Oleh: H. Endang Sudrajat, ST., MT. Ketua Umum Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR)
JurnalPost.com - Tahun 2001 menjadi titik awal kesadaran saya tentang arti sebuah bencana. Saat itu saya bukan relawan, bukan pula bagian dari lembaga kemanusiaan. Saya hanyalah seorang warga yang menyaksikan bagaimana satu peristiwa mampu merenggut rasa aman, meruntuhkan tatanan hidup, dan meninggalkan luka panjang, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
Dari pengalaman lapangan itulah saya memahami bahwa bencana bukan sekadar urusan alam. Ia adalah ujian tentang kesiapan manusia. Tentang bagaimana masyarakat memahami risikonya, dan bagaimana negara serta komunitas merespons sebelum segalanya terlambat.
Tahun-tahun berikutnya, saya melihat pola yang terus berulang. Ketika bencana datang, kepanikan menjadi reaksi pertama. Aparat kewalahan, bantuan terlambat, dan masyarakat pasrah. Kita bergerak cepat setelah korban berjatuhan, namun jarang menyiapkan diri sebelum bencana terjadi. Dari sinilah kegelisahan itu tumbuh bahwa ada yang salah dalam cara kita memandang kebencanaan.
Saya mulai belajar lebih dalam, mengikuti pelatihan, dan turun langsung dalam berbagai operasi kemanusiaan: gempa bumi, banjir, longsor, hingga kondisi darurat sosial. Di lapangan saya menyadari, persoalan terbesar bukan kurangnya kepedulian, melainkan mindset. Bencana sering dipahami sebagai takdir yang tak terelakkan, bukan sebagai risiko yang bisa dikurangi.
Perubahan cara pandang inilah yang kemudian menemukan jalannya ketika saya berkhidmat bersama Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR).
UAR lahir dari kepedulian atas tragedi tsunami Aceh tahun 2004. Saat itu, lembaga ini masih bernama Tim Ukhuwah Pemuda Untuk Aceh (TUPUA), sebuah gerakan relawan yang digerakkan oleh panggilan nurani, keimanan. Pada tahun 2006, gerakan ini berkembang menjadi Yayasan Ukhuwah Al-Fatah Rescue di bawah kepemimpinan H. Bustamin Uce, dan resmi terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM pada 2011. Kini, tepatnya sejak Oktober 2023 saya melanjutkan amanah kepemimpinan tersebut, sementara beliau menjadi pembina UAR pusat. Sebelumnya selama enam tahun saya mendapat amanah memimpin UAR Wilayah Jabobetabek Banten.
Berkantor pusat di lingkungan Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, UAR tumbuh sebagai lembaga kemanusiaan yang tidak hanya hadir saat bencana, tetapi juga berupaya membangun kapasitas dan ketangguhan masyarakat. Dari Aceh, Sumatera Barat, Yogyakarta, Brebes, Semarang, hingga Nusa Tenggara Timur; dari Nepal hingga Gaza Palestina, para relawan UAR bergerak membawa misi kemanusiaan lintas batas.
Sejak awal Desember 2025, para personel UAR dalam skala besar kembali diturunkan ke berbagai wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Hingga hari ini, relawan UAR masih beramal shalih mendampingi masyarakat di Aceh Tamiang dan sekitarnya menjadi saksi bahwa kerja kemanusiaan bukan pekerjaan sesaat, melainkan komitmen jangka panjang.
Sebagai lembaga resmi yang terdaftar di Badan Kesbangpol Kabupaten Bogor, UAR terus memperkuat kapasitas relawan melalui kerja sama strategis dengan BASARNAS, BNPB, Kementerian Sosial, Jakarta Rescue, MER-C, serta jejaring nasional dan internasional seperti INSARAG di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bahkan, UAR juga berkolaborasi dengan tim instruktur SAR dari Pompiers de l’Urgence Internationale (PUI) Perancis dalam pelatihan berkala peningkatan kompetensi relawan.
Komitment Diri
Namun bagi saya, semua pencapaian itu bukanlah tujuan akhir. Yang terpenting adalah perubahan cara berpikir, cara pandang masyarakat dalam menyikapi bencana. Saya bermimpi suatu hari nanti, masyarakat Indonesia tidak lagi berkata, “Ini sudah takdir,” melainkan dengan yakin mengatakan, “Kami siap menghadapinya.”
Anak-anak mengenal jalur evakuasi sejak dini, keluarga memahami ancaman di lingkungannya, dan para pemimpin menjadikan data serta kajian kebencanaan sebagai dasar utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
Pengurangan risiko bencana bagi saya adalah ikhtiar moral dan spiritual, bagian dari amanah menjaga kehidupan. Ia adalah bentuk ibadah sosial, sebagaimana nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan mengajarkan kita untuk saling melindungi dan menjaga ukhuwah dengan sesama.
Perjalanan saya di dunia kebencanaan sejak 2001 hingga hari ini tentu belum usai. Namun selama masih ada risiko yang bisa dikurangi, selama masih ada pengetahuan yang bisa dibagikan, dan selama masih ada masyarakat yang perlu dikuatkan, saya akan terus berjalan di jalan kemanusiaan ini bersama Ukhuwah Al-Fatah Rescue, Insyaa Allah.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda