JurnalPost.com – Ombak sedang pasang dan bergelombang semakin kuat. Pada malam bulan purnama di bawah rembulan yang sedang terang-terangnya, Juleha dan Sadikin sedang duduk di bawah pohon tepi laut. Di atas tebing yang menjulang tinggi itu, pasangan itu sedang menatap pantai yang bergerak maju ke daratan.
Sadikin adalah seorang nelayan. Semenjak lulus dari tamatan sekolah kejuruan, dia memutuskan hidup sebagai nelayan untuk mencari uang. Dari lautan pula dia bisa hidup dan berteman dengan kapal. Sudah tiga tahun mereka menikah. Juleha dan Sadikin saling mencintai. Tetapi pekerjaan nelayan membuat Sadikin harus rela pergi jauh berbulan-bulan meninggalkan istrinya sendiri di rumah.
“Apa kamu lihat ombak sedang bergemuruh kini, Leha?”
“Ombak laut kita sedang ingin menepi di daratan.”
“Ombak dan laut adalah sahabatku.”
“Apakah mas Sadik pernah jumpai badai yang menenggalamkan kapal?”
“Tidak hanya badai yang menenggelamkan kapal, tetapi juga badai laut yang menyeret kapal dengan paksa untuk karam di pulau tak berpenghuni.”
Juleha memegang tangan Sadikin dengan erat dan kencang. Disandarkannya kepalanya ke bahu Sadikin. Sadikin membelai kepala istrinya itu. Sudah hampir seminggu dia di rumah. Setiap di rumah, malam hari selalu diajaknya istrinya duduk beralas pasir di bawah pohon yang sama. Sekedar utuk mengamati lautan.
Esok hari Sadikin sudah harus berangkat kerja. Walau berbulan-bulan jauh pergi dari rumah, rasanya semakin kuat kenangan Sadikin untuk tidak melupakan wajah istrinya. Dia menatap langit dan semakin dalam, semakin dalam pula kekosongan hatinya menganga. Lebar dan dalam lubang di hatinya karena cemas dan rindu.
Esok hari telah tiba, mentari semaki meninggi. Bulan yang bersinar terang, malam yang lenyap juga telah melenyapkan batin yang kaku dan sepi untuk nanti mencari ikan di tengah lautan. Sadikin berangkat membawa satu tas dan memeluk istrinya. Juleha balas memeluk erat Sadikin di dadanya.
“Juleha, kamu baik-baik dan jangan nakal ya. Aku akan pergi berlayar!”
“Iya mas. Jaga kesehatan dan keselamatanmu di kapal!”
“Tentu, tentu.”
“Kamu sudah kutinggali amplop berisi uang. Gunakan dengan hemat ya!”
“Iya mas.”
Sadikin dengan segera menaiki motornya dan meninggalkan Juleha. Dia pergi ke pelabuhan yang tidak jauh dari rumahnya. Semua awak kapal siap berangkat. Satu per satu naik ke atas kapal. Tangki bahan bakar kapal sudah terisi penuh. Bunyi mesin kapal menyala dan kapal bergerak perlahan meninggalkan dermaga.
Sadikin dan kawan-kawannya bersemangat menuju lautan lepas. Di depan sana akan banyak ujian dan tantangan. Terutama sepi dan rindu yang meresahkan. sadikin duduk di mesin utama sebagai juru mudi. Kapal milik juragannya itu dipercayakan kepada Sadikin. Dengan lihai dan tenang, Sadikin memutar setir kapal.
Sementara suaminya sudah berangkat berlayar, Juleha pergi menuju ke sebuah tempat. Tempat yang dituju Juleha adalah warung makan biasanya dia membeli makan. Dia memesan satu porsi makan dan minum es teh lalu duduk di belakang jendela kaca.
Wajah dan matanya melihat kanan dan kiri. Seolah cemas datang menyergap Juleha. Juleha melambaikan tangan kepada seorang pria yang berjalan menuju padanya. Lelaki itu segera duduk di depan Juleha.
“Suamimu sudah berangkat?”
“Baru saja berangkat.”
“Mari kita pergi!”
“Bentar, aku sudah pesan makanan. Masih dibungkus.”
Pesanan Juleha sudah datang. Setelah membayar pesanannya, Juleha dan pria tadi pergi berdua berboncengan. Mereka pergi ke sebuah perumahan. Melewati gang dan akhirnya berhenti pada sebuah rumah kontrakan. Pria tadi bersemangat sekali dan memegang erat tangan Juleha.
Juleha masuk kamar bersama pria tadi. Pria tadi sangat bersemangat dan menciumi pipi Juleha sampai ke leher. Juleha pasrah dan merelakan dirinya. Terjadilah hubungan suami istri antara Juleha dan pria tadi. Juleha nampak menikmatinya.
Setelah puas bertemu dan bermesraan, Juleha diantarkan pria tadi kembali ke rumahnya. Tapi tidak sampai rumah, hanya berhenti di depan warung makan tadi. Juleha turun dan mencium tangan pria tadi. Nampak wajah bahagia dan suka dari wajah Juleha.
Ternyata hubungan itu kerap kali dilakukan oleh Juleha dan pria tadi. Sementara Sadikin kerja di lautan dengan penuh keringat dan tubuhnya hitam legam karena jarang mandi dan dibakar matahari. Keringatnya lengket karena bercampur air laut. Dia percaya pada kesetiaan istrinya. Dengan penuh tenaga ditariknya jaring ikan bersama kawan-kawannya.
Selama berbulan-bulan Sadikin meninggalkan rumah. Rasanya batin Juleha begitu sepi dan dingin. Kebutuhan batinnya kosong dan tercampakkan. Juleha dengan senang hati setiap hari selama ditinggal Sadikin berbulan-bulan pergi di tengah lautan untuk mencari kepuasan batin kepada pria yang bernama Imam. Imam adalah teman kenalan Juleha dari facebook. Juleha awalnya tidak merespon pesan nakal dari Imam. Tetapi lama-lama Juleha juga merespon pesan Imam.
Bagi Juleha, selama suaminya pergi, kepuasan batin hanya bisa didapatkannya dari Imam. Imam masih muda, belum menikah. Maklum, banyak wanita suka pada Imam, tapi Imam lebih memilih suka dengan Juleha, karena Juleha adalah wanita yang cantik. Hingga tiap hari Imam dan Juleha saling berkirim pesan. Tiap malam selalu telpon berdua.
Sadikin pulang ke rumah setelah berbulan-bulan pergi. Didapatinya rumahnya sepi.tidak ada seorang pun. Hanya dilihatnya foto pernikahannya dengan Juleha. Dia duduk dengan santai dan beranggapan bahwa Juleha pergi ke pasar. Dihitungnya uang bongkaran hasil jual ikan di dermaga. Uang jutaan itu dihitungnya lalu dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
Akhirnya setelah menunggu selama berjam-jam sampai ketiduran di kursi, Juleha datang. Sadikin segera memeluknya. Juleha pun berpura tidak ada apa-apa dan memeluk Sadikin. Sadikin segera membawanya ke dalam kamar, dan mengunci kamar. Mereka berdua tidur bersama.
Seharian Sadikin tidur ditemani istrinya. Setelah bangun dari tidur diberikannya uang yang diperolehnya selama berbulan-bulan kepada istrinya. Juleha sangat senang menerima uang sebanyak itu. Sadikin pergi keluar dan bertemu dengan tetangganya.
Tetangganya aneh, menatap Sadikin dengan tajam dan lepas. Sadikin senyum kepada tetangganya itu dan ramah. Dia menyapa tetangganya dengan sahaja. Tetangganya akan dihampirinya. Akan diajaknya makan ke sebuah warung. Tetapi langkah kaki tetangganya begitu dipercepat. Sadikin melihat gelagat aneh tetangganya tadi.
Tetapi dalam pikiran Sadikin, mungkin tetangganya sedang terburu-buru. Sadikin pun tidak merisaukan hal tersebut. Dia segera pula mempercepat langkahnya ke sebuah warung makan. Dia ingin ngopi di warung sambil makan nasi semur kesukaannya. Dilihatnya tetangga yang aneh gelagatnya tadi duduk di pojok warung sambil makan juga. Dihampirinya tetangganya tadi sambil bertanya tentang sikap anehnya saat akan bertegur sapa beberapa menit sebelumnya.
“Aiman, bagaimana kabarnya?”
“Kamu sudah pulang dari berlayar?”
“Semalam aku barusan pulang. Kenapa tadi gelagatmu aneh sekali?”
“Aneh bagaimana?”
“Kamu bersikap seolah aku ini orang yang kamu hindari.”
“Sebenarnya ada sesuatu.”
Saat akan berucap sesuatu tersebut, seluruh penghuni warung menatap tajam ke Aiman. Aiman pun hanya menundukkan muka dan tidak jadi melanjutkan pembicaraan. Sesegera dia bayar makanan yang sudah dilahapnya. Sadikin yang merasa semakin aneh saja, segera menyusul Aiman keluar dan memanggil Aiman berulang kali.
Tetapi Aiman tidak menghiraukan Sadikin. Dia tetap berjalan saja berlalu pergi dari Sadikin. Namun perasaan Aiman tidak tega. Dia jatuh iba kepada Sadikin. Akhirnya Aiman berhenti dan memanggil Sadikin.
“Kin, sebenarnya istrimu itu selingkuh.”
“Ah, berita bogong darimana itu?”
“Semua orang mungkin tidak tahu termasuk kamu. Tapi beberapa orang tahu. Dan istrimu sudah jadi bahan pembicaraan beberapa orang.”
“Apa buktinya kalau Juleha selingkuh dan main serong di belakangku?”
“Waktu kamu tinggal berlayar ke lautan, istrimu suka bertemu dengan pria yang sama. Mereka pergi berdua entah kemana tanpa sepengetahuanmu.”
“Kurang ajar, kalau sampai berita itu benar aku tidak akan memaafkannya.”
Sadikin segera pulang menuju rumah. Amarah nampak dari mukanya yang memerah itu. Dia sakit hati mendengar pengaduan tadi. Dibukanya hp istrinya dan tidak ditemukannya pesan yang berbau perselingkuhan seperti yang dikatakan tetangganya. Antara percaya atau tidak kini hati Sadikin. Juleha yang dari dapur melihat hp nya dipegang Sadikin segera meraih hp nya. Sadikin memberikan hp Juleha kembali dan berkata bahwa dia hanya ingin melihat-lihat saja.
Baru bercakap-cakap dengan nada sedikit tinggi, berderinglah hp Juleha. Di layar hp tertulis nama Mas Emi. Diangkatnya hp tersebut dan ternyata cowok. Barulah tahu Sadikin kalau istrinya benar-benar main serong selama ditinggalkan pergi jauh bekerja. Dia membanting hp Juleha hingga pecah. Disuruhnya Juleha pergi dari rumah itu sekarang juga. Sadikin tak kuasa menahan air mata dan sakit hati akibat kecurangan sang istri. Ditalaknya Juleha dan segera diusirnya dari rumahnya. Ternyata kesetiaan yang diucapkan Juleha kepadanya hanya sebatas buah bibir manis saja. Kenyataanya istrinya telah berzina dengan lelaki lain.
Pati, 9 Juli 2025

Biodata Penulis
Muhammad Lutfi, penulis buku Pelaut, Berlayar, Bunga Dalam Air. Sampai saat ini berkegiatan sastra dengan menulis buku-buku sastra dan menulis esai. Esainya berjudul Pertanian Masa Darurat merupakan esai juara pertama dari kegiatan yang diadakan oleh Serikat Mahasiswa Indonesia.



