Cirebon, JurnalPost.com — Dosen Telkom University, Dr. Martha Tri Lestari, Dr. Sri Dewi Setiawati, dan Lidya Ningsih, S.T., M.Kom menginisiasi kegiatan “Penggunaan Pemetaan Digital Lokasi (Digital Location Mapping) sebagai Upaya Adaptasi Digital Pengrajin Batik”, yang diselenggarakan pada 15 November 2025 di Ruang Multi Purpose, ITB Kampus Cirebon. Kegiatan ini melibatkan pengrajin batik dan pengelola koperasi sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas UMKM berbasis budaya lokal.
Adaptasi digital menjadi kebutuhan strategis bagi pengrajin batik di Cirebon yang selama ini masih banyak mengandalkan pemasaran tradisional. Padahal, perkembangan teknologi informasi membuka peluang luas untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan visibilitas produk, serta memperkuat identitas batik sebagai warisan budaya. Data nasional menunjukkan bahwa 92% pengguna sistem pembayaran QRIS berasal dari sektor UMKM, menandakan bahwa digitalisasi telah menjadi arus utama dalam modernisasi usaha.
Namun demikian, pemanfaatan teknologi digital secara terintegrasi, khususnya pemetaan lokasi digital, geo-tagging, dan storytelling budaya, masih menjadi tantangan bagi banyak pengrajin. Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk memanfaatkan Google Maps, Google My Business, media sosial berbasis lokasi, QR Code storytelling, serta integrasi marketplace sebagai bagian dari strategi adaptasi digital.
Kegiatan ini dilaksanakan bersama Koperasi Anugerah Batik Ciwaringin, yang diwakili oleh Farhan Jazuli, selaku Kepala Dinas, sebagai mitra strategis dalam pemberdayaan pengrajin. Koperasi ini berperan penting dalam mengorganisasi produksi, distribusi, dan pemasaran batik Ciwaringin, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi membatik di Desa Ciwaringin yang dikenal dengan motif religius dan nuansa Islami.
Salah satu narasumber, Dr. Lusy Mukhlisiana, menyampaikan materi bertajuk “Ibu Pengrajin: Pemimpin di Rumah, Pemimpin di Usaha”. Ia menekankan bahwa perempuan pengrajin sesungguhnya telah menjalankan peran kepemimpinan yang kompleks dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, ibu pengrajin telah berperan sebagai manajer keuangan rumah tangga, manajer operasional, manajer SDM, sekaligus pengusaha. Ia juga menegaskan pentingnya membuang berbagai mitos yang membatasi peran perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
“Komunikasi soal uang itu penting dan sehat. Perempuan bisa belajar investasi sederhana, dimulai dari keputusan kecil dan konsisten,” jelasnya.
Narasumber kedua, Refi Rifaldi Windya Giri, ST., MBA., Ph.D, mengangkat topik “Menghidupkan Kembali Cerita Batik Ciwaringin: Storytelling Berbasis AI untuk Generasi Perajin Baru”.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa kekuatan batik tidak hanya terletak pada visual, tetapi juga pada cerita di baliknya.
“Batik Ciwaringin adalah napas tradisi: dicipta di pesantren, diwarnai alam, diwariskan santri,” ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa cerita, warisan budaya berisiko kehilangan maknanya. “Tanpa cerita, warisan hanya jadi kain. Dengan cerita, ia menjadi kebanggaan,” tambahnya.
Menurutnya, storytelling menjadi kunci karena konsumen masa kini tidak hanya membeli produk, tetapi juga mencari makna dan nilai. Tantangan yang dihadapi pengrajin antara lain cerita yang belum terdokumentasi, kesenjangan pengetahuan antara generasi muda dan filosofi batik, serta keterbatasan dalam menuliskan kisah secara menarik.
“Tradisi tetap hidup jika diceritakan. Hari ini kita menjadikan AI sebagai suara baru bagi Batik Ciwaringin, tanpa menghilangkan napas lamanya,” tegasnya.
Melalui integrasi digital location mapping dan storytelling berbasis AI, kegiatan ini menempatkan teknologi tidak sekadar sebagai alat teknis, melainkan sebagai medium komunikasi budaya. Pendekatan ini memungkinkan batik Ciwaringin hadir sebagai produk budaya yang mudah ditemukan secara digital, memiliki narasi yang kuat, dan relevan bagi generasi baru.
Inisiatif dosen-dosen Telkom University ini diharapkan mampu memperkuat adaptasi digital pengrajin Batik Ciwaringin, meningkatkan daya saing dalam ekonomi kreatif nasional, serta mendukung pengembangan pariwisata budaya digital Cirebon secara berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda