JurnalPost.com, Jakarta – Tim dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan University of Batangas, Filipina, menggelar workshop bertajuk “Deteksi Kesehatan Mental Murid sebagai Upaya Peningkatan School Readiness untuk Guru BK SMK di Jakarta Timur”.
Kegiatan yang berlangsung di Aula SMK Negeri 26 Jakarta, Kamis (9/7/2026), tersebut diikuti guru Bimbingan dan Konseling (BK) dari berbagai SMK di Jakarta Timur.
Workshop ini menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Internasional dalam skema EQUITY. Program tersebut bertujuan memperkuat kemampuan guru dalam mendeteksi kondisi psikologis dan emosional murid sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih serius.
Kegiatan dipimpin oleh Dr. Dewi Justitia, M.Pd., Kons., selaku ketua tim pelaksana. Tim tersebut juga beranggotakan Lucky Nindi Riandika M., S.Pd., M.Pd., dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ, dan Rani Anggrainy, S.Pd., M.T., dosen Fakultas Teknik UNJ.
Dalam sambutannya, Dewi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kolaborasi internasional ini memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas guru SMK untuk mendukung kesehatan mental murid.
Penguatan tersebut mencakup aspek akademik, emosional, dan sosial sehingga murid memiliki kesiapan sekolah atau *school readiness* yang baik dalam menyambut tahun ajaran baru.
Dr. Alvin Ryan A. Dizon dan Ms. Catherine G. Javier dari University of Batangas turut memberikan perspektif mengenai penerapan layanan kesehatan mental berbasis sekolah di Filipina.
Kegiatan ini juga terselenggara atas kerja sama dengan Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur serta Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Wilayah Jakarta Timur.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Timur, M. Fahmi, mengapresiasi pelaksanaan workshop karena dinilai sejalan dengan upaya meningkatkan kompetensi guru BK di wilayahnya.
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada sejumlah langkah sederhana untuk mendeteksi kesehatan mental murid sejak dini. Langkah itu meliputi pengamatan terhadap perubahan perilaku, kemampuan mengelola emosi, kualitas hubungan sosial, motivasi belajar, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Peserta juga mempelajari penggunaan instrumen skrining sederhana untuk membantu mengidentifikasi murid yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut tanpa memberikan label ataupun diagnosis.
Materi disampaikan oleh Dr. Alvin Ryan A. Dizon, Ms. Catherine G. Javier, Dr. Iriani Indri Hapsari, M.Psi., Psikolog, serta Santi Yudhistira, M.Psi., Psikolog.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat layanan preventif di sekolah sehingga permasalahan murid bisa ditangani secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Kolaborasi dengan akademisi Filipina turut memberikan wawasan internasional mengenai praktik terbaik dalam pengembangan layanan kesehatan mental berbasis sekolah.
Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun budaya sekolah yang mendukung kesejahteraan psikologis murid melalui komunikasi positif, penguatan keterampilan sosial dan emosional, serta kolaborasi antara guru BK, guru mata pelajaran, orang tua, dan pihak sekolah.
Melalui diskusi interaktif dan studi kasus, peserta diajak memahami bahwa deteksi dini bukan hanya bertujuan menemukan murid yang sedang mengalami kesulitan. Deteksi dini juga diperlukan untuk mengenali potensi dan faktor pelindung yang dapat membantu murid berkembang secara optimal.
Pada kegiatan tersebut, tim *community development* UNJ turut membagikan buku panduan asesmen deteksi dini kesiapan sekolah kepada guru BK SMK di Jakarta Timur.

Program ini menghasilkan sejumlah luaran, antara lain modul pelatihan deteksi dini kesehatan mental dan *school readiness* murid SMK, poster, video profil, publikasi media massa, serta artikel ilmiah pengabdian kepada masyarakat.
Tim dosen UNJ bersama University of Batangas berharap kompetensi yang diperoleh para guru BK dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah masing-masing.
Dengan demikian, sekolah diharapkan mampu membangun layanan bimbingan dan konseling yang lebih preventif, responsif, serta berorientasi pada kesejahteraan psikologis dan kesiapan sosial-emosional peserta didik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda