JurnalPost.com - Persoalan pengelolaan sampah rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Desa Batara, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, masih menjadi isu yang semakin dirasakan dalam beberapa waktu terakhir. Permasalahan ini bukan semata-mata disebabkan oleh ketiadaan sistem, melainkan oleh ketidakjelasan informasi mengenai jadwal pengangkutan sampah.
Selama ini, masyarakat Desa Batara telah berupaya mengelola sampah secara kolektif. Warga membayar iuran sebesar Rp5.000 - 10.000 per bulan untuk jasa pengangkutan sampah. Namun, sebagian warga mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan sampah akan diangkut, sehingga mereka kerap menunggu tanpa kepastian.
Dalam kondisi tersebut, sampah rumah tangga terus menumpuk di tempat sampah depan rumah. Ketika sampah mulai mengeluarkan bau dan menarik serangga, masyarakat merasa tidak memiliki banyak pilihan selain membakar sampah. “Kami tidak tahu kapan diangkut. Jadi biasanya menunggu sampahnya kering dulu, baru dibakar,” ujar salah satu warga Desa Batara. Sementara itu, untuk jenis sampah organik, sebagian masyarakat memilih memanfaatkannya sebagai pakan ternak seperti ayam dan bebek.
Masalah ini semakin terasa karena layanan pengangkutan sampah belum menjangkau seluruh wilayah desa secara merata. Warga yang tinggal di sepanjang poros desa cenderung lebih sering mendapatkan layanan, sedangkan masyarakat yang bermukim di lorong-lorong dan wilayah pelosok jarang, bahkan tidak pernah, merasakan pengangkutan sampah. Ketimpangan akses tersebut mendorong sebagian warga untuk mengelola sampah secara mandiri dengan cara yang paling memungkinkan bagi mereka.
Akibat ketidakjelasan jadwal dan keterbatasan layanan, praktik pembakaran sampah menjadi alternatif yang paling sering dipilih. Pilihan ini dilakukan bukan karena ketidaktahuan, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi yang dihadapi. Namun, pembakaran sampah berpotensi menimbulkan pencemaran udara dan berdampak pada kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Situasi ini ditemukan selama pelaksanaan Evidence Based Learning (EBL) Tahap I oleh peserta Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin di Desa Batara. Kegiatan EBL I diawali dengan seminar awal bersama masyarakat dan perangkat desa sebagai upaya menyampaikan tujuan kegiatan sekaligus membangun kepercayaan. Sejak awal, peserta EBL Posko Tiga menegaskan bahwa kehadiran mereka bertujuan untuk belajar dan memahami permasalahan yang dihadapi masyarakat, bukan untuk menilai.
Dari proses pembelajaran tersebut, peserta EBL I menyadari bahwa perbaikan pengelolaan sampah tidak selalu harus diawali dengan perubahan besar. Kejelasan informasi mengenai jadwal pengangkutan dapat menjadi langkah awal yang membantu warga menyiapkan sampah dengan lebih baik. Selain itu, pemerataan layanan hingga ke lorong-lorong dan wilayah pelosok, serta tersedianya ruang dialog antara pengelola sampah, perangkat desa, dan masyarakat, berpotensi mengurangi kebingungan yang selama ini terjadi.
Permasalahan ini memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan masyarakat. Lingkungan yang bersih serta sistem pengelolaan sampah yang jelas menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat.
Melalui pelaksanaan EBL I, peserta Program Studi Ilmu Gizi FKM Universitas Hasanuddin mempelajari bahwa solusi yang berkelanjutan dapat lahir dari kejelasan informasi, keterlibatan berbagai pihak, dan kesediaan untuk saling mendengar.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda