Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Cerpen: Meninggalkan Bayangan

Cerpen: Meninggalkan Bayangan

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
07 Oktober 2025, 23.07 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Cerpen

Karya : Rita Syafriyemi

JurnalPost.com - Sore itu aku duduk di sebuah pantai yang tak jauh dari rumah. Aku melihat betapa menyenangkan masa-masa kecil itu. Beberapa anak bermain ayunan, membuat istana pasir, berlarian kesana kemari tanpa adanya beban. Semuanya ditemani mentari sore hari yang memeluk hangat tapi tak membakar kulit. Diiringi sapuan lembut dari udara yang membelai pipi menambah tenang suasana. Deruan ombak dan ramainya orang disana tidak menggangguku sama sekali. Aku malah jadi teringat masa kecilku dulu yang menurutku itu sangat menyenangkan. Tidak ada pikiran-pikiran yang akan membuat kepala pusing, tugasku hanya makan, mandi, tidur, dan bermain pada waktu itu. Lain hal dengan sekarang, untuk tidur siang saja aku harus mencuri waktu dulu. Setelah lama memandangi anak-anak tersebut aku kembali menatap layar laptopku. Ya bahkan di pantai pun aku harus tetap mengerjakan tugasku sebagai mahasiswa. Sebetulnya ada kejenuhan yang kurasakan, akhir-akhir ini aku merasa lelah dengan semua tugas yang ada. Aku rasanya ingin lepas dari yang namanya tugas dan semua kegiatan yang berkaitan dengan kampus. Tapi hal itu akan mustahil, keiginanku untuk sukses harus aku perbesar dari pada rasa jenuhku. Walau kelihatan memaksa tapi itulah kenyataannya. Kerena waktu tak kan berheni untuk menungguku bergerak.

IKLAN

Tanganku mulai kembali bermain di atas keyboard laptop, aku mulai mengerjakan tugasku yang beberapa menit sempat terhenti. Beberapa lama setelahnya tugasku selesai bersamaan dengan matahari yang mulai turun. Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat yang nyaman itu. Aku kemudian mulai membereskan barang-barangku untuk segera pulang. Saat memasukkan benda terakhir ke dalam tas, aku mendapat uluran eskrim yang tiba-tiba saja muncul di depanku. Aku terkejut dan melihat siapa yang mengulurkan eskrim itu, ternyata dia, orang yg dulu pernah memberi coklat padaku. Aku tersenyum dan mengambil eskrim itu. Dia Zefan, sahabatku yang selalu paham aku, dan selalu ada untuk membuatku kembali bersemangat.

Buku Antologi Cerpen
Baca Juga

IPAB Luncurkan Buku Antologi Cerpen ke-10: “Biru Langitku, Hijau Bumiku”, Warnai Semangat Literasi Lintas Generasi

“kita ngobrol dulu yuk” ucap Zefan padaku.

“ini sudah terlalu sore, sebentar lagi akan gelap, kita ngobrolnya besok saja ya, dan terimakasih eskrimnya, kamu tahu saja apa yang membuat moodku membaik” jawabku sambil tersenyum senang.

Dia pun setuju dengan jawabanku. Akhirnya kami berpisah di pantai itu, aku berjalan meninggalkannya, karena rumahku yang tak terlalu jauh dari pantai, jadi kurasa dia tidak perlu mengantarku walau dia sudah menawarkannya.

Sesampainya di rumah aku langsung menuju lemari es untuk menaruh eskrim tadi. Aku berencana menikmatinya setelah aku mandi dan bersantai nanti. Selang beberapa waktu aku sudah selesai dengan kegiatanku, aku menuju lemari es untuk mengambil eskrim pemberian Zefan. Namun, dalam perjalanan keluar kamar, aku melihat kotak berukuran sedang terletak dekat tangga. Mataku tertuju padanya dan langsung menghampiri kotak itu. Saat aku buka, isi kotak itu mengingatkanku pada masa lalu, tak terasa air mataku mulai turun dari pelupuknya. Aku terdiam menatap boneka dan kalung pemberian seseorang waktu itu. Seseorang yang sangat aku cintai, namun akhirnya meninggalkanku untuk selamanya. Tiba-tiba mama datang sambil memegang pundakku dan tersenyum untuk memberi ketenangan.

Senja di Pulau Sunyi
Baca Juga

Cerpen: Senja di Pulau Sunyi

“Tiara, mau sampai kapan kamu  mau menangisi masa lalu?, sudah saatnya kamu melupakannya dan bahagia nak” ucap mama padaku

“kenapa kotak ini berada di bawah tangga ma?” aku tak menjawab pertanyaan mama dan bertanya tentang keberadaan kotak itu yang biasanya aku taruh di atas lemari.

“Mama sengaja menaruhnya di sana, jika kotak itu tetap berada di kamarmu itu tidak akan baik untuk suasana hatimu nak”

“Walau kotak ini hilang sekalipun, namun kenangan itu akan selalu membekas dihatiku ma” jawabku sambil menghapus air mata

Garis Warna
Baca Juga

Cerpen: Garis Warna-warni di Ujung Papan Tulis

“yasudah, ayo ke meja makan, mama sudah masak makanan kesukaanmu”

“yeayy, oke ma” ucapku sambil tersenyum palsu dan meninggalkan kotak itu di sana.

Benar kata mama, aku tidak bisa menyimpan barang itu lagi di kamarku, mungkin setidaknya jika aku tidak melihat kotak itu lagi, aku jadi tidak teringat masa lalu lagi.

Pagi ini aku berangkat ke kampus dengan motor kesayanganku, aku melaju dengan kecepatan sedang, cuaca pagi ini sangat bersahabat, kicauan burung bagaikan nyanyian di telingaku. Aku menikmati perjalananku hingga sampai di kampus dengan selamat. Dari arah ujung parkiran aku melihat Zefan sedang duduk memainkan ponselnya. Lalu aku berinisiatif untuk menghampirinya.

“Zefan” panggilku padanya

“eh Tiara, udah datang dari tadi ya?” tanya Zefan

“ngga kok aku baru aja datang”

“aku dari tadi nelfonin kamu, tapi nggak kamu angkat” ucap Zefan dengan cemberut

“owalah kayaknya pas aku dalam perjalanan tadi, jadi nggak kedengeran deh kalau ponselku berdering” ucapku sambil cengengesan

“yasudah ayo ke kelas” ajak Zefan padaku

Kami pun sampai di kelas dan melewati beberapa jam pelajaran. Setelah selesai, Aku, Zefan dan Nina sahabatku juga, kami berencana akan duduk di taman untuk mengerjakan tugas. Saat sudah sampai di taman, Zefan berinisiatif untuk pergi membeli makanan, dan kami pun mengiyakannya.

“Ra” panggil Nina padaku

IKLAN

“kamu yakin nggak mau nerima Zefan untuk menggantikan masa lalu mu itu?”

Pertanyaan Nina membuatku terdiam sejenak, karena Zefan memang sudah beberapa kali menyatakan perasaanya padaku, namun aku hanya mengatakan kalau kita cukup bersahabat saja.

“ngga semudah itu Nin, aku tahu Zefan orang yang baik, tapi aku tidak ingin kejadian lama terulang kembali” jawabku pada Nina

Nina hanya mengangguk pertanda dia mengerti, sebenarnya aku juga ada sedikit perasaan pada Zefan tapi aku harus segera membunuh perasaan itu, karena aku tidak ingin masa lalu terjadi lagi, dulu waktu masih SMA aku memiliki sahabat bernama Reno, selang beberapa waktu ternyata Reno memiliki perasaan kepadaku, dan aku pun begitu padanya. Saat setelah aku menerima cintanya serta kalung dan boneka yang dia berikan, aku mendengar kabar kalau dia kecelakaan. Hatiku seketika hancur saat itu juga. Dalam satu hari perasaanku bahagia karena menerima cintanya namun juga hadir kesedihan setelahnya. Sampai saat ini aku takut untuk menerima sahabat untuk menjadi kekasih, karena aku merasa semua salahku, andai saja waktu itu Reno tidak datang ke rumah dan menyatakan perasaannya padaku, mungkin hal buruk itu tidak akan terjadi. Dan aku takut hal yang sama terjadi pada Zefan. Dia adalah sahabatku dan aku tidak ingin kehilangan dia dari hidupku.

“yeayy makanannya sudah datang” ucap Nina dengan gembira

“Nih coklat buat kamu” ujar Zefan padaku sambil mengulurkan sebatang coklat

“untuk Tiara doang nih Zef?” celetuk Nina tiba-tiba

“iyaa dong, kan Tiara suka coklat” ucap Zefan sambil tersenyum meledek Nina

“iya deh sipaling perhatian” ujar Nina dengan jengah

Aku kemudian menerima  coklat itu, dan kami melanjutkan membuat tugas masing-masing. Setelah semuanya selesai, kami pun pulang ke rumah.

Keesokan harinya saat selesai kelas, Zefan menarik tanganku dari kerumunan orang-orang yang keluar dari kelas. Aku hanya mengikuti tarikan Zefan saja tanpa membantah, aku pikir ada sesuatu yang penting. Zefan mengajakku duduk di lapangan kampus tepatnya di kursi dekat pohon yang sangat sejuk.

“ada apa Zef?” tanyaku padanya

“aku mau nanya sesuatu Ra, kenapa selama ini kamu tidak mau menerima perasaanku padamu? Apa kamu benar- benar hanya menganggapku sahabat saja? Tanya Zefan dengan serius

“hmm ada sesuatu yang membuatku tak bisa menerimamu Zef, aku tidak ingin kehilangan seseorang untuk kedua kalinya”

“maksudmu?” tanya Zefan dengan dahi mengkerut

Aku menghela nafas lalu menceritakan semuanya pada Zefan.

“Tiara, semua yang udah terjadi di masa lalu itu bukan kesalahan kamu, semua itu takdir Tuhan, walaupun pada saat itu dia nggak ketemu kamu kalau sudah takdirnya pergi ya dia akan tetap pergi Ra, jangan nyalahin diri sendiri lagi ya”

“tapi aku tetap ada rasa bersalah Zef”

“iyaa tapi bukan berarti kamu nggak bisa buka lembaran baru dong, jangan terjebak di bayang masa lalu Ra”

“hmm kamu benar Zef, mama pun bilang begitu, mungkin aku harus coba sedikit demi sedikit untuk melupakan kenangan pahit itu”

“iyaa aku akan membantumu Ra” ucap Zefan menenangkan

Setelah lama mengobrol kami pun pulang ke rumah masing-masing, Nina sudah duluan pulang karena dia ada acara keluarga yang tak bisa ditinggalkannya. Sesampainya di rumah aku duduk di depan cermin sambil memikirkan kata-kata Zefan tadi. Aku pikir tidak ada salahnya aku mencoba menerimanya tanpa takut masa lalu terulang kembali.

Seiring berjalannya waktu, Zefan membantuku untuk bangkit kembali, semua kenangan itu tersimpan rapi tanpa mengenang luka. Zefan pun kembali menyatakan perasaannya padaku dan aku menerimanya. Namun, kali ini, Zefan mengajakku ke jenjang yang lebih serius, setelah kami wisuda, dia berjanji akan melamarku, mamaku setuju dengan hal itu. Mama sudah kenal lama dengan Zefan, dia tahu bagaimana Zefan, jadi beliau tidak ragu untuk menyetujui hubungan kami. Begitupun dengan Nina, ia sangat senang mendengar berita itu, karena dia orang  pertama yang sangat mendukungku untuk menerima Zefan. Dia yakin bahwa Zefan bisa membahagiakanku. Nina pun sebentar lagi akan bertunangan dengan orang pilihannya, aku sangat senang mendengarnya. Aku harap semua kebahagiaan ini tidak pernah luntur, luka lama yang terbalut rapi jangan pernah terbuka lagi. Kenangan  itu ada tapi tak menyakiti, senyuman tanpa ikatan masa lalu terasa ringan menyelimuti. Semoga keceriaan dan kebahagiaan ini menjadi abadi.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/cerpen-meninggalkan-bayangan/86578/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.08 WITA

  • #Cerpen

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Pilihan Editor

  1. 1 Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri
  2. 2

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  3. 3

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  4. 4

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  5. 5

    Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.