TIANJIN, JurnalPost.com — Rolls-Royce & Partners Finance (RRPF), perusahaan global yang bergerak di bidang penyewaan mesin pesawat, memperluas bisnisnya di China dengan mendirikan entitas penyewaan mesin pesawat secara langsung di negara tersebut.
Langkah ini dilakukan untuk menangkap peluang pertumbuhan industri penerbangan China yang saat ini menjadi salah satu pasar penerbangan terbesar di dunia.
RRPF merupakan perusahaan patungan antara produsen mesin pesawat asal Inggris, Rolls-Royce, dan perusahaan Amerika Serikat GATX.
Pada Kamis, 3 September 2026, perusahaan menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Zona Berikat Komprehensif Dongjiang di Tianjin, China utara, untuk membentuk anak perusahaan baru yang akan menangani bisnis penyewaan mesin pesawat secara langsung di China.
Pembentukan perusahaan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam industri penyewaan mesin pesawat di China. RRPF disebut menjadi salah satu perusahaan penyewaan yang berafiliasi dengan produsen mesin pesawat global yang menjalankan model kepemilikan dan penyewaan aset secara langsung di negara tersebut.
Selama ini, perusahaan penyewaan internasional umumnya mempertahankan kepemilikan aset mesin pesawat di luar China sebelum menyewakannya kepada maskapai yang beroperasi di negara tersebut.
Melalui skema baru, RRPF akan memiliki sekaligus menempatkan mesin pesawat secara langsung di China.
Investasi Lebih dari Rp6 Triliun
Entitas baru RRPF tersebut akan dibangun dengan total investasi lebih dari 2,3 miliar yuan.
Dengan asumsi nilai tukar sekitar Rp2.631 per yuan, nilai investasi tersebut setara dengan lebih dari Rp6 triliun.
Kehadiran perusahaan secara langsung di China dinilai dapat menyederhanakan proses penyewaan mesin pesawat yang selama ini harus melalui sejumlah prosedur lintas negara.
Model bisnis tersebut juga berpotensi menekan biaya pengelolaan valuta asing serta biaya administrasi penyewaan yang harus ditanggung maskapai penerbangan.
Dengan aset mesin berada langsung di China, maskapai domestik diharapkan memperoleh akses terhadap layanan penyewaan yang lebih cepat, stabil, dan memiliki kepastian biaya yang lebih baik.
RRPF menilai sistem tersebut juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan karena pengelolaan aset dan operasional dapat dilakukan lebih dekat dengan perusahaan penerbangan yang menggunakan mesin tersebut.
Chief Strategy Officer RRPF, Ben Hughes, mengatakan China memiliki posisi yang sangat penting dalam industri penerbangan global.
“China saat ini merupakan pasar penerbangan terbesar kedua di dunia. Selama 10 tahun ke depan, pasar ini akan berkembang,” ujar Ben Hughes.
Menurut Hughes, pendirian perusahaan di China juga memungkinkan RRPF mengurangi sejumlah pengeluaran yang selama ini dibebankan kepada pelanggan.
Selain itu, perusahaan berencana merekrut tenaga kerja lokal sehingga operasional bisnis dapat berjalan lebih efisien.
Keberadaan sumber daya manusia lokal juga dinilai penting karena dapat membantu RRPF memahami kebutuhan maskapai serta karakteristik pasar penerbangan China secara lebih mendalam.
Tianjin Jadi Pusat Bisnis Penyewaan Pesawat
Pemilihan Tianjin sebagai basis operasional RRPF bukan tanpa alasan.
Zona Berikat Komprehensif Dongjiang Tianjin selama ini dikenal sebagai salah satu pusat industri penyewaan pesawat terbesar di dunia.
Kawasan tersebut telah berkembang menjadi pusat transaksi dan pembiayaan aset penerbangan, termasuk pesawat komersial dan mesin pesawat.
Hingga akhir Agustus 2026, Zona Berikat Komprehensif Dongjiang tercatat telah memfasilitasi transaksi penyewaan lebih dari 2.600 unit pesawat.
Selain itu, kawasan tersebut juga menangani penyewaan lebih dari 300 mesin pesawat.
Jumlah tersebut menjadikan Dongjiang sebagai salah satu klaster penyewaan pesawat terbesar di dunia sekaligus memperkuat posisi Tianjin sebagai pusat industri pembiayaan dan pengelolaan aset penerbangan di China.
Ekspansi RRPF diperkirakan semakin memperkuat ekosistem industri penerbangan di kawasan tersebut, terutama pada sektor penyewaan dan pengelolaan mesin pesawat.
Langkah perusahaan juga mencerminkan semakin besarnya perhatian perusahaan penerbangan global terhadap pertumbuhan pasar China.
Dengan meningkatnya perjalanan udara serta kebutuhan maskapai terhadap armada dan mesin pesawat, permintaan terhadap layanan penyewaan mesin diperkirakan tetap memiliki ruang pertumbuhan dalam beberapa tahun mendatang.
Kehadiran RRPF secara langsung di China sekaligus menunjukkan perubahan strategi perusahaan internasional yang sebelumnya lebih banyak mengelola aset penerbangan dari luar negeri.
Model kepemilikan aset secara lokal memungkinkan perusahaan penyewaan memberikan layanan yang lebih dekat kepada maskapai, mempercepat proses transaksi, serta mengurangi berbagai biaya administratif dan keuangan.
Bagi RRPF, ekspansi tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi perusahaan di salah satu pasar penerbangan paling penting di dunia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda