Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Healing atau Utang? Saat Self-Reward Kita Berakhir di Tagihan Paylater

Healing atau Utang? Saat Self-Reward Kita Berakhir di Tagihan Paylater

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
10 Juni 2026, 21.41 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Jeliza Aureira Putri

Oleh: Jeliza Aureira Putri Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

JurnalPos.com - Jumat malam, pukul sembilan. Laporan terakhir baru saja terkirim, tubuh remuk, kepala penuh. Alih-alih tidur, jari kita malah membuka aplikasi belanja. Satu demi satu barang masuk keranjang, lalu dibayar dengan fitur paylater tanpa pikir panjang.

IKLAN

Lalu muncul kalimat sakti yang sudah jadi mantra generasi kita: “Aku pantas dapat ini. Aku sudah kerja keras seminggu penuh.”

Bayar Qriss
Baca Juga

Transaksi Digital & Maqashid Syariah: Antara Kemudahan dan Kemaslahatan

Saya menduga banyak dari kita pernah, bahkan sering, berada di titik itu. Dan menurut saya, di situlah masalah sesungguhnya dimulai.

Fenomena ini bukan lagi sekadar gaya hidup urban yang lucu untuk dibahas di obrolan santai. Ia adalah cermin betapa rapuhnya pertahanan mental pekerja muda hari ini. Dua kata yang dulu terdengar menyehatkan, self-reward (apresiasi diri) dan healing (pemulihan), kini telah bergeser makna secara diam-diam. Yang awalnya soal menjaga keseimbangan jiwa, perlahan berubah menjadi tameng pembenaran untuk perilaku konsumtif yang sebetulnya impulsif. Dan paylater? Ia hanyalah bahan bakar yang mempercepat ledakan bom waktu psikologis yang sudah lama disiapkan.

Dalam psikologi, dorongan belanja saat tertekan secara emosional punya nama sendiri yaitu revenge spending, alias belanja balas dendam. Saat otak kita berada di titik jenuh akibat beban kerja (burnout), pasokan dopamin, hormon yang membuat kita merasa bahagia, ikut menipis. Membeli barang baru secara instan memicu lonjakan dopamin yang menciptakan ilusi seolah kita kembali memegang kendali atas hidup yang terasa berantakan.

Masalahnya, ilusi itu rapuh. Ia menguap secepat notifikasi “pesanan telah sampai” hilang dari layar.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

IKLAN

Di sinilah jebakan hedonic treadmill mulai bekerja. Manusia, menurut teori ini, memiliki kemampuan adaptasi yang nyaris instan terhadap kesenangan. Rasa puas atas barang baru atau tiket liburan yang baru dibeli akan memudar dalam hitungan hari, kadang jam. Konsekuensinya getir pada momen stres berikutnya, kita membutuhkan stimulus belanja yang lebih besar lagi untuk mencapai kepuasan yang sama. Begitu kapasitas dompet sudah tak sanggup mengejar ambisi ego, paylater pun diam-diam dipanggil sebagai jalan pintas, jalan pintas yang sayangnya jauh dari kata aman.

Dan inilah ironi yang paling menyakitkan: niat awalnya meredakan stres kerja, tapi yang datang justru kecemasan baru. Tagihan paylater menumpuk di bulan berikutnya, melahirkan financial anxiety, kecemasan finansial yang sama sekali tidak kita undang. Alih-alih pulih, kita justru terjebak dalam lingkaran setan bekerja lebih keras untuk melunasi utang atas barang-barang yang, jujur saja, sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan.

Saya pikir, di titik inilah kita perlu jujur pada diri sendiri: healing macam apa yang justru meninggalkan utang sebagai oleh-olehnya?

Industri digital, harus diakui, sangat lihai membaca celah psikologis ini. Konsumerisme dikemas rapi dengan bungkus isu kesehatan mental. Kita digiring untuk percaya bahwa ketenangan pikiran bisa dibeli lewat skema cicilan, atau lewat segelas kopi kekinian seharga sepersekian gaji. Padahal, menurut saya paling penting untuk diingat, kesehatan mental yang sesungguhnya tidak pernah dijual di etalase digital mana pun, apalagi bisa diangsur dengan bunga yang sengaja disembunyikan di balik kalimat manis “tanpa bunga”.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Karena itu, sudah waktunya kita kembali ke prinsip mindful spending yaitu kesadaran penuh dalam mengelola pengeluaran beserta konsekuensi jangka panjangnya. Kabar baiknya, healing yang sesungguhnya sering kali tidak menguras dompet sama sekali. Mematikan notifikasi kantor di akhir pekan. Tidur cukup dan tepat waktu. Sekadar duduk diam menghirup udara segar di taman kota. Hal-hal sederhana itu, percaya atau tidak, jauh lebih menyembuhkan dibanding paket kiriman kurir yang baru dibuka.

Menyayangi diri sendiri, bagi saya, bukan soal seberapa cepat kita bisa checkout barang incaran. Ia soal membangun ketenangan pikiran sekaligus stabilitas keuangan untuk masa depan, bukan memburu kepuasan semu yang hanya bertahan beberapa menit saat paket dibuka.

“ Jadi, sebelum jari kita kembali tergoda menekan tombol “bayar nanti”, ada baiknya kita bertanya dulu pada diri sendiri: ini benar-benar healing, atau cuma utang yang menyamar jadi self-reward?”

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/healing-atau-utang-saat-self-reward-kita-berakhir-di-tagihan-paylater/94295/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 02.28 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #PayLater

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Pilihan Editor

  1. 1 DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD
  2. 2

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  3. 3

    Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. 4

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  5. 5

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.