BOGOR, JurnalPost.com - Upaya pencegahan stunting tidak selalu harus dimulai dengan program besar dan biaya mahal. Melalui pemanfaatan pangan lokal serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), keluarga dapat berperan langsung dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak sejak usia dini.
Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh tim Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi, IPB University, di Saung AEWO, Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, Senin (19/10/2026).
Mengusung tema “Tumbuh Kembang Optimal: Panduan Pintar MP-ASI & PMT untuk Balita Sehat”, kegiatan ini diikuti puluhan ibu balita dan kader posyandu yang antusias mempelajari pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pemanfaatan bahan pangan lokal, serta kebiasaan hidup bersih dalam mencegah stunting.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB tersebut dipimpin oleh Ksatriadi Widya Dwinugraha, S.Gz., M.Si., bersama tim pengabdian masyarakat dari Sekolah Vokasi IPB University.
Suasana penyuluhan berlangsung hangat dan interaktif. Sementara para ibu mengikuti pemaparan materi, anak-anak mereka diajak melakukan aktivitas mewarnai menggunakan gambar bertema PHBS yang menampilkan berbagai karakter menarik.
Aktivitas tersebut tidak hanya memberikan hiburan bagi anak-anak, tetapi juga menjadi sarana pengenalan kebiasaan hidup bersih sejak dini. Dengan demikian, para ibu dapat mengikuti penyuluhan secara lebih fokus dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan.
Pentingnya Pemenuhan Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Penyuluhan menghadirkan Dr. R.A. Hangesti Emi Widyasari, S.Pi., M.Si., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni periode sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Periode tersebut menjadi fase penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta pembentukan kemampuan kognitif anak. Kekurangan zat gizi dalam jangka panjang pada masa ini dapat meningkatkan risiko stunting dan memengaruhi perkembangan anak pada masa mendatang.
Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan kualitas dan keberagaman makanan yang diberikan kepada anak, terutama ketika memasuki masa pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI).
Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah bahwa makanan bergizi tidak harus mahal.
Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap pemenuhan gizi optimal memerlukan bahan makanan berharga tinggi, seperti daging impor atau ikan salmon. Padahal, berbagai bahan pangan lokal yang mudah diperoleh di pasar tradisional juga memiliki kandungan gizi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Melalui konsep sinergi protein, peserta diperkenalkan pada pentingnya mengombinasikan sumber protein hewani dan nabati dalam menu makanan keluarga.
Protein hewani, seperti ikan kembung dan telur, menyediakan protein berkualitas serta berbagai zat gizi penting bagi pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak anak.
Sementara itu, sumber protein nabati seperti tempe, tahu, dan kacang hijau dapat melengkapi kebutuhan protein sekaligus memberikan zat gizi lain yang bermanfaat bagi kesehatan.
Pemanfaatan bahan pangan lokal tersebut diharapkan dapat membantu keluarga menyusun menu bergizi yang lebih terjangkau, bervariasi, dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Kebersihan Lingkungan Menjadi Bagian Penting Pencegahan Stunting
Selain membahas pemenuhan gizi, penyuluhan juga menyoroti hubungan antara kebersihan lingkungan, penyakit infeksi, dan gangguan pertumbuhan anak.
Asupan makanan bergizi saja belum tentu cukup apabila anak sering mengalami infeksi akibat kondisi lingkungan yang tidak higienis.
Anak usia balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung aktif menyentuh berbagai benda di sekitarnya. Kebiasaan memasukkan tangan atau benda yang terkontaminasi ke dalam mulut dapat meningkatkan risiko masuknya kuman penyebab penyakit.
Infeksi seperti diare dan kecacingan dapat mengganggu penyerapan zat gizi, menurunkan nafsu makan, serta memengaruhi kondisi kesehatan anak. Apabila terjadi berulang dalam jangka panjang, keadaan tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan.
Untuk mengatasi risiko tersebut, peserta diperkenalkan pada pendekatan WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) yang menekankan pentingnya akses air bersih, sanitasi layak, dan kebiasaan menjaga kebersihan.
Dalam penyuluhan ini, penerapan PHBS dijelaskan melalui tiga langkah utama yang dapat dilakukan keluarga di rumah.
Pertama, menjaga kebersihan diri anak melalui kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta rutin memotong kuku.
Kedua, memastikan peralatan makan, bahan makanan, dan lingkungan dapur selalu dalam kondisi bersih. Peralatan makan juga perlu disimpan di tempat yang terlindungi dari debu, serangga, dan sumber kontaminasi lainnya.
Ketiga, membangun kebiasaan hidup bersih melalui keteladanan orang tua. Anak-anak diharapkan dapat meniru perilaku positif yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, keluarga didorong untuk memahami bahwa pencegahan stunting memerlukan keseimbangan antara pemenuhan gizi, pencegahan penyakit, serta lingkungan tempat tinggal yang sehat.
Ibu Balita Antusias Berdiskusi tentang Tantangan Pemberian Makan
Antusiasme peserta semakin terlihat ketika kegiatan memasuki sesi diskusi dan tanya jawab.
Berbagai persoalan yang kerap dihadapi orang tua dalam memberikan makanan kepada anak menjadi topik pembahasan. Mulai dari penanganan anak yang memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu, kebiasaan mengemut makanan, hingga kesulitan makan tanpa menonton video melalui gawai.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pemberian makanan kepada balita tidak hanya berkaitan dengan kandungan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan, perilaku, dan interaksi antara orang tua dan anak.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, tim narasumber dan fasilitator memberikan edukasi mengenai konsep responsive feeding, yaitu pendekatan pemberian makan yang memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak serta dilakukan dengan penuh kesabaran, perhatian, dan tanpa paksaan.
Orang tua dianjurkan menciptakan suasana makan yang nyaman, membangun jadwal makan secara konsisten, serta membiasakan anak berinteraksi langsung dengan makanan tanpa ketergantungan pada hiburan digital.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu keluarga membangun kebiasaan makan yang lebih sehat sekaligus memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Sinergi Keluarga dan Posyandu untuk Mewujudkan Generasi Bebas Stunting
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Saung AEWO Mulyaharja ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat melalui edukasi gizi dan perubahan perilaku.
Upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, kader posyandu, tenaga kesehatan, hingga institusi pendidikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua memiliki peran penting dalam menyediakan makanan bergizi, menjaga kebersihan lingkungan, serta membangun pola asuh yang mendukung pertumbuhan anak.
Sementara itu, kader posyandu berperan membantu pemantauan pertumbuhan balita secara berkala, termasuk melalui pencatatan berat badan dan panjang atau tinggi badan pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Pemantauan tersebut penting untuk mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya gangguan pertumbuhan sehingga anak dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Melalui kolaborasi antara tim akademisi IPB University, kader posyandu, dan para ibu balita, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong penerapan pengetahuan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Dari Saung AEWO di Kelurahan Mulyaharja, semangat pencegahan stunting terus dibangun melalui langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan di rumah.
Pemanfaatan pangan lokal, penerapan PHBS, pola pemberian makan yang tepat, dan pemantauan pertumbuhan secara rutin menjadi bagian penting dalam mewujudkan generasi anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan tumbuh optimal.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda