Takalar, JurnalPost.com — Sebanyak 30 santri tahfidz Pesantren Mizanul Ulum mengikuti pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan digital yang diselenggarakan oleh tim dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (13/10/2026).
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Santri melalui Program Smart Teenpreneur untuk Meningkatkan Literasi Finansial dan Jiwa Kewirausahaan Berbasis Digital di Pesantren Mizanul Ulum Desa Sanrobone Kabupaten Takalar”.
Melalui kegiatan ini, para santri tidak hanya didorong untuk memperkuat pendidikan keagamaan, tetapi juga dibekali keterampilan mengelola keuangan pribadi dan mengenali peluang usaha yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi digital.
Program Smart Teenpreneur melibatkan tiga dosen dari fakultas berbeda di UMI, yakni Dr. Amir, S.E., M.Ag. dari Fakultas Ekonomi selaku ketua tim, Dr. H. Andi Sumardin, S.Ag., M.A. dari Fakultas Agama Islam, serta Fitriyani Umar, S.Si., M.Eng. dari Fakultas Ilmu Komputer.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut menghadirkan materi mengenai pengelolaan keuangan, prinsip muamalah dan etika bisnis dalam Islam, serta pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan dan memasarkan produk usaha.
Santri Tahfidz Didorong Mandiri secara Ekonomi
Kepala Pesantren Mizanul Ulum, Baso Udin, S.Ag., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pembekalan keterampilan ekonomi menjadi salah satu kebutuhan santri agar memiliki kesiapan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Ia menilai kemampuan mengelola keuangan dan berwirausaha dapat dikembangkan tanpa mengesampingkan pendidikan Al-Qur'an yang menjadi prioritas utama pesantren.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu dosen UMI. Anak-anak kami selama ini fokus pada hafalan Al-Qur’an, dan itu tetap menjadi yang utama. Namun mereka juga perlu dibekali kemampuan mengelola uang dan berwirausaha agar kelak bisa mandiri dan bermanfaat bagi umat. Kegiatan seperti ini membuka wawasan santri bahwa seorang hafidz juga bisa menjadi pengusaha yang jujur dan sukses,” ujarnya.
Baso Udin berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga para santri memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh.
Selain membangun kemandirian ekonomi, kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri santri dalam mengenali potensi usaha di lingkungan sekitar.
Belajar Mengatur Uang Saku hingga Memasarkan Produk
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Amir, S.E., M.Ag., menjelaskan bahwa program Smart Teenpreneur dirancang untuk memperkenalkan pengelolaan keuangan dan kewirausahaan kepada santri sejak usia remaja.
Menurutnya, kemampuan mengatur keuangan tidak harus dimulai ketika seseorang telah memiliki penghasilan. Kebiasaan tersebut dapat dibangun melalui hal sederhana, seperti mengelola uang saku, menyisihkan tabungan, dan menentukan prioritas pengeluaran.
“Kami ingin santri memahami cara mengatur uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mulai berani melihat peluang usaha. Di era digital ini, peluang terbuka sangat lebar. Dengan gawai di tangan, santri sudah bisa memasarkan produk ke mana saja. Yang terpenting, semua itu dijalankan berlandaskan nilai-nilai syariah, yaitu jujur, amanah, dan tidak merugikan orang lain,” tuturnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak mempraktikkan penyusunan catatan keuangan sederhana untuk memahami pemasukan, pengeluaran, serta pentingnya menabung.
Santri juga diperkenalkan pada cara mengidentifikasi ide usaha yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan pesantren.
Selain itu, tim dosen memberikan pengenalan mengenai penggunaan media sosial dan platform digital sebagai sarana pemasaran produk. Materi tersebut bertujuan membuka wawasan peserta tentang peluang usaha yang dapat dimulai dari skala kecil.
Pembahasan mengenai kewirausahaan turut dikaitkan dengan nilai-nilai Islam, terutama kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan prinsip tidak merugikan pihak lain dalam transaksi.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para santri mengajukan pertanyaan dan menyampaikan berbagai gagasan usaha yang berpotensi dikembangkan bersama teman-teman mereka.
Santri Tertarik Mencoba Usaha Kecil
Salah seorang peserta, Muhammad Fadil, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan tersebut.
Santri tahfidz Pesantren Mizanul Ulum itu mengatakan bahwa materi pengelolaan uang saku dan pemasaran digital membuatnya tertarik mencoba kegiatan usaha sederhana.
“Alhamdulillah, saya jadi tahu cara mengatur uang saku supaya tidak cepat habis dan bisa menabung. Saya juga baru tahu ternyata jualan bisa lewat HP. Insyaallah saya ingin mencoba membuat usaha kecil bersama teman-teman di pesantren, sambil tetap menjaga hafalan,” katanya.
Pengalaman yang diperoleh peserta menunjukkan bahwa pembelajaran kewirausahaan dapat diperkenalkan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari santri.
Pengetahuan dasar mengenai keuangan dan pemasaran digital diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk mulai merencanakan kegiatan usaha secara lebih terarah.
Perkuat Pendidikan Keagamaan dan Keterampilan Wirausaha
Pelaksanaan program Smart Teenpreneur menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen Universitas Muslim Indonesia melalui penerapan ilmu pengetahuan dan keterampilan di lingkungan pendidikan pesantren.
Kegiatan ini juga memperlihatkan upaya menghubungkan pendidikan keagamaan dengan kemampuan praktis yang dibutuhkan generasi muda, khususnya dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital.
Tim pengabdian menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Wakaf UMI atas dukungan dan fasilitas yang diberikan selama pelaksanaan kegiatan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pimpinan, para ustaz, dan santri Pesantren Mizanul Ulum yang turut berpartisipasi.
Melalui program tersebut, para santri diharapkan dapat mengembangkan kebiasaan mengelola keuangan secara bertanggung jawab, mengenali peluang usaha, serta menggunakan teknologi digital secara produktif.
Pembekalan ini menjadi langkah awal untuk menumbuhkan generasi santripreneur, yakni santri yang memiliki dasar pendidikan agama yang kuat, memahami literasi keuangan, dan mampu mengembangkan potensi kewirausahaan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda