Oleh : Ramadhenta Surya Ermawan, Chandra Puspita Wulandari
Menurut saya, ketika membahas dampak ketidakhadiran ayah dalam keluarga, masyarakat sering kali terlalu fokus pada persoalan ekonomi. Kita cenderung menganggap bahwa selama kebutuhan materi anak terpenuhi, maka tidak ada masalah yang berarti dalam proses tumbuh kembangnya. Padahal, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu kebutuhan emosional anak yang tidak kalah penting dibandingkan kebutuhan finansial. Belakangan ini, istilah fatherless semakin sering muncul dalam berbagai diskusi di media sosial. Banyak orang mulai menyadari bahwa ketidakhadiran ayah bukan hanya persoalan siapa yang mencari nafkah atau siapa yang tinggal di rumah.
Dalam pandangan saya, persoalan yang lebih besar justru terletak pada hilangnya figur yang berperan dalam memberikan rasa aman, validasi, dan dukungan emosional selama masa pertumbuhan anak. Saya melihat bahwa dampak dari kondisi ini sering kali tidak langsung terlihat. Tidak semua anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akan menunjukkan masalah perilaku atau kesulitan akademik. Sebagian bahkan terlihat baik-baik saja. Namun, luka emosional tidak selalu muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Pada beberapa kasus, dampaknya baru terlihat ketika seseorang mulai membangun hubungan dengan orang lain saat dewasa.
Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana ketidakhadiran ayah dapat berkaitan dengan munculnya perilaku avoidant atau kecenderungan menghindari kedekatan emosional. Banyak orang mengira bahwa individu dengan perilaku seperti ini memang tidak peduli terhadap hubungan atau lebih nyaman hidup sendiri. Padahal, menurut saya, kenyataannya jauh lebih kompleks daripada itu. Sering kali mereka sebenarnya menginginkan hubungan yang dekat dan bermakna seperti orang lain. Namun ketika hubungan mulai berkembang menjadi lebih serius dan intim secara emosional, muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Mereka memilih menjaga jarak, menghindari keterikatan, atau menarik diri ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat.
Bukan karena tidak memiliki perasaan, melainkan karena kedekatan tersebut terasa mengancam bagi rasa aman yang belum sepenuhnya terbentuk sejak kecil. Fenomena ini membuat saya berpikir bahwa kehadiran ayah bukan sekadar soal keberadaan fisik di dalam rumah. Seorang ayah bisa saja hadir setiap hari, tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional. Sebaliknya, ada pula ayah yang mungkin tidak selalu berada di rumah karena pekerjaan, tetapi tetap berusaha membangun kedekatan dengan anaknya. Dalam konteks ini, yang menurut saya paling penting bukan hanya keberadaan seorang ayah, melainkan kualitas hubungan yang terbangun antara ayah dan anak.
Meski demikian, saya juga berpandangan bahwa kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada generalisasi. Tidak semua individu yang tumbuh tanpa ayah akan mengalami kesulitan dalam hubungan. Begitu pula tidak semua orang yang memiliki kecenderungan avoidant berasal dari keluarga fatherless. Kehidupan manusia terlalu kompleks untuk dijelaskan oleh satu faktor saja. Lingkungan keluarga, pola pengasuhan, pengalaman hidup, hingga kondisi sosial juga memiliki pengaruh yang besar. Namun, mengabaikan peran ayah dalam perkembangan emosional anak juga bukan langkah yang tepat. Menurut saya, sudah saatnya kita mulai melihat bahwa kehadiran orang tua, khususnya ayah, bukan hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Anak juga membutuhkan ruang untuk didengar, dipahami, dan merasa aman secara emosional. Pada akhirnya, saya percaya bahwa pembahasan mengenai father absence bukan tentang mencari siapa yang salah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita memahami dampaknya dan membangun kesadaran bahwa hubungan emosional dalam keluarga memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang mencintai, mempercayai, dan menjalin hubungan di masa depan. Sebab dalam banyak situasi, luka yang paling membekas bukanlah luka yang terlihat, melainkan luka yang tumbuh dari ketidakhadiran seseorang yang seharusnya hadir.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda