Karya : Rita Syafriyemi
JurnalPost.com - Sore itu aku duduk di sebuah pantai yang tak jauh dari rumah. Aku melihat betapa menyenangkan masa-masa kecil itu. Beberapa anak bermain ayunan, membuat istana pasir, berlarian kesana kemari tanpa adanya beban. Semuanya ditemani mentari sore hari yang memeluk hangat tapi tak membakar kulit. Diiringi sapuan lembut dari udara yang membelai pipi menambah tenang suasana. Deruan ombak dan ramainya orang disana tidak menggangguku sama sekali. Aku malah jadi teringat masa kecilku dulu yang menurutku itu sangat menyenangkan. Tidak ada pikiran-pikiran yang akan membuat kepala pusing, tugasku hanya makan, mandi, tidur, dan bermain pada waktu itu. Lain hal dengan sekarang, untuk tidur siang saja aku harus mencuri waktu dulu. Setelah lama memandangi anak-anak tersebut aku kembali menatap layar laptopku. Ya bahkan di pantai pun aku harus tetap mengerjakan tugasku sebagai mahasiswa. Sebetulnya ada kejenuhan yang kurasakan, akhir-akhir ini aku merasa lelah dengan semua tugas yang ada. Aku rasanya ingin lepas dari yang namanya tugas dan semua kegiatan yang berkaitan dengan kampus. Tapi hal itu akan mustahil, keiginanku untuk sukses harus aku perbesar dari pada rasa jenuhku. Walau kelihatan memaksa tapi itulah kenyataannya. Kerena waktu tak kan berheni untuk menungguku bergerak.
Tanganku mulai kembali bermain di atas keyboard laptop, aku mulai mengerjakan tugasku yang beberapa menit sempat terhenti. Beberapa lama setelahnya tugasku selesai bersamaan dengan matahari yang mulai turun. Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat yang nyaman itu. Aku kemudian mulai membereskan barang-barangku untuk segera pulang. Saat memasukkan benda terakhir ke dalam tas, aku mendapat uluran eskrim yang tiba-tiba saja muncul di depanku. Aku terkejut dan melihat siapa yang mengulurkan eskrim itu, ternyata dia, orang yg dulu pernah memberi coklat padaku. Aku tersenyum dan mengambil eskrim itu. Dia Zefan, sahabatku yang selalu paham aku, dan selalu ada untuk membuatku kembali bersemangat.
“kita ngobrol dulu yuk” ucap Zefan padaku.
“ini sudah terlalu sore, sebentar lagi akan gelap, kita ngobrolnya besok saja ya, dan terimakasih eskrimnya, kamu tahu saja apa yang membuat moodku membaik” jawabku sambil tersenyum senang.
Dia pun setuju dengan jawabanku. Akhirnya kami berpisah di pantai itu, aku berjalan meninggalkannya, karena rumahku yang tak terlalu jauh dari pantai, jadi kurasa dia tidak perlu mengantarku walau dia sudah menawarkannya.
Sesampainya di rumah aku langsung menuju lemari es untuk menaruh eskrim tadi. Aku berencana menikmatinya setelah aku mandi dan bersantai nanti. Selang beberapa waktu aku sudah selesai dengan kegiatanku, aku menuju lemari es untuk mengambil eskrim pemberian Zefan. Namun, dalam perjalanan keluar kamar, aku melihat kotak berukuran sedang terletak dekat tangga. Mataku tertuju padanya dan langsung menghampiri kotak itu. Saat aku buka, isi kotak itu mengingatkanku pada masa lalu, tak terasa air mataku mulai turun dari pelupuknya. Aku terdiam menatap boneka dan kalung pemberian seseorang waktu itu. Seseorang yang sangat aku cintai, namun akhirnya meninggalkanku untuk selamanya. Tiba-tiba mama datang sambil memegang pundakku dan tersenyum untuk memberi ketenangan.
“Tiara, mau sampai kapan kamu mau menangisi masa lalu?, sudah saatnya kamu melupakannya dan bahagia nak” ucap mama padaku
“kenapa kotak ini berada di bawah tangga ma?” aku tak menjawab pertanyaan mama dan bertanya tentang keberadaan kotak itu yang biasanya aku taruh di atas lemari.
“Mama sengaja menaruhnya di sana, jika kotak itu tetap berada di kamarmu itu tidak akan baik untuk suasana hatimu nak”
“Walau kotak ini hilang sekalipun, namun kenangan itu akan selalu membekas dihatiku ma” jawabku sambil menghapus air mata
“yasudah, ayo ke meja makan, mama sudah masak makanan kesukaanmu”
“yeayy, oke ma” ucapku sambil tersenyum palsu dan meninggalkan kotak itu di sana.
Benar kata mama, aku tidak bisa menyimpan barang itu lagi di kamarku, mungkin setidaknya jika aku tidak melihat kotak itu lagi, aku jadi tidak teringat masa lalu lagi.
Pagi ini aku berangkat ke kampus dengan motor kesayanganku, aku melaju dengan kecepatan sedang, cuaca pagi ini sangat bersahabat, kicauan burung bagaikan nyanyian di telingaku. Aku menikmati perjalananku hingga sampai di kampus dengan selamat. Dari arah ujung parkiran aku melihat Zefan sedang duduk memainkan ponselnya. Lalu aku berinisiatif untuk menghampirinya.
“Zefan” panggilku padanya
“eh Tiara, udah datang dari tadi ya?” tanya Zefan
“ngga kok aku baru aja datang”
“aku dari tadi nelfonin kamu, tapi nggak kamu angkat” ucap Zefan dengan cemberut
“owalah kayaknya pas aku dalam perjalanan tadi, jadi nggak kedengeran deh kalau ponselku berdering” ucapku sambil cengengesan
“yasudah ayo ke kelas” ajak Zefan padaku
Kami pun sampai di kelas dan melewati beberapa jam pelajaran. Setelah selesai, Aku, Zefan dan Nina sahabatku juga, kami berencana akan duduk di taman untuk mengerjakan tugas. Saat sudah sampai di taman, Zefan berinisiatif untuk pergi membeli makanan, dan kami pun mengiyakannya.
“Ra” panggil Nina padaku
“kamu yakin nggak mau nerima Zefan untuk menggantikan masa lalu mu itu?”
Pertanyaan Nina membuatku terdiam sejenak, karena Zefan memang sudah beberapa kali menyatakan perasaanya padaku, namun aku hanya mengatakan kalau kita cukup bersahabat saja.
“ngga semudah itu Nin, aku tahu Zefan orang yang baik, tapi aku tidak ingin kejadian lama terulang kembali” jawabku pada Nina
Nina hanya mengangguk pertanda dia mengerti, sebenarnya aku juga ada sedikit perasaan pada Zefan tapi aku harus segera membunuh perasaan itu, karena aku tidak ingin masa lalu terjadi lagi, dulu waktu masih SMA aku memiliki sahabat bernama Reno, selang beberapa waktu ternyata Reno memiliki perasaan kepadaku, dan aku pun begitu padanya. Saat setelah aku menerima cintanya serta kalung dan boneka yang dia berikan, aku mendengar kabar kalau dia kecelakaan. Hatiku seketika hancur saat itu juga. Dalam satu hari perasaanku bahagia karena menerima cintanya namun juga hadir kesedihan setelahnya. Sampai saat ini aku takut untuk menerima sahabat untuk menjadi kekasih, karena aku merasa semua salahku, andai saja waktu itu Reno tidak datang ke rumah dan menyatakan perasaannya padaku, mungkin hal buruk itu tidak akan terjadi. Dan aku takut hal yang sama terjadi pada Zefan. Dia adalah sahabatku dan aku tidak ingin kehilangan dia dari hidupku.
“yeayy makanannya sudah datang” ucap Nina dengan gembira
“Nih coklat buat kamu” ujar Zefan padaku sambil mengulurkan sebatang coklat
“untuk Tiara doang nih Zef?” celetuk Nina tiba-tiba
“iyaa dong, kan Tiara suka coklat” ucap Zefan sambil tersenyum meledek Nina
“iya deh sipaling perhatian” ujar Nina dengan jengah
Aku kemudian menerima coklat itu, dan kami melanjutkan membuat tugas masing-masing. Setelah semuanya selesai, kami pun pulang ke rumah.
Keesokan harinya saat selesai kelas, Zefan menarik tanganku dari kerumunan orang-orang yang keluar dari kelas. Aku hanya mengikuti tarikan Zefan saja tanpa membantah, aku pikir ada sesuatu yang penting. Zefan mengajakku duduk di lapangan kampus tepatnya di kursi dekat pohon yang sangat sejuk.
“ada apa Zef?” tanyaku padanya
“aku mau nanya sesuatu Ra, kenapa selama ini kamu tidak mau menerima perasaanku padamu? Apa kamu benar- benar hanya menganggapku sahabat saja? Tanya Zefan dengan serius
“hmm ada sesuatu yang membuatku tak bisa menerimamu Zef, aku tidak ingin kehilangan seseorang untuk kedua kalinya”
“maksudmu?” tanya Zefan dengan dahi mengkerut
Aku menghela nafas lalu menceritakan semuanya pada Zefan.
“Tiara, semua yang udah terjadi di masa lalu itu bukan kesalahan kamu, semua itu takdir Tuhan, walaupun pada saat itu dia nggak ketemu kamu kalau sudah takdirnya pergi ya dia akan tetap pergi Ra, jangan nyalahin diri sendiri lagi ya”
“tapi aku tetap ada rasa bersalah Zef”
“iyaa tapi bukan berarti kamu nggak bisa buka lembaran baru dong, jangan terjebak di bayang masa lalu Ra”
“hmm kamu benar Zef, mama pun bilang begitu, mungkin aku harus coba sedikit demi sedikit untuk melupakan kenangan pahit itu”
“iyaa aku akan membantumu Ra” ucap Zefan menenangkan
Setelah lama mengobrol kami pun pulang ke rumah masing-masing, Nina sudah duluan pulang karena dia ada acara keluarga yang tak bisa ditinggalkannya. Sesampainya di rumah aku duduk di depan cermin sambil memikirkan kata-kata Zefan tadi. Aku pikir tidak ada salahnya aku mencoba menerimanya tanpa takut masa lalu terulang kembali.
Seiring berjalannya waktu, Zefan membantuku untuk bangkit kembali, semua kenangan itu tersimpan rapi tanpa mengenang luka. Zefan pun kembali menyatakan perasaannya padaku dan aku menerimanya. Namun, kali ini, Zefan mengajakku ke jenjang yang lebih serius, setelah kami wisuda, dia berjanji akan melamarku, mamaku setuju dengan hal itu. Mama sudah kenal lama dengan Zefan, dia tahu bagaimana Zefan, jadi beliau tidak ragu untuk menyetujui hubungan kami. Begitupun dengan Nina, ia sangat senang mendengar berita itu, karena dia orang pertama yang sangat mendukungku untuk menerima Zefan. Dia yakin bahwa Zefan bisa membahagiakanku. Nina pun sebentar lagi akan bertunangan dengan orang pilihannya, aku sangat senang mendengarnya. Aku harap semua kebahagiaan ini tidak pernah luntur, luka lama yang terbalut rapi jangan pernah terbuka lagi. Kenangan itu ada tapi tak menyakiti, senyuman tanpa ikatan masa lalu terasa ringan menyelimuti. Semoga keceriaan dan kebahagiaan ini menjadi abadi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda