Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  2. Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  3. Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  4. Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  5. HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Infrastruktur vs Risiko Digital: Dilema Integrasi Kurikulum Keamanan Siber di Sekolah

Infrastruktur vs Risiko Digital: Dilema Integrasi Kurikulum Keamanan Siber di Sekolah

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
14 September 2026, 11.20 WITA Editor: Annisa
7 menit baca
Foto utama untuk pengujian internal
Gambar uji internal JurnalPost.com.

JurnalPost.com - Transformasi digital di dunia pendidikan terus berkembang, termasuk di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Penggunaan perangkat digital, internet, dan berbagai platform pembelajaran kini semakin melekat dalam proses belajar mengajar.

Namun, semakin luasnya pemanfaatan teknologi juga membawa persoalan baru. Salah satunya adalah meningkatnya risiko keamanan siber di lingkungan sekolah, mulai dari pencurian akun, kebocoran data pribadi, phishing, cyberbullying, hingga penyalahgunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

IKLAN

Persoalan tersebut menjadi perhatian SMA Negeri 2 Tenggarong Seberang yang berada di Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang. Sekolah ini menggelar kegiatan yang membahas kesiapan pendidikan menghadapi perkembangan teknologi sekaligus ancaman digital yang semakin kompleks.

Screenshot 2026 09 25 113421
Baca Juga

SATU KLIK: Ikhtiar Guru Menghidupkan Literasi di Ruang Digital

Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut melibatkan kepala sekolah, jajaran pendidik, serta sejumlah pihak terkait. Pembahasan tidak berhenti pada kesiapan sarana dan prasarana digital, tetapi juga menyentuh kebutuhan memasukkan materi keamanan siber dan kewargaan digital atau digital citizenship ke dalam proses pembelajaran.

Tantangan Mengintegrasikan Keamanan Siber ke Kurikulum

Memasukkan materi keamanan siber ke dalam pendidikan formal bukan persoalan sederhana. Ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan agar pembelajaran tidak hanya berhenti pada pemahaman teknologi, tetapi juga membentuk kemampuan siswa menghadapi risiko di ruang digital.

Kurikulum Bergerak Lebih Lambat daripada Ancaman Siber

Pembaruan kurikulum pendidikan umumnya membutuhkan proses perencanaan, evaluasi, dan implementasi yang panjang. Sebaliknya, pola serangan siber dapat berubah dalam waktu relatif singkat.

Ancaman seperti phishing yang menyasar akun sekolah, pencurian identitas melalui media sosial, peretasan akun pembelajaran, penipuan digital, hingga kejahatan berbasis AI berkembang dengan cepat.

Kurikulum Tidak Cukup Berganti
Baca Juga

Ganti Kurikulum Saja Tak Cukup, Teknologi Pendidikan Harus Mengubah Cara Belajar

Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara materi yang dipelajari siswa dan ancaman digital yang sebenarnya mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Materi teknologi yang terlalu lama diperbarui berisiko menjadi usang sehingga tidak lagi cukup untuk membekali siswa menghadapi lingkungan digital yang dinamis.

Kesenjangan Kompetensi Tenaga Pendidik

Tantangan lain datang dari kesiapan tenaga pendidik. Tidak seluruh guru memiliki latar belakang pendidikan di bidang keamanan informasi atau teknologi siber.

Pengetahuan mengenai praktik dasar keamanan digital atau cyber hygiene, seperti penggunaan kata sandi yang kuat, autentikasi dua faktor atau two-factor authentication (2FA), perlindungan data pribadi, pengenalan tautan berbahaya, serta keamanan akun digital masih perlu terus diperkuat.

Pamulang Kampus
Baca Juga

Mahasiswa Universitas Pamulang Kampus Serang Edukasi Warga Desa Sangiang tentang Bahaya Penipuan Digital dan Perlindungan Data Pribadi

Padahal, literasi keamanan digital idealnya tidak hanya diberikan dalam satu mata pelajaran tertentu.

Kesadaran mengenai privasi, keamanan data, etika digital, dan risiko penggunaan teknologi dapat diintegrasikan dalam berbagai kegiatan pembelajaran agar siswa memahami bahwa keamanan siber merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Infrastruktur Digital Belum Merata

Persoalan kurikulum keamanan siber juga berkaitan erat dengan ketersediaan infrastruktur.

Pembelajaran keamanan digital yang lebih praktis membutuhkan perangkat komputer yang memadai, koneksi internet stabil, sistem jaringan sekolah yang aman, serta lingkungan simulasi yang memungkinkan siswa belajar tanpa membahayakan sistem sebenarnya.

Bagi sekolah yang berada di wilayah penyangga atau daerah dengan akses teknologi yang belum merata, kebutuhan tersebut menjadi tantangan tersendiri.

Ketimpangan fasilitas antara sekolah di wilayah perkotaan dan sekolah di daerah dapat memengaruhi kemampuan masing-masing sekolah dalam menerapkan standar pembelajaran keamanan siber secara setara.

Karena itu, pengembangan literasi keamanan siber tidak dapat hanya bergantung pada kurikulum. Pemerataan fasilitas dan dukungan teknis juga perlu menjadi bagian dari kebijakan pendidikan digital.

Pembelajaran Tidak Cukup Hanya Mengenalkan Istilah

Tantangan berikutnya adalah pendekatan pembelajaran yang terlalu teoretis.

Dalam banyak kasus, pendidikan teknologi masih berfokus pada cara menggunakan perangkat, aplikasi, atau internet. Sementara itu, keterampilan menghadapi insiden digital belum mendapatkan perhatian yang sama.

Siswa seharusnya tidak hanya mengetahui apa itu phishing, malware, cyberbullying, atau kebocoran data, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan ketika mengalami situasi tersebut.

IKLAN

Misalnya, bagaimana merespons ketika akun diretas, bagaimana mengamankan kembali akun setelah kebocoran kata sandi, ke mana harus melapor ketika menjadi korban perundungan digital, serta bagaimana bertindak apabila menemukan penyebaran konten berbahaya atau ilegal.

Pendekatan semacam ini akan membuat pendidikan keamanan siber menjadi lebih relevan dengan kehidupan nyata siswa.

Dari Masalah Teknis Menjadi Persoalan Keselamatan Siswa

Dalam sesi diskusi, persoalan keamanan siber juga dipandang tidak sebatas urusan perangkat keras maupun perangkat lunak.

Kepala SMA Negeri 2 Tenggarong Seberang menilai bahwa keamanan digital berkaitan langsung dengan perlindungan siswa ketika beraktivitas di ruang maya.

“Siswa kita hari ini adalah masyarakat pribumi digital (digital natives). Mereka beraktivitas di ruang maya setiap hari untuk belajar dan bersosialisasi. Namun, tanpa pembekalan kurikulum yang adaptif terhadap isu keamanan siber, kita membiarkan mereka berjalan di tengah jalan raya tanpa tahu cara menyeberang yang aman. Sekolah harus menjadi tempat pertama yang memberi mereka perisai digital,” ungkap Kepala Sekolah.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman digital tidak lagi dapat dipisahkan dari keseharian peserta didik.

Dampak kejahatan siber bahkan dapat meluas dari kerugian teknis menjadi tekanan psikologis, kehilangan privasi, kerusakan reputasi, hingga masalah sosial.

Perwakilan pengawas sekolah dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga menyambut aspirasi yang disampaikan pihak sekolah.

Rekomendasi dari kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan modul pendamping atau materi literasi digital yang lebih sesuai dengan kebutuhan sekolah di daerah.

Mendorong Sekolah Lebih Tangguh Menghadapi Risiko Digital

SMA Negeri 2 Tenggarong Seberang juga menyusun sejumlah langkah yang dapat dikembangkan dalam jangka pendek maupun menengah.

Salah satunya melalui pembentukan Klub Siber Remaja, yaitu kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mempelajari literasi keamanan digital sekaligus menjadi agen edukasi bagi teman sebaya.

Pendekatan peer-to-peer education dinilai dapat membantu penyampaian literasi siber karena siswa sering menghadapi pola penggunaan teknologi yang relatif serupa dengan teman seusianya.

Langkah lainnya adalah penyusunan modul literasi siber lokal yang berisi panduan praktis mengenai cara menghadapi berbagai insiden digital yang dekat dengan kehidupan siswa.

Materi tersebut dapat mencakup keamanan akun media sosial, perlindungan data pribadi, penipuan daring, cyberbullying, pencurian identitas, serta langkah yang harus dilakukan ketika menjadi korban kejahatan digital.

Sekolah juga mendorong peningkatan manajemen jaringan internal, termasuk penguatan keamanan Wi-Fi, pengelolaan akses perangkat sekolah, serta pembatasan terhadap situs atau layanan digital yang berpotensi membahayakan pengguna.

Keamanan Siber Perlu Menjadi Bagian dari Literasi Dasar

Perkembangan teknologi membuat kemampuan menggunakan perangkat digital saja tidak lagi cukup.

Generasi muda juga membutuhkan pengetahuan untuk mengenali risiko, melindungi data pribadi, menjaga identitas digital, serta mengambil keputusan yang aman ketika berada di internet.

Karena itu, keamanan siber selayaknya tidak ditempatkan hanya sebagai materi tambahan dalam pembelajaran teknologi. Literasi tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari kecakapan hidup di era digital.

Tantangannya memang tidak kecil. Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan yang adaptif, sekolah membutuhkan dukungan infrastruktur, sementara tenaga pendidik perlu memperoleh peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat menjadi penting agar transformasi digital pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu melindungi diri dari berbagai risiko yang menyertainya.

Pada akhirnya, keberhasilan digitalisasi pendidikan bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak perangkat dan jaringan internet tersedia di sekolah, tetapi juga oleh seberapa siap siswa memahami, menggunakan, dan menjaga ruang digital mereka secara aman dan bertanggung jawab.

Ditulis oleh: Fahmi Romisa, M.Kom.
Mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA)


Sumber artikel: https://jurnalpost.com/infrastruktur-vs-risiko-digital-dilema-integrasi-kurikulum-keamanan-siber-di-sekolah/97669/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.14 WITA

  • #Keamanan Siber
  • #Literasi Digital
  • #Siber
  • #Teknologi Pendidikan
  • #Transformasi Digital
  • #kurikulum sekolah
  • #pendidikan
  • #sekolah

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Pilihan Editor

  1. 1 PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online
  2. 2

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  3. 3

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.