Barru, JurnalPost.com — Pemerintah Kabupaten Barru memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi dampak fenomena El Nino yang mulai memicu kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan dan Antisipasi Bencana yang dibuka Sekretaris Daerah Kabupaten Barru, Andi Syarifuddin, S.IP., M.Si., di Ruang Data Kantor Bupati Barru, Senin (24/8/2026).
Rakor melibatkan berbagai unsur terkait sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca kering yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Andi Syarifuddin mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini membutuhkan langkah bersama dan koordinasi yang lebih intensif. Fenomena El Nino sebelumnya telah diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2026 sehingga pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah antisipasi.
“Rapat lintas sektor yang kita laksanakan hari ini berangkat dari kondisi yang kita hadapi saat ini. Fenomena El Nino sejak awal telah diperkirakan akan terjadi mulai Juni dan kemungkinan berlangsung cukup lama hingga Oktober,” ujar Andi Syarifuddin.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Barru sebelumnya telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana akibat kondisi cuaca kering.
Pemkab Barru juga telah menetapkan status siaga darurat bencana. Namun, perkembangan situasi di lapangan dinilai perlu kembali dievaluasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Andi menyebut dampak El Nino semakin dirasakan masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan bertambahnya titik kebakaran dan meningkatnya wilayah yang membutuhkan pelayanan distribusi air bersih.
“Kita melihat eskalasi yang ada. Setiap hari ada saja titik kebakaran, kemudian titik-titik yang membutuhkan pelayanan air bersih juga semakin bertambah. Karena itu, kita perlu duduk bersama untuk menentukan apa yang harus kita lakukan,” katanya.
Puluhan Titik Panas Terdeteksi
Sekda Barru turut menyoroti munculnya sejumlah titik panas yang terpantau melalui sistem pemantauan satelit. Dalam satu malam, menurut laporan yang diterima, jumlah titik panas di wilayah Kabupaten Barru bahkan pernah mencapai sekitar 40 titik.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa titik panas yang terpantau satelit tidak seluruhnya dapat langsung dikategorikan sebagai kebakaran hutan dan lahan.
Sebagian titik panas dapat berasal dari aktivitas masyarakat, termasuk pembakaran dalam proses pembersihan lahan.
“Ini menjadi perhatian kita semua karena kondisi lahan yang sangat kering membuat api mudah membesar dan sulit dikendalikan. Kebiasaan membakar lahan untuk membersihkan area juga memiliki risiko yang sangat besar dalam kondisi seperti sekarang,” ujarnya.
Kondisi lahan yang mengering membuat potensi penyebaran api semakin tinggi, khususnya apabila pembakaran dilakukan tanpa pengawasan yang memadai.
Ketersediaan Air Bersih Mulai Terdampak
Selain kebakaran, El Nino turut berdampak terhadap ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah Kabupaten Barru.
Berkurangnya debit sumber air menyebabkan sebagian jaringan pelayanan air tidak dapat berfungsi secara normal. Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak menjadi salah satu prioritas penanganan pemerintah daerah.
Sekda Barru mengapresiasi jajaran TNI dan Polri yang selama ini aktif membantu masyarakat dalam menangani berbagai kejadian kebakaran.
Keterlibatan aparat bersama masyarakat dinilai sangat penting, terutama dalam penanganan kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam kebakaran.
Andi Syarifuddin juga mengapresiasi dukungan PLN dalam membantu penanganan bencana, termasuk melalui penyediaan peralatan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu pengadaan maupun distribusi air ke wilayah terdampak.
Ia berharap dukungan peralatan tersebut dapat ditingkatkan sehingga kemampuan pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder dalam merespons kondisi darurat semakin optimal.
Status Darurat Bencana Mulai Dipertimbangkan
Rakor lintas sektor tersebut sekaligus menjadi forum untuk membahas kemungkinan peningkatan status penanganan dari siaga darurat menjadi darurat bencana.
Andi menegaskan, keputusan peningkatan status akan didasarkan pada perkembangan kondisi lapangan, data yang tersedia, serta masukan dari seluruh unsur yang terlibat.
“Apakah status ini segera kita tingkatkan dari siaga bencana menjadi darurat bencana, tentu kesimpulannya akan kita ambil berdasarkan diskusi dan masukan dari kita semua,” jelasnya.
Ia meminta seluruh peserta rakor menyampaikan data, rekomendasi, serta gambaran kondisi di lapangan secara objektif agar pemerintah daerah dapat mengambil keputusan yang tepat.
Curah Hujan Barru Sangat Rendah
Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Barru menjelaskan bahwa berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Kabupaten Barru sepanjang Agustus hingga 24 Agustus 2026 berada pada kisaran 0–20 milimeter per bulan.
Curah hujan diperkirakan masih berada pada kategori rendah pada September 2026.
Kondisi tersebut mulai berdampak pada ketersediaan air masyarakat dan sektor pertanian, terutama di wilayah barat dan selatan Kabupaten Barru.
Pemerintah Kabupaten Barru telah menetapkan status siaga darurat sejak 21 Juli hingga 30 September 2026. Karena itu, koordinasi lintas sektor, pencegahan kebakaran, serta pelayanan air bersih kepada masyarakat terdampak menjadi prioritas.
“Pencegahan dan kesiapsiagaan harus dilakukan bersama. Kita tidak hanya menunggu dampak terjadi,” tegasnya.
Rakor turut dihadiri unsur Forkopimda, jajaran TNI dan Polri, PLN ULP Barru, BPBD Kabupaten Barru, pimpinan organisasi perangkat daerah terkait, perwakilan camat se-Kabupaten Barru, serta stakeholder lainnya.
Melalui koordinasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Barru menegaskan komitmennya memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi dampak El Nino sekaligus memastikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat tetap berjalan di tengah meningkatnya risiko bencana.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda