Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Peningkatan Keterampilan Pambiwara dan Karawitan sebagai Upaya Penguatan Karakter Masyarakat Desa Bandungan

Peningkatan Keterampilan Pambiwara dan Karawitan sebagai Upaya Penguatan Karakter Masyarakat Desa Bandungan

Foto profil Alvin Pradana
Editor: Alvin Pradana
15 September 2026, 12.49 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
13 menit baca
Peningkatan Keterampilan

Nurul Sofi Mardani, Mahendra Bimo Yudhanto, Arbela Sekar Adinda, Aurora Dixffin, Eky Rahma Putri Mayau, Alfian Rossib Saputra, Dzaky Adiyatma Rudhianto, Galang Abiyu Nayottama, Nashwa Nur Aqila, Zaka Syahmana
Universitas Sebelas Maret

Abstrak

Desa Bandungan memiliki potensi budaya yang kuat, salah satunya melalui keberadaan kelompok karawitan Setyo Laras. Namun, pelestarian budaya di desa tersebut menghadapi dua permasalahan utama. Pertama, masih terbatasnya regenerasi pemuda yang memiliki kemampuan memandu acara menggunakan bahasa Jawa atau pambiwara. Kedua, belum optimalnya pengelolaan literatur seni karena notasi gendhing yang telah dibukukan masih tersusun secara acak dan belum terorganisasi dengan baik sehingga menyulitkan proses latihan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat karakter masyarakat sekaligus mendukung pelestarian seni tradisional melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan perbaikan tata kelola arsip kesenian. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) melalui tahapan observasi, pelatihan, praktik, serta pendampingan restrukturisasi notasi karawitan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri dan keterampilan pemuda dalam praktik pambiwara, serta peningkatan kemampuan musikal anggota kelompok karawitan Setyo Laras. Dari aspek manajerial, kegiatan menghasilkan pembukuan arsip notasi gendhing yang lebih sistematis dan dapat digunakan sebagai panduan latihan. Secara keseluruhan, pelatihan dan penataan literatur kesenian memberikan solusi terhadap persoalan regenerasi pelaku tradisi lisan sekaligus kendala administratif dalam praktik karawitan. Buku notasi yang telah disusun juga terus dimanfaatkan oleh kelompok Setyo Laras sebagai aset budaya yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

IKLAN

Kata kunci: Desa Bandungan; Karawitan; Pambiwara; Pelestarian Budaya

PENDAHULUAN

Kesenian tradisional dan tradisi lisan merupakan media penting dalam proses pewarisan nilai kebudayaan serta pembentukan karakter masyarakat Jawa. Di tengah arus modernisasi, upaya pelestarian budaya membutuhkan intervensi yang terstruktur melalui pemberdayaan masyarakat. Pelestarian tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga perlu menyentuh aspek pengetahuan dan keterampilan masyarakat secara langsung (Saddhono & Rohmadi, 2014). Perkembangan budaya dari generasi ke generasi juga menunjukkan adanya kecenderungan semakin berkurangnya masyarakat yang terlibat dalam pelestarian budaya Jawa. Kondisi tersebut semakin terlihat pada generasi muda yang memiliki keterbatasan pengetahuan dan pemahaman terhadap budaya Jawa (Rochayanti dkk., 2012).

Salah satu wilayah yang masih mempertahankan aset budaya lokal adalah Desa Bandungan. Hal tersebut ditunjukkan melalui keberadaan kelompok karawitan Setyo Laras yang masih aktif menjalankan kegiatan kesenian. Meskipun demikian, masyarakat desa menghadapi dua permasalahan penting. Pertama, masih terbatasnya regenerasi pemuda yang memiliki kemampuan dan keberanian untuk tampil sebagai pambiwara atau pemandu acara menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan kaidah unggah-ungguh. Kondisi tersebut berpotensi menghambat keberlanjutan tradisi lisan di tingkat desa. Unggah-ungguh bahasa Jawa merupakan sistem tingkat tutur yang digunakan untuk menjaga kesantunan serta menunjukkan penghormatan dan penghargaan kepada orang lain (Arfianingrum, 2020).

Permasalahan kedua berkaitan dengan pengelolaan arsip kesenian pada kelompok karawitan Setyo Laras. Selama ini, notasi gendhing masih didokumentasikan dalam bentuk lembaran tulisan tangan dan fotokopi yang belum tersusun secara sistematis. Kondisi tersebut menyebabkan proses pencarian notasi menjadi kurang efisien ketika latihan berlangsung. Selain itu, kualitas fisik dokumen yang semakin menurun meningkatkan risiko kerusakan dan hilangnya informasi yang terdapat dalam literatur kesenian tersebut (Fathurahman, 2015: 21–22).

Berdasarkan hasil kajian, sebagian besar kegiatan pengabdian maupun penelitian yang berkaitan dengan seni tradisional masih berfokus pada aspek teknis permainan instrumen gamelan. Aspek pengelolaan arsip tertulis serta regenerasi seni tutur lisan belum banyak diintegrasikan dalam satu program. Kondisi tersebut menunjukkan adanya celah pengabdian berupa kebutuhan terhadap pendekatan yang lebih holistik, yaitu pendekatan yang tidak hanya memperkuat praktik kesenian di ruang pertunjukan, tetapi juga memperbaiki pengelolaan literatur kebudayaan di tingkat masyarakat desa.

Berdasarkan permasalahan tersebut, kebaruan kegiatan pengabdian ini terletak pada integrasi dua bentuk intervensi pelestarian budaya secara bersamaan. Intervensi tersebut mencakup pengembangan kemampuan tradisi lisan generasi muda melalui pelatihan pambiwara serta penyelamatan dan penataan arsip notasi karawitan melalui proses pengetikan ulang dan pembukuan secara sistematis.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat karakter budaya lokal dan mendukung regenerasi pelaku seni di Desa Bandungan secara komprehensif, baik dari aspek keterampilan lisan maupun pengelolaan literatur kesenian tertulis.

METODE

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Bandungan dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). Trapsila (2017) menjelaskan bahwa PRA merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses identifikasi masalah dan penyusunan solusi. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

Sasaran kegiatan pengabdian dibagi menjadi dua kelompok mitra. Kelompok pertama adalah pemuda karang taruna sebagai calon penerus tradisi lisan. Kelompok kedua adalah kelompok karawitan Setyo Laras yang memiliki jadwal latihan rutin, yaitu kelompok bapak-bapak pada Senin malam dan kelompok ibu-ibu pada Selasa malam. Pelaksanaan kegiatan terdiri atas tiga tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1. Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan, tim pelaksana melakukan beberapa kegiatan awal sesuai dengan prinsip PRA. Astari dan Efelina (2021) menyebutkan bahwa tahapan awal PRA antara lain meliputi pengurusan perizinan, observasi lapangan, serta pelibatan tokoh masyarakat dalam penyusunan rencana kegiatan.

Berdasarkan tahapan tersebut, tim pelaksana terlebih dahulu melakukan observasi lapangan dan mengurus perizinan kepada Pemerintah Desa Bandungan. Selanjutnya, tim berkoordinasi dengan perangkat desa dan ketua kelompok karawitan Setyo Laras untuk menyusun rancangan kegiatan secara bersama-sama. Koordinasi tersebut dilakukan untuk menentukan jadwal kegiatan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan mitra.

Pada tahap ini, tim juga mengumpulkan dokumen notasi gendhing milik kelompok Setyo Laras. Dokumen tersebut masih berupa lembaran fotokopi dengan tulisan tangan dan susunan daftar isi yang belum terorganisasi secara sistematis.

2. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan terdiri atas dua bentuk intervensi utama, yaitu pelatihan pambiwara bagi pemuda karang taruna dan workshop karawitan bagi kelompok Setyo Laras.

Intervensi pertama berupa Pelatihan Pambiwara bagi pemuda karang taruna. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi dasar mengenai kepewaraan menggunakan bahasa Jawa. Setelah materi diberikan, peserta mengikuti simulasi praktik secara langsung. Selama praktik berlangsung, narasumber memberikan umpan balik secara langsung mengenai postur tubuh, sikap saat tampil, penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa, serta ketepatan pengucapan.

Intervensi kedua berupa Workshop Kesenian Tradisional bagi kelompok karawitan Setyo Laras. Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai aturan dasar karawitan gaya Surakarta dan dilanjutkan dengan praktik memainkan gamelan secara bersama-sama. Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk menerapkan materi sekaligus mendapatkan koreksi secara langsung dari narasumber.

Selain kegiatan pelatihan, tim pelaksana juga melakukan penataan dan penyelamatan arsip notasi gendhing. Lembaran notasi yang sebelumnya masih berupa tulisan tangan dan fotokopi diketik ulang menggunakan Microsoft Word dengan jenis huruf Kepatihan. Selanjutnya, notasi disusun kembali berdasarkan laras, yaitu Pelog 5, Pelog 6, Slendro 9, Slendro Manyura, dan Pelog Barang.

3. Tahap Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui hasil dan dampak dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Pada pelatihan pambiwara, evaluasi dilakukan melalui pengamatan deskriptif terhadap perubahan kepercayaan diri, keberanian, kemampuan berbicara, dan keterampilan peserta ketika tampil di depan umum.

Sementara itu, evaluasi pada workshop karawitan dilakukan berdasarkan hasil penataan arsip dan kemampuan peserta dalam menerapkan materi karawitan. Salah satu luaran utama kegiatan berupa buku pedoman notasi karawitan. Seluruh notasi yang telah diketik ulang kemudian dicetak, diberi sampul, dan dijilid menjadi sebuah buku setebal 94 halaman yang memuat 90 judul gendhing.

Buku tersebut selanjutnya diserahkan kepada ketua kelompok karawitan Setyo Laras untuk digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan latihan. Penyusunan kembali notasi diharapkan dapat mempermudah anggota dalam menemukan judul gendhing dan meningkatkan efektivitas proses latihan.

HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK

Pelatihan Pambiwara

Pelatihan pambiwara dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk mendukung regenerasi tradisi lisan di kalangan pemuda Desa Bandungan. Kegiatan berlangsung dengan antusias dan mendapat respons positif dari peserta. Kehadiran narasumber yang memiliki kompetensi di bidang kepewaraan memberikan peserta pemahaman mengenai tata cara menjadi pambiwara yang sesuai dengan kaidah bahasa dan budaya Jawa.

Peningkatan Keterampilan1

Setelah penyampaian materi dasar, peserta mengikuti simulasi praktik. Berdasarkan hasil pengamatan awal, sebagian besar peserta masih menunjukkan rasa canggung dan kurang percaya diri ketika berbicara di depan umum. Beberapa peserta juga masih mengalami kesulitan dalam membedakan penggunaan bahasa Jawa ragam ngoko dan krama inggil.

Selain aspek kebahasaan, ditemukan pula beberapa kendala dalam sikap salira atau postur tubuh ketika berdiri dan memegang mikrofon di depan audiens. Kesalahan pengucapan juga masih ditemukan, terutama dalam membedakan bunyi dha dan da, tha dan ta, serta pelafalan vokal e dan é.

Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Narasumber

Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pendampingan langsung. Narasumber memberikan koreksi kepada setiap peserta yang melakukan praktik. Kesalahan pengucapan diperbaiki secara langsung agar peserta terbiasa menggunakan pelafalan bahasa Jawa yang tepat.

Narasumber juga memberikan arahan mengenai sikap salira, termasuk arah pandangan, posisi kaki, cara berdiri, serta penggunaan mikrofon ketika memandu acara. Pemilihan kata yang kurang tepat diarahkan pada penggunaan bahasa krama inggil yang sesuai dengan konteks acara. Proses pembelajaran dilakukan secara interaktif dan kekeluargaan sehingga peserta dapat menerima masukan tanpa merasa tertekan.

Gambar 2. Sesi Praktik Pambiwara

IKLAN

Rasa canggung yang muncul pada peserta menunjukkan pentingnya penyediaan ruang praktik budaya secara berkelanjutan di lingkungan masyarakat. Tradisi lisan akan lebih mudah dipertahankan apabila generasi muda memperoleh kesempatan untuk mempelajari dan mempraktikkannya secara langsung (Saddhono, 2018).

Dampak paling terlihat dari pelatihan ini adalah meningkatnya keberanian dan kepercayaan diri pemuda karang taruna Desa Bandungan untuk tampil di depan umum. Meskipun kemampuan peserta belum berada pada tingkat profesional untuk memandu acara berskala besar, mereka telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar dalam pambiwara.

Kemampuan tersebut menjadi modal awal bagi pemuda untuk mulai terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat, misalnya memandu acara pada lingkup Rukun Tetangga (RT) maupun kegiatan desa. Dengan demikian, pelatihan ini dapat menjadi langkah awal dalam mendukung regenerasi pelaku tradisi lisan di Desa Bandungan.

Workshop Kesenian Tradisional

Perkembangan seni karawitan memiliki hubungan yang erat dengan dinamika sosial masyarakat karena keberlangsungan kesenian sangat dipengaruhi oleh masyarakat sebagai pendukungnya (Setyawan, 2017). Oleh karena itu, program pelestarian seni tradisional dalam kegiatan ini diarahkan pada peningkatan kapasitas kelompok karawitan Setyo Laras.

Kelompok Setyo Laras selama ini melaksanakan latihan secara rutin dalam dua kelompok, yaitu kelompok bapak-bapak pada Senin malam dan kelompok ibu-ibu pada Selasa malam. Meskipun memiliki semangat dan konsistensi dalam berlatih, proses pembelajaran sebelumnya masih dilakukan secara otodidak dan belum sepenuhnya mengacu pada pakem karawitan gaya Surakarta.

Gambar 3. Penyampaian Materi oleh Narasumber

Workshop diawali dengan penyampaian materi mengenai dasar-dasar dan aturan baku karawitan gaya Surakarta. Materi kemudian diterapkan melalui praktik memainkan gamelan secara bersama-sama. Peserta terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan dan berusaha menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama praktik.

Pendampingan langsung dari narasumber membantu peserta memperbaiki teknik pukulan pada instrumen serta meningkatkan keselarasan nada. Proses tersebut menunjukkan bahwa pemahaman terhadap pakem karawitan dan kepekaan musikal secara kolektif berperan penting dalam menghasilkan sajian karawitan yang harmonis.

Gambar 4. Sesi Nabuh Gamelan Bersama Narasumber

Selain persoalan teknis permainan gamelan, pengamatan selama kegiatan juga menemukan kendala pada pengelolaan catatan dan buku notasi gendhing. Kelompok karawitan sebenarnya telah memiliki buku panduan yang dicetak menggunakan kertas HVS. Namun, sebagian besar isinya merupakan hasil fotokopi dari tulisan tangan yang mulai memudar sehingga sulit dibaca.

Buku tersebut juga telah memiliki daftar isi, tetapi susunan judul gendhing masih belum teratur dan belum dikelompokkan berdasarkan laras. Kondisi ini menyebabkan anggota membutuhkan waktu lebih lama ketika mencari notasi lagu yang akan dimainkan selama latihan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim pelaksana berkoordinasi dengan ketua kelompok Setyo Laras untuk melakukan pengetikan ulang seluruh notasi. Notasi diketik menggunakan Microsoft Word dengan jenis huruf Kepatihan. Setelah itu, daftar isi disusun kembali dan 90 judul gendhing dikelompokkan berdasarkan laras, yaitu Pelog 5, Pelog 6, Slendro 9, Slendro Manyura, dan Pelog Barang.

Setelah proses pengetikan dan penyusunan selesai, seluruh dokumen dicetak dan dijilid menjadi buku pedoman notasi karawitan. Hasil akhir berupa buku setebal 94 halaman yang memuat 90 judul gendhing dengan susunan lebih jelas, rapi, dan sistematis.

Gambar 5. Penyerahan Buku Notasi kepada Kelompok Karawitan Setyo Laras

Buku pedoman tersebut kemudian diserahkan kepada kelompok karawitan Setyo Laras bertepatan dengan kegiatan perpisahan mahasiswa KKN. Penyusunan daftar isi yang lebih teratur dan kualitas cetakan yang lebih jelas memberikan kemudahan bagi anggota dalam menemukan notasi yang diperlukan selama latihan.

Penataan kembali arsip seni tersebut juga menjadi salah satu bentuk upaya penyelamatan dokumen budaya dari risiko kerusakan fisik akibat kualitas fotokopi dan tulisan yang semakin menurun (Fathurahman, 2015). Dalam jangka panjang, buku pedoman tersebut diharapkan dapat menjadi aset budaya Desa Bandungan yang dapat digunakan sebagai sumber belajar dan diwariskan kepada generasi penerus kesenian.

SIMPULAN

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Bandungan berhasil mengintegrasikan upaya pelestarian budaya melalui penguatan tradisi lisan dan perbaikan tata kelola arsip kesenian. Pelatihan pambiwara memberikan dampak positif berupa meningkatnya keberanian dan kepercayaan diri pemuda dalam berbicara di depan umum serta memahami penggunaan bahasa Jawa secara lebih tepat.

Di sisi lain, kegiatan workshop karawitan tidak hanya meningkatkan pemahaman dan keterampilan musikal anggota kelompok Setyo Laras, tetapi juga menghasilkan luaran berupa buku pedoman notasi karawitan yang lebih rapi dan sistematis. Buku tersebut memuat 90 judul gendhing dalam 94 halaman dan telah disusun berdasarkan kelompok laras sehingga lebih mudah digunakan dalam kegiatan latihan.

Nilai penting dari kegiatan ini terletak pada integrasi antara penguatan sumber daya manusia dan penyelamatan literatur budaya. Program tidak hanya menjawab persoalan regenerasi pelaku tradisi lisan, tetapi juga memberikan solusi terhadap kendala pengelolaan arsip yang dihadapi kelompok karawitan.

Meskipun demikian, durasi pelatihan yang relatif singkat menjadi salah satu keterbatasan kegiatan sehingga kemampuan pambiwara peserta belum berkembang secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut berupa penyediaan ruang praktik secara rutin bagi pemuda dalam berbagai kegiatan masyarakat. Pemerintah desa dan kelompok kesenian juga dapat mengembangkan buku pedoman notasi tersebut menjadi arsip budaya digital agar lebih aman, mudah diakses, dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Seksi Pengelola KKN, Subdirektorat KKN dan Ormawa, Direktorat Kemahasiswaan Universitas Sebelas Maret (UNS) yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan KKN periode Juli–Agustus 2026. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Klaten yang telah menjadi mitra dalam pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat.

REFERENSI

Arfianingrum, P. (2020). Penerapan unggah-ungguh bahasa Jawa sesuai dengan konteks tingkat tutur budaya Jawa. Jurnal Prakarsa Paedagogia, 3(2), 137–141. https://doi.org/10.24176/jpp.v3i2.6963

Astari, N. M., & Efelina, V. (2021). Penerapan PRA pada usaha susu kedelai. Integritas: Jurnal Pengabdian, 5(1), 164–172. https://doi.org/10.36841/integritas.v5i1.919

Fathurahman, O. (2015). Filologi Indonesia: Teori dan Metode. Jakarta: Prenada Media.

Rochayanti, C., Pujiastuti, E. E., & Warsiki, A. (2012). Sosialisasi budaya lokal dalam keluarga Jawa. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(3), 308–320.

Saddhono, K., & Rohmadi, M. (2014). A sociolinguistics study on the use of the Javanese language in the learning process in primary school in Surakarta, Central Java, Indonesia. International Education Studies, 7(6), 25–30. https://doi.org/10.5539/ies.v7n6p25

Setyawan, A. D. (2017). Karawitan Jawa sebagai media belajar dan media komunikasi sosial. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 3(2), 78–82. https://doi.org/10.30738/trihayu.v3i2.825

Trapsila, A. P. (2017). Pengembangan program pemberdayaan masyarakat melalui lembaga amil zakat, infak, dan shodaqoh (ZIS) berbasis energi terbarukan di Indonesia. El Dinar: Jurnal Keuangan & Perbankan Syariah, 5(1), 9–16. https://doi.org/10.18860/ed.v5i1.5231

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/peningkatan-keterampilan-pambiwara-dan-karawitan-sebagai-upaya-penguatan-karakter-masyarakat-desa-bandungan/97689/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.10 WITA

  • #Desa Bandungan
  • #Karawitan
  • #Pambiwara
  • #Pelestarian Budaya
  • #Seni Tradisional
  • #Tradisi Lisan
  • #Universitas Sebelas Maret

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.