Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Gaji Dosen dan Masa Depan Pendidikan Tinggi

Gaji Dosen dan Masa Depan Pendidikan Tinggi

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
08 Juli 2026, 09.06 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Gaji Dosen
Ilustrasi

Oleh: Naurah Lisnarini, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

JurnalPost.com - Belakangan ini, media sosial dipenuhi perdebatan mengenai gaji dosen. Berawal dari kesaksian seorang dosen dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi, angka gaji pokok Rp2,7 juta segera menjadi viral. Hanya perlu beberapa jam ruang digital dipenuhi berbagai komentar. Ada yang menjadikannya bukti bahwa dosen belum sejahtera, sementara yang lain menanggapinya dengan menunjukkan bahwa banyak dosen memperoleh penghasilan jauh lebih tinggi. Fenomena ini memperlihatkan satu hal yang menarik diskusi publik lebih cepat bereaksi terhadap angka daripada memahami isi persoalan yang sedang dibahas. Padahal, angka hanyalah pintu masuk sebuah persoalan, bukan keseluruhan persoalan itu sendiri.

IKLAN

Menurut kajian komunikasi, kondisi seperti ini dapat dijelaskan melalui konsep framing yang diperkenalkan Robert M. Entman. Sebuah isu dipahami publik bukan semata-mata berdasarkan fakta, melainkan berdasarkan aspek mana yang paling ditonjolkan. Ketika angka Rp2,7 juta menjadi sorotan utama, perhatian masyarakat pun bergeser pada perdebatan mengenai benar atau salahnya nominal tersebut. Akibatnya, pembahasan mengenai sistem penggajian dosen, status kepegawaian, hingga kebijakan pendanaan pendidikan tinggi justru tenggelam. Masyarakat seolah hanya fokus terhadap “nominal” nya.

Andi Azhar
Baca Juga

Bawa Gagasan dan Pengalaman soal Internasionalisasi dan Sertifikasi Profesi, Dosen UM Bengkulu Diundang Jadi Pembicara di Malaysia

Padahal, sistem penghasilan dosen di Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar satu angka. Ada dosen aparatur sipil negara, PPPK, dosen tetap non-ASN di perguruan tinggi negeri berbadan hukum, dosen tetap yayasan, hingga dosen tidak tetap. Selain gaji pokok, terdapat remunerasi, tunjangan profesi, honor mengajar, insentif penelitian, dan berbagai komponen lain yang besarannya berbeda di setiap perguruan tinggi. Kompleksitas tersebut sulit dipahami apabila diskusi hanya berpusat pada nominal yang viral di media sosial.

Persoalan yang lebih mendasar sebenarnya telah diingatkan oleh sejumlah akademisi.Seperti Dosen Universitas Darussalam Gontor, Ali Musa Harahap menilai bahwa persoalan kesejahteraan dosen tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan gaji. Menurutnya, masalah tersebut berkaitan dengan struktur ekonomi politik pendidikan tinggi, mulai dari model pendanaan perguruan tinggi, prioritas anggaran negara, hingga ketimpangan antara tuntutan profesional terhadap dosen dengan penghargaan yang mereka terima. Sehingga rendahnya kesejahteraan dosen bukan sekadar persoalan administrasi penggajian, melainkan persoalan sistemik.

Data yang banyak beredar juga menunjukkan bahwa persoalan tersebut nyata. Masih banyak dosen terutama di perguruan tinggi swasta dan dosen non-ASN yang menerima penghasilan di bawah standar kebutuhan hidup layak. Namun ereka tetap dituntut menjalankan tridarma perguruan tinggi yakni mengajar, meneliti, melakukan pengabdian kepada masyarakat, menghasilkan publikasi ilmiah, memenuhi beban kinerja dosen, hingga berbagai tugas administratif. Ekspektasi terhadap kualitas pendidikan tinggi terus meningkat, tetapi peningkatan kesejahteraan dosen tidak selalu berjalan beriringan.

IKLAN

Namun persoalan tersebut nyaris tidak menjadi pusat pembahasan di media sosial. Karena yang lebih sering muncul justru perdebatan mengenai siapa yang paling benar dalam menyebut nominal gaji dosen. Ada yang membandingkan pengalaman pribadi, ada pula yang menunjukkan slip gaji atau menyebutkan besaran tunjangan. Diskusi yang seharusnya mengarah pada evaluasi kebijakan berubah menjadi adu pengalaman individual.

Dosen dan Warga
Baca Juga

Ketika Iuran Tak Lagi Cukup, Dosen dan Warga Mencari Jalan Baru

Fenomena ini menunjukkan tantangan komunikasi publik di era digital. Algoritma media sosial lebih menyukai informasi yang sederhana, emosional dan mudah diperdebatkan. Sebaliknya, penjelasan mengenai regulasi, struktur pendanaan pendidikan tinggi atau perbedaan status kepegawaian membutuhkan ruang yang lebih panjang dan tidak selalu menarik perhatian pengguna. Akibatnya, isu yang kompleks sering kali direduksi menjadi potongan informasi yang kehilangan konteks.

Padahal jika diskusi publik berhenti pada angka, maka peluang untuk mendorong perubahan kebijakan menjadi semakin kecil. Publik sibuk memperdebatkan apakah Rp2,7 juta merupakan angka yang benar, sementara pertanyaan yang lebih penting justru terabaikan. Apakah sistem penghasilan dosen telah menjamin kehidupan yang layak? Apakah perbedaan status kepegawaian masih menciptakan kesenjangan kesejahteraan? Bagaimana negara memastikan profesi dosen tetap menarik bagi lulusan terbaik di tengah meningkatnya tuntutan akademik?

Berbagai pernyataan tersebut jauh lebih penting dibandingkan sekadar memperdebatkan nominal. Sebab, kesejahteraan dosen bukan hanya menyangkut kepentingan individu, tetapi juga kualitas pendidikan tinggi Indonesia. Sulit membayangkan perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan unggul, penelitian berkualitas, dan inovasi yang berdaya saing apabila tenaga pendidiknya terus dihadapkan pada ketidakpastian kesejahteraan.

Media sosial memang berhasil membawa isu gaji dosen menjadi perhatian nasional. Hal itu patut diapresiasi karena membuka ruang diskusi yang sebelumnya jarang mendapat sorotan. Namun, perhatian publik tidak boleh berhenti pada viralitas. Tantangan berikutnya adalah mengembalikan diskusi kepada substansi, yakni bagaimana membangun sistem penggajian yang adil, berkelanjutan, dan mampu menghargai profesionalisme dosen tanpa membedakan status kepegawaiannya.

Rekayasa Kosmetik ITERA
Baca Juga

Dosen Rekayasa Kosmetik ITERA Dampingi Siswa SMK Negeri 7 Bandar Lampung olah Bahan Alam menjadi Body Scrub

Polemik ini mengajarkan bahwa dalam era banjir informasi, tantangan terbesar bukan lagi memperoleh data, melainkan memahami konteksnya. Angka dapat memancing perhatian, tetapi hanya pemahaman yang utuh yang mampu melahirkan kebijakan yang tepat. Jika narasi publik terus berputar pada nominal, kita akan terus mengulang perdebatan yang sama tanpa pernah benar-benar menyentuh akar persoalan kesejahteraan dosen di Indonesia.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/gaji-dosen-dan-masa-depan-pendidikan-tinggi/95560/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.50 WITA

  • #Berita Dosen
  • #Gaji Dosen

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Pilihan Editor

  1. 1 Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya
  2. 2

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  3. 3

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  4. 4

    Dari Laboratorium ke Genggaman: Menelusuri Evolusi dan Cara Kerja Water Quality Field Test Kit

  5. 5

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.