Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Adaptasi Organisasi Pasca Kenaikan BBM: Antara Narasi Manis dan Realita yang Menggigit

Adaptasi Organisasi Pasca Kenaikan BBM: Antara Narasi Manis dan Realita yang Menggigit

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
14 Juni 2026, 14.11 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Kenaikan BBM

Eddelisna Shifana Avrilanada Eddelisna Shifana Avrilanada, Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UBP Karawang (dok: Ist)

Penulis: Eddelisna Shifana Avrilanada, Mahasiswa Prodi Manajemen FEB UBP Karawang

IKLAN

JurnalPost.com - Beberapa hari lalu, tepatnya pada 10 Juni 2026, Pertamina Patra Niaga resmi mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku di seluruh Indonesia. Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Dalam hitungan jam, narasi "adaptasi organisasi" pun bermunculan, seolah kenaikan ini hanyalah ujian kecil yang bisa diatasi dengan inovasi dan semangat berubah.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Tapi mari kita jujur: narasi itu terlalu nyaman untuk ditelan begitu saja. Kenaikan harga ini bukan sekedar angka. Kenaikan Pertamax ini merupakan penyesuaian perdana setelah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Israel-Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026. Artinya, ini bukan kebijakan yang lahir dari ruang hampa. Namun kondisi ini adalah produk dari guncangan geopolitik yang nyata, dan dampaknya pun nyata.

Kenaikan sekitar 32% ini sontak menjadi perhatian. Sejumlah ekonom menilai kenaikan ini berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi, mulai dari daya beli masyarakat hingga kondisi fiskal pemerintah. Tiga puluh dua persen bukan angka kecil. Ini bukan "penyesuaian", namun ini guncangan.

Literatur perilaku organisasi yang membahas topik perubahan dalam organisasi senang berbicara tentang organisasi yang "proaktif beradaptasi" dan meraih pertumbuhan berkelanjutan. Tetapi pemahaman saya sebagai mahasiswa, teori itu ditulis untuk korporasi dengan departemen strategi, anggaran riset, dan tim konsultan. Bukan untuk pedagang gorengan di Karawang yang setiap hari saya sambangi, menggunakan harus motor untuk kulakan setiap hari.

Saya sependapat dengan pendapat bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi bisa membebani pelaku usaha dan masyarakat secara sekaligus, Sektor usaha jasa angkutan serta UMKM akan menjadi yang paling terdampak. Bukan perusahaan besar yang pertama merasakan, melainkan merekalah yang paling sedikit memiliki bantalan.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Kita semua tahu, saat ini biaya logistik yang sudah cukup tinggi akibat pelemahan rupiah yang makin terpuruk serta ketidakpastian global. Kenaikan ini menambah tekanan tambahan yang signifikan bagi dunia usaha. Bagi organisasi bisnis di Karawang khususnya, kondisi ini bukan konteks yang ideal untuk bereksperimen dengan "inovasi terpaksa."

Salah satu respons yang paling sering dikumandangkan oleh para pengambil kebijakan adalah adalah digitalisasi. Yang biasa dicontohkan para elite adalah rapat via video, dokumen tanpa kertas, perangkat lunak manajemen. Saya sependapat bahawa semua itu bagus. Tapi ada masalah mendasar yang tidak tersentuh oleh solusi digital: tidak semua organisasi punya akses ke ekosistem itu.

Kenaikan BBM

IKLAN

Saya contohkan, kenaikan BBM ini secara spesifik menekan usaha ritel, kurir last-mile delivery, hingga tenaga pemasaran yang bergantung pada kendaraan berbahan bakar minyak. Apakah kurir yang mengantar paket dengan motor bisa "beradaptasi secara digital"? Apakah nelayan di Tanjung Pakis Karawang yang menggunakan perahu berbahan bakar bisa "mengoptimalkan operasi melalui teknologi informasi"? Tentu pertanyaan ini tidak boleh diabaikan hanya demi narasi yang terdengar progresif.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Menurut pendapat saya, risiko second-round effect tetap ada: jika biaya mobilitas yang membengkak akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui tarif jasa atau harga barang. Di tengah situasi daya beli masyarakat saat ini yang belum sepenuhnya kuat, tentu saja tambahan biaya tersebut perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak semakin menekan konsumsi rumah tangga.

Selanjutnya, ada pertanyaan etis yang hampir selalu absen dalam diskusi "perubahan organisasi": siapa yang menanggung beban adaptasi ini? Ketika organisasi memangkas biaya demi efisiensi dan hal ini hampir pasti terjadi, maka yang pertama terdampak bukan direksi atau manajer senior. Yang pertama merasakan adalah karyawan kontrak yang jam kerjanya dipotong, pengemudi mitra yang tarif per kilometernya dipress, atau supplier kecil yang dikenai syarat pembayaran lebih ketat.

Pelaku usaha baik itu industri maupun UMKM juga mengkhawatirkan munculnya efek berantai berupa kenaikan harga barang dan jasa yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, ruang efisiensi juga semakin terbatas karena banyak industri masih dibebani kenaikan biaya bahan baku dan pembiayaan. Kondisi ini bukan sekadar dinamika ekonomi. Ini soal keadilan. Dan teori perubahan organisasi yang saya pahami di kampus tidak cukup lengkap untuk menjawab dan memberi solusi atas perkara ini.

Saya sependapat dengan kritik beberapa aktivis. Bahwa ada satu hal yang secara konsisten tidak hadir dalam narasi "adaptasi organisasi" di Indonesia hari ini. Narasi yang perlu menuntut tanggung jawab negara untuk menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga daya saing dunia usaha, serta pemberian insentif bagi sektor-sektor produktif yang terdampak signifikan, khususnya industri padat karya dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Negara perlu hadir untuk menurunkan biaya usaha. Langkah ini penting sebagai bagian dari respons kebijakan yang lebih komprehensif, karena ketahanan UMKM sangat ditentukan oleh kemampuan para pelaku usaha memperoleh bahan baku dan menjalankan usaha dengan biaya yang kompetitif.

Adaptasi organisasi tidak bisa berdiri sendiri tanpa kebijakan negara yang mendukung. Menyerahkan seluruh beban perubahan kepada pelaku usaha dan UMKM sembari bernaung di balik teori manajemen dan teori pasar, adalah cara halus untuk mengalihkan tanggung jawab yang seharusnya dibagi.

Sebagai penutup opini saya ini, kenaikan BBM 10 Juni 2026 bukan sekadar "stimulus inovasi" atau "ujian ketangguhan organisasi." Peristiwa ini adalah kenyataan berat yang jatuh tidak merata, dan sangat disayangkan sebagian besar bebannya ditanggung oleh mereka yang paling sedikit memiliki sumber daya untuk berubah.

Teori perubahan organisasi dan perilaku organisasi yang baik seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan "bagaimana cara beradaptasi?" Perlu juga dipahami oleh pengambil kebijakan dan masyarakat mengenai "siapa yang mampu beradaptasi, siapa yang tidak, dan apa kewajiban kita terhadap yang tidak mampu itu?" Selama pertanyaan itu belum dijawab, membangun narasi "adaptasi adalah peluang" saat kenaikan BBM di Indonesia kali ini hanyalah kalimat yang terdengar meyakinkan di ruang kuliah, tetapi terasa hampa di lapangan.

Oleh: EDDELISNA SHIFANA AVRILANADA Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Buana Perjuangan Karawang dengan peminatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/adaptasi-organisasi-pasca-kenaikan-bbm-antara-narasi-manis-dan-realita-yang-menggigit/94470/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.59 WITA

  • #Harga BBM
  • #Opini Mahasiswa
  • #UBP Karawang

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital

Pilihan Editor

  1. 1 Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis
  2. 2

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

  3. 3

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

  4. 4

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  5. 5

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.