SUKOHARJO, JurnalPost.com – Persoalan sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah rumah tangga justru dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Upaya tersebut diperkenalkan kepada kader lingkungan hidup Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Binaan (P2DB) yang dilaksanakan Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Kegiatan yang mendapat pendanaan dari DRPPS UMS itu digelar pada Jumat, 4 September 2026, mulai pukul 08.00 WIB. Pelatihan difokuskan pada pengolahan sampah anorganik serta penguatan manajemen produksi pupuk organik cair atau POC.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong terciptanya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Libatkan Dosen dan Mahasiswa UMS
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber dari UMS, yakni Dr. N Juni Triastuti, M.Med.Ed, AIFO-K, CMLE, CCP, CPFP, CELM sebagai ketua tim, Ida Nursanti, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D dan Dr. Erna Herawati, SpKJ sebagai anggota tim.
Enam mahasiswa UMS juga terlibat dalam kegiatan tersebut, yaitu Anindya Leta Azalia, Yahdania Sabila Haq, Annisa Shafa Kamila, Muhammad Arfian Putra Kusnadi, Fardan Nafi Murfido, dan Farencia Neo Astrada.
Keterlibatan mahasiswa tidak hanya membantu pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman. Mereka berkesempatan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sekaligus menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan akademik.
Sampah Dipilah Sejak dari Sumber
Dalam pelatihan, kader lingkungan diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah berdasarkan jenis dan karakteristiknya.
Sampah anorganik seperti plastik, botol, kemasan, dan berbagai material yang sulit terurai diarahkan agar tidak langsung dibuang ke tempat penampungan sampah.
Peserta diperkenalkan pada prinsip pengurangan sampah, penggunaan kembali, serta pengolahan material yang masih dapat dimanfaatkan.
Melalui langkah tersebut, sampah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai diharapkan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan untuk menghasilkan produk yang lebih berguna.
Selain membantu mengurangi volume sampah, pemanfaatan limbah anorganik juga dapat membuka peluang kegiatan ekonomi baru bagi masyarakat.
POC Tidak Hanya Dibuat, tetapi Juga Dikelola sebagai Produk
Pelatihan juga memberikan perhatian khusus terhadap produksi pupuk organik cair atau POC.
Peserta tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai proses pembuatan pupuk, tetapi juga bagaimana produksi dikelola secara lebih sistematis, mulai dari persiapan bahan baku, proses pengolahan, pengemasan, pencatatan produksi hingga pemasaran.
Para kader diperkenalkan dengan pentingnya menjaga kualitas produk serta membuat kemasan yang menarik agar POC yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan.
Dengan demikian, pengolahan sampah organik tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha berbasis masyarakat.
Tim UMS Serahkan Bak Sampah dan Produk POC
Sebagai bagian dari kegiatan, Tim Pengabdian Masyarakat UMS menyerahkan sejumlah sarana pendukung, termasuk bak sampah untuk membantu sistem pemilahan sampah di Desa Gonilan.
Penyerahan bak sampah tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat membiasakan diri memisahkan sampah sejak dari sumbernya.
Tim juga memperkenalkan produk POC yang telah dikemas dan siap dipasarkan sebagai salah satu hasil pengembangan program pemberdayaan.
Produk tersebut menjadi contoh bahwa limbah organik dapat diolah menjadi barang yang mempunyai manfaat bagi pertanian sekaligus berpotensi memberikan nilai ekonomi.
Tidak hanya itu, sejumlah produk hasil pengolahan sampah anorganik turut diperkenalkan kepada masyarakat.
Produk-produk tersebut menunjukkan bahwa sampah anorganik yang sebelumnya dianggap tidak berguna masih dapat dimanfaatkan setelah melalui proses pemilahan dan pengolahan yang tepat.
Konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mempertahankan material agar tetap memiliki nilai guna selama mungkin sehingga jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan dapat dikurangi.

Dorong Perubahan Cara Pandang terhadap Sampah
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. N Juni Triastuti, mengatakan pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat.
Menurutnya, sampah rumah tangga baik organik maupun anorganik dapat menjadi sumber daya apabila dikelola secara tepat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin kader memiliki keterampilan yang lebih lengkap, tidak hanya dalam memilah dan mengolah sampah, tetapi juga dalam mengelola hasil produksinya agar dapat berkelanjutan,” jelas N Juni Triastuti.
Ia menilai keberlanjutan program pengelolaan sampah sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam menggabungkan aspek lingkungan, produksi, dan manajemen.
Teknologi Tepat Guna Perkuat Pengelolaan Produksi
Sementara itu, Ida Nursanti memberikan penguatan mengenai pemanfaatan teknologi dan manajemen produksi.
Penerapan teknologi tepat guna diharapkan dapat membuat proses pengolahan sampah menjadi lebih mudah, aman, serta efisien bagi masyarakat.
Selain proses produksi, kader juga didorong untuk mulai melakukan pencatatan sederhana mengenai jumlah bahan baku, biaya produksi, jumlah produk yang dihasilkan hingga potensi keuntungan.
Pencatatan tersebut dapat menjadi dasar dalam mengevaluasi perkembangan kegiatan serta menyusun rencana pengembangan produksi dan pemasaran.
Pengelolaan Sampah Berkaitan dengan Kesehatan Lingkungan
Aspek kesehatan lingkungan turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.
Dr. Erna Herawati menekankan bahwa pengelolaan sampah yang baik memiliki hubungan erat dengan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat.
Sampah yang tidak dikelola dengan benar dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan yang pada akhirnya turut memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, kader lingkungan diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan perilaku di tengah masyarakat, terutama dalam membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara benar.
Menuju Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Program pengolahan sampah anorganik dan manajemen produksi POC di Desa Gonilan diharapkan menjadi bagian dari langkah jangka panjang UMS dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Sampah anorganik yang sebelumnya berpotensi menumpuk dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali. Sementara itu, limbah organik dapat diolah menjadi berbagai produk, termasuk pupuk organik cair dan kompos.
Penyerahan fasilitas pemilahan sampah, pengembangan produk POC siap jual, serta berbagai produk dari limbah anorganik menjadi contoh konkret bagaimana isu lingkungan dapat dihubungkan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, kader lingkungan, dan pemerintah desa juga diharapkan mampu membentuk model pemberdayaan yang tidak berhenti setelah program selesai.
Ke depan, Tim Pengabdian Masyarakat UMS akan melakukan evaluasi dan pendampingan terhadap penerapan hasil pelatihan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pengembangan program berikutnya.
Produk POC dan hasil olahan sampah anorganik juga diharapkan dapat terus dikembangkan melalui peningkatan kualitas produk, desain kemasan, pencatatan usaha, branding hingga pemasaran digital.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, Desa Gonilan diharapkan dapat menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat di wilayah Kartasura dan sekitarnya.
Melalui pendekatan tersebut, sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, mandiri, dan produktif. (*
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda