Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. AI Bisa Membantu Intelijen, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Manusia

AI Bisa Membantu Intelijen, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Manusia

Foto profil Rina Maharani
Editor: Rina Maharani
27 September 2026, 22.22 WITA • Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Kharis Kurnia
Kharis Kurnia, S.E., M.Si.. Sumber Foto Dokumentasi Pribadi

Oleh: Kharis Kurnia, S.E., M.Si.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Bangka Belitung, Pegiat Keamanan Internasional

JurnlPost.com - Setiap kali saya berdiskusi tentang isu keamanan dan intelijen, hampir selalu ada satu pertanyaan: apakah suatu saat pekerjaan analis intelijen akan diambil alih oleh AI? Pertanyaan ini wajar di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Namun menurut saya, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan bagaimana manusia menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis.

IKLAN

Tulisan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian saya berjudul “Artificial Intelligence, Imagery Intelligence, and Early Warning Systems: A Strategic Intelligence Model for Addressing Contemporary Security Threats.” Penelitian tersebut menjadi pijakan dalam melihat bagaimana kecerdasan buatan, Imagery Intelligence (IMINT), dan Early Warning Systems dapat ditempatkan dalam kerangka intelijen strategis untuk menghadapi ancaman keamanan kontemporer.

Focused Café Co Working Moment
Baca Juga

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Tantangan Belajar di Era Digital: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kita?

Mesin yang Melihat Lebih Cepat, tetapi Belum Tentu Memahami

Coba bayangkan pekerjaan seorang analis intelijen yang setiap hari harus menyisir ribuan citra satelit, rekaman drone, atau data visual lainnya untuk mencari perubahan yang mungkin mengindikasikan ancaman. Pekerjaan semacam ini menuntut ketelitian luar biasa dan waktu yang tidak sedikit. Ketika volume data terus bertambah, kita harus jujur mengakui bahwa kemampuan manusia untuk menanganinya, seberapa pun terlatihnya seorang analis yang handal, tetap memiliki batas.

Di titik inilah AI menunjukkan kelebihannya yang paling nyata, yaitu kecepatan. Dalam konteks Imagery Intelligence atau IMINT, AI dapat memproses data visual dalam jumlah besar, mengenali pola, mengklasifikasikan objek, dan menandai perubahan yang mungkin luput dari pengamatan manual. Bagi seorang analis, ini ibarat memiliki asisten yang tidak pernah lelah menyaring tumpukan data sebelum bagian yang relevan diserahkan untuk diperiksa lebih lanjut.

Namun ada satu hal yang menurut saya perlu terus kita ingatkan pada diri sendiri, baik sebagai akademisi maupun sebagai pegiat isu keamanan, kemampuan melihat tidak sama dengan kemampuan memahami. Sebuah sistem AI mungkin sanggup mendeteksi adanya objek baru, perubahan struktur bangunan, atau peningkatan aktivitas kendaraan di sebuah lokasi. Tetapi sistem ini belum tentu mampu menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yaitu apa sebenarnya makna dari perubahan tersebut.

Sebab, tidak semua perubahan adalah ancaman. Persoalan menjadi lebih rumit lagi ketika kita berbicara tentang kecepatan versus kebenaran. Kecepatan AI memang mengagumkan, tetapi akan berubah menjadi masalah serius apabila hasil analisisnya diperlakukan sebagai kebenaran mutlak tanpa proses verifikasi. Dalam urusan keamanan, kesalahan semacam ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa. Kesalahan ini dapat memengaruhi persepsi terhadap ancaman, menggeser prioritas kebijakan, bahkan mendorong respons yang sebenarnya tidak diperlukan.

Pensive Student Exploring AI at Her Desk
Baca Juga

Jangan Salahkan AI jika Remaja Berhenti Berpikir

Ada pula bahaya yang menurut saya kerap luput dari perhatian, yaitu manipulasi data. Sehebat apa pun sebuah model AI, ia hanya akan sebaik data yang menjadi dasarnya. Jika data tersebut telah dimanipulasi, atau jika sistem itu sendiri diserang dan diganggu, maka kesimpulan yang dihasilkan pun ikut keliru. Dengan kata lain, tantangan intelijen di era AI bukan semata soal membuat mesin semakin pintar, melainkan juga soal memastikan bahwa informasi yang dibaca mesin benar-benar dapat dipercaya.

Dari sini kita bisa menarik satu pembeda yang penting, yaitu antara data, informasi, dan intelijen. Data bisa berjumlah sangat banyak, dan informasi bisa diproses dengan sangat cepat. Tetapi intelijen menuntut sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu interpretasi dan penilaian.

Seorang analis tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah perubahan telah terjadi, tetapi juga harus terus bertanya mengapa perubahan itu terjadi, apakah ada pola di baliknya, bagaimana kaitannya dengan informasi lain, dan apa kemungkinan konsekuensinya. Karena itulah saya selalu kita harus memahami bahwa hasil kerja AI sebaiknya diperlakukan sebagai sinyal awal, bukan sebagai keputusan akhir.

Masa Depan Intelijen: Manusia yang Tetap Memegang Kendali

Jika demikian, apa sesungguhnya posisi manusia di tengah semua kecanggihan ini? Menurut saya, jawabannya terletak pada prinsip human-in-the-loop, yaitu memastikan manusia tetap berada dalam rangkaian proses analisis dan memiliki kewenangan untuk memeriksa, mempertanyakan, atau bahkan menolak hasil yang diberikan sistem.

Yohanes Sanjaya
Baca Juga

AI dalam Pendidikan: Membantu Proses Belajar atau Justru Menciptakan Ketergantungan?

IKLAN

Prinsip ini sama sekali bukan tanda bahwa AI masih lemah. Justru sebaliknya, human-in-the-loop adalah bentuk pengamanan agar kekuatan teknologi tidak berubah menjadi sumber kerentanan baru.

Dalam kerangka berpikir semacam ini, AI paling tepat diposisikan sebagai pengganda kapasitas manusia. AI mengambil alih pekerjaan yang sifatnya repetitif, memproses data dalam skala besar, menemukan pola, dan membantu menentukan bagian mana yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Dengan begitu, analis manusia memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal yang benar-benar bernilai strategis, seperti menghubungkan berbagai sumber informasi, memahami konteks, menguji asumsi, menilai risiko, hingga mempertimbangkan konsekuensi politik dan keamanan.

Mesin dan manusia, dalam pandangan saya, tidak sedang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Mesin unggul dalam kecepatan dan skala, sementara manusia unggul dalam konteks, penilaian, dan pertimbangan strategis.

Bagi Indonesia, perkembangan ini punya arti yang tidak kecil. Kita hidup di lingkungan strategis yang kompleks, dengan dinamika geopolitik yang bergerak cepat, sementara volume informasi yang harus dipantau terus membesar seiring perkembangan teknologi. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mendeteksi perubahan sejak dini jelas semakin penting.

Tetapi saya ingin menekankan satu hal, investasi pada teknologi saja tidak akan cukup. Pengembangan kapasitas AI di bidang intelijen perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas analis manusia, tata kelola data, keamanan sistem, mekanisme verifikasi, dan prosedur pengambilan keputusan yang jelas.

Jangan sampai kita justru terjebak dalam situasi di mana sistem mampu menghasilkan ribuan peringatan dalam waktu singkat, tetapi kita tidak memiliki cukup kapasitas manusia untuk menentukan peringatan mana yang benar-benar penting. Sistem yang terlalu sensitif akan menghasilkan terlalu banyak alarm, dan pada akhirnya justru membuat penggunanya kelelahan hingga mulai mengabaikan peringatan.

Sebaliknya, sistem yang terlalu konservatif berisiko melewatkan ancaman yang justru krusial. Pada titik inilah kualitas manusia kembali menjadi penentu. Teknologi bisa mempercepat proses, tetapi manusialah yang harus menentukan bagaimana hasil itu dipahami dan digunakan.

Pada akhirnya, perdebatan tentang apakah masa depan intelijen akan dikuasai manusia atau mesin bukanlah pertanyaan yang paling produktif. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang tepat antara keduanya.

AI dapat membantu intelijen melihat lebih banyak, lebih cepat, dan dalam skala lebih luas. Tetapi manusia tetap harus memahami apa yang dilihat, menguji kebenarannya, dan menentukan konsekuensinya.

Semakin canggih AI, semakin penting pula kemampuan kita untuk berpikir kritis. AI dapat membantu intelijen melihat ancaman lebih cepat, tetapi hanya manusia yang mampu memberi makna strategis atas apa yang dilihatnya.

Masa depan intelijen bukanlah manusia melawan AI, melainkan manusia yang mampu menggunakan AI tanpa menyerahkan sepenuhnya kepada mesin.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ai-bisa-membantu-intelijen-tetapi-tidak-bisa-menggantikan-manusia/97877/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 19.28 WITA

  • #Kecerdasan Buatan
  • #Teknologi AI
  • #analis intelijen
  • #early warning systems
  • #imagery intelligence
  • #intelijen strategis
  • #keamanan internasional

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

Urgensi Pencegahan Perundungan Remaja di Surabaya: Antara Perlindungan dan Tanggung Jawab Sosial

Transaksi Digital & Maqashid Syariah: Antara Kemudahan dan Kemaslahatan

Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kurikulum yang Tak Tertulis di Pesantren: Antara Keteladanan, Pembentukan Karakter, dan Perlindungan Anak

IPAB, Dinas Arpus Cilacap, dan SIP Publishing Dorong Karya Literasi Masuk ke Industri Kreatif

Nasabah BRI Bojonegoro Ungkap Kemudahan Cicil Emas Lewat BRImo, Praktis dan Fleksibel

Mahasiswa Fakultas Hukum Untag Surabaya Amati Langsung Proses Persidangan di Pengadilan Agama Surabaya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.