Penulis: Erfina
Yogyakarta, JurnalPost.com - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sebelas Maret (UNS), meneliti praktik pendidikan alternatif di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta.
Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung dalam program Hibah Pembelajaran Berdampak Skema Riset/Penelitian di bawah bimbingan Dr. Okta Hadi Nurcahyono, S.Pd., M.Si., M.A.
Penelitian berjudul “Rekonstruksi Kurikulum dalam Pendidikan Alternatif: Analisis Praktik Pembelajaran di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta” itu dilaksanakan pada Februari hingga Juli 2026.
Melalui observasi, wawancara, Forum Group Discussion (FGD), dan dokumentasi, tim peneliti berupaya memahami bagaimana kurikulum dikembangkan serta diterapkan dalam praktik pendidikan yang berpusat pada kebutuhan dan pengalaman peserta didik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran di SALAM tidak dimulai dari daftar materi yang wajib diselesaikan siswa. Sebaliknya, pembelajaran berangkat dari pengalaman nyata yang ditemui peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap peserta didik diberi ruang untuk menentukan dan merancang topik belajar berdasarkan minat, rasa ingin tahu, serta persoalan kontekstual yang dekat dengan kehidupan mereka.
Salah satu fondasi utama dalam pembelajaran di SALAM adalah konsep kurikulum Daur Belajar. Melalui pendekatan ini, pengalaman peserta didik tidak berhenti sebagai peristiwa sehari-hari, tetapi diolah menjadi sumber pengetahuan.
Proses tersebut dilakukan melalui tahapan mengalami, melakukan, mengungkapkan, menganalisis, menyimpulkan, hingga menerapkan kembali hasil pembelajaran.
Melalui Daur Belajar, SALAM menerapkan prinsip “belajar dari peristiwa” dengan metode pembelajaran berbasis riset. Peserta didik diberi kebebasan menentukan topik penelitian sesuai minat masing-masing.
Beragam tema muncul dalam proses tersebut, mulai dari seni gambar, animasi, musik, film, hingga berbagai isu yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dalam proses belajar, mereka juga dilatih menyusun pertanyaan, mencari informasi, melakukan pengamatan, serta mempresentasikan hasil temuannya kepada teman dan fasilitator.
Di SALAM, anak tidak hanya menjadi penerima informasi. Mereka berperan sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman dan proses pencarian yang dilakukan secara mandiri.
Tim Riset Hibah Pembelajaran Berdampak UNS bersama Anak-anak SMA SALAM
Penelitian ini juga menemukan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Orang tua tidak hanya menjadi pendamping dari rumah, tetapi turut terlibat dalam berbagai kegiatan belajar dan proses refleksi peserta didik.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Selain keluarga, lingkungan sekitar juga dipandang sebagai ruang belajar yang kaya pengalaman. Aktivitas sehari-hari, diskusi bersama, kegiatan komunitas, hingga permasalahan sosial dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Proses belajar dapat hadir di berbagai ruang kehidupan.
Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa kurikulum dalam pendidikan alternatif dapat dikembangkan secara fleksibel dengan menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.
Kurikulum SALAM tidak dipahami sekadar sebagai kumpulan materi yang harus diselesaikan. Lebih dari itu, kurikulum menjadi proses yang membantu peserta didik memahami diri, lingkungan sekitar, serta realitas kehidupan yang mereka hadapi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda