JurnalPost.com - Kita sering kali dihentak oleh ironi yang menyesakkan dada: berita tentang pejabat bergelar doktor yang tersangkut kasus korupsi, atau perundungan brutal yang dilakukan oleh siswa dari sekolah-sekolah elite. Pertanyaan getir pun muncul: mengapa institusi pendidikan kita yang megah kerap gagal melahirkan manusia yang manusiawi? Mengapa kepedulian sosial justru luntur di tengah kepintaran akademik yang tinggi?
Fenomena ini bukan kebetulan. Ini adalah alarm keras bahwa ada sesuatu yang sangat fundamental yang telah hilang dari sistem pendidikan modern kita.
Al-Ghazali: Pendidikan sebagai Penyempurnaan Jiwa
Jauh pada abad ke-11, Imam Al-Ghazali telah mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah sekadar ritual transfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid. Bagi pemikir Islam legendaris ini, pendidikan adalah proses sakral untuk membentuk insan paripurna—manusia yang seimbang antara kehidupan dunia dan akhirat.
Tujuan puncaknya adalah taqarrub Ilallah, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, Al-Ghazali tidak anti-dunia. Ia sadar betul bahwa ilmu praktis sangat dibutuhkan untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Hanya saja, segalanya harus bermuara pada niat yang benar.
Kunci penting dari gagasan Al-Ghazali yang sering dilupakan hari ini adalah: akhlak tidak bisa diajarkan lewat penyampaian atau ceramah saja. Akhlak tumbuh secara perlahan lewat teladan nyata dari sang guru dan latihan yang konsisten.
Al-Ghazali menganalogikan guru seperti seorang dokter. Dokter tidak akan memberikan dosis obat yang sama untuk semua penyakit. Maka, guru pun harus fleksibel melihat umur, sifat, dan kapasitas masing-masing siswa. Filosofi ini berbanding terbalik dengan standarisasi kaku dan sistem ujian massal dalam pendidikan modern saat ini.
Paulo Freire: Menggugat "Pendidikan Gaya Bank"
Dari sudut pandang yang berbeda, Paulo Freire, tokoh pendidik asal Brasil abad ke-20, melempar kritik menohok terhadap apa yang ia sebut sebagai *banking model of education* (pendidikan gaya bank). Dalam sistem ini, kelas berjalan satu arah: guru bertindak sebagai penabung informasi, dan siswa pasif sebagai celengan yang menerima setoran.
Model ini tidak hanya menjemukan, tetapi juga melestarikan ketidakadilan sosial. Freire menegaskan bahwa pendidikan harus melahirkan kesadaran kritis. Siswa bukanlah objek, melainkan mitra aktif dalam memproduksi pengetahuan.
Pendidikan sejati harus mampu membuat seseorang melihat ketimpangan di sekitarnya dan bergerak untuk mengubah status quo. Sayangnya, visi emansipatif Freire ini sering kali berakhir radikal, karena menuntut runtuhnya total sistem lama demi membangun tatanan baru dari nol.
Gus Dur: Menawarkan Jalan Transformasi
Di sinilah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hadir membawa solusi yang membumi. Gus Dur sepakat dengan Freire bahwa kita harus memerangi pendidikan gaya bank yang menumpulkan nalar kritis. Namun, Gus Dur dengan tegas menolak jalan revolusi atau penghancuran sistem.
Bagi Gus Dur, jalan terbaik adalah transformasi: sebuah perubahan bertahap pada pola pikir dan sikap manusia tanpa harus mengosak-asik seluruh struktur sosial yang ada. Sejarah mencatat, revolusi sering kali hanya mengganti baju penguasa, tanpa benar-benar menyelesaikan masalah mendasar.
Transformasi bekerja secara personal. Ia mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia dan sesamanya melalui proses yang sunyi, sabar, dan penuh dedikasi. Pemikiran Gus Dur inilah yang menjadi jembatan cerdas: ia mengambil kedalaman spiritual Al-Ghazali sekaligus merawat api kesadaran kritis milik Freire.
Menjahit Tiga Perspektif
Ketiga tokoh ini sesungguhnya tidak sedang bertengkar, melainkan saling melengkapi jika kita mau merajutnya. Al-Ghazali memberi kita fondasi spiritual dan karakter; Freire meniupkan ruh keadilan sosial; dan Gus Dur menyediakan peta jalan metodologi yang damai serta transformatif.
Pendidikan sejati lahir dari integrasi ketiga elemen tersebut. Pendidikan harus memiliki kompas spiritual, tajam dalam melihat ketidakadilan, sekaligus kokoh dalam bergerak secara konsisten. Krisis pendidikan kita hari ini bukanlah krisis kurikulum atau kekurangan fasilitas gawai, melainkan krisis filosofi. Kita telah telanjur mereduksi sekolah dan universitas menjadi sekadar pabrik penyedia buruh untuk kebutuhan industri.
Kita harus berani kembali pada hakikat dasar: memulihkan hubungan yang bermakna antara guru dan murid, menghidupkan ruang keteladanan, dan tidak menyerah pada sistem yang kaku. Di tengah gempuran zaman, lembaga-lembaga pendidikan yang masih mempertahankan pendekatan personal dan fokus pada pembentukan karakter adalah bukti bahwa pendidikan yang memanusiakan manusia masih sangat mungkin kita perjuangkan.
Penulis: Sya'ban Fadol H
Atribusi: Seorang Mahasiswa Magister UIN Sunan Kalijaga, bercita-cita menjadi rakyat biasa, memaksa meluangkan waktunya untuk menulis cerpen dan mendengarkan musik-musik qasidah.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda