Oleh: Jeliza Aureira Putri Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
JurnalPos.com - Jumat malam, pukul sembilan. Laporan terakhir baru saja terkirim, tubuh remuk, kepala penuh. Alih-alih tidur, jari kita malah membuka aplikasi belanja. Satu demi satu barang masuk keranjang, lalu dibayar dengan fitur paylater tanpa pikir panjang.
Lalu muncul kalimat sakti yang sudah jadi mantra generasi kita: “Aku pantas dapat ini. Aku sudah kerja keras seminggu penuh.”
Saya menduga banyak dari kita pernah, bahkan sering, berada di titik itu. Dan menurut saya, di situlah masalah sesungguhnya dimulai.
Fenomena ini bukan lagi sekadar gaya hidup urban yang lucu untuk dibahas di obrolan santai. Ia adalah cermin betapa rapuhnya pertahanan mental pekerja muda hari ini. Dua kata yang dulu terdengar menyehatkan, self-reward (apresiasi diri) dan healing (pemulihan), kini telah bergeser makna secara diam-diam. Yang awalnya soal menjaga keseimbangan jiwa, perlahan berubah menjadi tameng pembenaran untuk perilaku konsumtif yang sebetulnya impulsif. Dan paylater? Ia hanyalah bahan bakar yang mempercepat ledakan bom waktu psikologis yang sudah lama disiapkan.
Dalam psikologi, dorongan belanja saat tertekan secara emosional punya nama sendiri yaitu revenge spending, alias belanja balas dendam. Saat otak kita berada di titik jenuh akibat beban kerja (burnout), pasokan dopamin, hormon yang membuat kita merasa bahagia, ikut menipis. Membeli barang baru secara instan memicu lonjakan dopamin yang menciptakan ilusi seolah kita kembali memegang kendali atas hidup yang terasa berantakan.
Masalahnya, ilusi itu rapuh. Ia menguap secepat notifikasi “pesanan telah sampai” hilang dari layar.
Di sinilah jebakan hedonic treadmill mulai bekerja. Manusia, menurut teori ini, memiliki kemampuan adaptasi yang nyaris instan terhadap kesenangan. Rasa puas atas barang baru atau tiket liburan yang baru dibeli akan memudar dalam hitungan hari, kadang jam. Konsekuensinya getir pada momen stres berikutnya, kita membutuhkan stimulus belanja yang lebih besar lagi untuk mencapai kepuasan yang sama. Begitu kapasitas dompet sudah tak sanggup mengejar ambisi ego, paylater pun diam-diam dipanggil sebagai jalan pintas, jalan pintas yang sayangnya jauh dari kata aman.
Dan inilah ironi yang paling menyakitkan: niat awalnya meredakan stres kerja, tapi yang datang justru kecemasan baru. Tagihan paylater menumpuk di bulan berikutnya, melahirkan financial anxiety, kecemasan finansial yang sama sekali tidak kita undang. Alih-alih pulih, kita justru terjebak dalam lingkaran setan bekerja lebih keras untuk melunasi utang atas barang-barang yang, jujur saja, sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan.
Saya pikir, di titik inilah kita perlu jujur pada diri sendiri: healing macam apa yang justru meninggalkan utang sebagai oleh-olehnya?
Industri digital, harus diakui, sangat lihai membaca celah psikologis ini. Konsumerisme dikemas rapi dengan bungkus isu kesehatan mental. Kita digiring untuk percaya bahwa ketenangan pikiran bisa dibeli lewat skema cicilan, atau lewat segelas kopi kekinian seharga sepersekian gaji. Padahal, menurut saya paling penting untuk diingat, kesehatan mental yang sesungguhnya tidak pernah dijual di etalase digital mana pun, apalagi bisa diangsur dengan bunga yang sengaja disembunyikan di balik kalimat manis “tanpa bunga”.
Karena itu, sudah waktunya kita kembali ke prinsip mindful spending yaitu kesadaran penuh dalam mengelola pengeluaran beserta konsekuensi jangka panjangnya. Kabar baiknya, healing yang sesungguhnya sering kali tidak menguras dompet sama sekali. Mematikan notifikasi kantor di akhir pekan. Tidur cukup dan tepat waktu. Sekadar duduk diam menghirup udara segar di taman kota. Hal-hal sederhana itu, percaya atau tidak, jauh lebih menyembuhkan dibanding paket kiriman kurir yang baru dibuka.
Menyayangi diri sendiri, bagi saya, bukan soal seberapa cepat kita bisa checkout barang incaran. Ia soal membangun ketenangan pikiran sekaligus stabilitas keuangan untuk masa depan, bukan memburu kepuasan semu yang hanya bertahan beberapa menit saat paket dibuka.
“ Jadi, sebelum jari kita kembali tergoda menekan tombol “bayar nanti”, ada baiknya kita bertanya dulu pada diri sendiri: ini benar-benar healing, atau cuma utang yang menyamar jadi self-reward?”
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda