Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Tanpa Dia, Kita Tidak Bisa Menikmati Durian

Tanpa Dia, Kita Tidak Bisa Menikmati Durian

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
09 Juli 2026, 14.47 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Durian
Ilustrasi

Penulis: Desrayni Hanadhita dan Srihadi Agungpriyono, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB

JurnalPost.com - Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata kelelawar? Bagi sebagian orang, hewan ini identik dengan suasana gelap, menyeramkan, bahkan dianggap sebagai pembawa berbagai penyakit. Pandangan tersebut semakin menguat sejak beberapa wabah penyakit menular dikaitkan dengan kelelawar sebagai salah satu inang alami berbagai virus.

IKLAN

Namun, pernahkah kita membayangkan dunia tanpa kelelawar?

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Mungkin kita akan kehilangan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: durian.

Ya, buah yang dijuluki "raja buah" dan saat ini sedang mulai masuk musimnya di Indonesia itu ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelelawar. Ketika malam tiba dan sebagian besar manusia terlelap, kelelawar pemakan nektar mulai bekerja. Mereka berpindah dari satu bunga durian ke bunga lainnya untuk mengisap nektar. Tanpa disadari, serbuk sari menempel pada tubuh mereka dan terbawa ke bunga berikutnya. Proses sederhana inilah yang disebut penyerbukan, langkah awal terbentuknya buah durian yang kemudian kita nikmati.

Tidak hanya durian. Berbagai tanaman lain seperti petai, jengkol, kapuk, dan beberapa jenis pisang juga memperoleh manfaat dari aktivitas kelelawar. Bahkan di berbagai belahan dunia, kelelawar menjadi penyerbuk utama ratusan spesies tumbuhan yang bernilai ekonomi maupun ekologis. Dengan kata lain, ketika kelelawar bekerja pada malam hari, mereka sesungguhnya sedang membantu menjaga ketahanan pangan dan kelestarian hutan.

Di balik manfaat besarnya, kelelawar memiliki sisi lain yang menarik perhatian para ilmuwan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hewan ini merupakan tempat hidup alami bagi banyak jenis virus, termasuk beberapa virus yang berpotensi menginfeksi hewan lain maupun manusia. Yang membuat para peneliti semakin penasaran adalah satu fakta unik: kelelawar sering kali tetap terlihat sehat meskipun tubuhnya membawa virus-virus tersebut.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Mengapa demikian?

IKLAN

Jawabannya terletak pada sistem kekebalan tubuh kelelawar yang sangat istimewa. Kelelawar memiliki mekanisme pertahanan yang berbeda dibandingkan sebagian besar mamalia lainnya. Saat terbang, suhu tubuh kelelawar dapat meningkat drastis menyerupai kondisi demam pada manusia. Keadaan ini diduga turut membentuk sistem imun yang sangat efisien dalam mengendalikan infeksi.

Selain itu, kelelawar memiliki respons kekebalan yang mampu menekan perkembangan virus tanpa menimbulkan peradangan berlebihan. Pada manusia, justru respons imun yang terlalu kuat sering kali menjadi penyebab kerusakan organ saat terjadi infeksi virus. Pada kelelawar, keseimbangan antara melawan virus dan mengendalikan peradangan berlangsung jauh lebih baik. Akibatnya, virus dapat tetap berada di dalam tubuh mereka tanpa menyebabkan gejala penyakit yang berarti.

Keunikan inilah yang menjadikan kelelawar sebagai salah satu objek penelitian paling menarik dalam dunia biologi, kedokteran, dan kesehatan masyarakat. Para ilmuwan berharap, dengan memahami sistem imun kelelawar, kita dapat menemukan cara baru untuk mengatasi penyakit infeksi pada manusia.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Namun, fakta bahwa kelelawar dapat membawa berbagai virus bukan berarti kita harus memusuhi atau membasmi mereka. Sebaliknya, yang perlu kita lakukan adalah memahami cara hidupnya dan mengurangi peluang terjadinya penularan penyakit.

Sebagian besar penularan penyakit tidak terjadi hanya karena keberadaan kelelawar. Risiko meningkat ketika habitat satwa liar rusak, ketika manusia menangkap atau memperjualbelikan satwa liar, atau ketika terjadi kontak langsung antara manusia, ternak, dan kelelawar tanpa pengelolaan yang baik. Dengan kata lain, masalah utamanya bukan pada kelelawarnya, melainkan pada cara manusia berinteraksi dengan alam.

Inilah mengapa pendekatan One Health semakin penting. Pendekatan ini mengajarkan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Melindungi habitat kelelawar, mengurangi perburuan satwa liar, memperkuat biosekuriti pada peternakan, dan meningkatkan surveilans penyakit merupakan langkah yang jauh lebih bijaksana daripada melakukan pembasmian.

Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa menghilangkan satu spesies dari ekosistem justru dapat memunculkan masalah baru yang tidak kita duga sebelumnya. Jika populasi kelelawar menurun drastis, proses penyerbukan berbagai tanaman juga dapat terganggu. Akibatnya, produksi buah menurun, regenerasi hutan terhambat, dan keseimbangan ekosistem ikut terganggu.

Ironisnya, hewan yang sering kita takuti itu justru bekerja tanpa pamrih setiap malam. Saat kita tidur, mereka membantu bunga-bunga berkembang menjadi buah. Mereka menjaga keberlanjutan hutan, mendukung keanekaragaman hayati, dan berkontribusi terhadap sumber pangan yang kita nikmati.

Jadi, lain kali ketika menikmati buah durian yang lezat dan harum, mungkin ada baiknya kita mengingat satu pekerja malam yang jarang mendapat penghargaan. Kelelawar memang menyimpan berbagai misteri ilmiah yang masih terus dipelajari, termasuk hubungan uniknya dengan berbagai virus. Karena itu, kita harus tetap waspada, memperkuat pengawasan penyakit, dan menghindari kontak yang tidak perlu dengan satwa liar. Namun, kewaspadaan tidak boleh berubah menjadi kebencian. Sebab, tanpa kelelawar, mungkin kita tidak akan lagi menikmati durian seperti yang kita kenal hari ini. Kadang-kadang, makhluk yang paling sering disalahpahami justru adalah salah satu penjaga kehidupan yang paling penting.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/tanpa-dia-kita-tidak-bisa-menikmati-durian/95616/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 17.59 WITA

  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Pilihan Editor

  1. 1 Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan
  2. 2

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  5. 5

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.