Ditulis oleh: Jihan Fachruzia Harris Teknologi Pangan (2023) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
JurnalPost.com - Dalam beberapa tahun terakhir, tren makanan di media sosial berkembang sangat cepat. Setiap bulan muncul makanan baru yang menarik perhatian, mulai dari snack super pedas, kue manis dengan tampilan menarik, olahan ayam dengan saus yang gurih, hingga minuman manis dengan berbagai topping. Popularitasnya bukan hanya karena rasa, tetapi juga tampilannya yang menggoda di media sosial. Namun, di balik semua kelezatan itu, sering kali kita lupa memperhatikan hal yang lebih penting yaitu apakah makanan tersebut bergizi atau tidak. Banyak orang kini memilih makanan karena ikut tren atau tergoda tampilannya di media sosial, bukan karena mempertimbangkan kebutuhan tubuh. Padahal, merasa kenyang belum tentu berarti tubuh mendapatkan gizi yang cukup. Energi memang bisa diperoleh dari berbagai jenis makanan, tapi kualitas gizilah yang menentukan kesehatan kita dalam jangka panjang.
Salah satu masalah utama yang masih sering ditemui di masyarakat adalah rendahnya kesadaran terhadap pentingnya nilai gizi dalam makanan. Banyak orang belum memahami apa sebenarnya arti nilai gizi dan bagaimana cara membaca label nutrisi pada kemasan produk. Padahal, menurut Dewi et al. (2023), label informasi nilai gizi merupakan keterangan pada kemasan yang memuat daftar kandungan zat gizi makanan beserta komponen lainnya seperti takaran saji, jumlah takaran saji, dan persentase angka kecukupan gizi. Sayangnya, sebagian besar konsumen masih mengabaikan informasi ini dan hanya berfokus pada rasa atau tampilan makanan.
Makanan yang dianggap enak umumnya memiliki kandungan lemak, gula, dan garam tinggi, tetapi minim akan protein, vitamin, dan serat yang justru penting untuk tubuh. Hal ini banyak ditemukan pada makanan cepat saji dan makanan viral yang banyak beredar di pasaran. Menurut Hasanah dan Tanziha (2023), makanan cepat saji pada umumnya memang mengandung tinggi protein, tinggi kalori, tinggi lemak, tinggi garam, namun rendah serat. Senada dengan itu, Zhao et al. (2017) menjelaskan bahwa konsumsi fast food dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan konsumsi sayur dan buah serta aktivitas fisik yang cukup dapat menyebabkan obesitas dan memicu berbagai penyakit degeneratif.
Kondisi ini kini mulai terlihat nyata di masyarakat. Kasus obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi pada usia muda semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak anak muda yang tampak sehat dari luar, tetapi sebenarnya tubuhnya mulai mengalami gangguan metabolik akibat pola makan tinggi gula dan lemak jenuh. Jika kesadaran terhadap nilai gizi tidak segera ditingkatkan, bukan tidak mungkin generasi produktif kita akan menghadapi risiko penyakit kronis di usia yang seharusnya masih aktif dan sehat.
Banyak orang masih memiliki pemahaman yang keliru tentang konsep makanan sehat. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa dengan makan buah dan sayur sesekali saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Padahal, keseimbangan gizi perlu diperhatikan setiap hari, bukan hanya sekali-sekali. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tahun 2014, pesan nomor dua dari Pedoman Gizi Seimbang justru menekankan pentingnya banyak makan sayuran dan cukup makan buah-buahan setiap hari sebagai bagian dari pola makan sehat yang berkelanjutan. Sayur dan buah berfungsi sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral yang membantu menjaga fungsi tubuh, sehingga tidak bisa digantikan oleh jenis makanan lain.
Selain itu, kini banyak beredar produk yang terlihat sehat seperti minuman berlabel “low-fat”, “sugar-free”, atau snack “organik”. Namun, tidak semua produk tersebut benar-benar menyehatkan. Menurut penelitian Nguyen et al. (2016), ditemukan bahwa jumlah gula pada produk versi rendah lemak atau tanpa lemak justru sering kali lebih tinggi dibandingkan versi biasa. Hal ini disebabkan karena produsen menambahkan gula untuk menjaga cita rasa setelah mengurangi kandungan lemak. Akibatnya, meski tampak lebih sehat, produk tersebut tetap bisa berkontribusi terhadap asupan gula berlebih.
Fakta ini menunjukkan bahwa tidak semua yang tampak “natural”, “ringan”, atau “sehat” benar-benar bergizi, apalagi jika dikonsumsi tanpa memperhatikan porsi dan keseimbangannya. Prinsip utama dari pola makan sehat bukan sekadar memilih makanan berlabel “sehat”, tetapi memahami kandungan gizinya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan tubuh. Makanan yang bergizi seimbang adalah makanan yang memberikan cukup energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral dalam takaran yang tepat setiap hari.
Pentingnnya Evaluasi Nilai Gizi
Evaluasi nilai gizi merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Secara sederhana, evaluasi nilai gizi berarti menilai kandungan zat gizi yang terdapat dalam makanan yang kita konsumsi, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat. Dengan mengetahui komposisi ini, kita bisa memahami apakah makanan tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan tubuh atau justru berlebihan dalam satu zat tertentu. Evaluasi ini bukan hanya penting bagi mereka yang sedang diet, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin menjalani pola makan sehat dan seimbang.
Mengevaluasi nilai gizi bermanfaat untuk menjaga berat badan ideal, mencegah penyakit tidak menular seperti diabetes dan kolesterol tinggi, serta mendukung pertumbuhan anak dan menjaga daya tahan tubuh. Penerapannya sederhana, cukup dengan membaca label gizi, memperhatikan takaran saji, dan memilih bahan segar seperti sayur, buah, ikan, dan biji-bijian. Kebiasaan ini membantu kita lebih bijak memilih makanan, menyeimbangkan antara rasa enak dan manfaat bagi kesehatan.
Belakangan ini, tren gaya hidup sehat mulai banyak digemari. Kita bisa melihat munculnya berbagai kebiasaan positif seperti meal prep sehat, smoothie bowl berwarna-warni, menu diet seimbang dari catering sehat, hingga penggunaan bahan alternatif seperti beras shirataki dan oat. Tren ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang mulai peduli terhadap pola makan dan kesehatan tubuhnya. Namun, penting diingat bahwa tidak semua makanan berlabel “sehat” otomatis bergizi seimbang. Meski terlihat baik, kita tetap perlu mengevaluasi nilai gizinya agar sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing. Jangan hanya ikut tren tanpa memahami kandungan dan manfaat sebenarnya dari makanan tersebut.
Mulai sekarang, mari kita biasakan untuk lebih sadar terhadap apa yang kita makan. Belajar mengenal isi piring sendiri adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan. Ingat, tubuh yang sehat tidak hanya butuh rasa kenyang, tapi juga gizi yang seimbang. Sebelum makan, luangkan waktu sebentar untuk cek nilai gizinya. Karena pada akhirnya, makan sehat bukan soal ikut tren, tapi bentuk investasi terbaik untuk masa depan yang lebih panjang dan produktif.
Referensi
Depkes RI. 2014. Permenkes Republik Indonesia, No 41/2014, tentang Pedoman Gizi Seimbang, Jakarta: Depkes RI 2014.
Dewi, N. T., Yunita, L., Sukanty, N. M. W., da Ariani, F. 2023. Edukasi Label Informasi Nilai Gizi Sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Kemampuan Membaca Label Gizi Siswa di SMAN 5 Mataram: Education on Nutritional Value Information Labels as an Effort to Increase Knowledge and Ability to Read Nutrition Labels for Students at SMAN 5 Mataram. Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat. Vol. 4(1): 246-252.
Hasanah, M. N., dan Tanziha, I. 2023. Pengetahuan Gizi, Konsumsi Fast Food, Asupan Serat, dan Status Gizi Siswa SMA KORNITA. J. Gizi Dietetik. Vol. 2(2): 74-82
Nguyen, P. K., Lin, S., and Heidenreich, P. 2016. A systematic comparison of sugar content in low-fat vs regular versions of food. Nutrition & diabetes. Vol. 6(1): e193-e193.
Zhao Y, Wang L, Hong Xue, Wang H, and Wang Y. 2017. Fast food consumption and its associations with obesity and hypertension among children: results from the baseline data of the childhood obesity study in China mega-cities. BMC Public Health. Vol. 17(233): 2-10.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda