Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Ikut Peneliti BRIN ke Lapangan, Pelajar Dokumentasikan Sejarah dan Budaya Bumiayu

Ikut Peneliti BRIN ke Lapangan, Pelajar Dokumentasikan Sejarah dan Budaya Bumiayu

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
09 Mei 2026, 23.54 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Peneliti BRIN

Peneliti BRIN

Jakarta, JurnalPost.com - Empat pelajar dari sistem pendidikan hybrid dan homeschooling mengikuti studi lapangan langsung ke Situs Purbakala Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, untuk mempelajari dunia arkeologi, arkeometri, dan pelestarian sejarah bersama para peneliti dan pengelola situs. Kegiatan bertajuk “Petualangan Mengungkap Sejarah di Bumiayu – Studi Lapangan dan Publikasi Situs Purbakala untuk Generasi Muda” ini berlangsung pada 3–6 Mei 2026.

IKLAN

Peserta kegiatan terdiri dari Shanterygve Adriel Kastanya (Shan), Grimonia Tarari Zaneta Kamila (Tara) dan Quinxia Evangeline Yaotama (Quinx), para siswa kelas X dari Alta Global School, serta Nathan Dipa Dewangga (Dipa), siswa kelas VIII dari Strive Online Homeschooling. Selama perjalanan, para peserta tidak hanya mengunjungi museum dan situs purbakala, tetapi juga hidup di tengah ekosistem penelitian arkeologi yang aktif berkembang di Bumiayu.

Gedung Merah Putih
Baca Juga

Ketika Hukum Kehilangan Legitimasi dan Rasa Keadilan

Perjalanan dimulai dari Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Museum Purbakala Bumiayu. Pada hari pertama, dilakukan observasi museum dan wawancara langsung bersama pengelola museum untuk memahami sejarah berdirinya museum, proses pelestarian artefak, hingga tantangan menjaga situs purbakala secara mandiri.

Museum Purbakala Bumiayu menjadi salah satu bagian yang paling membekas bagi para peserta. Museum tersebut dibangun dan dijaga secara mandiri oleh masyarakat lokal bersama para pegiat pelestarian budaya, termasuk Rafli Rizal dan tim pengelola Museum Purbakala Bumiayu yang selama bertahun-tahun menjaga keberlangsungan museum di tengah keterbatasan dukungan. "Museum ini bukan sekadar ruang penyimpanan fosil dan artefak, melainkan simbol nyata kepedulian masyarakat terhadap sejarah daerahnya sendiri," tutur Dipa

Hari kedua diisi dengan perjalanan lapangan ke Kaligua dan Jembatan Sakalibel, peninggalan era kolonial Belanda, bersama tim Museum Purbakala Bumiayu. Pada hari ketiga, para peserta turun langsung ke lokasi ekskavasi bersama mahasiswa S2 dan S3 serta para peneliti senior.

"Kami menyaksikan proses penelitian lapangan, dokumentasi temuan, dan berdialog langsung dengan sejumlah peneliti dan praktisi di bidang arkeologi, geoarkeologi, arkeometri, dan museologi," terang Quinx

Dindik Jatim
Baca Juga

Dindik Jatim Inisiasi Gerakan “Murid Menjemput Sejarah”, Pelajar Belajar Langsung dari Veteran

Beberapa peneliti yang terlibat di antaranya Hari Wibowo, peneliti senior di Pusat Riset Arkeometri BRIN; Fakhri, peneliti senior di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN; Eugenius Olafianto Drepriputra Wisnudhana (Olaf), seorang geoarkeolog; Elyjah Ahmad Cezare, mahasiswa Ilmu Arkeologi Universitas Hasanuddin yang berfokus pada geoarkeologi; serta Mouzalina Raisha Anfal dari Universitas Udayana yang menekuni digital reconstruction and modeling.

Melalui wawancara dan observasi langsung, para peserta mempelajari berbagai proses penelitian modern, mulai dari survei terestrial, pemantauan udara menggunakan drone, ekskavasi, identifikasi fauna, dan analisis fosil, hingga pendekatan arkeometri yang menggunakan pengukuran dan analisis laboratorium secara kuantitatif. Para peneliti menjelaskan bahwa fokus penelitian di Bumiayu bukan sekadar membahas peradaban masa lalu, tetapi juga mencakup penelitian mengenai Homo erectus dan kemungkinan keberadaan manusia purba di Pulau Jawa pada rentang waktu yang sangat tua.

IKLAN

“Bumiayu berpotensi memberikan pembaruan terhadap penelitian sebelumnya. Bisa jadi ada temuan yang lebih tua dibanding temuan yang selama ini dikenal masyarakat,” ujar Fakhri, peneliti arkeologi prasejarah. Menurut para peneliti, kawasan Bumiayu bahkan disebut sebagai salah satu daratan awal yang terangkat di Pulau Jawa, dengan rentang usia sekitar 2,4 juta hingga 1,8 juta tahun lalu. Selain membahas penelitian ilmiah, para peserta juga diajak memahami tantangan nyata penelitian lapangan di Bumiayu — mulai dari cuaca ekstrem, medan berbukit, dan akses jalan yang terbatas, hingga proses pengiriman sampel penelitian ke luar negeri yang membutuhkan kolaborasi lintas lembaga dan lintas negara.

Para peneliti juga menekankan pentingnya diseminasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas melalui media populer, dokumentasi visual, media sosial, dan narasi digital, agar penelitian arkeologi tidak berhenti hanya di lingkungan akademik.

BKHR Generation Al-Furqon
Baca Juga

Setahun Lebih Lulus, Alumni BKHR Generation Al-Furqon Gresik Tersebar di Kampus Dalam dan Luar Negeri

Hari keempat menjadi bagian paling reflektif dalam perjalanan ini. Para peserta mengunjungi Candi Poh dan kawasan “laut purba” Bumiayu untuk melakukan observasi, pencarian fosil, serta wawancara dengan masyarakat lokal mengenai sejarah lisan, tradisi, dan pelestarian situs budaya. "Masyarakat lokal menjelaskan bahwa Bumiayu bukan hanya tentang fosil, tetapi wilayah yang menyimpan lapisan sejarah, budaya, dan tradisi yang masih hidup hingga kini. Candi Poh, salah satu lokasi yang menarik perhatian kami karena hingga kini masih dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Di kawasan ini, tradisi sedekah bumi dan ritual budaya setiap tahun baru Jawa masih dijalankan, dan masyarakat memandang kawasan sekitar situs sebagai ruang ekologis penting yang menjaga mata air dan habitat satwa liar," papar Tara.

Namun di balik kekayaan itu, tantangan pelestarian masih nyata. “Masyarakat sebenarnya sadar situs ini berharga, tetapi belum semua memiliki kemampuan dan keberlanjutan untuk merawatnya,” ujar Alfan Muhyar Faza dan Rafiq Aji Prayogo, warga lokal yang turut mendampingi peserta saat observasi di kawasan Candi Poh. Selain aktif dalam komunitas pelestari budaya, keduanya juga terlibat dalam upaya menjaga dan mengembangkan Museum Purbakala Bumiayu bersama masyarakat setempat.

Selain riset dan wawancara, para peserta juga menyusun dokumentasi visual dengan pendekatan dokumenter lapangan yang terinspirasi dari metode visual storytelling dan dokumentasi ilmiah profesional — mempelajari bagaimana sejarah dapat dikomunikasikan kembali kepada publik melalui foto, video, narasi populer, dan media digital.

Malam terakhir di Bumiayu diisi dengan suasana kebersamaan sederhana bersama mahasiswa dan tim lapangan. Percakapan santai, permainan Uno, dan cerita perjalanan penelitian menjadi penutup hangat sebelum para peserta meninggalkan Bumiayu.

“Habitat para ilmuwan akan membentuk anak-anak menjadi pribadi intelektual. Semoga mereka menemukan jalannya masing-masing,” ujar salah satu orang tua murid, Bonifasius Bayu Brathara, S.H., praktisi HSE dan pendamping lapangan yang selama kegiatan turut mendukung perjalanan serta mobilitas para peserta.

Para peneliti menilai keterlibatan pelajar dalam studi lapangan seperti ini penting untuk membangun regenerasi peneliti dan memperluas narasi Bumiayu kepada generasi muda Indonesia.

"Hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan selanjutnya akan dikembangkan menjadi esai ilmiah, buku perjalanan, serta buku cerita rakyat berbasis penelitian lapangan dan wawancara masyarakat lokal. Sebagian karya tersebut direncanakan untuk dipublikasikan melalui platform akademik dan publikasi populer sebagai bagian dari penguatan literasi, dokumentasi budaya, dan portofolio pendidikan peserta," terang Shan

"Melalui kegiatan ini, para peserta berharap Situs Bumiayu dan Museum Purbakala Bumiayu semakin dikenal generasi muda Indonesia — sebuah bukti bahwa pendidikan bermakna tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi dari pengalaman langsung di lapangan," pungkas Bayu.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ikut-peneliti-brin-ke-lapangan-pelajar-dokumentasikan-sejarah-dan-budaya-bumiayu/92977/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.59 WITA

  • #BRIN
  • #Berita Pendidikan
  • #Pendidikan Hybrid
  • #Peneliti BRIN
  • #Situs Purbakala Bumiayu

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Pilihan Editor

  1. 1 Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia
  2. 2

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  3. 3

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  4. 4

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  5. 5

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.