BOGOR, JurnalPost.com - Sekolah Vokasi IPB University melalui Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi (MIJMG) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Saung AEWO, Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemantauan pertumbuhan balita sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini.
Melalui penyuluhan gizi dan pelayanan pengukuran berat serta tinggi badan, para orang tua diberikan pemahaman mengenai cara memantau tumbuh kembang anak secara tepat. Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 ibu yang memiliki balita dan enam kader posyandu setempat.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi IPB University, Dr. Ir. Rina Martini, M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pemantauan pertumbuhan anak secara rutin agar gangguan pertumbuhan dapat dikenali lebih awal.
“Meskipun sederhana, penimbangan badan setiap bulan penting karena merupakan salah satu cara paling mudah untuk memantau pertumbuhan anak,” ujar Rina.
Menurutnya, pemantauan pertumbuhan bukan sekadar mencatat angka berat badan, tetapi juga menjadi dasar untuk mengetahui apakah perkembangan anak telah sesuai dengan usianya.
Sekretaris Kelurahan Mulyaharja, Taufik Hidayat, S.A.P., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi akademisi IPB University dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, dan kader posyandu diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan masalah gizi melalui pendekatan edukatif yang langsung menyentuh kebutuhan keluarga.
Kenalkan Filosofi 3T untuk Pemantauan Gizi Balita
Sesi penyuluhan menghadirkan dua narasumber dari Sekolah Vokasi IPB University, yakni Annisa Rizkiriani, S.Gz., M.Si., dan Rosyda Dianah, S.K.M., M.K.M.
Keduanya menyampaikan materi pemantauan status gizi balita dengan mengadaptasi panduan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 2024 melalui pendekatan 3T, yaitu Tepat Cara, Tepat Catat, dan Tindak Lanjut.
Pada prinsip Tepat Cara, peserta diperkenalkan dengan prosedur pengukuran antropometri yang sesuai standar. Pengukuran berat badan maupun panjang atau tinggi badan harus menggunakan alat yang memenuhi standar dan dilakukan dengan teknik yang benar agar hasilnya akurat.
Saat penimbangan, anak dianjurkan tidak menggunakan alas kaki dan mengenakan pakaian seminimal mungkin. Sementara itu, pengukuran panjang atau tinggi badan dilakukan dengan memperhatikan posisi tubuh serta penggunaan alat yang sesuai dengan usia anak.
Selanjutnya, prinsip Tepat Catat menekankan pentingnya pencatatan hasil pengukuran secara berkala pada grafik pertumbuhan dalam Buku KIA, termasuk Kartu Menuju Sehat (KMS).
Pencatatan tersebut membantu orang tua dan kader posyandu melihat pola kenaikan berat badan dari waktu ke waktu, sekaligus mengenali tanda-tanda gangguan pertumbuhan yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Adapun prinsip Tindak Lanjut mengajarkan peserta untuk tidak mengabaikan hasil pengukuran yang menunjukkan pertumbuhan kurang optimal.
Apabila grafik pertumbuhan anak cenderung mendatar atau menurun, orang tua perlu melakukan evaluasi terhadap pola pemberian makanan, kemungkinan penyakit infeksi, serta faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi gizi anak. Pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan diperlukan apabila ditemukan tanda gangguan pertumbuhan.
Melalui pendekatan tersebut, orang tua diharapkan tidak hanya rutin datang ke posyandu, tetapi juga memahami arti hasil pengukuran dan langkah yang perlu dilakukan setelahnya.
Diskusi Interaktif Bahas Persoalan Gizi Anak
Selain mendapatkan materi penyuluhan, peserta berkesempatan berkonsultasi langsung dengan narasumber mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam merawat balita.
Salah satu pertanyaan yang mengemuka berkaitan dengan kondisi anak yang aktif dan memiliki nafsu makan baik, tetapi berat badannya sulit meningkat.
Dalam pembahasan kasus tersebut, narasumber menjelaskan bahwa riwayat infeksi berulang, termasuk gangguan pencernaan seperti muntaber, dapat memengaruhi penyerapan zat gizi dan pertumbuhan anak.
Persoalan lain yang dibahas ialah praktik pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) sebelum bayi berusia enam bulan. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan pengaruh kebiasaan pengasuhan dalam keluarga, meskipun kader posyandu telah memberikan edukasi mengenai pentingnya ASI eksklusif.
Diskusi juga menyinggung kasus bayi berusia lima bulan dengan berat badan mencapai 10 kilogram, sementara berat lahirnya tercatat 3 kilogram.
Narasumber mengingatkan pentingnya evaluasi status gizi menggunakan standar pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin anak. Berat badan saja tidak cukup untuk menetapkan diagnosis gizi lebih atau obesitas.
Orang tua juga mendapat arahan mengenai pentingnya mempertahankan ASI eksklusif hingga usia enam bulan, memberikan stimulasi perkembangan motorik sesuai tahapan usia, serta memantau pertumbuhan anak melalui tenaga kesehatan.
Berbagai pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi balita tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh pengetahuan orang tua, pola pengasuhan, dan kondisi kesehatan anak.
Untuk menciptakan suasana kegiatan yang lebih nyaman, tim pengabdian turut menyediakan media mewarnai bertema pemantauan status gizi di posyandu bagi anak-anak yang hadir bersama orang tua mereka.
Lurah Mulyaharja Ingatkan Pentingnya Pangan Lokal Bergizi
Menutup rangkaian kegiatan, Lurah Mulyaharja, Muslim Yuliantono, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program pengabdian masyarakat yang dilakukan Sekolah Vokasi IPB University.
Ia menilai edukasi mengenai gizi anak penting untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus membangun kesadaran bahwa pemenuhan kebutuhan gizi tidak selalu memerlukan bahan makanan mahal.
“Makanan bergizi bisa didapatkan dari pangan lokal, tidak harus mahal. Jangan beda-bedakan anak laki-laki dan perempuan, semua harus mendapatkan makanan yang bergizi,” tegas Muslim.
Ia juga mengajak para orang tua untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, termasuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan makanan bergizi secara adil dan sesuai kebutuhannya.
Menurutnya, keberhasilan upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari keluarga, kader posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah, hingga kalangan akademisi.
Melalui kegiatan ini, Sekolah Vokasi IPB University berharap pengetahuan mengenai pemantauan pertumbuhan balita dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Mulyaharja.
Para peserta juga diharapkan mampu membagikan informasi yang diperoleh kepada keluarga dan lingkungan sekitar sehingga kesadaran terhadap pentingnya pemantauan status gizi anak semakin meningkat.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung upaya pencegahan stunting sekaligus mendorong terbentuknya generasi yang lebih sehat melalui penguatan edukasi gizi di tingkat keluarga.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda