Penulis: Ameliya Ditasya.
JurnalPost.com - Bayangan itu muncul lagi. Bukan bayangan hitam pekat yang menakutkan, melainkan sekumpulan coretan abstrak, seperti tumpahan cat air di pinggiran pandangan mata kirinya. Alisha mengusap pelan kelopak matanya, berharap ilusi itu lenyap ditelan sisa kopi hitam di gelas kertas yang sudah dingin. Sudah seminggu ini, tamu tak diundang itu datang dan pergi, seringkali menari-nari di antara deretan rumus statistik dan teori sosiologi yang memenuhi layar laptopnya.
"Kurang tidur, Al. Itu saja," gumamnya pada ruang kosong perpustakaan kampus yang hampir sepi. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Papan tulis di depannya masih penuh dengan garis-garis tak beraturan yang ia coretkan saat mencoba memecahkan kerangka teori skripsinya. Judul "Dampak Media Sosial terhadap Solidaritas Komunitas Urban di Kota Metropolitan" terpampang di dokumennya, seakan mengejek.
Tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini. Bayangan warna-warni itu tidak hilang. Malahan, sebuah garis lurus berwarna ungu muda muncul, memotong coretan-coretan di papan tulis nyata di depannya. Alisha mengerutkan kening. Dia menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangan. Garis ungu itu tetap ada, tegak dan sempurna, seolah dilukis oleh tangan tak terlihat. Dia menutup mata kanannya. Garis ungu itu masih terlihat jelas dengan mata kirinya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena kebingungan yang mendalam. Ini bukan lagi halusinasi akibat kelelahan. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang asing dan mengganggu.
Ponselnya bergetar. Foto ayah, ibu, dan adik laki-lakinya, Azka, tersenyum cerah di layar. Ibu menanyakan kapan pulang. Alisha mengetik balasan cepat, "Bentar lagi, Bu. Lagi ngerjain skripsi." Dia tidak menceritakan tentang garis ungu. Tidak sekarang. Tidak ketika kedua orang tuanya sudah begitu bangga melihatnya, anak pertama yang hampir menyandang gelar sarjana. Tidak ketika Azka, adiknya yang masih duduk di bangku SMA, selalu memandangnya dengan mata berbinar, menyebut kakaknya "si jenius keluarga".
Dia membereskan buku-bukunya, memaksakan diri untuk mengabaikan garis ungu yang masih setia menemaninya. Saat dia berbalik untuk pergi, dari sudut matanya, dia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Di atas papan tulis yang kotor, di antara coretan kapur putih, garis-garis berwarna lain mulai bermunculan. Sebuah lingkaran oranye, sebuah kotak biru, dan sebuah zigzag hijau. Mereka membentuk pola acak, tetapi terlihat begitu nyata, seolah menjadi bagian dari papan tulis itu sendiri. Alisha cepat-cepat meninggalkan perpustakaan, rasa penasaran dan kecemasan mulai merayap dalam dadanya. -- Keesokan harinya, garis-garis itu masih ada. Mereka tidak hanya muncul di pinggiran pandangannya lagi, tetapi sekarang menempati ruang nyatanya. Saat dia melihat ke piring makannya, sebuah segitiga merah muda muncul di atas nasi goreng. Saat dia menatap layar laptop, sekumpulan titik-titik kuning berkerumun di sudut dokumennya. Mereka tidak mengganggu penglihatannya terhadap objek asli, mereka hanya… ada. Seperti lapisan realitas tambahan dimana hanya dia yang bisa melihatnya.
Khawatirnya bertambah. Dia melakukan pencarian cepat di internet: "halusinasi geometris, garis berwarna." Hasilnya membuatnya sesak napas. Bisa jadi migrain aura, tumor otak, atau sesuatu yang lebih buruk. Dia memutuskan untuk pergi ke dokter, sendirian. Dia tidak ingin mengkhawatirkan keluarganya. Ayahnya yang bekerja sebagai kepala bagian di sebuah Perusahaan dan ibunya yang membuka toko kue kecil-kecilan, sudah cukup banyak pikirannya. Dan Azka… Azka masih terlalu polos untuk memahami betapa seriusnya kemungkinan ini.
Dokter umum memberinya surat rujukan ke dokter spesialis saraf. "Ada baiknya kita lakukan MRI, nona," kata dokter itu dengan wajah netral yang justru membuat Alisha semakin cemas.
-- Proses diagnosis itu seperti menaiki roller coaster dalam kegelapan. MRI, tes lapang pandang, serangkaian tes darah. Alisha menjalaninya sambil tetap berusaha menyelesaikan bab analisis skripsinya. Garis-garis dan bentuk-bentuk itu menjadi teman sekaligus musuhnya. Kadang, mereka membentuk pola yang menenangkan, seperti simfoni warna diam. Di lain keadaan, mereka berkerumun liar, mengganggu konsentrasinya.
Di rumah, dia pura-pura biasa. Dia masih membantu ibu membereskan dapur, mendengarkan cerita Azka tentang kegagalannya mendekati perempuan idamannya, dan membicarakan rencana liburan setelah dia wisuda dengan ayah. Tapi setiap kali bentuk-bentuk itu muncul, seperti ketika sebuah spiral perak tiba-tiba melingkari kepala Azka saat dia tertawa. Alisha merasa seperti dikencingi oleh realitanya sendiri.
"Kamu akhir-akhir ini sering melamun, Al," kata ibu suatu malam, menatapnya penuh perhatian.
"Aku baik-baik saja, Bu. Cuma skripsi bikin pusing," jawab Alisha, memaksakan senyum. Dia melihat sebuah persegi panjang berwarna emas, seperti bingkai foto, mengelilingi wajah ibunya. Air matanya hampir meluap.
Hasil diagnosis akhirnya keluar. Dr. Hendrik, seorang neurolog dengan mata yang tajam namun berisi empati, duduk di depannya. Di mejanya, ada model otak manusia.
"Alisha," mulutnya dengan hati-hati berucap. "Hasil MRI menunjukkan adanya pertumbuhan sel abnormal di lobus oksipitalmu. Area yang bertanggung jawab untuk memproses informasi visual."
Alisha diam, tangannya berkeringat.
"Kami menyebutnya Glioma Diffuse Intrinsik Pontine, atau DIPG." Dr. Hendrik menjelaskannya dengan tenang, tetapi setiap katanya seperti pukulan palu. Tumor. Batang otak. Langka. Agresif. Tidak dapat dioperasi.
Dunia di sekeliling Alisha bergema. Suara Dr. Hendrik seperti berasal dari terowongan yang jauh. Dia mendengar kata-kata seperti "kemoterapi," "paliatif," dan "prognosis." Tapi satu kalimat yang tertanam paling dalam: "Rata-rata harapan hidup setelah diagnosis adalah 9 hingga 12 bulan."
Dua belas bulan. Dia, Alisha, yang baru berusia 22 tahun, yang rencananya akan melanjutkan S2, yang ingin membanggakan orang tuanya, membiayai Azka kuliah di luar negeri… hanya punya waktu setahun.
-- Pulang ke rumah pada hari itu adalah perjalanan terberat dalam hidupnya. Dia berjalan seperti robot, bentuk-bentuk berwarna di matanya menari-nari dengan liar, seakan merayakan berita kematiannya. Bagaimana cara mengatakannya? Bagaimana cara melihat harapan di mata orang tuanya padam?
Dia tidak langsung bicara. Dia menyimpannya, seperti rahasia paling kelam. Dia fokus pada skripsinya dengan semangat membara. Skripsi bukan lagi sekadar tugas. Itu adalah pesan terakhirnya, bukti bahwa hidupnya tidak sia-sia. Setiap kata yang dia ketik adalah perlawanan terhadap sel-sel nakal di kepalanya.
Kemoterapi dimulai. Rambutnya rontok, badannya sering lemas, dan mual menjadi teman makan. Tapi di depan keluarga, dia tetap Alisha yang kuat. Dia memakai wig yang mirip dengan rambut aslinya, mengoleskan bedak untuk menyamarkan lingkaran hitam di bawah matanya. Dia beralasan bahwa kelelahannya adalah karena skripsi.
Suatu malam, Azka masuk ke kamarnya tanpa mengetuk. Alisha sedang menatap papan tulis kecil di kamarnya, penuh dengan coretan ide skripsi dan… bentuk-bentuk berwarna yang hanya bisa dilihatnya. Sebuah bintang ungu bersinar di sudut papan tulis.
"Kok kamu coret-coret papan tulis pakai spidowarna, Al?" tanya Azka polos.
Alisha tertegun. "Spidol warna?"
"Iya, yang bintang ungu itu. Bagus," kata Azka sambil mengambil apel di meja belajarnya.
Darah Alisha seakan berhenti mengalir. Azka bisa melihatnya? Dia memandangi bintang ungu itu, lalu pada Azka. Apakah ini kebetulan? Atau… apakah bentuk-bentuk ini benar-benar nyata?
"Azka, kamu… kamu lihat warna apa lagi di sini?" tanya Alisha, suaranya bergetar.
Azka mengernyit. "Cuma coretan kapur putih, Al. Itu tadi becanda aja. Emangnya kamu ngegambar pakai spidol di papan tulis?" Dia tertawa dan meninggalkan kamar.
Alisha terdiam. Jadi, hanya dia yang bisa melihatnya. Tapi mengapa? Apakah ini efek tumor? Atau… sesuatu yang lain? -- Pertempuran diam-diam Alisha mencapai puncaknya saat sidang skripsi. Di ruang sidang, di depan kedua dosen penguji dan dosen pembimbing, bentuk-bentuk berwarna itu muncul dengan intensitas tertinggi. Garis-garis hijau membentuk kisi-kisi di seluruh ruangan, titik-titik merah berkedip di atas kepala pengujinya, dan sebuah lingkaran cahaya besar berwarna biru terang mengelilingi seluruh meja sidang.
Alisha menarik napas dalam-dalam. Dia menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangan pada wajah dosen-dosennya. Suaranya sedikit gemetar di awal, tetapi seiring dengan paparannya, dia menemukan ritmenya. Dia berbicara tentang solidaritas, tentang hubungan manusia di tengah hingar-bingar kota. Setiap argumennya adalah pukulan bagi penyakitnya. Setiap jawaban yang dia berikan kepada pengujinya adalah kemenangan kecil.
Saat salah satu pengujinya mengumumkan, "Dinyatakan lulus dengan pujian," dan tepuk tangan riuh memenuhi ruangan, Alisha melihat sesuatu yang menakjubkan. Semua bentuk dan warna di matanya tiba-tiba bersatu, meledak menjadi kembang api yang indah, sebelum akhirnya memudar, meninggalkan pandangan yang jernih untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu. Saat itu juga, dia tahu. Ini adalah pertukaran. Kemenangan terbesarnya dibayar dengan sesuatu yang mahal.
Wisuda adalah hari yang pahit dan manis. Memakai toga, dengan wig yang rapi, Alisha berdiri di panggung sambil memandang orang tuanya yang menangis bahagia di tribun. Azka melambai-lambaikan tangan dengan bangga. Dia telah berhasil. Dia tidak mengecewakan mereka. Tapi di balik senyumnya, dia tahu ini adalah akhir dari suatu babak. Babak di mana dia masih menjadi bagian dari cerita mereka.
-- Beberapa minggu setelah wisuda, kondisinya memburuk dengan cepat. Kelemahan yang tidak bisa lagi disembunyikan, sakit kepala yang membuatnya terbaring di tempat tidur. Dia akhirnya menceritakan semuanya. Air mata, pelukan, dan ketakutan yang terpendam selama berbulan-bulan akhirnya meledak. Keluarganya hancur, tetapi juga bersatu dalam kesedihan yang sama. Di hari-hari terakhirnya, Alisha sering terduduk di kursi roda dekat jendela, memandangi taman rumah sakit. Bentuk-bentuk berwarna itu kembali, tetapi sekarang mereka tidak menakutkan. Mereka tenang, berwarna pastel, bergerak lambat seperti awan. Dia mulai memahami bahwa mereka bukan musuh. Mereka adalah pemandu, penanda transisi antara dunianya dan sesuatu yang lain.
Suatu sore, dia memegang tangan ibunya. "Jangan khawatir, Bu. Aku tidak kesakitan." Di matanya, seluruh ruangan dipenuhi oleh aurora berwarna-warni yang menari-nari lembut. Azka duduk di sampingnya, memegang tangan kakaknya. "Aku akan kuliah di teknik, Al. Aku akan jadi seperti kamu. Pinter."
Alisha tersenyum, sebuah bintang keemasan kecil muncul di atas kepala Azka. "Kamu akan jadi lebih hebat, Azka."
Ayahnya, yang biasanya pendiam, membacakan puisi lama yang sering dibacakannya saat Alisha kecil. Suaranya parau, tetapi penuh kasih.
Alisha memandangi keluarganya untuk terakhir kalinya. Wajah ayahnya yang tegas kini lembut, wajah ibunya yang selalu ceria kini penuh duka, dan wajah Azka yang polos kini mulai menampakkan kedewasaan. Dia melihat mereka semua dibingkai dalam cahaya keemasan, indah dan sempurna.
Dia menghela napas terakhir dengan tenang. Bentuk-bentuk berwarna di matanya berkumpul, membentuk terowongan cahaya yang memanggilnya. Dia melangkah ke dalamnya, meninggalkan tubuhnya yang fana, meninggalkan orang-orang yang dicintainya dengan kenangan tentang seorang gadis yang tidak hanya menyelesaikan skripsinya, tetapi juga mengajarkan mereka tentang keberanian dalam keheningan.
Di kamar Alisha, papan tulis kecilnya masih ada. Coretan kapur putih skripsinya sudah dihapus. Tapi di sudutnya, sebuah gambar sederhana tertinggal: sebuah bintang berwarna ungu, persis seperti yang dilihat Azka beberapa bulan lalu. Sebuah tanda bahwa mungkin, hanya mungkin, keajaiban kecil itu benar-benar nyata. Dan Alisha, dalam perjalanan terakhirnya, telah melihat keindahan yang tidak bisa dilihat orang lain.
Penulis: Ameliya Ditasya. Lahir dan besar di Lubuk Basung, Kab. Agam, Provinsi Sumatera Barat. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Instagram: @Ameliya_Dtsy
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda