Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Tembok Antara Angka dan Derita

Tembok Antara Angka dan Derita

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
11 Agustus 2026, 14.53 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Antara Angka

"Kalau gak punya angka, gausah berbicara terlalu jauh"

Oleh: Zuleyka Naura Qhaerunisa, Mahasiswa aktif Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia

IKLAN

JurnalPost.com - Ada rakyat yang mengeluh tentang harga kebutuhan harian yang terasa semakin memberatkan. Uang yang dulu cukup untuk seminggu, kini hanya mampu bertahan dalam hitungan hari. Biaya hidup kian menanjak, sementara kondisi dompet tidak pernah membaik.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Kemudian dibalas oleh yang bersangkutan dengan grafik dan data empiris yang dirasa benar. Katanya inflasi terkendali, dan daya beli masyarakat membaik. Konon, ada indikator yang membuktikan bahwa keadaan tidak seburuk apa yang diteriakan orang-orang.

Janggal.

Keduanya berbicara tentang kenyataan yang sama dan apa yang sebenarnya. Tapi, percakapan tersebut rasanya tidak pernah benar-benar bertemu dan sejalan.

Pola ini seringkali muncul dalam diskusi publik, termasuk ketika masyarakat membahas tentang kebijakan yang paling banyak diperbincangkan yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di satu sisi, pemerintah menekankan bahwa ini adalah investasi jangka panjang untuk Indonesia. Sebagian orang menyambutnya dengan antusias dan sebagian lainnya bertanya-tanya apakah ini adalah jawaban yang tepat atas permasalahan yang sebenarnya mereka hadapi sehari-hari. Ada yang merasa bahwa urgensi sebenarnya justru terletak pada konteks lapangan pekerjaan, harga kebutuhan pokok, atau akses pendidikan yang lebih merata.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Anehnya, pembahasan mengenai hal ini tidak pernah benar-benar berjalan dan mempertemukan keduanya pada satu arah perdebatan. Ketika pengalaman harus berhadapan dengan data. Diskusi berjalan seperti dua pihak yang berbicara dalam bahasa yang berbeda, walaupun memang tidak ada yang sepenuhnya benar dengan keduanya.

Melihat dari pandangan salah satu filsuf Prancis, Foucault, pernah mengingatkan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk hukuman, ataupun perintah. Kadang, kekuasaan muncul dalam bentuk yang lebih awam yaitu pengetahuan. Baginya, keterkaitan antara pengetahuan dan kekuasaan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Pihak yang memiliki kekuasaan untuk menciptakan pengetahuan juga memegang kekuatan untuk menetapkan apa yang dianggap sebagai kebenaran.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita cenderung beranggapan bahwa angka adalah sesuatu yang objektif. Data grafik terkesan lebih meyakinkan daripada keluhan semata. Namun, persoalan muncul ketika bentuk pengetahuan yang dianggap benar hanya berhenti pada angka-angka tersebut. Akibatnya, pengalaman menjadi hal yang dikesampingkan.

Kalau seribu orang merasa biaya hidupnya terlalu berat, kita akan meminta survei.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Kalau warga mengeluh kebijakan tidak menyelesaikan permasalahan mereka, kita akan minta indikator.

Kalau banyak orang mengatakan belum merasakan manfaatnya, kita akan minta data.

IKLAN

Seolah-olah pengalaman dan apa yang dirasakan rakyat perlu diubah jadi angka agar layak dipercaya. Padahal, tidak semuanya bisa dirangkum ke dalam tabel.

Ini tidak berarti data tidak penting. Justru sebaliknya. Kebijakan publik tanpa data hanya akan menjadi kumpulan hipotesa yang tidak berarah.

Namun ada perbedaan antara memakai data sebagai alat memahami masyarakat serta memakai data sebagai cara mengakhiri percakapan dengan masyarakat.

Yang pertama membuka dialog.

Yang kedua menutupnya.

Sayangnya, dalam banyak diskusi publik, data sering diperlakukan layaknya kartu truf. Begitu angka dikeluarkan, pengalaman dianggap selesai dibahas.

Padahal dapat saja keduanya benar pada waktu yang bersamaan.

Program bisa berjalan sesuai target, namun sebagian masyarakat tetap merasa kebutuhan mereka belum terjawab.

Indikator dapat menunjukkan kemajuan, sementara warga masih menyimpan kegelisahan.

Laporan bisa terlihat memuaskan, namun pengalaman hidup tidak otomatis ikut membaik pada kecepatan yang sama.

Sebenarnya angka juga berasal dari pilihan-pilihan manusia. Kita memutuskan apa yang akan diukur, cara mengukurnya, serta indikator apa yang dianggap penting. Artinya, data tidak pernah sepenuhnya bebas dari pandangan tertentu terhadap dunia.

Karena sebenarnya, demokrasi memerlukan lebih dari sekedar kebebasan berpendapat dalam masyarakat. Demokrasi juga membutuhkan pemerintahan yang dapat mengakui bahwa pengalaman masyarakat merupakan bagian dari pengetahuan yang layak dipertimbangkan. Ini karena, pada akhirnya, kebijakan publik tidak bisa hanya dinilai dari seberapa baik adanya di dalam laporan, tetapi juga dari bagaimana kebijakan tersebut dirasakan oleh mereka yang menjadi sasarannya.

Mungkin tantangan terbesar kita bukan karena datanya kurang atau kritiknya terlalu banyak. Tantangannya adalah adanya kecenderungan untuk percaya bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk memahami kenyataan. Selama pengalaman masyarakat masih harus diubah menjadi angka untuk melihatnya menjadi sebuah urgensi, selama itu pula akan selalu ada jarak antara aspirasi rakyat dengan tanggapan pemerintah.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/tembok-antara-angka-dan-derita/96864/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.56 WITA

  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Pilihan Editor

  1. 1 Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan
  2. 2

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  3. 3

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  4. 4

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  5. 5

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.