Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Gelar Tinggi, Moral Rendah: Menggugat “Jiwa” yang Hilang dari Pendidikan Modern

Gelar Tinggi, Moral Rendah: Menggugat “Jiwa” yang Hilang dari Pendidikan Modern

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
06 Juni 2026, 18.36 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Gelar Tinggi

JurnalPost.com - Kita sering kali dihentak oleh ironi yang menyesakkan dada: berita tentang pejabat bergelar doktor yang tersangkut kasus korupsi, atau perundungan brutal yang dilakukan oleh siswa dari sekolah-sekolah elite. Pertanyaan getir pun muncul: mengapa institusi pendidikan kita yang megah kerap gagal melahirkan manusia yang manusiawi? Mengapa kepedulian sosial justru luntur di tengah kepintaran akademik yang tinggi?

Fenomena ini bukan kebetulan. Ini adalah alarm keras bahwa ada sesuatu yang sangat fundamental yang telah hilang dari sistem pendidikan modern kita.

IKLAN

Al-Ghazali: Pendidikan sebagai Penyempurnaan Jiwa

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Jauh pada abad ke-11, Imam Al-Ghazali telah mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah sekadar ritual transfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid. Bagi pemikir Islam legendaris ini, pendidikan adalah proses sakral untuk membentuk insan paripurna—manusia yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat.

Tujuan puncaknya adalah taqarrub Ilallah, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, Al-Ghazali tidak anti-dunia. Ia sadar betul bahwa ilmu praktis sangat dibutuhkan untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Hanya saja, segalanya harus bermuara pada niat yang benar.

Kunci penting dari gagasan Al-Ghazali yang sering dilupakan hari ini adalah: akhlak tidak bisa diajarkan lewat penyampaian atau ceramah saja. Akhlak tumbuh secara perlahan lewat teladan nyata dari sang guru dan latihan yang konsisten.

Al-Ghazali menganalogikan guru seperti seorang dokter. Dokter tidak akan memberikan dosis obat yang sama untuk semua penyakit. Maka, guru pun harus fleksibel melihat umur, sifat, dan kapasitas masing-masing siswa. Filosofi ini berbanding terbalik dengan standarisasi kaku dan sistem ujian massal dalam pendidikan modern saat ini.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Paulo Freire: Menggugat "Pendidikan Gaya Bank"

Dari sudut pandang yang berbeda, Paulo Freire, tokoh pendidik asal Brasil abad ke-20, melempar kritik menohok terhadap apa yang ia sebut sebagai *banking model of education* (pendidikan gaya bank). Dalam sistem ini, kelas berjalan satu arah: guru bertindak sebagai penabung informasi, dan siswa pasif sebagai celengan yang menerima setoran.

Model ini tidak hanya menjemukan, tetapi juga melestarikan ketidakadilan sosial. Freire menegaskan bahwa pendidikan harus melahirkan kesadaran kritis. Siswa bukanlah objek, melainkan mitra aktif dalam memproduksi pengetahuan.

IKLAN

Pendidikan sejati harus mampu membuat seseorang melihat ketimpangan di sekitarnya dan bergerak untuk mengubah status quo. Sayangnya, visi emansipatif Freire ini sering kali berakhir radikal, karena menuntut runtuhnya total sistem lama demi membangun tatanan baru dari nol.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Gus Dur: Menawarkan Jalan Transformasi

Di sinilah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hadir membawa solusi yang membumi. Gus Dur sepakat dengan Freire bahwa kita harus memerangi pendidikan gaya bank yang menumpulkan nalar kritis. Namun, Gus Dur dengan tegas menolak jalan revolusi atau penghancuran sistem.

Bagi Gus Dur, jalan terbaik adalah transformasi: sebuah perubahan bertahap pada pola pikir dan sikap manusia tanpa harus mengosak-asik seluruh struktur sosial yang ada. Sejarah mencatat, revolusi sering kali hanya mengganti baju penguasa, tanpa benar-benar menyelesaikan masalah mendasar.

Transformasi bekerja secara personal. Ia mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia dan sesamanya melalui proses yang sunyi, sabar, dan penuh dedikasi. Pemikiran Gus Dur inilah yang menjadi jembatan cerdas: ia mengambil kedalaman spiritual Al-Ghazali sekaligus merawat api kesadaran kritis milik Freire.

Menjahit Tiga Perspektif

Ketiga tokoh ini sesungguhnya tidak sedang bertengkar, melainkan saling melengkapi jika kita mau merajutnya. Al-Ghazali memberi kita fondasi spiritual dan karakter; Freire meniupkan ruh keadilan sosial; dan Gus Dur menyediakan peta jalan metodologi yang damai serta transformatif.

Pendidikan sejati lahir dari integrasi ketiga elemen tersebut. Pendidikan harus memiliki kompas spiritual, tajam dalam melihat ketidakadilan, sekaligus kokoh dalam bergerak secara konsisten. Krisis pendidikan kita hari ini bukanlah krisis kurikulum atau kekurangan fasilitas gawai, melainkan krisis filosofi. Kita telah telanjur mereduksi sekolah dan universitas menjadi sekadar pabrik penyedia buruh untuk kebutuhan industri.

Kita harus berani kembali pada hakikat dasar: memulihkan hubungan yang bermakna antara guru dan murid, menghidupkan ruang keteladanan, dan tidak menyerah pada sistem yang kaku. Di tengah gempuran zaman, lembaga-lembaga pendidikan yang masih mempertahankan pendekatan personal dan fokus pada pembentukan karakter adalah bukti bahwa pendidikan yang memanusiakan manusia masih sangat mungkin kita perjuangkan.

Penulis: Sya'ban Fadol H

Atribusi: Seorang Mahasiswa Magister UIN Sunan Kalijaga, bercita-cita menjadi rakyat biasa, memaksa meluangkan waktunya untuk menulis cerpen dan mendengarkan musik-musik qasidah.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/gelar-tinggi-moral-rendah-menggugat-jiwa-yang-hilang-dari-pendidikan-modern/94122/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 03.25 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #UIN Sunan Kalijaga

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Pilihan Editor

  1. 1 Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian
  2. 2

    Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  4. 4

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  5. 5

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.