SEKADAU, JurnalPost.com — Pemandangan tidak biasa terlihat di aliran Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Memasuki puncak musim kemarau 2026, debit air sungai terpanjang di Indonesia itu menyusut drastis di sejumlah titik.
Hamparan pasir yang biasanya tersembunyi di bawah air kini muncul ke permukaan. Kondisi tersebut membuat kapal dan ponton kesulitan melintas karena alur sungai semakin dangkal.
Situasi mencolok antara lain terlihat di wilayah Desa Tanjung, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Di kawasan Sungai Raya, Dusun Teluk Pasir, hamparan pasir meluas hingga ke bagian tengah Sungai Kapuas.
Sebuah ponton bermuatan yang dilaporkan mengangkut kernel atau cangkang sawit bersama kapal pendorongnya bahkan kandas. Kapal tersebut disebut telah berada di lokasi selama lebih dari sebulan karena permukaan air terus menurun.
Fenomena itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah video memperlihatkan badan sungai yang biasanya dipenuhi air berubah menjadi hamparan pasir luas. Warga pun berdatangan pada sore hari untuk melihat langsung kondisi Sungai Kapuas yang menyerupai kawasan pantai musiman.
Namun, di balik pemandangan yang menarik perhatian tersebut, surutnya Sungai Kapuas membawa konsekuensi serius bagi masyarakat dan kegiatan ekonomi Kalimantan Barat.
Kemarau dan El Niño Tekan Curah Hujan
Penyusutan debit Sungai Kapuas terjadi bersamaan dengan kondisi musim kemarau yang lebih kering pada 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyatakan sebagian wilayah Indonesia menghadapi musim kemarau dengan kondisi lebih kering dari normal. BMKG juga mencatat pengaruh El Niño ikut menekan curah hujan di sejumlah daerah.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan dampak El Niño menjadi semakin terasa ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.
“Dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau,” kata Ardhasena.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Pada awal September, Sekadau termasuk wilayah di Kalimantan Barat yang berpotensi mengalami sifat hujan di bawah normal.
Kondisi kering tersebut juga telah menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Sekadau bersama Polres Sekadau menggelar salat Istisqa sebagai salah satu ikhtiar menghadapi musim kering serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Transportasi Sungai Mulai Terganggu
Bagi Kalimantan Barat, Sungai Kapuas bukan sekadar bentang alam. Sungai tersebut selama puluhan tahun menjadi salah satu jalur utama transportasi masyarakat sekaligus jalur distribusi berbagai komoditas dari kawasan pedalaman.
Sebagian besar aliran Sungai Kapuas dapat dilayari dan hingga kini masih menjadi urat nadi transportasi bagi masyarakat di sejumlah wilayah.
Karena itu, penyusutan kedalaman sungai berpotensi memberikan dampak berantai. Kapal berukuran besar membutuhkan kedalaman tertentu agar dapat membawa muatan secara aman.
Ketika permukaan air turun, risiko kapal kandas semakin tinggi. Operator kapal dapat terpaksa mengurangi muatan, menunda perjalanan, hingga menghentikan aktivitas sementara.
Kondisi tersebut kini terlihat nyata di Sekadau. Ponton yang kandas di hamparan pasir menjadi gambaran bagaimana kemarau tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga mengganggu jalur logistik berbasis sungai.
Industri Sawit Ikut Terdampak
Dampak surutnya Sungai Kapuas juga mulai dirasakan sektor perkebunan kelapa sawit.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalimantan Barat, Indra Rustandi, mengatakan distribusi produk sawit di wilayah Kalimantan Barat bagian timur banyak mengandalkan jalur Sungai Kapuas.
Surutnya air membuat pengangkutan crude palm oil atau CPO dari sejumlah pabrik mengalami hambatan. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kapasitas penyimpanan di pabrik penuh hingga akhirnya memengaruhi pembelian tandan buah segar dari petani.
“Akibatnya, tangki penampungan CPO sejumlah PKS penuh. Kemudian PKS memberlakukan pembatasan pembelian TBS kelapa sawit,” ujar Indra.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kekeringan Sungai Kapuas dapat berkembang dari persoalan hidrologi menjadi persoalan ekonomi apabila berlangsung dalam waktu lama.
Selain distribusi CPO, aktivitas masyarakat yang bergantung pada transportasi sungai juga berpotensi terdampak apabila debit air terus menyusut.
Kondisi Sungai Kapuas Masih Perlu Dipantau
Masyarakat belum dapat sepenuhnya berharap kondisi Sungai Kapuas segera kembali normal. Curah hujan di sebagian wilayah Kalimantan Barat masih berpotensi rendah pada awal hingga pertengahan September.
Peningkatan curah hujan diperkirakan berlangsung secara bertahap ketika sejumlah wilayah mulai memasuki masa peralihan menuju musim penghujan.
Karena itu, kondisi Sungai Kapuas masih perlu dipantau dalam beberapa pekan mendatang, terutama di daerah yang menjadi jalur utama transportasi dan distribusi logistik.
Istilah “Sungai Kapuas mengering” yang ramai di media sosial juga perlu dipahami secara proporsional. Sungai Kapuas tidak mengering sepenuhnya di sepanjang alirannya.
Kondisi yang terjadi adalah penyusutan debit air secara signifikan di sejumlah titik, termasuk di Kabupaten Sekadau, hingga menyebabkan dasar sungai dan hamparan pasir muncul ke permukaan.
Fenomena tersebut menjadi pengingat betapa vitalnya Sungai Kapuas bagi Kalimantan Barat. Ketika airnya menyusut, dampaknya tidak berhenti pada perubahan pemandangan, tetapi dapat menjalar ke transportasi, perkebunan, distribusi barang, ketersediaan air, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda