Jumlah banyaknya pengguna aplikasi Tiktok yang mengikuti tren Glow-up
Oleh: Zefanya Gracia Rusmanadi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Surabaya, JurnalPost.com – TikTok emang nggak pernah kehabisan tren buat bikin kita semua betah scroll berjam-jam bahkan ada yang sampai berhari-hari. Nah kalian pasti nggak asing sama tren “glow up” yang rame banget kan. Tren itu isinya apa sih? Ya isinya video before after nunjukin perubahan fisik seseorang. Contohnya, dari bare face jadi full makeup, dari tubuh biasa aja jadi lebih ramping dan fit, dari outfit seadanya jadi fashionable banget. Kalo kata (Syarofi, 2025) “Tren dan tantangan yang populer di platform ini juga memberikan pengaruh, di mana partisipasi dalam kegiatan tersebut dapat memengaruhi sikap, kreativitas, dan perilaku sosial mereka.”. Emang sih kalo dilihat seru juga, bisa jadi motivasi. Tapi, tren glow up ini beneran bentuk self-love? Atau jangan-jangan, itu bentuk baru penindasan?
Coba kalo dilihat pakai kacamata Cultural Studies, ini tren bisa dibaca sebagai bagian dari permainan kekuasaan yang halus loh. Antonio Gramsci pernah ngomong soal konsep hegemoni di mana ideologi dominan nggak memaksa secara langsung, tapi bikin kita nurut tanpa kita sadar. Nah, glow up ini bisa banget jadi contohnya. Kita merasa bebas memilih buat berubah, tapi kenyataannya, kita sering ngerasa harus berubah karena takut nggak sesuai standar. Standar yang siapa sih yang bikin? Ya, industri kecantikan dan algoritma media sosial itu sendiri.
Kalo dari penelitian (Basir et al., 2022) nunjukin kalo tren glow up justru memperkuat standar kecantikan yang itu-itu aja, “Banyak orang mengatakan cantik itu relatif, namun beberapa diantaranya masihterpaku dengan standar kecantikan seperti kulit putih langsat, wajah yang sesuai dengan Golden Ratio, badan tinggi jenjang, dan lain sebagainya.”.
Jadi, yang awalnya keliatan kayak bentuk mengekspresikan diri, ternyata diem-diem juga kasih standar baru yang bikin kita mikir “Kalau gue nggak berubah kayak mereka, berarti gue belum cukup glowing.”. Dan sebenernya efeknya nyata loh. Banyak orang indonesia, terutama remaja perempuan, jadi insecure karena bisa dikatakan ngerasa kalo dirinya tertinggal. Lihat orang lain berubah jadi versi lebih baik, kayak kita jadi ngerasa harus buru-buru ikutan juga. Padahal transformasi yang kita lihat di konten TikTok itu sering kali kelihatan instan dan effortless, padahal realitanya apa? Belum tentu semudah itu kan gais. Kita nggak ngelihat perjuangannya, nggak tahu tekanan mentalnya, apalagi biayanya yang hharus dikeluarin untuk capai itu semua.
(Siregar, 2022) “Ada hubungan antara citra tubuh dan perbandingan sosial dengan harga diri pada mahasiswi UNISSULA penonton trend glow up challenge di TikTok.”. Nah sampe sini bisa diartikan kalo, glow up bisa memicu seseorang ngalamin krisis identitas dan kalau dibiarkan bakalan jadi masalah mental yang lebih serius kan, mulai dari body shaming ke diri sendiri, susah makan, sampai depresi ringan. Sebenernya itu masalah bukan di glow up-nya, tapi narasi yang dibangun di sekitarnya. Kalo glow up cuma soal tampil kayak standar yang dipaksain industri, kulit putih, hidung mancung, dan tubuh ideal. Maka pesan yang kita terima ya “Kamu harus berubah kalau mau dianggap pantas.” Nah, ini letak bahayanya gais.
Tapi tenang gais, nggak semua pengguna aplikasi Tiktok terjebak sama tren ini kok. Banyak juga yang bikin konten glow up dengan definisi versi mereka sendiri. Ada yang nunjukin progress kesehatan mental, ada yang sharing soal self-acceptance, bahkan ada juga yang percaya diri buat tampil bare face tanpa filter. Ini adalah bentuk perlawanan yang keren banget, kayak yang pernah dibahas Dick Hebdige soal subkultur Subculture, The Meaning of Lifestyle (1979), orang-orang yang berani menolak arus utama dan bikin makna sendiri dari budaya populer. Glow up itu boleh-boleh aja kok asalkan kita juga sadar bahwa itu pilihan, bukan kewajiban yang harus dilakukan. Kita punya hak buat definisiin glow up menurut versi kita sendiri, nggak harus cantik menurut standar TikTok. Jadi, yuk pelan-pelan kita bareng-bareng pindah dari glow up yang bikin stres ke grow up yang jauh lebih sehat.
#SelfLoveTanpaTekanan #GrowUpItuLebihPenting
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda