Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Setelah G30S, Apa yang Harus Dipelajari Remaja Kita Hari Ini dan Nanti?

Setelah G30S, Apa yang Harus Dipelajari Remaja Kita Hari Ini dan Nanti?

R
Penulis: Rahmah Hastuti, S.Psi., M.Psi., Psikolog
30 September 2026, 11.10 WITA • Editor: Gilang Pamungkas
8 menit baca
pelajar mempelajari sejarah Indonesia
Ilustrasi pelajar mempelajari sejarah Indonesia dengan memadukan buku dan perangkat digital. Generasi muda perlu memahami peristiwa masa lalu secara kritis, sekaligus mampu menyaring informasi di tengah derasnya arus media digital. Foto: Ilustrasi AI/JurnalPost

Sejarah, psikologi, dan tantangan menjadi manusia Indonesia di era digital

Keterangan: Tulisan ini mengajak pembaca melihat kembali peristiwa G30S dan Hari Kesaktian Pancasila dari perspektif pendidikan dan psikologi. Fokusnya bukan sekadar pada bagaimana remaja mengingat sejarah, tetapi bagaimana generasi digital dapat belajar berpikir kritis, menghargai perbedaan, menyaring informasi, serta menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

IKLAN

Penulis: Rahmah Hastuti, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Atma Jaya, Jakarta
Dosen Tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

“Bu, G30S itu yang tahun 1965, kan? Tapi, kenapa kami masih harus membahasnya?”

Bayangkan seorang siswa remaja mengajukan pertanyaan itu kepada gurunya.

“Karena kamu tidak hidup pada 1965, justru kamu perlu belajar bagaimana memahami 1965.”

Jawaban itu mungkin sederhana. Namun, di dalamnya terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar: apa sebenarnya yang seharusnya dipelajari generasi yang tidak mengalami sebuah peristiwa sejarah?

Setiap 1 Oktober, kita kembali diingatkan pada Hari Kesaktian Pancasila. Ada upacara, bendera, pelajaran sejarah, nama-nama tokoh, serta rangkaian peristiwa yang dipelajari di sekolah. Peringatan ini juga telah lama ditempatkan sebagai momentum refleksi dan pendidikan karakter.

Namun, pernahkah kita bertanya: setelah remaja mempelajari sejarah G30S, apa yang sebenarnya berubah dalam dirinya?

Apakah ia menjadi lebih kritis? Lebih mampu memahami perbedaan? Lebih peka terhadap akibat konflik? Atau sekadar mampu menjawab soal ujian?

Pertanyaan tersebut penting karena remaja hari ini tidak mengalami peristiwa 1965 secara langsung. Mereka mengenalnya melalui cerita orang tua, guru, buku, film, televisi, media sosial, YouTube, dan kini juga artificial intelligence atau kecerdasan buatan.

Dengan kata lain, mereka tidak mengalami peristiwanya. Mereka mengalami narasi mengenai peristiwa tersebut.

Di sinilah pendidikan sejarah bertemu dengan psikologi. Sejarah berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang dapat berupa pengalaman positif maupun negatif.

Bukan Sekadar Mengingat

Manusia tidak sekadar menerima informasi. Kita menafsirkan, menghubungkan, membandingkan, mengingat, lalu membentuk keyakinan dan makna.

Seorang remaja yang menonton video sejarah di media sosial sebenarnya sedang melakukan proses yang jauh lebih kompleks daripada sekadar melihat informasi. Ia sedang menentukan apa yang menarik perhatiannya, apa yang dipercaya, apa yang diingat, dan apa yang akhirnya dianggap sebagai kebenaran.

Persoalannya, dunia digital membuat proses tersebut semakin rumit.

Informasi yang muncul di layar tidak selalu hadir karena paling benar. Informasi dapat muncul karena mampu menarik perhatian, sesuai dengan minat pengguna, atau membuat seseorang bertahan lebih lama di depan layar.

Karena itu, kemampuan yang perlu diwariskan kepada generasi muda bukan hanya kemampuan mengingat sejarah, tetapi kemampuan berpikir tentang informasi sejarah.

Dari mana informasi itu berasal? Apa buktinya? Apakah ada sumber lain? Apakah yang disampaikan merupakan fakta, interpretasi, atau opini?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya merupakan latihan berpikir kritis.

Karl Popper menempatkan sikap kritis sebagai bagian penting dalam pencarian pengetahuan. Bagi Popper, pengetahuan bersifat terbuka terhadap pengujian dan koreksi. Sebuah gagasan tidak menjadi benar hanya karena tampak meyakinkan.

Di zaman media sosial, sikap semacam itu semakin penting.

Sebab, yang berbahaya bukan hanya ketika seseorang tidak mengetahui sejarah. Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang merasa sudah mengetahui kebenaran, padahal belum memeriksa bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh.

Ketika Tidak Mengalami 1965

Bagi generasi yang lahir puluhan tahun setelah 1965, pengalaman mereka bukanlah pengalaman langsung terhadap peristiwa tersebut.

Yang mereka temui adalah cerita, gambar, film, buku, percakapan, dan berbagai representasi mengenai peristiwa itu.

Perbedaan ini penting.

Sejarah bukan hanya persoalan “apa yang terjadi”, tetapi juga bagaimana manusia pada masa berikutnya memahami dan memberi makna terhadap apa yang terjadi.

Karena itu, pembelajaran sejarah seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang terjadi waktu itu?”

Kita juga perlu bertanya:

Apa yang dapat kita pelajari tentang manusia dari peristiwa tersebut?

Bagaimana konflik terbentuk?

Mengapa manusia dapat begitu mudah melihat kelompok lain sebagai “mereka”, bukan sebagai sesama manusia?

Mengapa perbedaan gagasan dapat berubah menjadi pertentangan?

Dan yang tidak kalah penting, bagaimana generasi berikutnya dapat belajar agar konflik tidak melahirkan penderitaan yang sama?

Pertanyaan semacam itu membawa sejarah dari buku pelajaran ke dalam kehidupan.

Remaja Tidak Belajar Sendirian

Pendidikan nilai tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah.

Remaja tumbuh dalam lingkungan yang kompleks. Keluarga, sekolah, teman sebaya, media, komunitas, dan budaya saling berinteraksi dalam membentuk perkembangan mereka.

Bronfenbrenner melalui perspektif ekologis perkembangan mengingatkan bahwa perkembangan manusia tidak berlangsung dalam ruang hampa. Lingkungan tempat seseorang tumbuh ikut membentuk pengalaman dan perkembangannya.

Bayangkan seorang remaja mendapatkan pesan tentang toleransi di sekolah, tetapi setiap hari mendengar kebencian terhadap kelompok lain di rumah. Ia belajar menghargai perbedaan dari guru, tetapi melihat teman-temannya saling merendahkan di media sosial.

Pesan yang diterimanya tidak pernah tunggal.

Karena itu, ketika kita bertanya mengapa seorang remaja sulit menerapkan nilai Pancasila, kita tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang diajarkan di sekolah?”

IKLAN

Kita juga perlu bertanya: dalam lingkungan seperti apa nilai itu dipelajari?

Inilah tantangan pendidikan karakter hari ini.

Dari “Aku” ke “Kita”

Tantangan berikutnya adalah identitas.

Dunia digital memberi ruang yang sangat besar bagi ekspresi diri. Remaja dapat membangun identitas, menyampaikan pendapat, mengunggah pencapaian, mencari pengakuan, dan membangun komunitas.

Semua itu tidak selalu buruk.

Namun, ada pertanyaan yang perlu terus dirawat: ketika “aku” semakin kuat, apakah “kita” masih memiliki tempat?

Psikologi budaya menunjukkan bahwa cara manusia memahami dirinya tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya.

Markus dan Kitayama, misalnya, menunjukkan bagaimana budaya berkaitan dengan cara manusia memahami diri, orang lain, serta hubungan antara diri dan orang lain.

Dalam konteks Indonesia, gagasan mengenai kebersamaan, gotong royong, musyawarah, dan kehidupan bersama merupakan bagian penting dari kehidupan sosial.

Karena itu, Pancasila seharusnya tidak hanya hadir sebagai lima sila yang dihafalkan.

Pancasila perlu hadir dalam pertanyaan sederhana.

Ketika berbeda pendapat dengan teman, apakah saya harus membuatnya menjadi musuh?

Ketika menemukan informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan saya, apakah saya langsung membagikannya atau memeriksanya terlebih dahulu?

Ketika melihat seseorang dipermalukan di media sosial, apakah saya ikut menertawakan atau memilih menghentikannya?

Dari situlah nilai Pancasila mulai menjadi perilaku.

Dari Digital Safety ke Digital Flourishing

Ketika berbicara mengenai bagaimana remaja memahami sejarah, kita juga tidak dapat memisahkannya dari era digital dan teknologi yang hidup berdampingan dengan mereka.

Selama ini perhatian kita sering tertuju pada berbagai risiko penggunaan internet, seperti cyberbullying, hoaks, pornografi, penipuan digital, penggunaan media sosial secara berlebihan, maupun berkurangnya minat terhadap sejarah.

Semua itu penting. Namun, ada pertanyaan yang lebih jauh:

Apakah kita ingin remaja hanya aman dari teknologi, atau justru mampu berkembang melalui teknologi?

Pertanyaan kedua membawa kita pada gagasan digital flourishing.

Remaja yang flourishing secara digital bukan sekadar remaja yang tidak mengalami masalah akibat internet. Ia mampu menggunakan teknologi untuk belajar, membangun hubungan yang sehat, mengembangkan kreativitas, mencari informasi, mengatur dirinya, dan berkontribusi kepada orang lain.

Karena itu, hidup di tengah teknologi digital tidak cukup hanya berarti “bisa menggunakan teknologi”, tetapi juga mampu memahami informasi secara kritis.

Regulasi diri digital bukan sekadar mengurangi waktu layar, melainkan kemampuan menentukan kapan teknologi membantu kehidupan dan kapan teknologi mulai menguasai perhatian.

Peran orang tua pun tidak cukup hanya berupa larangan. Pendampingan diperlukan agar remaja belajar mengambil keputusan digital secara bertanggung jawab.

Di sinilah pendidikan Pancasila, psikologi perkembangan, psikologi budaya, dan pendidikan digital bertemu.

Kesaktian Pancasila untuk Generasi Digital

Mungkin inilah cara lain memaknai Hari Kesaktian Pancasila.

Bukan hanya dengan bertanya apakah generasi muda masih mengingat sebuah peristiwa sejarah, tetapi apakah mereka mampu belajar dari sejarah untuk menghadapi masa depan.

Generasi yang tidak mengalami 1965 tidak perlu dipaksa memiliki pengalaman yang sama dengan generasi sebelumnya.

Mereka membutuhkan sesuatu yang berbeda: kemampuan memahami sejarah secara kritis, menghargai manusia yang berbeda, mengelola diri di tengah derasnya informasi, serta menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Sebab, tantangan generasi hari ini bukan hanya menjaga ingatan mengenai masa lalu.

Tantangannya adalah menjaga agar manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir, merasa, dan hidup bersama ketika dunia semakin cepat berubah.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting pada Hari Kesaktian Pancasila bukanlah:

“Apakah remaja masih hafal Pancasila?”

Melainkan:

“Ketika berbeda pendapat, ketika berhadapan dengan informasi yang belum tentu benar, dan ketika berada di balik layar tanpa pengawasan siapa pun, apakah nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam perilakunya?”

Jika jawabannya ya, sejarah tidak berhenti menjadi masa lalu.

Ia telah menjadi pembelajaran.

Dan pembelajaran yang paling bermakna bukanlah yang membuat kita sekadar mengingat apa yang pernah terjadi, melainkan yang membuat kita mampu memilih bagaimana seharusnya kita hidup setelah mengetahuinya.

Daftar Pustaka

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024, 1 Oktober). Hari Kesaktian Pancasila 2024: Mendikbudristek tekankan pentingnya pendidikan karakter. Kemendikdasmen.

Markus, H. R., & Kitayama, S. (1991). Culture and the self: Implications for cognition, emotion.

Tentang Penulis

Rahmah Hastuti, S.Psi., M.Psi., Psikolog merupakan mahasiswa Program Doktor Psikologi Universitas Atma Jaya, Jakarta, serta dosen tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/setelah-g30s-apa-yang-harus-dipelajari-remaja-kita-hari-ini-dan-nanti/97908/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 22 Oktober 2026, 14.09 WITA

  • #Berpikir Kritis
  • #Era Digital
  • #G30S
  • #Hari Kesaktian Pancasila
  • #Pendidikan Karakter
  • #pancasila
  • #pendidikan sejarah
  • #psikologi remaja

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Menagih Janji Negara: Mengurai Persoalan Kesejahteraan Guru Honorer di NTT

Urgensi Pencegahan Perundungan Remaja di Surabaya: Antara Perlindungan dan Tanggung Jawab Sosial

Transaksi Digital & Maqashid Syariah: Antara Kemudahan dan Kemaslahatan

Sampah Sudah Dibuang, Masalahnya Belum: Ada yang Keliru dalam Kebijakan Pengelolaan Sampah Indonesia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

KADER MOLERA, Dosen FKM UMI Latih Kader Desa Marayoka Cegah Hipertensi pada Akseptor KB Hormonal

Mahasiswa Fakultas Hukum UNTAG Surabaya Pelajari Proses Persidangan Cerai Gugat di Pengadilan Agama

Pegawai DLH Pamekasan Ikuti Pelatihan Pengambilan Sampel Air di PPSDM Migas

Inovasi Pendidikan UM: Dosen dan Mahasiswa Kembangkan “DIGESTA” STEAM-Workbook untuk Tingkatkan Keterampilan Kolaborasi Siswa SMP

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.