Semarang, JurnalPost.com — Daun kemangi selama ini lebih dikenal sebagai lalapan dan pelengkap berbagai hidangan. Namun, di balik penggunaannya yang sederhana, tanaman tersebut menyimpan senyawa aktif yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung kesehatan.
Potensi itu menjadi perhatian Tim Lincora dari Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Diponegoro (Undip). Tim tersebut mengembangkan inovasi berupa granul pelepasan terkendali berbasis teknologi imobilisasi linalool, salah satu senyawa yang terdapat dalam daun kemangi dan memiliki aktivitas antioksidan.
Dalam pengembangannya, Tim Lincora memanfaatkan kombinasi Low Methoxyl Pectin (LMP) dan β-Cyclodextrin (β-CD) sebagai sistem pelindung linalool. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mempertahankan kestabilan senyawa sehingga tidak mudah mengalami kerusakan sebelum memberikan manfaat di dalam tubuh.
Hak penggunaan: © Tim Lincora, Universitas Diponegoro. Diizinkan untuk publikasi nonkomersial dan keperluan diseminasi penelitian.
Tim Lincora dipimpin oleh Farsya Mutiara Kansha bersama Fadhillah Ghania Putri, Naura Fitri Nur Azzahra, Habib Yazdaniar, dan Beryl Cholif Arrahman.
Pelaksanaan penelitian turut didampingi oleh Dr. Ir. Noer Abyor Handayani (Noera), S.T., M.T., IPM., dosen Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro, yang berperan sebagai dosen pendamping tim.
Gagasan penelitian tersebut berangkat dari salah satu tantangan dalam pemanfaatan linalool. Meskipun memiliki aktivitas antioksidan, senyawa ini mempunyai sifat yang relatif tidak stabil.
Linalool mudah menguap dan dapat mengalami degradasi ketika terpapar panas, cahaya, maupun lingkungan asam seperti yang terdapat di dalam lambung. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan sebagian senyawa aktif mengalami kerusakan sebelum dapat diserap secara optimal oleh tubuh.
Tim Lincora mengibaratkan linalool sebagai barang berharga yang membutuhkan perlindungan selama proses pengiriman. Jika tidak dikemas dengan baik, barang tersebut berisiko mengalami kerusakan sebelum mencapai tujuan.
Prinsip serupa kemudian diterapkan dalam penelitian melalui pengembangan sistem pelindung yang diharapkan mampu menjaga linalool hingga mencapai lokasi pelepasan yang diinginkan di dalam tubuh.
Kembangkan Sistem Imobilisasi Linalool
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Tim Lincora menggunakan teknologi imobilisasi dengan memadukan Low Methoxyl Pectin (LMP), β-Cyclodextrin (β-CD), dan kalsium laktat sebagai agen pengikat atau crosslinker.
Melalui pendekatan ini, linalool ditempatkan atau dienkapsulasi di dalam suatu matriks pelindung. Struktur tersebut dirancang untuk mengurangi kontak langsung antara senyawa aktif dan faktor lingkungan yang berpotensi menyebabkan degradasi.
Sistem tersebut diharapkan dapat menjaga kestabilan linalool selama penyimpanan maupun ketika melewati saluran pencernaan. Dengan perlindungan yang lebih baik, peluang senyawa aktif untuk mencapai lokasi penyerapan dan memberikan aktivitas antioksidan menjadi lebih besar.

Selain formulasi bahan, inovasi Tim Lincora juga menggunakan teknologi freeze drying atau pengeringan beku dalam proses produksinya.
Metode ini banyak dimanfaatkan dalam bidang teknik kimia, farmasi, maupun teknologi pangan karena memungkinkan penghilangan kandungan air pada suhu relatif rendah. Teknik tersebut dinilai cocok untuk bahan yang memiliki komponen sensitif terhadap panas.
Melalui proses freeze drying, Tim Lincora menghasilkan granul dengan struktur berpori. Struktur tersebut berperan dalam mempertahankan senyawa linalool sekaligus mendukung mekanisme pelepasan zat aktif secara bertahap.
Dengan sistem pelepasan terkendali, linalool tidak langsung dilepaskan dalam jumlah besar, tetapi dapat dilepaskan secara lebih perlahan sesuai karakteristik matriks yang digunakan.
Aktivitas Antioksidan Lebih dari 80 Persen
Berdasarkan hasil penelitian Tim Lincora, granul imobilisasi yang dikembangkan menunjukkan potensi sebagai sistem pembawa linalool.
Pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan kemampuan penangkapan radikal bebas lebih dari 80 persen. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas antioksidan linalool masih dapat dipertahankan setelah melewati proses imobilisasi.
Selain mempertahankan aktivitas antioksidan, sistem granul yang dikembangkan juga mampu memperlambat pelepasan linalool dibandingkan metode konvensional.
Karakteristik tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan sistem pelepasan terkendali karena dapat membantu mempertahankan keberadaan senyawa aktif dalam periode yang lebih panjang.
Tim Lincora juga tidak membatasi penelitian pada pengujian di laboratorium. Untuk memperoleh gambaran lebih menyeluruh mengenai potensi sistem yang dikembangkan, tim turut melakukan uji in vivo.
Pengujian tersebut dilakukan untuk mengevaluasi potensi granul dalam memberikan perlindungan terhadap organ hati yang mengalami stres oksidatif.
Tahapan ini menjadi bagian penting dalam penelitian karena dapat memberikan informasi awal mengenai bagaimana formulasi tersebut bekerja pada sistem biologis yang lebih kompleks.
Meski demikian, pengembangan lebih lanjut tetap diperlukan sebelum inovasi tersebut dapat diarahkan menjadi produk yang digunakan secara luas.
Buka Peluang Pengembangan Pangan Fungsional
Hasil penelitian tersebut membuka peluang pengembangan linalool dari daun kemangi sebagai salah satu kandidat bahan dalam produk pangan fungsional.
Konsep pangan fungsional tidak hanya menempatkan makanan sebagai sumber energi dan nutrisi dasar, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan komponen tertentu yang berpotensi memberikan manfaat fisiologis tambahan.
Dalam konteks tersebut, sistem imobilisasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan kestabilan senyawa alami yang mudah mengalami degradasi.
Tim Lincora berharap penelitian yang dilakukan dapat mendorong masyarakat melihat kemangi tidak hanya sebagai tanaman pelengkap hidangan, tetapi juga sebagai salah satu sumber bahan alam yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui riset dan teknologi.
Indonesia memiliki keragaman tanaman yang sangat besar. Namun, pemanfaatannya sebagai bahan baku produk bernilai tambah masih membutuhkan penelitian lanjutan, mulai dari identifikasi senyawa, pengembangan formulasi, pengujian keamanan, hingga pengembangan proses produksi.
Melalui pendekatan ilmu teknik kimia dan teknologi pangan, bahan alami dapat diolah dengan metode yang memungkinkan senyawa aktif di dalamnya memiliki stabilitas dan karakteristik yang lebih sesuai untuk berbagai aplikasi.
Tim Lincora menilai penelitian tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi inovasi berbasis sumber daya alam Indonesia.
Bahan yang selama ini dianggap sederhana dapat memiliki nilai tambah apabila dikembangkan melalui proses penelitian yang sistematis dan didukung teknologi yang tepat.
Bagi Tim Lincora, penelitian mengenai granul imobilisasi linalool menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kekayaan hayati Indonesia masih menyimpan banyak peluang inovasi.
Pengembangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada skala penelitian, tetapi dapat menjadi pijakan bagi riset lanjutan mengenai pemanfaatan senyawa aktif tanaman lokal untuk berbagai aplikasi di bidang pangan dan kesehatan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda