi pengingat bahwa saya punya rumah kedua di sini. Rumah yang tidak dibangun dari bata dan semen, melainkan dari logat dan tawa orang-orang tersayang.

Jadi, jika ada yang bilang logat Malang itu kasar, saya akan menjawab, “Kasarnya di telinga, tapi hangatnya di hati.” Karena bagi saya, logat bukan sekadar aksen, melainkan tiket pulang ke tempat di mana diterima apa adanya.

Dan itulah Malang bagi saya. Kota yang memberi udara sejuk, bakso mantap, dan teman-teman yang gokil. Namun lebih dari itu, Malang memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga yakni logat. Logat yang dulu membuat saya meringis, kini jadi melodi yang membuat tersenyum. Logat yang mengajarkan bahwa kadang keakraban lahir melalui hal sederhana dari cara kita menyebut satu sama lain. Kini, logat Malang bukan lagi sesuatu yang asing. Ia adalah suara pulang yang selalu kurindukan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kasarnya-di-telinga-tapi-hangatnya-di-hati-tentang-logat-malang-dan-rasa-pulang/87419/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 15.50 WITA

  • #Berita Malang
  • #Kota Malang

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Pilihan Editor

  1. 1 Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines
  2. 2

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  3. 3

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  4. 4

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  5. 5

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.