Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. The Impact of Father Absence on Avoidant Behavior and Emotional Attachment

The Impact of Father Absence on Avoidant Behavior and Emotional Attachment

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
14 Agustus 2026, 18.46 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
The Impact of Father

Oleh : Ramadhenta Surya Ermawan, Chandra Puspita Wulandari

Menurut saya, ketika membahas dampak ketidakhadiran ayah dalam keluarga, masyarakat sering kali terlalu fokus pada persoalan ekonomi. Kita cenderung menganggap bahwa selama kebutuhan materi anak terpenuhi, maka tidak ada masalah yang berarti dalam proses tumbuh kembangnya. Padahal, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu kebutuhan emosional anak yang tidak kalah penting dibandingkan kebutuhan finansial. Belakangan ini, istilah fatherless semakin sering muncul dalam berbagai diskusi di media sosial. Banyak orang mulai menyadari bahwa ketidakhadiran ayah bukan hanya persoalan siapa yang mencari nafkah atau siapa yang tinggal di rumah.

IKLAN

Dalam pandangan saya, persoalan yang lebih besar justru terletak pada hilangnya figur yang berperan dalam memberikan rasa aman, validasi, dan dukungan emosional selama masa pertumbuhan anak. Saya melihat bahwa dampak dari kondisi ini sering kali tidak langsung terlihat. Tidak semua anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akan menunjukkan masalah perilaku atau kesulitan akademik. Sebagian bahkan terlihat baik-baik saja. Namun, luka emosional tidak selalu muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Pada beberapa kasus, dampaknya baru terlihat ketika seseorang mulai membangun hubungan dengan orang lain saat dewasa.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana ketidakhadiran ayah dapat berkaitan dengan munculnya perilaku avoidant atau kecenderungan menghindari kedekatan emosional. Banyak orang mengira bahwa individu dengan perilaku seperti ini memang tidak peduli terhadap hubungan atau lebih nyaman hidup sendiri. Padahal, menurut saya, kenyataannya jauh lebih kompleks daripada itu. Sering kali mereka sebenarnya menginginkan hubungan yang dekat dan bermakna seperti orang lain. Namun ketika hubungan mulai berkembang menjadi lebih serius dan intim secara emosional, muncul rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Mereka memilih menjaga jarak, menghindari keterikatan, atau menarik diri ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat.

IKLAN

Bukan karena tidak memiliki perasaan, melainkan karena kedekatan tersebut terasa mengancam bagi rasa aman yang belum sepenuhnya terbentuk sejak kecil. Fenomena ini membuat saya berpikir bahwa kehadiran ayah bukan sekadar soal keberadaan fisik di dalam rumah. Seorang ayah bisa saja hadir setiap hari, tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional. Sebaliknya, ada pula ayah yang mungkin tidak selalu berada di rumah karena pekerjaan, tetapi tetap berusaha membangun kedekatan dengan anaknya. Dalam konteks ini, yang menurut saya paling penting bukan hanya keberadaan seorang ayah, melainkan kualitas hubungan yang terbangun antara ayah dan anak.

Meski demikian, saya juga berpandangan bahwa kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada generalisasi. Tidak semua individu yang tumbuh tanpa ayah akan mengalami kesulitan dalam hubungan. Begitu pula tidak semua orang yang memiliki kecenderungan avoidant berasal dari keluarga fatherless. Kehidupan manusia terlalu kompleks untuk dijelaskan oleh satu faktor saja. Lingkungan keluarga, pola pengasuhan, pengalaman hidup, hingga kondisi sosial juga memiliki pengaruh yang besar. Namun, mengabaikan peran ayah dalam perkembangan emosional anak juga bukan langkah yang tepat. Menurut saya, sudah saatnya kita mulai melihat bahwa kehadiran orang tua, khususnya ayah, bukan hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Anak juga membutuhkan ruang untuk didengar, dipahami, dan merasa aman secara emosional. Pada akhirnya, saya percaya bahwa pembahasan mengenai father absence bukan tentang mencari siapa yang salah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita memahami dampaknya dan membangun kesadaran bahwa hubungan emosional dalam keluarga memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang mencintai, mempercayai, dan menjalin hubungan di masa depan. Sebab dalam banyak situasi, luka yang paling membekas bukanlah luka yang terlihat, melainkan luka yang tumbuh dari ketidakhadiran seseorang yang seharusnya hadir.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

 

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/the-impact-of-father-absence-on-avoidant-behavior-and-emotional-attachment/97094/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 14.51 WITA

  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Pilihan Editor

  1. 1 Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan
  2. 2

    Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  3. 3

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  4. 4

    KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

  5. 5

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.