
Solo, JurnalPost.com - Enam mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang tergabung dalam Tim Pelaksana Program Hibah Pembelajaran Berdampak turut mendampingi pelaksanaan Bulan Presentasi PKBM Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026. Kehadiran tim UNS menjadi bagian dari riset bertajuk “Rekonstruksi Kurikulum dalam Pendidikan Alternatif: Analisis Praktik Pembelajaran di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta” yang dilaksanakan melalui Program Hibah Pembelajaran Berdampak periode Februari hingga Juli 2026.
Bulan Presentasi merupakan agenda rutin yang digelar setiap akhir semester di SALAM. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak SALAM untuk mempresentasikan hasil riset mandiri yang telah mereka lakukan selama satu semester.
Pada semester genap ini, Bulan Presentasi berlangsung pada 7-25 Mei 2026 dengan mengusung tema “Panen Pengetahuan: Dunia Nyata adalah Guru”. Agenda tersebut tidak hanya melibatkan anak-anak dan pihak sekolah, tetapi juga orang tua, fasilitator, pengelola PKBM, komunitas SALAM, hingga masyarakat umum.
Pelaksanaan Bulan Presentasi tidak lepas dari kurikulum autentik “Daur Belajar” yang diterapkan SALAM. Kurikulum ini dirancang dengan prinsip belajar dari peristiwa dan mendorong anak untuk belajar melalui riset mandiri sesuai minat masing-masing.
Selama satu semester, anak-anak melakukan pendalaman terhadap topik riset dengan pendampingan orang tua dan fasilitator. Bulan Presentasi kemudian menjadi ruang untuk menampilkan hasil proses belajar tersebut.
Dalam kegiatan itu, anak-anak SALAM diberi kebebasan menyajikan hasil riset secara kreatif. Bentuk presentasi yang ditampilkan beragam, mulai dari pameran, pertunjukan, produk jualan, gelar karya, seminar, talkshow, hingga pemutaran film.
Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS turut hadir untuk menyaksikan langsung proses pelaksanaan Bulan Presentasi. Mereka juga terlibat dalam sesi tanya jawab untuk menggali hasil riset anak, memberikan masukan, hingga berbagi pengalaman yang relevan.
Selain mendampingi kegiatan, tim UNS juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama pendiri, kepala sekolah, sejumlah fasilitator, dan perwakilan orang tua SALAM. FGD tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas implementasi kurikulum Daur Belajar di SALAM.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari proses verifikasi data temuan penelitian yang sebelumnya telah dikumpulkan melalui observasi dan wawancara sejak awal program riset berjalan.
Dalam kesempatan itu, pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM), Bu Wahya, menegaskan bahwa anak-anak belajar dari kehidupan nyata.
“Anak tidak belajar dengan buku, tetapi dari kehidupan,” ujar Bu Wahya.
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi pendidikan yang dianut SALAM. Pengalaman nyata ditempatkan sebagai sumber utama pembelajaran, sementara buku berfungsi sebagai pendukung dalam memahami realitas.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberi kontribusi bagi pengembangan praktik pendidikan alternatif di Indonesia, sejalan dengan penerapan SDG 4 tentang Quality Education atau Pendidikan Berkualitas.
Temuan yang diperoleh selama proses penelitian juga akan menjadi bagian dari dokumentasi praktik baik pendidikan berbasis komunitas yang telah diterapkan SALAM.
Selain itu, keterlibatan tim UNS dalam Bulan Presentasi SALAM juga sejalan dengan SDG 17 tentang Partnerships for the Goals atau Kemitraan. Hal ini menunjukkan peran perguruan tinggi sebagai mitra komunitas dalam membangun ekosistem pembelajaran yang lebih kolaboratif.
Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan komunitas dinilai penting untuk memperkuat praktik pendidikan yang kontekstual, partisipatif, dan berdampak bagi masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda