JurnalPost.com – Malam ini bulan terang benderang. Sorot matanya masuk ke celah-celah lubang jendela ke kamar Andika. Andika menatap rembulan putih itu dengan membayangkan wajah kekasihnya. Dibuka dompetnya dan dilihatnya foto di dalamnya. Ditutup lagi dan dibuka lagi. Dia sedang kasmaran dan rindu berat. Hatinya dipenuhi emosi dan nafsu.
Besok dia sudah ada janji dengan pacarnya. Pacarnya mengajaknya untuk pergi belanja. Tapi bukan kebutuhan Andika yang akan dibelanjakan, melainkan kebutuhan pacarnya. Wanita memang suka dengan belanja dan uang. Kalau soal itu lelaki sudah tidak berdaya untuk mencegahnya. Karena tidak mau tidur terlalu larut malam supaya besok bisa bangun pagi, Andika memilih memeluk guling dan tidur dengan paksaan hatinya.
Ayam berkokok dan matahari muncul, Andika masih belum bangun. Tiba-tiba pula jam alarm berdering dan membangunkan Andika. Andika segera melihat jam di mejanya, dia bergegas mandi dan merapikan pakaian yang akan digunakannya untuk bertemu pacarnya. Dipakainya pakaian keren seperti anak skena dan memakai parfum kopi yang wangi.
Dilajukannya sepeda motornya menuju ke rumah pacarnya. Rumah pacarnya jauh, sekitar 30 menit dari rumah Andika. Tapi demi cinta, lelaki akan kalah dengan perasaannya. Tiba di rumah pacarnya, pacarnya sudah siap dengan memakai pakaian yang khas anak skena pula. Wajahnya penuh pelembab pemutih kulit. Gincunya tebal sekali dan tasnya juga besar.
“Ayo sayang kita berangkat!”
“Apa kamu menunggu aku lama?”
“Ah tidak, ayo berangkat saja!”
Berangkatlah mereka ke salah satu mall terbesar yang ada di daerah itu. Di hari Minggu, seperti biasanya, mall selalu ramai dipadati orang belanja keperluan bulanan. Pacar Andika menggandeng tangan Andika dengan erat dan memeluk lengan Andika. Digandengnya tangan Andika hingga sampai di lantai 2. Di lantai 2, Andika disuruh mengambilkan ranjang belanja. Andika menurut saja seperti anjing peliharaan yang jinak.
Sepanjang waktu berjalan di dalam mall, Andika hanya plonga-plongo dan membawa ranjang belanja. Pacar Andika dengan santai mengambil barang-barang yang ingin dibelinya. Andika tidak bisa menolak ajakan pacarnya itu. Dia terlanjur cinta pada pacarnya.
“Banyak banget belanjaan kamu.”
“Biarin, kan aku pengen belanja. Kamu tidak mau menemaniku belanja seperti ini?”
“Bukan begitu, maksudku kan bisa belanja di toko-toko saja.”
“Kamu kurang gaul. Toko kan hanya untuk kelas menengah ke bawah.”
“Berarti kamu membedakan antara kaya dan miskin?”
“Segala sesuatu itu perlu uang. Bahkan harga diri bisa dibeli dengan uang.”
Andika hanya terdiam dan tak bisa membalas. Pacarnya menunjuk ke arah samping. Dia menyuruh Andika berjalan di belakang dan mengikutinya. Memang nampak seperti anjing piaraan saja. Diambilnya dua buah roti besar dan dimasukkannya dalam ranjang belanja.
“Sudah, ini sudah berat.”
“O kamu mengeluh, baru begini saja kamu mengeluh.”
“Berat!”
“Kamu tega biarkan aku bawa belanja sendirian. Lelaki macam apa kamu.”
Andika hanya bisa terdiam saja dan tak mampu berucap. Seakan jiwanya terkaku dan membisu dengan seketika. Setelah dirasa cukup, pacar Andika menuju kasir. Dia menoleh ke belakang dan meminta Andika meletakkan belanjaan di kasir. Andika pun merasa dag dig dug.
“Berapa total semuanya kak?”
“Totalnya 150.000,00 mbak.”
“Sayang, ini urusan kamu.”
“Iya, aku tahu itu.”
Andika pun membayar semua belanjaan pacarnya dengan hati terpaksa. Tapi hanya bisa ditutupinya dengan senyum tipis begitu saja. Supaya pacarnya tidak tahu kalau dia tertekan dengan semua ini. Andika hanya bisa mengerutkan dahi dan wajahnya nampak memudar dari kebahagiaan.
Setelah menemaninya belanja, Andika diajak lagi oleh pacarnya ke sebuah resto. Pacarnya lapar dan minta untuk makan. Andika hanya bisa menurut dan pergi ke resti terdekat di situ. Pacarnya dengan tega menyuruh Andika membawakan belanjaannya masuk ke resto supaya tidak takut dimaling orang.
Di resto, Andika hanya pesan satu gelas kopi arabika. Namun pacarnya memesan makanan dan minuman banyak sekali. Itu membuat Andika tertegun. Dahinya tambah mengkerut, wajahnya semakin nampak tua karena takut ancaman yang membahayakan jiwanya. Memang ada sesuatu yang membuat Andika tertekan.
Sesuatu yang membuat Andika tertekan adalah dia berpacaran dengan buaya betina. Wanita yang tidak tahu malu dan hanya bisa memanfaatkan cowok untuk memenuhi kesenangannya. Bila bicara pada Andika ketus sekali pacarnya, judes dan tidak mau kalah. Tetapi bila ada perkataan Andika yang menyakitkan hati, dia akan melaporkan Andika pada salah satu pamannya yang polisi.
Pacar Andika punya paman seorang polisi. Pernah satu waktu Andika membuat sakit hati dengan perkataan yang tidak disengaja Andika. Andika ditelpon setiap hari oleh paman pacarnya. Dengan nada tinggi dan mengancam, pamannya berkata bahwa dia tidak akan segan-segan untuk menghabisi siapapun yang menyakiti keluarganya.
Andika hanya bisa kebingungan tanpa tahu salahnya apa dan mengurung diri di kamar. Perkataan itu terngiang di benak Andika dan membuat Andika stres. Sebenarnya Andika sudah tak tahan dengan premanisme pacarnya itu. Pikiran pacar Andika masih anak kecil dan penuh kesombongan. Menganggap dirinya bagaikan artis dan ratu yang harus dituruti dan dihormati.
Andika hanya bisa marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak berani melawan, kenapa dia tidak berani memutuskan dan berkata. Andika hanya bisa membencong dan membiarkan dirinya jadi budak kepalsuan cinta yang dia impikan itu. Hanya dilihatnya dalam matanya membayang wajah pacarnya sendiri.
Andika hanya bisa mengadu pada teman-temannya. Kadang Andika menunjukkan foto pacarnya pada teman-temannya. Tetapi justru Andika jadi bahan ejek-ejekan oleh temannya. Sebab apa yang dikatakan Andika adalah suatu kebohongan bagi teman-temannya. Andika berkata kalau pacarnya cantik. Tetapi teman-temannya membantah dan bilang kalau pacarnya itu biasa-biasa saja alias standar.
Tetap Andika masih tegas pada pendiriannya. Dia percaya seyakin-yakinnya bahwa kekasihnya itu sangat cantik dan manis. Sebab kekasihnya telah membuat dia tergila-gila. Andika sangat mendambakan wajah dan suara kekasihnya tiap malam. Dipeluknya erat bantal sebagai pengganti kekasihnya.
Pada pagi itu, datang teman seperantauan Andika dari jauh. Maklum, setelah menjadi PNS di daerah Kalimantan, hanya bisa pulang ketika ada tanggal merah saja. Kebetulan hari itu hari Waisya, semua PNS libur. Teman Andika karena kangen menyempatkan diri bertemu Andika di rumahnya.
“Wah, tamu dari seberang ini. Jauh ya perjalanan kembali ke Jawa.”
“Harus siap mental dan duit. Segalanya butuh duit. Apalagi perjalanan antar pulau.”
“Memang kau tiba kapan?”
“Baru semalam aku turun dari pesawat.”
“Siapa yang menjemput?”
“Istriku.”
Mendengar kata istriku, hati Andika bagaikan ditabuh genderang. Dia sempat tersadarkan bahwa diumurnya yang menginjak kepala tiga dia belum berumah tangga. Sedang teman-teman lainnya sudah berbini dan beranak. Andika merasa minder untuk bertemu orang lain. Minder pula dia saat itu akan ngobrol bersama temannya.
Percakapan mereka sangat rumit. Teman Andika menceritakan pengalamannya jadi PNS di luar pulau. Bagaimana suka duka jadi PNS. Bagaimana pula sedihnya jauh dari keluarga sebab istri adalah tempat buaian merindu. Andika hanya bisa terdiam termangu. Diminumlah kopi yang dia buat dari bekal oleh-oleh yang dibawakan oleh temannya.
Andika menyalakan hp dan melihat walpaper di hp nya. Dia melirik ke temannya. Dalam hati dia cemas dan bimbang. Ingin ditunjukkannya wajah pacarnya pada temannya sebab dia masih yakin kalau pacarnya itu sangat cantik tiada bandingan. Tetapi diberanikannya pula untuk melihatkan kepada temannya.
“Menurut kamu, apakah wanita ini cantik?”
“Menurutku sih biasa aja, tidak cantik.”
“Bagaimana bisa tidak?”
“Coba kamu lihat foto istriku lalu kamu bandingkan!”
Andika terdiam sesaat. Ternyata benar istri temannya itu cantik dibandingkan pacarnya. Dia merasa malu. Lalu ditepuknya tangan temannya itu. Sambil menutup muka, Andika senyam-senyum sendiri karena malu.
“Pacarmu itu sudah tidak produk asli. Dia itu polesan klinik.”
“Betul sih, butuh biaya banyak untuk merubahnya menjadi cantik.”
“Sadarlah kawan, dunia tidak selebar daun kelor. Wanita seperti itu kamu katakan cantik. Pemalsuan.”
Tiba-tiba ada bunyi suara mobil jazz melintas depan rumah Andika. Warnanya merah dan kaca depan terbuka. Yang duduk di dalamnya adalah seorang pria dengan wanita yang dikenalnya. Wanita itu tidak lain adalah pacar Andika. Tapi dalam mobil itu, nampak tangan pacar Andika memeluk erat tangan pria di dalam mobil dengan mesranya. Hancurlah hati Andika dibuatnya. Semuanya hanya karena butuh duit.
Pati, 13 Juli 2025

Biodata Penulis
Muhammad Lutfi penulis buku Pelaut, Berlayar, Bunga Dalam Air, Senja, Asuh, Ngek Geng, Murtad, Elegi, Taka, Lorong.



