ACEH TAMIANG, JurnalPost.com – Tim Relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) memulai pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Program kemanusiaan ini menjadi bagian dari ikhtiar UAR menghadirkan solusi tempat tinggal layak bagi penyintas bencana.
Pada Ahad (11/1/2026), Tim UAR melakukan peninjauan dan asesmen lokasi pembangunan Huntara, dilanjutkan dengan pembelian material pada keesokan harinya di tiga supplier berbeda. Kegiatan ini melibatkan empat regu relawan yang tersebar di beberapa titik, mulai dari Aceh Tamiang, Bener Meriah, hingga Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Koordinator Lapangan (Korlap) Tim UAR di Aceh, Ir. Edi Wahyudi, menjelaskan bahwa total Huntara yang akan dibangun berjumlah delapan unit dan ditargetkan selesai dalam waktu tiga pekan.
“Rencana pembangunan Huntara tersebar di beberapa lokasi, yaitu dua unit di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dua unit di Kabupaten Bener Meriah, satu unit di Takengon Aceh Tengah, serta tiga unit di Desa Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Totalnya delapan unit dan insya Allah target kami tiga pekan sudah selesai untuk kemudian diserahkan kepada warga,” ujar Ir. Edi Wahyudi, Selasa (13/1/2026).
Ia menambahkan, relawan UAR juga telah menandatangani kesepakatan penyerahan dua unit Huntara kepada warga Aceh Tamiang sebagai bagian dari komitmen akuntabilitas dan keberlanjutan program.
Sementara itu, proses pembangunan mulai berjalan pada Selasa (13/1/2026). Ketua Regu Pembangunan Huntara, Doni, melaporkan bahwa tiga unit Huntara di Dusun Melur, Desa Bukit Rata, telah memasuki tahap awal pengerjaan.
“Alhamdulillah, Ukhuwah Al-Fatah Rescue di hari pertama ini mulai membangun tiga unit hunian sementara di Dusun Melur, Desa Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Kami sangat mengharapkan dukungan dan doa dari para dermawan agar pembangunan ini berjalan lancar,” ujar Doni dalam laporan video yang dikirimkan dari lokasi.
Pembangunan Huntara ini merupakan tindak lanjut arahan Ketua Umum UAR, H. Endang Sudrajat beberapa waktu lalu yang meminta agar relawan UAR meninggalkan legacy nyata bagi masyarakat Aceh sebelum mengakhiri program kemanusiaan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor akhir November lalu.
“Para relawan agar menghadirkan peninggalan yang bermanfaat dan dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh. Huntara bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kepedulian, ukhuwah, dan tanggung jawab kemanusiaan kita,” pesan H. Endang Sudrajat saat brifieng Tim Relawan Tahap III di Pelabuhan Tanjung Periok, Jakarta, sebelum Kapal PMI “Oemarraseed KALLA LINES” membawa mereka berlayar ke Aceh 4 Januari lalu.
Selain pembangunan Huntara, Pengurus Pusat UAR juga merencanakan pelaksanaan Pelatihan Tibun Nabawi (bekam) bagi masyarakat Aceh Tamiang dan sekitarnya. Program ini akan menjadi penutup rangkaian misi kemanusiaan UAR di Aceh, sekaligus kenangan positif dari para relawan UAR yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia.
Melalui pembangunan Huntara dan penguatan kapasitas masyarakat, UAR menegaskan komitmennya untuk tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga mendampingi warga hingga proses pemulihan menuju kehidupan yang lebih layak. [am]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda