Surabaya, JurnalPost.com — Kemudahan berkomunikasi melalui media sosial tidak selalu diiringi dengan pemahaman tentang etika dalam berinteraksi. Komentar yang menyinggung orang lain, penyebaran informasi tanpa verifikasi, hingga perundungan di dunia maya menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama di kalangan pelajar.
Menyikapi kondisi tersebut, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur memberikan edukasi mengenai etika dan kesantunan berkomunikasi digital kepada siswa SMA Ta’miriyah Surabaya, Senin (12/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran pelajar agar lebih bijak dan bertanggung jawab saat menggunakan media digital, khususnya dalam berinteraksi melalui media sosial.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa komunikasi digital bukan sekadar kemampuan menyampaikan pesan dengan cepat. Cara memilih kata, menghargai pendapat orang lain, dan mempertimbangkan dampak sebuah unggahan juga menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi yang sehat.
Pentingnya Menjaga Etika di Media Sosial
Perkembangan teknologi membuat pelajar semakin mudah terhubung dengan orang lain tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun, kebebasan berkomunikasi juga membawa tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Melalui materi yang disampaikan, siswa diperkenalkan pada prinsip-prinsip komunikasi digital yang santun, seperti menggunakan bahasa yang sopan, menghargai perbedaan pendapat, serta tidak menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Siswa juga diingatkan untuk menghindari komentar yang mengandung penghinaan, perundungan, maupun ujaran kebencian.
Selain etika berkomunikasi, perhatian diberikan pada pentingnya menjaga privasi dan memahami konsekuensi jejak digital. Unggahan, komentar, dan pesan yang dibagikan melalui internet dapat tersimpan serta memengaruhi reputasi seseorang di kemudian hari.
Pemateri dari UPN Jatim, Reza Mehdi Fauzi, menjelaskan bahwa kesantunan dalam berkomunikasi merupakan bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan seiring dengan kesadaran moral dan sikap saling menghormati.
“Kesantunan dalam berkomunikasi harus tetap dijaga, baik ketika berbicara secara langsung maupun melalui media digital. Siswa perlu memahami bahwa di balik layar perangkat yang digunakan, ada orang lain yang memiliki perasaan dan hak untuk dihormati,” katanya.
Pesan tersebut menekankan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat di internet tidak berarti seseorang dapat mengabaikan perasaan dan hak orang lain.
Literasi Digital Tidak Cukup Hanya Menguasai Teknologi
Edukasi ini juga menyoroti pentingnya membangun budaya literasi digital di lingkungan sekolah.
Pelajar diharapkan tidak hanya terampil menggunakan perangkat dan berbagai aplikasi, tetapi juga mampu memilah informasi, berpikir kritis, serta memahami konsekuensi dari aktivitas mereka di ruang digital.
Media sosial sebenarnya dapat menjadi sarana yang bermanfaat bagi siswa untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan kreativitas, berbagi karya, dan membangun hubungan pertemanan yang positif.
Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal apabila penggunaannya disertai sikap bertanggung jawab.
Kepala SMA Ta’miriyah Surabaya, M. Romadhon, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Edukasi mengenai komunikasi digital dinilai relevan dengan kehidupan pelajar yang semakin dekat dengan penggunaan teknologi dan media sosial.
“Edukasi ini sangatlah penting karena memberikan wawasan kepada siswa tentang bagaimana menggunakan media digital secara bijak dan bertanggung jawab. Kami berharap materi yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berkomunikasi dengan teman, guru, maupun masyarakat melalui media sosial,” ujar perwakilan SMA Ta’miriyah Surabaya.
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat menerapkan kesantunan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, baik saat berinteraksi secara langsung maupun melalui platform digital.
Edukasi yang diberikan UPN Jatim sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi digital dan pembentukan karakter pelajar.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kecakapan digital bukan hanya diukur dari kemampuan seseorang mengoperasikan perangkat atau menggunakan media sosial, tetapi juga dari kemampuannya menjaga etika, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas setiap informasi yang disampaikan.
Dengan pemahaman tersebut, pelajar diharapkan dapat memanfaatkan ruang digital sebagai tempat untuk belajar, berkarya, dan membangun interaksi yang positif tanpa mengabaikan nilai kesopanan serta penghormatan terhadap sesama.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda