Penulis: Vonny Dahayu Amanda
JurnalPost.com - Di pagi yang cerah, seorang anak gadis duduk di tepi ranjang kamarnya. Jendela sudah terbuka, sinar mentari masuk menerangi ruangan, tapi hatinya justru gelap. Ia tengah cemas menanti kabar dari kekasih hatinya yang sejak kemarin tak ada kabar sama sekali. Pikirannya kacau, dadanya sesak, seolah waktu berjalan begitu lambat.
Setiap beberapa menit, tangannya tak bisa berhenti meraih ponsel yang tergeletak di meja kecil samping tempat tidur. Ia bolak-balik mengecek layar, berharap ada kabar dari kekasihnya yang menghilang entah kemana. Notifikasi kosong, pesan tak kunjung datang. Bayangan buruk perlahan merayap dalam kepalanya. Apakah kekasihnya marah? Apakah ia bosan? Atau… apakah ada sesuatu yang lebih buruk dari itu?
Menjelang siang, dentingan notifikasi akhirnya terdengar. Jantung gadis itu berdegup kencang. Dengan cepat ia meraih ponselnya, dan dibilah notifikasi tampak jelas sebuah pesan :
“Sayang, maaf aku baru kasih kabar.”
Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca. Tanpa menunggu lama, ia langsung membalas pesan itu dengan kalimat yang penuh kegelisahan. Ia bertanya dengan cepat: dari mana saja? Ada masalah apa? Mengapa harus menghilang seharian tanpa kabar?
Ia menunggu dengan perasaan bercampur aduk. Harapan bercampur dengan rasa takut. Ia ingin penjelasan yang menenangkan, tapi saat balasan datang, hatinya justru makin kacau. Kekasihnya menyebutkan alasan, juga beberapa fakta penting yang selama ini disembunyikan. Fakta itu menghantam seperti badai, menghancurkan benteng harapannya.
Air matanya mengalir deras. Ia memandang layar ponsel dengan tatapan kosong, mulutnya bergetar namun tak sanggup menyanggah apapun. Fakta itu terlalu sakit untuk dihadapi. Ia merasa dikhianati, meski kata-kata lelaki itu seakan memohon pengertian.
Kekasihnya terus berusaha menenangkan. Kalimat demi kalimat masuk ke layar ponsel, berisi permintaan maaf dan janji. “Aku salah, tapi aku akan memperbaiki semuanya. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji akan membereskan semua masalah yang sudah kuceritakan padamu.”
Gadis itu terdiam lama. Jiwanya bekecamuk. Antara marah, kecewa, dan cinta yang terlalu dalam. Awalnya, hatinya menolak. Baginya, kepercayaan yang retak tak semudah itu diperbaiki. Tapi disisi lain, perasaan cintanya begitu besar, membuatnya ragu untuk benar-benar melepaskan.
Hari-hari berikutnya dipenuhi perjuangan sang lelaki untuk membuktikan ucapannya. Ia tidak lelah menghubungi, tidak bosan menenangkan, selalu berusaha hadir agar sang gadis yakin bahwa dirinya benar-benar berubah. Sedangkan sang gadis mencoba bertahan, mencoba memahami, meski luka itu belum sembuh sepenuhnya.
Pada akhirnya, ia memilih memaafkan. Dengan hati yang masih rapuh, ia berusaha melanjutkan hubungan itu. Ia belajar kembali percaya, meski dalam hatinya tersimpan rasa khawatir yang tak pernah benar-benar hilang. Setiap kali lelaki itu berkata akan menepati janji, ia ingin percaya, tapi bayangan luka kemarin terus menghantui.
Hari-harinya kini terasa berbeda. Ada cinta, ada usaha, tapi juga ada rasa takut yang tak pernah lepas. Ia takut semua usaha lelaki itu tidak berbuah manis, takut luka yang sama kembali terulang. Namun baginya adalah perjuangan, meski terkadang penuh dengan ketidakpastian.
Dibalik senyum yang ia tunjukkan setiap hari, ada doa yang ia bisikkan dalam diam: semoga cintanya kali ini benar-benar layak diperjuangkan.
Penulis: Vonny Dahayu Amanda
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda