Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Idul Fitri yang Tidak Dimenangkan bagi Mereka yang Berduka

Idul Fitri yang Tidak Dimenangkan bagi Mereka yang Berduka

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
24 Maret 2026, 19.43 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Idul Fitri yang Tidak Dimenangkan bagi Mereka yang Berduka
Sumber: dokumentasi pribadi anak-anak pulang dari sekolah darurat di desa Babo, Aceh Tamiang

Penulis: Rajif Muzamil Rohman Intansi: Universitas Negeri Yogyakarta

JurnalPost.com - Bulan suci Ramadan selalu menjadi momen yang ditunggu bagi seluruh umat Muslim di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Bagaimana tidak, bulan ini selalu memberikan keistimewaan, baik bagi yang menjalankannya maupun yang tidak. Bagi yang menjalankan, Ramadan menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, karena di bulan ini segala amal ibadah dilipatgandakan. Selain itu, suasana khas seperti “ngabuburit” di berbagai daerah juga menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang dinikmati banyak orang.

IKLAN

Pada bulan ini, seluruh umat Muslim diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Kewajiban ini tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh, maka pada tanggal 1 Syawal umat Muslim merayakan Idul Fitri yang kerap dimaknai sebagai hari kemenangan. Selama Ramadan, umat Islam tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga berupaya mengendalikan diri dari berbagai perilaku buruk serta meningkatkan ibadah, baik yang wajib maupun sunnah.

Secara makna, Idul Fitri berasal dari bahasa Arab: ‘id yang berarti kembali, dan al-fitri yang bermakna suci atau bersih. Dengan demikian, Idul Fitri sering dipahami sebagai momentum kembalinya manusia pada keadaan yang suci. Tidak heran jika hari raya ini identik dengan suasana kebersamaan—berkumpul dengan keluarga, bersilaturahmi, saling memaafkan, serta berbagi kebahagiaan.

Terdengar begitu ideal, bahkan hampir sempurna. Namun, di balik makna yang sarat dengan kemenangan dan kesucian tersebut, ada pertanyaan yang mengusik: apakah Idul Fitri benar-benar dirasakan sebagai kemenangan oleh semua orang?

IKLAN

Pada kenyataannya, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Bagi sebagian mereka yang sedang berduka, Idul Fitri justru hadir tanpa kemeriahan. Momen ini dapat kita lihat pada mereka yang terdampak bencana di beberapa wilayah, seperti di Aceh dan daerah lain di Sumatera. Ketika sebagian orang merayakan lebaran dengan pakaian baru, hidangan khas, dan kunjungan ke sanak saudara, mereka justru masih harus bergelut dengan realitas yang jauh dari kata layak.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Sebagian dari mereka masih sibuk membersihkan sisa lumpur, menunggu distribusi air bersih, serta berharap bantuan segera datang. Tidak sedikit yang harus merayakan Idul Fitri di tenda-tenda pengungsian, tanpa kepastian kapan dapat kembali ke rumah yang telah hilang. Lebih dari itu, mereka tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga harapan, rasa aman, bahkan orang-orang yang mereka cintai.

Dalam titik ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan meninjau kembali makna kemenangan yang selama ini kita pahami. Jika Idul Fitri dimaknai sebagai kembalinya manusia pada keadaan suci, maka pertanyaannya bukan hanya apakah kita telah menahan lapar dan dahaga selama satu bulan penuh, tetapi juga apakah kita telah menghadirkan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari kesucian itu sendiri.

Kemenangan seharusnya tidak hanya bersifat personal dan spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Sebab, kesalehan yang hanya berhenti pada diri sendiri akan terasa hampa ketika di sekitar kita masih banyak orang yang hidup dalam kesulitan. Dalam hal ini, kemenangan menjadi sesuatu yang perlu dipertanyakan kembali, terutama ketika masih ada mereka yang tidak dapat merasakan kebahagiaan yang sama di hari raya.

Idul Fitri seharusnya tidak hanya menjadi perayaan atas keberhasilan menunaikan ibadah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial. Rasa lapar yang kita rasakan selama Ramadan seharusnya melatih kepekaan terhadap mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Namun, jika setelah Ramadan berakhir kita kembali pada sikap acuh dan tidak peduli, maka ada kemungkinan bahwa esensi dari ibadah tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Di sinilah letak kegelisahan itu muncul. Ketika sebagian orang merayakan kemenangan dengan penuh suka cita, sementara di sisi lain masih ada mereka yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup, maka kemenangan terasa tidak lagi utuh. Ia menjadi parsial, bahkan cenderung eksklusif.

Maka, mungkin Idul Fitri bukan sekadar tentang kembali pada kesucian secara individu, tetapi juga tentang sejauh mana kita mampu menghadirkan keadilan dan kepedulian dalam kehidupan bersama. Kemenangan yang sejati bukan hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga tercermin dari bagaimana kebahagiaan itu dapat menjangkau mereka yang selama ini terpinggirkan. Jika masih ada mereka yang merayakan Idul Fitri dalam keadaan berduka, kehilangan, dan ketidakpastian, maka barangkali yang perlu kita rayakan bukanlah kemenangan itu sendiri, melainkan kesadaran untuk terus memperjuangkan kemanusiaan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/idul-fitri-yang-tidak-dimenangkan-bagi-mereka-yang-berduka/91677/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.58 WITA

  • #Idul Fitri
  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Pilihan Editor

  1. 1 Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi
  2. 2

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  3. 3

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

  4. 4

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  5. 5

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.