JurnalPost.com - Saat menjalani perawatan di rumah sakit, pasien tentu berharap mendapatkan pelayanan yang aman dan informasi yang jelas mengenai kondisi maupun perawatan yang diterimanya. Salah satunya adalah ketika pasien mendapatkan obat. Pemberian obat bukan hanya soal memastikan obat diberikan sesuai jadwal, tetapi pasien juga perlu mengetahui obat apa yang diberikan, untuk apa obat tersebut digunakan, dan mengapa obat tersebut perlu dikonsumsi.
Hal ini dapat dilihat dari pengalaman ketika seorang pasien yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Saat perawat datang untuk memberikan obat, pasien tidak mendapatkan penjelasan mengenai nama obat, kegunaan, maupun alasan obat tersebut diberikan. Pasien kemudian melihat obat yang diterimanya dan merasa belum memahami obat apa yang akan diminumnya. Karena itu, pasien bertanya kepada tenaga kesehatan mengenai obat tersebut karena ingin mengetahui apa yang akan dikonsumsinya.
Melihat kondisi tersebut, sebagai mahasiswa yang sedang menjalani praktik keperawatan, penulis kemudian membantu menjawab pertanyaan pasien mengenai obat yang diterimanya dengan memberikan penjelasan dasar sesuai pengetahuan yang dimiliki dan tetap dalam arahan tenaga kesehatan. Penjelasan diberikan dengan bahasa sederhana agar pasien lebih mudah memahami obat yang akan dikonsumsinya.
Setelah mendapatkan penjelasan, pasien menjadi lebih memahami obat yang diberikan dan tujuan penggunaannya dalam proses perawatan. Dari kejadian ini terlihat bahwa hal yang mungkin dianggap sederhana oleh tenaga kesehatan, seperti menjelaskan obat, ternyata cukup penting bagi pasien.
Pasien pada dasarnya memiliki hak untuk mendapatkan informasi mengenai perawatan yang diterimanya. Informasi tersebut membantu pasien memahami apa yang sedang dilakukan terhadap dirinya dan memberikan kesempatan untuk bertanya jika masih ada hal yang belum dipahami. Ketika pasien mengetahui informasi mengenai pengobatannya, pasien juga dapat lebih memahami proses perawatan yang sedang dijalani. Karena itu, komunikasi antara perawat dan pasien menjadi bagian penting dalam proses pemberian obat.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan etika dalam keperawatan, terutama prinsip autonomy. Prinsip ini berarti menghargai hak pasien untuk mengetahui dan terlibat dalam perawatan dirinya. Dalam kasus tersebut, pasien berhak mengetahui obat apa yang diberikan, apa kegunaannya, dan mengapa obat tersebut perlu dikonsumsi. Ketika informasi diberikan dengan jelas, pasien dapat memahami pengobatannya dan memiliki kesempatan untuk bertanya sebelum menerima atau mengonsumsi obat tersebut. Ketika informasi diberikan dengan jelas, pasien dapat memahami pengobatannya dan memiliki kesempatan untuk bertanya sebelum menerima atau mengonsumsi obat tersebut. Pemenuhan hak pasien untuk mendapatkan informasi juga menjadi bagian dari upaya mendukung medication safety dan patient safety, karena pasien yang memahami pengobatannya memiliki kesempatan untuk bertanya, mengklarifikasi informasi, dan menyampaikan apabila terdapat hal yang belum sesuai atau belum dipahami.
Selain berkaitan dengan etika, pemberian informasi mengenai obat juga berhubungan dengan keselamatan pasien. Pasien yang tidak mengetahui obat yang diberikan mungkin masih memiliki pertanyaan atau belum memahami tujuan pengobatannya. Sebaliknya, komunikasi yang jelas memberikan kesempatan kepada pasien untuk menyampaikan pertanyaan dan memastikan informasi yang diterimanya sudah dipahami. Karena itu, proses pemberian obat sebaiknya tidak berhenti ketika obat sudah diberikan kepada pasien, tetapi juga memperhatikan apakah pasien mendapatkan informasi yang cukup mengenai obat tersebut.
Namun, ketika pasien belum mendapatkan informasi yang cukup, masalahnya tidak selalu hanya terletak pada perawat. Dalam pelayanan rumah sakit, ada banyak hal yang dapat memengaruhi komunikasi dengan pasien, seperti beban kerja, jumlah tenaga, komunikasi antarpetugas, prosedur pelayanan, supervisi, lingkungan kerja, serta sistem dan manajemen rumah sakit. Artinya, pelayanan yang aman tidak hanya membutuhkan perawat yang mampu berkomunikasi dengan baik, tetapi juga lingkungan dan sistem rumah sakit yang mendukung pelayanan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan hak pasien dan keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama. Perawat tetap memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang mudah dipahami, tetapi rumah sakit juga perlu menyediakan sistem pelayanan yang memungkinkan komunikasi dengan pasien dilakukan dengan baik. Dengan dukungan tersebut, pemberian informasi tidak hanya bergantung pada kondisi atau kesibukan masing-masing tenaga kesehatan.
Bagi pasien dan keluarga, bertanya ketika mendapatkan obat juga bukanlah sesuatu yang salah. Pertanyaan sederhana seperti, “Obat ini untuk apa?” atau “Kenapa saya perlu minum obat ini?” justru dapat membantu pasien memahami pengobatannya. Pasien tidak perlu merasa sungkan untuk meminta penjelasan apabila informasi yang diberikan belum cukup jelas. Komunikasi dua arah seperti ini dapat membantu pasien lebih memahami perawatan yang sedang dijalaninya.
Pada akhirnya, memberikan obat kepada pasien bukan hanya tentang memastikan obat sampai dan diminum oleh pasien. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu memastikan pasien tahu apa yang sedang diterimanya dan mengapa obat tersebut diberikan. Komunikasi yang sederhana, jelas, dan terbuka dapat membantu menghargai hak pasien, meningkatkan keterlibatan pasien, dan mendukung keselamatan selama menjalani perawatan. Pasien bukan hanya penerima obat, tetapi juga berhak tahu tentang pengobatan yang diterimanya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda