Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Tren Tiktok “Glow-up”: Sebenernya Self-Improvement atau Standar Baru Penindasan?

Tren Tiktok “Glow-up”: Sebenernya Self-Improvement atau Standar Baru Penindasan?

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
06 Juli 2025, 15.56 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Tren Tiktok “Glow-up”: Sebenernya Self-Improvement atau Standar Baru Penindasan?

Glow-up Jumlah banyaknya pengguna aplikasi Tiktok yang mengikuti tren Glow-up

Oleh: Zefanya Gracia Rusmanadi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

IKLAN

Surabaya, JurnalPost.com – TikTok emang nggak pernah kehabisan tren buat bikin kita semua betah scroll berjam-jam bahkan ada yang sampai berhari-hari. Nah kalian pasti nggak asing sama tren “glow up” yang rame banget kan. Tren itu isinya apa sih? Ya isinya video before after nunjukin perubahan fisik seseorang. Contohnya, dari bare face jadi full makeup, dari tubuh biasa aja jadi lebih ramping dan fit, dari outfit seadanya jadi fashionable banget. Kalo kata (Syarofi, 2025) “Tren dan tantangan yang populer di platform ini juga memberikan pengaruh, di mana partisipasi dalam kegiatan tersebut dapat memengaruhi sikap, kreativitas, dan perilaku sosial mereka.”. Emang sih kalo dilihat seru juga, bisa jadi motivasi. Tapi, tren glow up ini beneran bentuk self-love? Atau jangan-jangan, itu bentuk baru penindasan?

Filtered Beauty Standards and Self Comparison
Baca Juga

Shade 00 dan Ilusi “Glow Up”: Ketika Algoritma TikTok Menjadi Hakim atas Tubuh Perempuan

Coba kalo dilihat pakai kacamata Cultural Studies, ini tren bisa dibaca sebagai bagian dari permainan kekuasaan yang halus loh. Antonio Gramsci pernah ngomong soal konsep hegemoni di mana ideologi dominan nggak memaksa secara langsung, tapi bikin kita nurut tanpa kita sadar. Nah, glow up ini bisa banget jadi contohnya. Kita merasa bebas memilih buat berubah, tapi kenyataannya, kita sering ngerasa harus berubah karena takut nggak sesuai standar. Standar yang siapa sih yang bikin? Ya, industri kecantikan dan algoritma media sosial itu sendiri.

IKLAN

Kalo dari penelitian (Basir et al., 2022) nunjukin kalo tren glow up justru memperkuat standar kecantikan yang itu-itu aja, “Banyak orang mengatakan cantik itu relatif, namun beberapa diantaranya masihterpaku dengan standar kecantikan seperti kulit putih langsat, wajah yang sesuai dengan Golden Ratio, badan tinggi jenjang, dan lain sebagainya.”.

Jadi, yang awalnya keliatan kayak bentuk mengekspresikan diri, ternyata diem-diem juga kasih standar baru yang bikin kita mikir “Kalau gue nggak berubah kayak mereka, berarti gue belum cukup glowing.”. Dan sebenernya efeknya nyata loh. Banyak orang indonesia, terutama remaja perempuan, jadi insecure karena bisa dikatakan ngerasa kalo dirinya tertinggal. Lihat orang lain berubah jadi versi lebih baik, kayak kita jadi ngerasa harus buru-buru ikutan juga. Padahal transformasi yang kita lihat di konten TikTok itu sering kali kelihatan instan dan effortless, padahal realitanya apa? Belum tentu semudah itu kan gais. Kita nggak ngelihat perjuangannya, nggak tahu tekanan mentalnya, apalagi biayanya yang hharus dikeluarin untuk capai itu semua.

(Siregar, 2022) “Ada hubungan antara citra tubuh dan perbandingan sosial dengan harga diri pada mahasiswi UNISSULA penonton trend glow up challenge di TikTok.”. Nah sampe sini bisa diartikan kalo, glow up bisa memicu seseorang ngalamin krisis identitas dan kalau dibiarkan bakalan jadi masalah mental yang lebih serius kan, mulai dari body shaming ke diri sendiri, susah makan, sampai depresi ringan. Sebenernya itu masalah bukan di glow up-nya, tapi narasi yang dibangun di sekitarnya. Kalo glow up cuma soal tampil kayak standar yang dipaksain industri, kulit putih, hidung mancung, dan tubuh ideal. Maka pesan yang kita terima ya “Kamu harus berubah kalau mau dianggap pantas.” Nah, ini letak bahayanya gais.

Dafid SEO
Baca Juga

Dafid SEO Dorong Kreator TikTok Serius Garap Live Streaming untuk Tambah Penghasilan

Tapi tenang gais, nggak semua pengguna aplikasi Tiktok terjebak sama tren ini kok. Banyak juga yang bikin konten glow up dengan definisi versi mereka sendiri. Ada yang nunjukin progress kesehatan mental, ada yang sharing soal self-acceptance, bahkan ada juga yang percaya diri buat tampil bare face tanpa filter. Ini adalah bentuk perlawanan yang keren banget, kayak yang pernah dibahas Dick Hebdige soal subkultur Subculture, The Meaning of Lifestyle (1979), orang-orang yang berani menolak arus utama dan bikin makna sendiri dari budaya populer. Glow up itu boleh-boleh aja kok asalkan kita juga sadar bahwa itu pilihan, bukan kewajiban yang harus dilakukan. Kita punya hak buat definisiin glow up menurut versi kita sendiri, nggak harus cantik menurut standar TikTok. Jadi, yuk pelan-pelan kita bareng-bareng pindah dari glow up yang bikin stres ke grow up yang jauh lebih sehat.

#SelfLoveTanpaTekanan #GrowUpItuLebihPenting

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/tren-tiktok-glow-up-sebenernya-self-improvement-atau-standar-baru-penindasan/83343/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.02 WITA

  • #Glow-up
  • #TikTokers

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Mengenal Potensi Desa Menang dalam Mendukung Program Kabupaten/Kota Sehat di Jawa Timur

Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Pilihan Editor

  1. 1 Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?
  2. 2

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  3. 3

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  4. 4

    Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

  5. 5

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.