Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Cerpen: Yang Tersisa di Rumah Ibu

Cerpen: Yang Tersisa di Rumah Ibu

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
07 Oktober 2025, 11.32 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Rumah Ibu

JurnalPost.com - Matahari dikampung tak pernah lagi disambut dengan kebisingan kota melainkan bunyi suara ayam berkokok. Udara pagi membuat tetesan embun dari seng rumah . Arga membuka jendela kamarnya agar udara segar masuk. Namun dari kamarnya terdengar suara ibu yang sedang batuk dan tiada henti. Rumah mereka terletak di pinggiran Kota Padang. Rumah mereka sangat sederhana, dengan atap seng, dan dinding semen kasar.

Dahulu, Arga sekeluarga tinggal di Jakarta, mereka tinggal dirumah mewah dan sekaligus tempat usaha mereka. Tapi semuanya berbah, orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Perceraian tersebuat menimbulkan dampak buruk bagi Arga dan keluarga, rumah dijual, dan mereka pulang ke Padang dengan membawa tabungan yang tidak banyak. Mereka berencana untuk membuat usaha baru lagi namun semuanya gagal, karena persaingan dunia bisnis yang bagitu keras.

IKLAN

Arga merupakan Anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak sulungnya bernama Mira, ia tinggal di Jakarta, karena menikah dengan pria asal Jakarta. Dan kakak keduanya Bernama Damar, ia bekerja di Medan untuk melanjutkan hidupnya. Kini hanya Arga yang tinggal denagn ibunya yang sama-sama terluka, namun harus saling menguatkan. Kini Arya sudah berusia dua puluh tahun. Arga bekerja di Toko Bangunan pak Ade, namun gajinya tak cukup untuk kehidupan mereka berdua.

Buku Antologi Cerpen
Baca Juga

IPAB Luncurkan Buku Antologi Cerpen ke-10: “Biru Langitku, Hijau Bumiku”, Warnai Semangat Literasi Lintas Generasi

Ibu sekarang sangat jarang keluar kamar dikarenakan asam lambung. Setiap hari ibunya hanya berdiam dikamar dan enggan untuk bergerak. Terkadang hanya di dalam kamar sepanjang hari untuk rebahan dan bermain handphone. Namun, biaya hidup bukan suatu tantangan bagi Arga. Melainkan ibu mudah tersinggung dan selalu marah-marah sekalipun itu kepada hal kecil.

“Liat tuh si kakak mu si Mira, ia selalu ngasih uang buat Ibu, dan Damar juga sering kok ngasih ke Ibu”

“Kamu kapan bisa kayak mereka? Ini buat makaan aja susah”

Arga hanya terdiam mendengarkan kata Ibu, walaupun hatinya sangan tertusuk denagn ucapan Ibu yang sangat tajam. Ia tahu Ibunya sedang lelah, tapi tetap saja itu sangat menyakitkan. Setiap malam Arga hanya makan sendirian di meja makan, Ibu tidak mau makan bersama Arga. Kadang ibu cuman berkata “Ibu udah kenyang”, padahal Arga tau Ibunya cuman malas.

Senja di Pulau Sunyi
Baca Juga

Cerpen: Senja di Pulau Sunyi

Setelah berpisah dengan ayah Ibu seperti kehilangan arah. Seakan-akan dunia berhenti pada detik itu juga. Arga masih ingat saat dulu masih Bersama, Ayah sering kali mmebawa cerita hangat dari toko dan disambut dengan makan sore dari Ibu. Tapi kini semuanya telah berubah, mau tidak mau Arga harus bisa meneriman kenyataan pahit ini. Sekarang Arga harus berjuang demi kesembuhan ibunya.

Lebaran tahun ini menjadi bukti betapa sepinya dunia aku dan Ibu. Mira hanya mengirimkan bingkisan lewat JNT, lalu Damar tanpa kabar sama sekali. Ibu terlihat biasa saja, namun malamnya terdengan isak pelan dari kamar ibu. Tangisnya memang pelan tetapi, tetapi menyimpan luka yang begitu dalam.

Suatu malam saat Arga pulang dari bekerja, Arga melihat ibu yang sedang menatapi foto kami berlima. Difoto itu, ada aku, Ayah, Ibu, Kak Mira, dan Kak Damar. Didalam foto itu kami masih kecil dan semuanya tersenyum.

“Ibu kangen masa itu ya?” tanya Arga dengan hangat.

Garis Warna
Baca Juga

Cerpen: Garis Warna-warni di Ujung Papan Tulis

“Iya, Ibu kangen saat kita masih utuh seperti dulu” Jawabnya dengan pelan

Ibu menatap foto itu lama-lama, lalu berkata lagi,

“Kadang ibu samamu bukan karena kamu salah, tapi Ibu takut kamu pergi ninggalin ibu.”

Awalnnya Arga tak menjawab. Ia hanya mendekat dan memeluk Ibu, lalu Ia berkata “Aku nggak bakalan ninggalin Ibu kok Bu”. Namun dalam hati Ia sadar janji ini sangat berat, karena dunia diluar selalu memanggilnya. Dia tak tau apa yang terjadi kedepannya. Dan dia pun tidak ingin meninggalkan ibunya.

Beberapa bulan kemudian hidup Arga perlahan berubah. Di tempat kerjanya sering datang gadis cantik yang bernama Sinta, Sinta pegawai Apotek disebelah tepat kerjanya. Awalnya mereka saling sapa dan ngobrol biasa. Namun, setap sinta datang kesana untuk membeli sesuatu, obrolan mereka semakin berlanjut. Sinta orangnya ramaha, namun punya tawa yang bikin nular.

Suatu hari, Sinta melihat Arga yang sedang bercucuran keringat. “Capek ya?” ujar Sinta. Arga tersenyum “ Lumayan kadang dirumah juga sering berdebat dengan ibu” Sinta tak mengomentarinya. Namun Sinta hanya menepuk bahu Arga. “Kuat ya ga, jangan lupa Bahagia” Kalimat itu ternyata membuat Arga baper. Tanpa disadari, Ia mulai memerhatikan Sinta,kadang-kadang menunggu Sinta keluar.

Suatu malam ibu menegur Arga, namun dengan nada bercanda.

“Tumben pulang malam, jangan-jangan udah punya pacar ya?”

“Hehe, kayaknya sih Bu.”

“Hati-hati, ntar lupa sama Ibu loh.”

Walaupun seperti bercanda, tapi Nampaknya ibu sedang sungguh-sungguh.

“Engga lah Buu, mana mungkin , Ibu kan rumah aku,” jawab Arga.

Ibu tersenyum kecil. “Rumah juga bisa sesak loh” Katanya pelan tetapi menggantung di kepala Arga.

Beberapa minggu kemudian, Arga memberanikan diri memperkenalkan Sinta pada ibunya. Ia takut ibunya sinis, tapi ternyata sambutannya hangat.

“Assalamualaikum Bu, saya Sinta” sapa gadis itu dengan sopan.

“Waalaikumsalam, wah kamu cantik ya, kayaknya baik lagi” kata ibu dengan senyum.

Sore itu, kami banyak ngobrol serta bercanda sambil makan martabak yang dibawakan Sinta.  Suasana yang dulunya dingin sekarang telah mencair. Sesekali Ibu pun ikut tertawa. Namun, tak lama setelah itu Sinta pulang. Setelah Sinta pulang, Ibu berkata pelan,

“Anaknya sopan, ramah juga, Ibu suka deh.”

IKLAN

Arga tersenyum, ternyata ibunya juga suka kepada Sinta. Dan diam-diam ibu juga senang melihat Arga tidak sendiri lagi. Akan tetapi Arga teringat kepada sang Kakak yaitu Damar.

Hubungan Arga dengan Damar tidak akrab seperti dulu lagi. Damar jarang memberi kabar, terkadang menelpon itupun dengan suara datar tanpa ekspresi.

“Ga, gimana Ibu?” tanya damar ke Arga.

“Masih sering sakit-sakit Bang”

“Abang belum bisa pulang, banyak kerjaan soalnya”

“Iya, gapapa.”

Seminggu kemudia Damar pulang ke Padang. Namun Damar tidak pulang ke rumah Ibu. Melainkan Damar pulang ke rumah tante. Mendengarkan kabar itu Damar sangat kecewa dan takut Ibu jadi sedih.

“Katanya banyak kerjaan, tapi mala ke rumah orang,” tutur ibu dengan kecewa,

“Mungkin Bang Damar belum siap Bu.”

“Atau dia masih marah sama Ibu,”balasnya pelan.

Ibu menatap langit kamar. “ Ibu dulu juga salah, terlalu mengekang Damar. Tapi siapa sih yang ngajarin Ibu jadi orang tua seperti ini?” Klaimat itu membuat Arga seketika terdiam. Ia sadar, bahwa Ibu bukan tidak mau berubah, melainkan tidak tau bagaimana caranya berubah.

Sore itu hujan panas. Arga dan Ibu sedang duduk di ruang tamu. Angin membawa udara basah dan bunyi tetes air hujan di genting.

“Gaa,” kata Ibu dengan tiba-tiba,

“Ibu minta maaf ya Nak. Kadang Ibu marah karna Ibu takut kehilangan kamu Nak.”

“Gapapa kok Bu, aku tau kok Bu, Ibu cuman mau di perhatiin.”

“Ibu ni aneh ya Ga?”

“Engga Bu, Aneh gimana.”

Mereka berdua tertawa kecil. Tawa sederhana, namaun terasa sangat berharga.

 

Beberapa bulan kemudian, Damar pulang. Namun, Ia pulang dengan mata sembab, seperti usai, menangis

“Ibu….”Katanya sambil membuka pintu.

“Damar?” suara ibu bergetar.

“Iya Bu, maafin aku ya Bu, aku banyak salah sama Ibu.”

Ibu menatap kedua anak perjakanya itu. Tanpa kata-kata, Ibu langsung memeluk mereka. Melainkan hanya air mata yang berkata.

Malam itu, Adalah malam pertama setelah bertahun tahun lamanya, Mereka makan malam bersama Ibu, Damar dan juga Arga. Lalu Sinta datang membawakan rendang. Rumah Itu Kembali berwarna sepeti dulu lagi. Kebahagiaan yang telah lama hilang kini bisa dirasakan oleh Ibu. Walaupun uang masih pas-pasan, dianding rumah masih kasar, dan atap masih bocor, semuanya terasa lebih ringan apabila semuanya dilakukan bersama.

Ibu sekarang lebih sering duduk di depan televisi, sambil menonton sinetron. Terkadang Sinta juga datang membawakan makanan atau cemilan. Arga tahu bahwa kebahagiaan itu tidak datang dengan tiba-tiba. Ia tumbuh dari hal- kecil seperi, Maaf yang diucapkan, Senyum yang dikembalikan, dan waktu yang diluangkan untuk bersama.

Malam itu, lampu kamar mulai redup.Arga menatap wajah Ibu yang sudah tertidur pulas. Wajah yang dulu selalu murah sekarang tampak ceria Wajah yang duluh penuh keluhan sekarang tampak damai. Di dapur, teh di cangkirnya masih panas. Ia menyeruputnya dengan pelan, lalu berbicara sendiri.

“Rumah ini memang tidak terlalu besar, tetapi rumah ini mengajarkan bagaimana agar aku bisa bertahan”

Hujan sore itu lumayan lama, seperti ingin menghapuskan luka kecil dirumah mereka. Namun kali ini, marah tak ada lagi, luka pun sudah pergi. Hanya tawa kecil dan rasa Syukur yang mengisi hati. Ketikan rembulan dan bintang menembus awan, disanalah hujan mulai reda.

Penulis : Lusi Ikhwana Universitas Negeri Padang

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/cerpen-yang-tersisa-di-rumah-ibu/86536/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.16 WITA

  • #Cerpen
  • #Rumah Ibu

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pilihan Editor

  1. 1 Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama
  2. 2

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  3. 3

    Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. 4

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. 5

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.