Oleh: Isnaini Septian Nur Rochmah
JurnalPost.com - Ketika mendengar kata stunting, sebagian besar orang langsung berpikir soal tinggi badan anak yang pendek atau gizi yang kurang. Padahal, stunting jauh lebih kompleks daripada sekedar persoalan fisik. Stunting bisa berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, bahkan kesehatan mental anak di masa depan. Artinya, stunting bukan hanya soal tubuh yang kerdil, tapi juga masa depan generasi yang terancam. Di sinilahh peran data keluarga menjadi sangat penting.
Data keluarga yang dihimpun oleh BKKBN melalu pendataan keluarga bukan sekedar kumpulan angka. Data ini memuat informasi detail mengenai kondisi keluarga, mulai dari status ekonomi, pendiidkan orang tua, hingga kondisi kesehatan iibu dan anak. Data tersebut bisa menjadi peta jalan untuk melihat keluarga mana yang rentan mengalami stunting, sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Pendataan keluarga merupakan fondasi penting dalam upaya penganggulangan stunting. Proses pendataan dilakukan secara by name by address melalui kunjungan langsung rumah ke rumah yang dilakukan oleh kader pendata, kemudian data dimasukkan mellaui aplikasi digital agar dapat langsung diverifikasi, dan divalidasi. Ketika ditemukan kelluarga dengan risiko stunting tinggi, BKKBN menindaklanjutinya melalui koordinasi lintas sector. BKKBN bekerja sama dengan puskesmas, kader kesehatan, pemerintah daerah, badan pangan nasional untuk melakukan intervensi terarah, seperti kunjungan rumah, edukasi gizi, pemantauan ibu hamil, dan dukungan makanan bergizi.
Dalam praktiknya, efektivitas pemanfaatn data antara BKKBN dan tenaga kesehatan sangat ditentukan oleh koordinasi di lapangan. Kolaborasi ini terbukti membaantu penurunan angka stunting karena tenaga kesehatan dapat memanfaatkan data keluarga sebagai acuan untuk melakukan pendampingan intensif kepada sasaran prioritas. Jika melihat perkembangan terbaru, angka stunting nasional menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan survei gizi pemerintah, prevalensi stunting pada tahun 2024 turun menjadi 19,8 %, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 21,5%.
Namun, di balik itu semua, pengumpulan data masih menghadapi sejumlah hambatan. Beberapa wilayah mengalami kendala jaringan internet dan keterbatasan perangkat, sehingga proses input data bisa terhambat. Selain itu, beberapa keluarga enggan memberikan informasi detail karena alasan privasi atau ketidakpercayaan, sehingga data yang diterima tidak selalu lengkap.
Lebih jauh, data keluarga juga bisa membantu mencegah masalah mental pada anak. Bagaimana caranya? Dengan data, kita bisa menilai apakah sebuah keluarga memiliki risiko konflik, tekanan ekonomi, atau kurangnya dukungan sosial. Factor-faktor ini sangat berpengaruh pada pola asuh yang diberikan orang tua, yang ujungnya berimbas pada kesehatan mental anak.
Dengan kata lain, pemanfaatan data keluarga bukan hanya untuk mencegah stunting secara fisik, tetapi juga membangun lingkungan yang sehat secara psikologis. Namun, tantangannya adalah bagaimana membuat data ini benar-benar hidup. Sering kali, data hanya menjadi tumpukan berkas atau file digital yang jarang disentuh kembali. Padahal, data keluarga bisa menjadi senjata paling ampuh jika dikelola secara serius, terintegrasi dengan sistem kesehatan, pendidikan, dan sosial. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan konselor keluarga bisa bekerja bersama menggunakan data inn untuk menysusn strategi pencegahan stunting sekaligus membangun generasi yang sehat mental.
Saat data keluarga bicara, sejatinya itu adalah suara masyarakat yang perlu di dengar. Angka-angka itu mewakili wajah anak-anak yang butuh gizi cukup, kasih sayang yang hangat, dan lingkungan yang mendukunng. Maka, mari kita dorong agar data keluarga tidak hanya dilihat sebagai kewajiban administrasi, tetapi benar-benar menjadi nyawa kebijakan pembangunan. Karena dari data yang akurat dan dimanfaatkan dengan baik, kita bisa menjaga anak-anak kita. Bukan hanya dari stunting, tetapi juga dari ancamangangguan mental yang bisa membayangi masa depan mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda