Setiap Sekolah Kunjungi Veteran atau Keluarga Pejuang
Konsep gerakan “Murid Menjemput Sejarah” dibuat sederhana. Setiap sekolah diarahkan mengunjungi sedikitnya satu veteran atau pejuang kemerdekaan maupun keluarganya. Selain melakukan anjangsana, para murid membawa bingkisan sebagai bentuk perhatian dan penghormatan. Namun, Aries menegaskan bahwa bantuan tersebut bukan menjadi tujuan utama kegiatan. “Sembako, selimut maupun tali asih yang dibawa murid sebenarnya bukan tujuan utamanya. Yang paling penting adalah menghadirkan rasa hormat, kepedulian dan terima kasih generasi hari ini kepada para pejuang,” katanya. Menurut Aries, semangat perjuangan pada masa sekarang harus diterjemahkan sesuai tantangan yang dihadapi generasi muda. Perjuangan tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, tetapi melalui pendidikan, prestasi, kepedulian sosial, menjaga persatuan, serta memberi kontribusi positif bagi bangsa. “Kami ingin menanamkan kepada murid bahwa mengisi kemerdekaan sekarang tidak lagi dengan mengangkat senjata, tetapi dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, menjaga persatuan, memiliki kepedulian sosial, serta memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegasnya.Veteran Titipkan Pesan Kemerdekaan kepada Generasi Muda
Setiap kunjungan juga menghasilkan dokumentasi berupa pesan kemerdekaan dari veteran kepada generasi muda. Pesan tersebut dapat disampaikan melalui video berdurasi satu hingga dua menit maupun dalam bentuk tulisan tangan. “Yang membuat gerakan ini berbeda adalah setiap kunjungan menghasilkan pesan kemerdekaan bagi murid di Jawa Timur. Pesan tersebut kemudian tertuang dalam sebuah video berdurasi satu sampai dua menit ataupun tulisan tangan dari para veteran,” jelas Aries. Ia menilai kegiatan tersebut berpotensi berkembang menjadi model pendidikan karakter khas Jawa Timur karena memadukan literasi sejarah, kepedulian sosial, penghormatan kepada pejuang, serta dokumentasi sejarah lokal. “Jika buku mengajarkan sejarah, maka para veteran mengajarkan kepada anak-anak kita tentang harga kemerdekaan,” tuturnya. Antusiasme juga datang dari para veteran. Sejumlah veteran, menurut Aries, merasa terharu karena masih ada generasi muda yang bersedia datang langsung untuk mendengarkan pengalaman perjuangan mereka.
“Para veteran mengapresiasi yang dilakukan murid-murid dan guru karena mereka terharu masih ada yang peduli dengan sejarah secara langsung, bukan hanya di buku. Mereka bisa mendengarkan langsung dari pelaku sejarah,” katanya.
Murid Belajar Kepedulian Sosial dari Kehidupan Veteran
Selain memperoleh pengetahuan sejarah, para pelajar juga menemukan beragam kondisi kehidupan para veteran. Ada yang hidup cukup mapan, tetapi terdapat pula veteran yang tinggal di rumah sederhana, rumah kontrakan, hingga tempat tinggal yang membutuhkan perbaikan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran sosial bagi para murid bahwa penghormatan kepada pejuang tidak cukup diwujudkan melalui seremoni, tetapi juga melalui kepedulian nyata. Sejumlah sekolah memilih tokoh maupun tempat bersejarah yang memiliki keterkaitan kuat dengan daerah masing-masing. Murid SMAN 1 Ngrambe, misalnya, melakukan ziarah ke makam Ki Ronggo Lelono. Melalui doa dan tabur bunga, para pelajar diajak mengenang nilai perjuangan, kepemimpinan, dan pengabdian tokoh yang dihormati sebagai salah satu leluhur Ngawi tersebut. Ki Ronggo Lelono dikenal sebagai tokoh leluhur dan mantan patih dalam legenda Kabupaten Ngawi yang dihormati sebagai salah satu cikal bakal pemimpin di daerah tersebut.
Sementara itu, murid SMAN 1 Widodaren melakukan kunjungan ke rumah peninggalan Pahlawan Nasional dr. Radjiman Wedyodiningrat di Desa Ndirgo.
Kisah perjuangan tokoh yang pernah memimpin Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tersebut disampaikan oleh Sagimin, penjaga makam dr. Radjiman.
Dari kunjungan tersebut, para pelajar memperoleh pesan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi menjadi awal untuk terus berkarya serta berkontribusi bagi bangsa.
Para murid juga diajak meneladani sosok dr. Radjiman sebagai pribadi yang berilmu, berani, dan mengabdikan diri kepada negara.
Di wilayah lain, SMAN 1 Sukodadi menyambangi veteran perang Bandiyo. Sementara murid SMAN 1 Wonoayu berkesempatan bertemu dengan Liem, pejuang yang terkait dengan operasi Dwikora, Trikora, dan Sejora, serta Sumiyatun, istri pejuang Trikora.
Keduanya tampak terharu ketika kembali menceritakan pengalaman perjuangan masa lalu kepada para pelajar.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda