Karya : Nurma Indah
JurnalPost.com - Julian menatap jendela bus yang berembun oleh sisa hujan dini hari. Suara klakson bersahutan, motor saling serobot, dan baliho besar yang berkilauan di antara gedung tinggi terasa seperti potret yang menyesakkan. Ia tidak tahu sejak kapan kota—yang dulu menjadi simbol impian—berubah menjadi tempat yang menenggelamkan dirinya perlahan.
Sudah berbulan-bulan ia merasa asing di tengah rutinitasnya sendiri. Bangun pagi, mengejar rapat, menatap layar komputer seharian, lalu pulang larut malam ke apartemen yang terlalu rapi dan terlalu sepi. Di kalender kerja, ada satu kolom yang belum terisi: “cuti.” Dan hari itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Julian menekan tombol “izin libur.”
Ia tidak memberi tahu siapa pun. Tidak teman kantornya, tidak juga ibunya di kampung. Hanya satu pesan pendek yang ia kirim ke rekan kerjanya: “Aku butuh jeda.”
Pulau kecil itu bahkan tidak ada di peta turis. Namanya Pulau Nara, hanya bisa ditempuh dua jam naik kapal dari pelabuhan di kota pesisir. Penduduknya sedikit, dan sebagian besar hidup dari hasil laut. Julian menemukannya secara tak sengaja, dari unggahan seorang fotografer di media sosial. Foto pasir putih dan air biru bening itu tampak seperti janji akan ketenangan yang selama ini ia cari.
Begitu menjejakkan kaki di dermaga kayu, Julian merasa napasnya sedikit lega. Angin asin laut menyentuh kulitnya, suara deburan ombak berpadu dengan teriakan anak-anak yang berlarian membawa jaring kecil. Tak ada suara klakson, tak ada getar ponsel yang menuntut balasan cepat. Hanya laut yang luas, dan waktu yang berjalan pelan.
Penginapan kecil di tepi pantai menjadi tempatnya beristirahat. Pemiliknya, seorang pria tua bernama Pak Agus, menawarkan kamar dengan jendela menghadap laut. Di malam pertama, Julian duduk di balkon, menatap garis horizon yang mulai gelap. Ia memejamkan mata, membiarkan suara ombak menjadi lagu pengantar tidur. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tertidur tanpa mimpi tentang pekerjaan.
Pagi berikutnya, Julian membawa kameranya berjalan di sepanjang pantai. Ia suka memotret, meski hanya sekadar hobi. Namun kali ini, bukan untuk diunggah ke media sosial, melainkan sebagai cara untuk mengingat kembali rasa kagum pada dunia yang sederhana. Ia memotret perahu nelayan, bekas jejak kaki di pasir, juga seekor burung camar yang melayang di atas ombak.
Lalu, ia melihat seseorang.
Di ujung pantai, seorang perempuan sedang berdiri di air setinggi lutut, menatap laut dengan wajah teduh. Rambutnya dibiarkan terurai, diterpa angin. Ia mengenakan gaun sederhana warna biru muda, dan di tangannya ada selembar buku catatan yang tampak basah di ujungnya. Cahaya pagi menyentuh wajahnya lembut, membuatnya tampak seperti bagian dari laut itu sendiri.
Julian tidak tahu mengapa langkahnya terhenti. Ia tidak berniat mengganggu, tapi matanya sulit berpaling. Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu—bukan sekadar keindahan, tapi semacam kedalaman, seperti ombak yang menyimpan banyak rahasia.
Perempuan itu menoleh sekilas, menyadari kehadirannya. Tatapan mereka bertemu, hanya sekejap, tapi cukup membuat dada Julian bergetar aneh. Ia buru-buru menunduk, pura-pura memeriksa kameranya. Saat ia menengadah lagi, perempuan itu sudah berjalan menjauh, meninggalkan jejak kaki di pasir yang perlahan terhapus air.
Hari-hari berikutnya, Julian mulai mengenal ritme pulau itu. Pagi ia berjalan di pantai, siang membantu nelayan menarik jaring, malam duduk di warung kecil menikmati teh hangat. Tapi tanpa ia sadari, setiap langkahnya selalu membawa harapan kecil: bertemu lagi dengan perempuan itu.
Harapan itu terwujud pada hari keempat.
Ia sedang memotret bunga liar di tepi tebing ketika mendengar suara lembut di belakangnya. “Hati-hati, tanahnya rapuh.” Julian menoleh—dan di sana, berdiri perempuan yang sama.
“Kamu tinggal di sini?” tanya Julian, suaranya sedikit gugup.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. “Namaku Nai. Aku lahir di pulau ini. Kamu turis, ya?”
Julian tertawa pelan. “Mungkin lebih tepatnya… orang kota yang sedang melarikan diri.”
Nai tersenyum, lalu duduk di atas batu, menatap laut yang bergemuruh di bawah tebing. “Kadang orang datang ke sini karena ingin menemukan sesuatu. Kadang juga karena ingin melupakan.”
“Kalau kamu?” tanya Julian.
“Aku menulis,” jawabnya. “Tentang laut, orang-orang yang datang dan pergi, juga tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.”
Julian menatap buku catatan di tangannya, lalu tersenyum. “Aku sempat melihatmu waktu itu, di pantai. Kau menulis sambil menatap laut.”
Nai tertawa kecil. “Aku menulis tentang laut, jadi kadang aku harus menatapnya lama-lama agar dia mau bercerita.”
Hari-hari setelah itu berubah menjadi kisah yang tidak direncanakan. Julian dan Nai sering bertemu—kadang di warung kopi kecil tempat nelayan berkumpul, kadang di pantai saat senja turun. Mereka bicara tentang hal-hal sederhana: tentang mimpi, masa kecil, dan perasaan yang sulit dijelaskan.
Julian mulai bercerita tentang hidupnya di kota—tentang rapat tanpa akhir, tekanan, dan rasa hampa yang datang tanpa alasan. Nai mendengarkan dengan tatapan yang tenang, seperti laut yang selalu sabar menampung setiap gelombang.
“Kau tahu, Nai,” kata Julian suatu sore, “aku datang ke sini untuk lari. Tapi entah kenapa, justru di sini aku merasa seperti menemukan sesuatu yang hilang.”
Nai menatapnya lama. “Mungkin karena di sini kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa. Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri.”
Kata-kata itu sederhana, tapi menggema lama di kepala Julian.
Malam itu, mereka duduk di tepi pantai. Bulan separuh memantulkan cahayanya ke air yang tenang. Nai membawa gitar tua dan memetik beberapa nada pelan. Suaranya lembut, seperti bisikan angin.
“Lagu apa itu?” tanya Julian.
“Lagu yang belum selesai,” jawab Nai sambil tersenyum. “Aku menulisnya untuk seseorang yang belum kukenal.”
Julian menatapnya, dan di dada muncul sesuatu yang sulit diungkapkan. Mungkin rasa rindu, tapi untuk sesuatu yang baru akan dimulai. Ia ingin mengatakan bahwa mungkin orang itu kini duduk di sampingnya. Namun ia hanya tersenyum, membiarkan angin malam membawa kata-kata yang belum sempat lahir.
Waktu berjalan cepat. Seminggu di pulau terasa seperti sekejap. Hari terakhirnya tiba tanpa permisi. Saat matahari naik, Julian berdiri di dermaga dengan ransel di punggung. Kapal kecil sudah siap berangkat. Nai datang membawa bungkusan kecil—sebuah buku catatan dengan sampul cokelat muda.
“Untukmu,” katanya. “Aku sudah menulis sesuatu di dalamnya.”
Julian membuka halaman pertama. Tertulis dengan tinta hitam: ‘Kadang, laut tidak menyembuhkan luka. Tapi ia memberi kita ruang untuk memahami rasa sakitnya.’
Ia menatap Nai, mencoba tersenyum. “Terima kasih. Aku tidak tahu harus bilang apa.”
“Tidak perlu bilang apa-apa,” jawab Nai lembut. “Kalau suatu hari kamu kembali, aku mungkin masih di sini, menulis dan menunggu laut bercerita lagi.”
Julian mengangguk. Kapal mulai bergerak, perlahan menjauh dari dermaga. Nai melambaikan tangan, dan untuk beberapa saat, hanya ada jarak yang tumbuh di antara mereka—jarak yang tidak menyakitkan, tapi juga tidak bisa dihapus.
Beberapa bulan kemudian, Julian kembali bekerja di kota. Tapi kali ini ia tidak lagi terburu-buru. Ia mulai menulis—bukan laporan, melainkan catatan kecil tentang laut, tentang pertemuan, dan tentang seseorang yang mengajarinya arti diam.
Di dinding apartemennya, tergantung foto laut biru dengan tulisan kecil di bawahnya: Pulau Nara, tempat aku berhenti berlari.
Setiap kali lelah, Julian membuka buku pemberian Nai. Di halaman terakhir, ia menemukan tulisan kecil yang sebelumnya belum sempat ia baca: “Jika laut mempertemukan kita, biarlah waktu yang menentukan apakah ia akan membawa kita kembali.”
Julian tersenyum, lalu menatap langit dari jendela. Di kejauhan, samar-samar ia bisa mendengar suara ombak dalam ingatannya.
Dan entah mengapa, malam itu, kota terasa sedikit lebih tenang.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda