Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Citizen Reporter
  3. Eksistensi Observasi Golek Menak di Kota Binangun

Eksistensi Observasi Golek Menak di Kota Binangun

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
14 Juni 2022, 23.08 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
14 Jun 2022, 23.08 WITA · 24 menit baca
24 menit baca
Eksistensi Observasi Golek Menak di Kota Binangun

EKSISTENSI WAYANG GOLEK MENAK DI KOTA BINANGUN

THE EXISTENCE OF MENAK GOLEK PUPPET FROM BINANGUN CITY

Oleh: 1 Rully Widyanti Eka Putri, 2 Akbar Al Masjid Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta ABSTRAK Budaya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat karena semua aspek dalam kehidupan masyarakat dapat dikatakan sebagai wujud dari kebudayaan. Berbagai keanekaragaman perwujudan budaya yang berkembang tersebut dijadikan kerangka acuan dalam bersikap dan menentukan tindakan serta sebagai ciri pengenal yang membedakan diri dari kelompok lain. Pola interaksi masyarakat terhadap aspek kehidupannya menghasilkan sebuah tradisi, kebiasaan dan nilai-nilai dalam kehidupan, misalnya sebuah kesenian tradisional. Salah satunya adalah Wayang Golek Menak. Kesenian Wayang Golek Menak ini tumbuh dari Kulon Progo yang terbawa di lingkup Kraton Yogyakarta. Tujuan dari kajian ini yaitu untuk mengetahui dan mengenalkan eksistensi Wayang Golek Menak yang berada di daerah Kulon Progo yang terbawa di lingkup Kraton Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi untuk mengetahui kondisi terkini, dokumentasi, dan wawancara kepada informan untuk mendapatkan data tentang eksistensi Wayang Golek Menak yang berada di daerah Kulon Progo. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wayang Golek Menak sekarang telah menjadi tradisi serta kesenian di Kulon Progo dan di Kraton Yogyakarta. Bahkan, adanya Wayang Golek Menak di Kulon Progo saat ini justru sedang berkembang dengan pesat. Kata kunci: kesenian tradisional, eksistensi, Wayang Golek Menak, nilai, masyarakat ABSTRACT Culture cannot be separated from people's lives because all aspects of people's lives can be said to be a form of culture. The diversity of cultural manifestations that develop are used as a frame of reference in attitude and determining actions as well as identifying characteristics that distinguish themselves from other groups. The pattern of community interaction with aspects of life produces a tradition, habit and values in life, for example a traditional art. One of them is the Menak Golek Puppet. This Menak Golek Puppet art grew from Kulon Progo which was carried over to the Yogyakarta Palace. The purpose of this study is to identify and introduce the existence of the Menak Golek Puppet in the Kulon Progo area which is carried over to the Yogyakarta Palace. This type of research is qualitative research. Data were collected through observation to determine the current conditions, documentation, and interviews with informants to obtain data about the existence of the menak puppet show in the Kulon Progo area. The data analysis technique used in this research is descriptive method. The results of the study indicate that the Menak Golek Puppet has now become a tradition and art in Kulon Progo and in the Yogyakarta Palace. In fact, the existence of the Menak Golek Puppet in Kulon Progo is currently growing rapidly. Keywords: traditional arts, existence, menak golek puppet, values, society

PENDAHULUAN

Warisan budaya berarti suatu hasil budaya fisik dari tradisi yang berbeda-beda pada masa lalu yang menjadi bagian utama dalam identitas suatu kelompok atau bangsa. Warisan budaya terdiri dari warisan budaya benda (tangible cultural heritage) dan warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage). Warisan budaya benda, yaitu kebudayaan yang berdasarkan atas hasil karya dan bentuk konkret/nyata seperti pakaian adat, suku, rumah adat, kerajinan tangan etnis, dan sebagainya. Sedangkan warisan budaya tak benda, yaitu kebudayaan yang mengacu pada hasil karya yang bersifat abstrak dan banyak yang diturunkan antar generasi. Warisan budaya tak benda terdiri dari tradisi, seni pertunjukan, adat istiadat, ritus, perayaan, pengetahuan, kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta, serta kemahiran kerajinan tradisional (Pacet et al., 2020). Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) berarti sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan semua aspek dalam kehidupan masyarakat dapat dikatakan sebagai wujud dari kebudayaan, seperti gagasan atau pikiran manusia, aktivitas manusia, atau karya yang dihasilkan manusia (Susilo et al., 2018: 9). Di Indonesia kebudayaan sangatlah beraneka ragam, karena di setiap daerahnya mempunyai kebudayaan tersendiri. Kebudayaan mengatur segala hal yang berkaitan dengan perilaku manusia dalam kehidupannya bagaimana seharusnya mereka bertindak, berbuat, dan menentukan sikap yang baik. Manusia selalu menciptakan kebiasaan bagi dirinya sendiri. Kebiasaan ialah suatu perilaku pribadi, biasanya mengacu pada suatu gejala di dalam tindakan-tindakannya yang selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur. Kebiasaan-kebiasaan ini akan dilakukan oleh seseorang di suatu masyarakat sesuai dengan kebutuhannya, hal ini biasa disebut dengan tradisi. (Pacet et al., 2020) Masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai aspek kehidupan dan mengembangkan kebudayaannya sebagai perwujudan tanggapan aktif terhadap lingkungan hidup. Berbagai keanekaragaman perwujudan budaya yang berkembang tersebut dijadikan prinsip dasar dalam menentukan tindakan, bersikap serta sebagai ciri pengenal yang membedakan dengan kelompok lain. Pola interaksi masyarakat terhadap aspek kehidupannya menghasilkan sebuah tradisi dan kebiasaan dalam kehidupan, misalnya sebuah kesenian. Salah satu kebudayaan tradisional yang ada di Indonesia ialah kesenian tradisional (Utami & Masjid, 2021). Menurut Jazuli (2008:71) kesenian tradisional ialah kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat secara turun menurun dari generasi ke generasi (Sulistyawati et al., 2021). Salah satunya adalah Wayang Golek Menak. Kesenian tradisional Wayang Golek Menak ini tumbuh dari Kulon Progo. Adanya seni pementasan Wayang Golek Menak hingga saat ini mempunyai sejarah yang cukup panjang bersama salah satu tokoh penggerak seni pedalangan berasal dari Sentolo yaitu Ki Regut Widi Prayitno. Setiap pementasan Wayang Golek Menak ini mengandung nilai-nilai kehidupan yang patut untuk diteladani. Keunikan Wayang Golek Menak ini terdapat pada kekhasan dari Kulon Progo yang dibawa ke Kraton dan dapat dikembangkan dengan sedemikian rupa, Wayang Golek Menak juga telah memberikan inspirasi tersendiri bagi kalangan penonton dan turis-turis mancanegara. Dengan berkembangnya zaman, keberadaan Wayang Golek Menak justru lebih dikenal oleh masyarakat atau wisatawan daerah Kraton Yogyakarta. Padahal, asal mula berkembangnya Wayang ini yaitu di kota Binangun atau yang sering dikenal Kulon Progo. Berdasarkan uraian di atas, untuk itu, penulis akan mengulas tentang Eksistensi Wayang Golek Menak yang tumbuh dari Kulon Progo yang terbawa di lingkup Kraton dengan sejelas-jelasnya.

METODE PENELITIAN

Deskriptif kualitatif ialah suatu jenis metode penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian terkait dengan pertanyaan siapa, apa, dimana dan bagaimana pada suatu peristiwa hingga akhirnya dikaji secara mendalam untuk menemukan pola-pola yang muncul pada peristiwa tersebut (Kim, H., Sefcik, J. S., & Bradway, C., 2016). Secara umum dapat dijelaskan bahwa deskriptif kualitatif ialah suatu metode penelitian yang bergerak pada pendekatan kualitatif sederhana dengan alur induktif. Alur induktif ini berawal dari peristiwa penjelas yang akhirnya dapat ditarik sebuah kesimpulan dari peristiwa tersebut (Yuliani, 2018). Penelitian deskriptif kualitatif menurut Mohajan, Haradhan (2018) diartikan sebagai penelitian yang menelaah peristiwa tindakan sosial yang alami menyesuaikan pada cara orang menafsirkan pengalaman realitas sosial mereka, sehingga individu mampu memecahkan masalahnya sendiri. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif melalui teknis analisis data dengan metode deskriptif. Penelitian ini dilakukan menggunakan deskriptif kualitatif, sehingga data yang diperoleh bukan berupa data angka/data statistik melainkan data yang bersifat kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini ialah (1) studi literatur dan studi dokumen (baik cetak maupun elektronik) untuk menemukan topik penelitian; (2) observasi untuk mengetahuikondisi terkini; (3) wawancara kepada informan untuk mendapatkan data tentang eksistensi Wayang Golek Menak yang berada di daerah Kulon Progo; dan (4) dokumentasi. Adapun informan pada penelitian ini ialah pengelola Wayang Golek Menak sekaligus Sanggar Puji Rahayu di Klebakan, Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejarah Lahirnya Wayang Golek Menak Gambar 1. Dokumentasi bersama pengelola Wayang Golek Menak di Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo. (Sumber: Foto Pribadi) Wayang Golek merupakan tokoh pewayangan yang berbentuk seperti boneka yang dirias dan terbuat dari kayu. Pertunjukan wayang golek digunakan sebagai media bercerita, edukasi, maupun sarana penyebaran agama dalam histori Jawa. Keberadaan wayang golek tidak bisa dipisahkan dengan adanya wayang kulit. Sejalan dengan hal ini, persebaran wayang di Jawa adalah pada masa Wali Songo khususnya Sunan Kalijaga. Penyebaran agama islam dilakukan oleh Wali Songo menggunakan tradisi lokal yang berlaku di masyarakat sebagaimana mestinya dari pada menentang. Melalui tradisi kesenian inilah nilai-nilai ajaran agama mulai disiarkan. Seiring perkembangan zaman dengan masuknya pengaruh Hindhu-Islam ke Nusantara pertunjukan wayang dilaksanakan oleh kaum Bangsawan. Dari beberapa wayang golek yang berkembang salah satunya yaitu, Wayang Golek Menak. Wayang Golek Menak yang biasanya disebut wayang thengul merupakan salah satu wujud penyebaran Islam yang ada di Jawa. Wayang Golek Menak termasuk seni tiga dimensi yang terbagi menjadi bagian kepala, bagian badan lengkap dengan tangan, dan bagian kain penutup. Bagian kepala Wayang Golek Menak terdiri dari muka, mata, hidung, mulut, janggut, leher telinga dan sebagainya. Sedangkan bagian penutup kepala pada Wayang Golek Menak disebut “irah-irahan”. Bagian kepala Wayang Golek Menak ini terbagi menjadi bagian muka, leher dan irah-irahan. Badan Wayang Golek Menak dibagi menjadi tiga bagian pokok, yakni bahu (bagian atas), tengah dan bokongan/pinggul (bagian bawah). Ciri khas dari Wayang Golek Menak dari Kulon Progo adalah terdapat sampur di badan wayang. Jika Wayang Golek Menak Kulon Progo dibandingkan dengan Wayang Golek Menak dari daerah lain, jelas akan berbeda dalam pertunjukannya maupun tokoh-tokoh dalam pewayangan. Hampir semua tokoh Wayang Golek Menak menggunakan baju berlengan panjang tanpa bentuk kaki. Lengan Wayang Golek Menak ini terdiri dari bagian lengan atas dan lengan bawah. Pada bagian badan ditutup dengan baju lengan panjang dihias dengan renda-renda, dan dilengkapi dengan aksesoris perhiasan seperti gelang, kalung, subang, anting, dan lain sebagainya hingga menyerupai pakaian layaknya manusia. Bagian kain penutup wayang ini biasanya menyesuaikan bentuk tubuh tokoh pewayangan mulai dari kain penutup kepala, baju dan bawahannya. Adapun jenis kain yang digunakan seperti kain beludru/wool sebagai bahan membuat baju, kain satin untuk selendang, dan kain batik (jarik Jawa) berwarna kecoklatan (Soga, Jawa) untuk bawahan wayang. Bagian kepala dan badan dikaitkan dengan sebuah tangkai yang disebut sogol. Sepasang tuding yang ada di badan wayang digunakan untuk menggerakkan kedua tangan wayang. Menurut Sukarno dalam memegang maupun menggerakkan Wayang Golek Menak sangat berbeda dengan wayang kulit. Cara memainkannya seperti memainkan pegangan kayu (tuding) Wayang Golek Menak sesuai dengan alur cerita yang akan dibawakan. Dalam hal ini, modal utama yang dibutuhkan untuk memainkan Wayang Golek Menak yaitu niat dan mau belajar dengan baik. Hal ini dikarenakan setiap tokoh wayang mempunyai karakter berbeda-beda. Wayang Golek Menak merupakan seni yang sangat kompleks karena didukung oleh semua aspek seni sebagai berikut: 1. Seni rupa atau kriya, terlihat dari ukiran kayu dalam pembentukan wayang seperti raut muka, aksesoris, mahkota, dan sebagainya. 2. Seni musik dan suara, terlihat dari adanya pengiring berupa musik-musik yang berasal dari gamelan. Selain itu adanya sinden juga memperkuat bahwa aspek musik sangat menentukan dalam suatu pementasan Wayang Golek Menak. 3. Seni sastra, terlihat dari sumber cerita yang berasal dari Serat Menak yang kemudian dikembangkan menjadi cerita menak. 4. Seni tari, terlihat dari upaya dalang dalam memberikan berbagai bentuk tarian bagi tokoh-tokoh tertentu yang berbeda-beda, seperti tarian menak. 5. Seni peran, terlihat dari dalang yang memainkan tokoh yang memberikan gambaran tentang laku manusia dimana dalang dapat memberikan suasana tokoh seolah-olah sedang mengalami sedih ataupun gembira. Dengan demikian dimensi teknis dan kualitas ekspresi saling berkaitan dengan konsep dasar bentuk, gerak serta karakterisasi serta perwujudannya dalam pertunjukan. Adapun instrumen pendukung terlaksananya penyebaran Islam dengan Wayang Golek Menak yaitu kendhang, saron, kempul, dan gong kecil. Unsur peralatan lain dari peertunjukan Wayang Golek Menak ialah dalang, sinden, niyaga (pemain gamelan), Wayang Golek Menak, gawangan, blencong (lampu tradisional), gedebog (batang pisang), kothak, cempala (kayu pemukul kotak), kecrek (dari besi/monel), dan seperangkat gamelan. Sementara itu, unsur pertunjukan yang bisa dilihat adalah sabetan (gerak wayang) dan yang bisa didengar ialah janturan, carios atau kandha, ginem (pocapan) suluk, tembang, dhodhongan, kepyakan, gendhing, gerong, sindhenan. Wujud wayang ini masih sederhana dengan membawakan cerita yang berbeda-beda, tidak hanya Menak tetapi juga Mahabarata maupun Ramayana. Bahkan juga cerita tokoh-tokoh lokal yang tertuang dalam babad. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Ki Ageng Mangir, Trunojoyo, dan sebagainya. Asal mula Wayang Golek Menak yaitu dari Serat Menak. Serat Menak berkembang pada abad XVII dan XVIII kemudian dikembangkan menjadi cerita menak. Awal mula kisah Serat Menak ialah dari karya sastra Persia Qisaa’I Emr Hamza berbentuk prosa dengan judul Hikayat Amir Hamzah. Kisah di dalamnya menampilkan tokoh Amir Hamzah (Amirhambyah), seorang yang ditakuti musuh, karena gagah berani dan selalu berhasil melawan gangguan ketika sedang dilakukan penyebaran agama Islam. Tokoh ini sebenarnya mewakili sosok paman Nabi Muhammad SAW yang selalu membela keponakannya, meski ia sendiri tidak mau memeluk Islam. Gubahan Hikayat Amir Hamzah kemudian disadur ke dalam bahasa Jawa, yang kemudian dikenal sebagai serat menak. Secara garis besar ceritanya tidak melenceng dari Hikayat Amir Hamzah yang menjadi sumber serat menak. Sebelum menjadi Wayang Golek Menak terdapat Tarian Menak yang merupakan ciri khas Kraton. Dari tarian tersebut dikembangkan menjadi Wayang Golek Menak. Sejalan dengan hal itu, Ki Regut Widi Prayitno salah satu dalang dari Kulon Progo mengembangkan Wayang Golek Menak dalam tradisi dan salah satu kesenian di daerah Kulon Progo. Pada tahun 1925, cerita menak milik KRT Notoprajarto, dipergelarkan oleh Ki Regut dalam perayaan pasar malam Sekaten di Alun-Alun Utara Yogyakarta dengan Ki Pawiroyoso. Keinginan Ki Regut untuk belajar memainkan Wayang Golek Menak muncul setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang populer di Kutoarjo (Purworejo) dengan dalang Ki Marga dari Pahitan dan Kebumen dengan dalang Ki Paiman dari Kaibon. Pada tahun 1948, Ki Regut mementaskan Wayang Golek Menak pertama kali pada siang hari, dalam rangka perayaan hari kemerdekaan RI di Kecamatan Sentolo, yang disaksikan oleh Dr. Ruslan Abdulgani. Kemudian tahun 1953, Ki Regut berkesempatan mendalang pada perayaan hari ulang tahun pertama Paguyuban Anggara Kasih, dan disiarkan langsung oleh Stasiun RRI Yogyakarta. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Wayang Golek Menak Gambar 2. Dokumentasi Wayang Golek Menak di Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo. (Sumber: Foto Pribadi) Pertunjukan wayang ialah suatu entitas yang multi lapis dan saling memiliki keterikatan satu sama lain. Dalam pertunjukan wayang biasanya identik dengan isi cerita dan peristiwa yang ada di dalamnya. Kehidupan seni pewayangan ialah dengan mengembangkan berbagai konsep diantaranya konsep isi. Di dalam konsep isi pertunjukan wayang ini terdiri dari “rasa” (rasa hayatan), “watak” (karakter/temperamen) dan “isi” atau “karep” (kehendak atau tujuan) (Pujiono et al., 2019). Wayang Golek Menak merupakan sebuah tokoh pewayangan berbentuk boneka yang dirias dan terbuat dari kayu. Pertunjukan wayang ini biasanya digunakan sebagai media bercerita, edukasi, ataupun sarana penyebaran agama dalam histori Jawa. Selama pertunjukan Wayang Golek Menak ini, penonton biasanya membicarakan makna lakon peristiwa yang ada di dalamnya serta mendiskusikan watak (temperamen) dari tokoh. Sedangkan dilihat dari sudut pakeliran yakni dicari isinya. Dalam memainkan Wayang Golek Menak dalang menggunakan tokoh pewayangan seperti yang tertulis dalam serat menak gubahan hikayat AmirHamzah. Humardani (1973) mengatakan bahwa lakon yang ditampilkan di panggung sebenarnya hanya sebuah rancangan permulaan untuk menggugah perhatian terhadap seluruh masalah tokoh dalam lakon. Menurut Soetarno, dkk (2010:1) dalam bukunya berjudul Wayang Kulit dan Perkembangannya bahwa pertunjukan wayang yang baik yakni mengacu pada nilai-nilai kehidupan dan bukan bentuk pakeliran tiruan langsung kehidupan, melainkan interpretasi terhadap kehidupan yang diaktualisasikan melalui seni pedalangan. Oleh karena itu, dalam setiap pertunjukan Wayang Golek Menak diharapkan dapat memberikan pesan yang dapat memotivasi dengan nilai positif melalui pembawaan cerita seorang dalang sebagai hiburan, propaganda politik, kritik sosial, penerangan, dan sebagainya. Di samping itu, pertunjukan wayang tersebut juga mempunyai pesan tersirat cerminan dari perjalanan kehidupan seperti nilai moral, kemanusiaan, religius, edukasi dan sebagainya. Adapun nilai-nilai yang tercermin dalam pertunjukan Wayang Golek Menak yaitu sebagai berikut. 1. Nilai Religi, atau keagamaan ini ialah ciri khas dari dalam cerita menak, dikarenakan pokok permasalahan utama dalam serat menak yaitu penyebaran agama Islam. Serat menak ini bermula dari kisah melayu dalam Hikayat Amir Hamzah yang berasal dari Persi dan ditulis di India Utara (Raditya Mawardi dalam Gatra 8, 1985). Dengan demikian, adanya pertunjukan Wayang Golek Menak merupakan media atau sarana yang mengantarkan manusia menuju tauhidulloh. Sejalan dengan hal ini, nilai religius Wayang Golek Menak sudah jelas termuat dalam bunyi pancasila sila ke-1 “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Nilai religius ini mengajarkan keyakinan untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta agar mendapatkan kenyamanan hidup dan ketenangan jiwa. Hal ini berarti, pertunjukan Wayang Golek Menak mempunyai posisi penting yang dapat memperkuat sisi ketauhidan manusia. 2. Nilai Moral, pertunjukan Wayang Golek Menak memberikan gambaran lakon kehidupan manusia dengan segala lika-liku cerita kehidupannya yang menyimpan nilai pandangan hidup dalam mengatasi segala tantangan dan kesulitannya. Nilai moral ini seperti nilai etika yang bersifat normatif dan nilai kesusilaan (akhlak). Dalam hal ini, adanya etika memberikan nilai buruk atau baik atas tingkah laku dan perbuatan seseorang. Dengan demikian, etika merupakan suatu filsafat tingkah laku yang di dalamnya memuat penilaian terhadap tindakan yang dapat dikatakan baik atau buruk. Plato memandang nilai etika sebagai ilmu yang mengajarkan manusia “Bagaimana manusia bijaksana hidup” (Amir, 1991:97). Hal ini sejalan dengan konsep etika dalam pertunjukan Wayang Golek Menak yakni mendidik manusia ke arah tingkah laku yang lebih baik serta dapat membedakan mana yang baik dan buruk. 3. Nilai Estetika merupakan bagian dari sebuah filsafat, ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi. Dalam pertunjukan Wayang Golek Menak terdapat nilai estetika seperti pada seni ukirnya (tatah sungging) dimana mempunyai berbagai ciri dan watak tersendiri. Setiap wayang menggambarkan watak tokoh tertentu dalam dunia perwayangan. Oleh karena itu, batas keindahan pada sesuatu yang indah dan bukan pada “keindahan sendiri”. 4. Nilai Pendidikan dalam pertunjukan Wayang Golek Menak yaitu sebagai media penyampai pesan-pesan kebaikan. Pesan ini bertujuan untuk membentuk karakter yang baik melalui rekayasa estetika. Nilai pendidikan ini seperti tata krama, kepemimpinan, tanggung jawab, cinta tanah air, gotong royong, toleransi (saling menghormati dan menghargai), pantang menyerah, tidak meunjukkan kesedihan kepada orang lain, membentuk sifat pemaaf, dan sebagainya. Nilai pendidikan karakter tersebut disampaikan oleh dalang melalui cerita pewayangan secara sistematis dan mudah dimengerti oleh penontonnya. Melalui nilai-nilai pendidikan inilah dapat menghantarkan para generasi muda pada kemajuan berpikir, kematangan sikap, dan berupaya membentuk akhlaq yang mulia. Hal ini dikarenakan pendidikan sebagai wahana proses transformasi pengetahuan terhadap generasi muda menjadi lebih maju dan berkembang. Melalui nilai-nilai pendidikan dalam pertunjukan Wayang Golek Menak, seseorang dapat mengambil nilai kehidupan yang positif agar pribadi yang baik. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk melestarikan adanya kebudayaan daerah supaya eksistensinya masih tetap terjaga. Nilai yang tercermin dalam pertunjukan Wayang Golek Menak ialah nilai religi, nilai moral, nilai estetika, dan nilai pendidikan. Nilai-nilai ini diharapkan dapat dihayati dan diresapi oleh penonton untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Peran Ki Regut Widi Prayitno dalam mengembangkan Wayang Golek Menak Kulon Progo sampai Kraton Gambar 3. Dokumentasi wawancara dengan pengelola Wayang Golek Menak Bapak Tri Joko Siswanto, Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo. (Sumber: Foto Pribadi) Ki Regut tertarik dengan Wayang Golek Menak setelah beliau menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang ada di Kutoarjo dan Kebumen. Setelah itu, beliau berkeinginan untuk belajar memainkan serta mengembangkan kesenian Wayang Golek Menak. Setelah beberapa kali beliau mengenalkan di daerah tempat tinggalnya yaitu Salamrejo, Sentolo, Ki Regut berhasil mendapat kesempatan pertama kali untuk menampilkan pertunjukan Wayang Golek Menak pada tahun 1948. Pada tahun 1953, karena adanya perayaan hari ulang tahun Paguyuban Anggara Kasih Ki Regut mendapat kesempatan mementaskan Wayang Golek Menak yang disiarkan RRI Yogyakarta. Pergelaran itu dinilai berhasil dan secara tetap RRI Yogyakarta menyiarkan pergelaran Wayang Golek Menak dengan dalang Widi Prayitno setiap tiga bulan sekali. Sejalan dengan hal itu, Wayang Golek Menak semakin berkembang di kalangan masyarakat dan bangsawan. Di sisi lain Wayang Golek Menak telah menjadi tradisi kesenian di tempat asalnya Ki Regut memulai perdalangan Wayang Golek Menak yaitu di desa Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo. Perlu diketahui bahwa Ki Regut mempunyai garis keturunan abdi dalem akan tetapi, beliau lebih memilih menjadi rakyat biasa daripada menjadi seorang abdi dalem. Namun, beliau tetap membantu kegiatan di Kraton walau tidak sepenuhnya. Keunikan adanya Wayang Golek Menak di Sentolo ini terdapat pada bentuk, gerak, dan karakterisasi. Selain itu keunikan wayang ini terdapat pada cerita Wayang Golek Menak yang berasal dari Serat Menak. Cerita khas dari Wayang Golek Menak Ki Regut di Sentolo ini yaitu unsur cerita dramatik dengan alur renggang, gaya pertunjukan penuh dengan nuansa kebersamaan, bahasa yang digunakan sederhana, ungkapan gerak sederhana (tidak akrobatik), serta iringan yang sederhana. Meskipun demikian, setiap pertunjukan Wayang Golek Menak selalu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk tanggung jawab melakukan amanah dan kewajiban agar pesan-pesan yang terkandung di dalam wayang dapat tersampaikan dengan baik. Sepeninggal Ki Regut pada tahun 1982, kesenian Wayang Golek Menak Sentolo ini kemudian dilanjutkan oleh Ki Sukarno anak dari almarhum Ki Regut dan beberapa orang terdekatnya yakni Darso Sumarto, Sudarminto, dan Amat Jaelani Suparman. Ki Sukarno merupakan salah satu dalang Wayang Golek Menak di daerah Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo. Sejak kecil, Ki Sukarno selalu mengikuti ayahnya pergi memenuhi undangan pentas. Setelah umur 12 tahun, Ki Sukarno diberikan kepercayaan oleh ayahnya untuk mementaskan beberapa adegan di siang hari, hingga akhirnya beliau mampu mementaskan Wayang Golek Menak di hadapan umum. Lebih dari itu, beliau mampu membuat Wayang Golek Menak yang dipakai pada saat pentas pertunjukan. Wayang tersebut sudah tersebar di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Surakarta. Selain itu, banyak karya Ki Sukarno yang dipesan untuk koleksi seperti di SMKI, ISI, SMKI Surakarta, ASKI Surakarta, dan RRI II Yogyakarta. Dalam pengembangan Wayang Golek Menak yang berada di Sentolo ini dalang kondang selain Ki Sukarno yaitu Ki Demung atau Jaelani Suparman. Beliau merupakan tokoh penggerak kesenian (Dian, dkk, 2016). Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, Ki Sukarno saat ini sudah tidak lagi bergelut di dunia kesenian. Akhirnya tradisi kesenian Wayang Golek Menak saat ini dikembangkan oleh cucu Ki Regut yaitu Tri Joko Siswanto di Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo. “Saat ini kesenian Wayang Golek Menak baru mekar-mekarnya di beberapa daerah, dikarenakan Kulon Progo dapat meraih gelar Juara I di Festival Dalang Wayang Golek Menak kategori anak di Dinas Kebudayaan Yogyakarta yang terdiri dari 4 kabupaten 1 kota yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, ucap Ki Joko. Prestasi dalang Wayang Golek Menak katgori anak tersebut diperoleh pada tahun 2021. Sejak saat itulah, Wayang Golek Menak mulai gencar-gencarnya dicari berbagai daerah. Gambar 4. Dokumentasi Juara I Dalang Anak
Wayang Golek Menak
Dalam Rangka Festival Dalang Wayang Golek Menak kategori Anak tingkat Nasional tahun 2021.
Nama: Janggan Purbo Jati Alamat: Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo.
(Sumber: Tri Joko Siswanto) Potensi budaya di Desa Salamrejo cukup beragam, hingga sampai saat ini di Desa Salamrejo masih terdapat beberapa orang dalang wayang kulit dan Wayang Golek Menak serta adanya sanggar seni dan beberapa kelompok penabuh gamelan Jawa. Pementasan wayang dan beberapa kelompok kesenian tersebut masih sering dilaksanakan rutin setiap bulan Sura atau setiap ada hajatan warga. Perkembangan Wayang Golek Menak hingga saat ini Setelah perkembangan tahap demi tahap dilalui kini Wayang Golek Menak menjadi tradisi dan kesenian di Kraton Yogyakarta. Dikatakan tradisi karena hingga saat ini Wayang Golek Menak dipentaskan sekali dalam sebulan pada hari Rabu minggu pertama, mulai pukul 10.00 – 12.00 WIB di bangsal Sri Manganti Kraton Yogyakarta dan saat hari-hari tertentu. Wayang merupakan asset budaya Indonesia yang sangat berharga, harus dilestarikan dan sudah menjadi World Heritage yang diakui oleh UNESCO sebagai World Masterpieces of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Wayang ini dikatakan kesenian karena pergelaran Wayang Golek Menak memiliki unsur keindahan tersendiri dan sebagai media penghibur bagi masyarakat yang menontonnya. Wayang Golek Menak juga mempunyai keunikan sendiri yang mampu memberikan inspirasi untuk memunculkan bentuk kreatif dan inovatif jenis kesenian lainnya, baik skala lokal, nasional, maupun internasional. Selain itu, masih adanya dukungan stakeholder pertunjukan Wayang Golek Menak Yogyakarta menjadikan eksistensi Wayang Golek Menak terus berkembang. Di Kulon Progo, Wayang Golek Menak juga masih berkembang hingga saat ini baik dalam tradisi maupun kesenian di daerah Kulon Progo. Misalnya di hari perayaan kemerdekaan RI maupun di perayaan hari-hari tertentu. Ada beberapa macam karakter Wayang Golek Menak, salah satu contoh dari Wayang Golek Menak adalah tokoh Umar Maya yang mempunyai sifat mendeles serta mempunyai keistimewaan tersendiri dalam karakter itu. Karakter Umarmoyo merupakan cerita yang diambil dari arab, sebagai media penyebaran agama Islam. Perkembangan Wayang Golek Menak sangat pesat hingga kalangan Kraton, hingga sampai sekarang ini masih merupakan suatu tradisi baik dalam lingkup Kulon Progo maupun Yogyakarta. Namun demikian, banyak sebagian orang tidak mengenal Wayang Golek Menak, justru Wayang Kulit yang terpopuler dalam lingkup masyarakat. Untuk itu, seharusnya masyarakat harus menyeimbangkan semua tradisi turun-temurun yang ada. Kebudayaan daerah harus tetap dipertahankan dan dilestarikan selama kebudayaan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini dikarenakan kebudayaan merupakan kekayaan bangsa yang sangat mahal, bahkan suatu bangsa tanpa kebudayaan tidak bernilai di mata dunia Internasional. (Ibrahim, 2021) Ditinjau dari segi pergelaran Wayang Golek Menak cerita tersebut mempunyai makna sebagai nilai estetis dalam pertunjukannya serta nilai moral yang dapat dijadikan acuan bertingkah laku dalam tata pergaulan kehidupan di masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat dikategorikan dalam nilai-nilai sosial, religi, moral, estetis, dan pendidikan. Dengan demikian, jangan sampai asset kebudayaan yang begitu banyak dimiliki Indonesia di masa lalu hilang ditelan globalisasi budaya. SIMPULAN DAN USULAN ATAU OPSI KEBIJAKAN Dari pembahasan yang telah dipaparkan penulis menarik kesimpulan bahwa Wayang Golek Menak sekarang telah menjadi tradisi serta kesenian di Kulon Progo dan di Kraton Yogyakarta. Wayang Golek Menak mempunyai fungsi sebagai media penyebaran agama Islam khususnya di Jawa, serta sebagai media hiburan dan media pembelajaran bagi masyarakat yang menyaksikannya. Di samping itu, pergelaran Wayang Golek Menak juga menerapkan suatu nilai-nilai kehidupan sebagai upaya pembentukan dan pengembangan pribadi dirinya masing-masing. Nilai-nilai yang tercermin seperti nilai religius, moral, estetika, dan pendidikan dalam pertunjukan wayang tersebut diharapkan dapat dihayati dan diresapi oleh penonton untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Cerita khas dari Wayang Golek Menak Ki Regut di Sentolo ini yang kemudian diikuti oleh generasi penerusnya adalah cerita dramatik dengan alur renggang, gaya pertunjukan penuh dengan nuansa kebersamaan, bahasa yang digunakan sederhana, ungkapan gerak sederhana (tidak akrobatik), serta iringan yang sederhana. Meskipun demikian, setiap pertunjukan Wayang Golek Menak selalu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk tanggung jawab melakukan amanah dan kewajiban agar pesan-pesan yang terkandung di dalam wayang dapat tersampaikan dengan baik. Adapula perbedaan pergelaran Wayang Golek Menak di Kraton Yogyakarta dan di Kulon Progo. Di Kraton Yogyakarta pergelaran Wayang Golek Menak dilakukan setiap hari Rabu dan pada saat perayaan atau hari tertentu, sedangkan di Kulon Progo Wayang Golek Menak di pergelarkan pada saat ada perayaan atau hari-hari tertentu saja. Di Sentolo keberadaan Wayang Golek Menak ini masih terus dikembangkan, bahkan di tahun 2021 lalu prestasi dalang anak yang berada di Salamrejo mewakili Kulon Progo memperoleh juara I. Oleh karena itu, eksistensi Wayang Golek Menak saat ini telah menggeliat di beberapa daerah. PUSTAKA ACUAN Agung. (2013). Tiga Langkah Strategis Kembangkan Wayang Golek Menak Yogyakarta. Diakses dari https://www.ugm.ac.id/id/berita/8404-tiga-langkah-strategis-kembangkan-wayang-golek-menak-yogyakarta pada tanggal 6 April 2022 pukul 14.07 WIB. Budhiarto, J., & dkk. (2017). Ki Regut Widi Prayitno Berperan Mengembangkan Golek Menak Menembus Zaman. Kulon Progo: Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo. Dewanto, S dan Timbul, H. (2013). Wayang Golek Menak Yogyakarta Bentuk Dan Struktur Pertunjukannya. (Disertasi S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa) Diakses dari http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/63913/potongan/S3-2013-261519-chapter1.pdf pada tanggal 30 Maret 2022 pukul 08.38 WIB. Dian, A., & dkk. (2016). Salam Kemakmuran Dari Bantaran Kali Progo Melacak Sejarah Desa Salamrejo. Yogyakarta: Yayasan LKiS. Istanti, K. Z. (1996). Wayang Golek Menak Sebagai Media Dakwah Islam. Jurnal Humaniora(3), 57-61. Masdudin, I. (2009). Mengenal Kesenian Wayang Golek. Banten: Kenangan Pustaka Indonesia. Prawiroatmodjo, S. 1993. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta: CV HAJI MASAGUNG. Pujiono, B. (2019). Makna dan Nilai Pertunjukan Wayang Golek Menak Kebumen Lakon Wrahatkustur Ngraman Sajian Sunarto Sindhu. Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Wayang, 16(1), 15-25. Ibrahim, N. (2021). Kajian Kritis Akulturasi Islam dan Budaya Lokal. Rihlah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan, 9(1), 23–40. Pacet, S., Menak, M., & Menak, M. (2020). Mapag menak. Sulistyawati, D. R., Kinanthi, G., & Asri, P. (2021). TANDIK : JURNAL SENI DAN PENDIDIKAN SENI Volume 1 Nomor 2 – Oktober 2021 , halaman 102 - 119 Tersedia Daring pada : https://jurnal.stkipbjm.ac.id/index.php/tandik FUNGSI DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM WAYANG GUNG ANGGADA BALIK Tandik : Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Vol . 1 No . 2 Oktober 2021 Fungsi Dan Nilai Pendidikan Dalam Wayang Gung Anggada Balik Pendahuluan Tandik : Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Vol . 1 No . 2 Oktober 2021. 1(2), 102–119. Utami, A. S., & Masjid, A. Al. (2021). Kesenian Tari Bedhaya Ketawang Sebagai Kesenian Tradisional Indonesia. Dinamika Sosial Budaya, 23(2), 190–201. Sabunga, B., Budimansyah, D., & Sauri, S. (2016). Nilai-Nilai Karakter Dalam Pertunjukan Wayang Golek Purwa. Jurnal Sosioreligi, 14(1), 1-13. Sukistono, D. (2017). Revitalisasi Wayang Golek Menak Yogyakarta dalam Dimensi Seni Pertunjukan dan Pariwisata. Jurnal Seni Budaya, 27(2), 131-143. Susilo, T. A. (2018). Kelompok Sosial, Kebudayaan, dan Multikulturalisme. Yogyakarta: Istana Media Widagdo, J. (2015). Struktur Wajah, Aksesoris Serta Pakaian Wayang Golek Menak. Jurnal DISPROTEK, 6(1), 95-105. Yuliani, W. (2018). Metode Penelitian Deskriptif Kualitatif Dalam Perspektif Bimbingan Dan Konseling. Jurnal STKIP Siliwangi, 2(2), 83-91. Lampiran 1 Biodata Penyusun Laporan BIODATA PENYUSUN Lampiran 2 Identitas Narasumber IDENTITAS NARASUMBER/ Lampiran 3 Instrumen Observasi Kebudayaan A. IDENTITAS 1. Observer 2. Objek yang dikaji : Wayang Golek Menak 3. Lokasi : Rt 7, Rw 4, Klebakan, Salamrejo, Sentolo, Kulonprogo 4. Hari/tanggal Observasi : Rabu, 30 Maret 2022 Lampiran 4 Dokumentasi

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/eksistensi-observasi-golek-menak-di-kota-binangun/34208/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026, 12.01 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa UNDIP Kembangkan Dentavera sebagai Inovasi Perawatan Mulut

KKN Universitas Merdeka Malang Bangun Greenhouse Bambu, Dorong Ketahanan Pangan Warga Pandanrejo

KKN 179 UMM Pasang Papan Jadwal Pembagian Air di Bangelan, Cegah Perebutan Antarwarga

Warga Desa Tlekung Diajak Manfaatkan Urine Sapi Jadi Pupuk Organik Cair untuk Percepat Pertumbuhan Pakan Ternak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Menjadi Guru yang Pintar "Ngegas" dan "Ngerem": Seni Menjaga Keseimbangan di Ruang Kelas

HUT ke-58, Semen Tonasa Gandeng BULOG Sediakan 580 Paket Sembako Murah di Pangkep

Christianto Salimanan Raih Best Pitching di Indonesia Youth Summit 2026, Usung 1.000 Garuda Impact

Berkarya dengan Teknologi: Mengembangkan Kreativitas dan Nilai Produk Bersama Anak-Anak Jolosutro

Pilihan Editor

  1. 1 Sempat Kesulitan Menggunakan BRImo, Nasabah Umi Apresiasi Pelayanan BRI Cabang Bojonegoro
  2. 2

    Merawat Payung Enam Warna: Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman Batak

  3. 3

    Gerakan Literasi Nasional sebagai Upaya Membangun Budaya Literasi di Indonesia

  4. 4

    Berkarya dengan Teknologi: Mengembangkan Kreativitas dan Nilai Produk Bersama Anak-Anak Jolosutro

  5. 5

    Atlet Petanque Pangkep Raih Perak dan Perunggu di Porprov Sulsel 2026, Sakila Tembus Final Shooting Putri

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.