Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika Geopolitik Mengguncang Ekspektasi: Energi, Pangan, dan Ujian bagi Ekonomi Indonesia

Ketika Geopolitik Mengguncang Ekspektasi: Energi, Pangan, dan Ujian bagi Ekonomi Indonesia

Penulis:
  • Amicitiah Incah Clarissa Sipayung, Gebi Handayani, Mutia Maulidiya, Puput Maharani, Rosalina Lubis, Savira Wati, Tara Nafisa

Dosen Pengampu: Dr. Rahmah Farahdita Soeyatno, S.P., M.Si.

Afiliasi: Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Editor: Gilang Pamungkas
07 Oktober 2026, 01.03 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Geopolitical Economy at the Strait of Hormuz

JAKARTA – Konflik di Timur Tengah dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz tidak hanya memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Dampaknya menjalar jauh lebih luas, mulai dari harga energi, pupuk dan pangan hingga suku bunga, daya beli masyarakat, serta keputusan investasi perusahaan.

Bagi Indonesia, persoalannya bukan lagi sekadar apakah gejolak tersebut akan memberikan dampak, tetapi seberapa dalam tekanan global itu akan memengaruhi perekonomian nasional.

IKLAN

Ketidakpastian geopolitik kini menjadi salah satu faktor eksternal yang kuat dalam membentuk ekspektasi konsumen, dunia usaha, dan pasar keuangan.

Dana Moneter Internasional atau IMF mencatat Geopolitical Risk Index pada Maret 2026 kembali mendekati level yang terlihat pada awal konflik Rusia-Ukraina pada 2022. Saat itu, lonjakan harga energi dan pangan dengan cepat merambat ke berbagai negara.

Ketidakpastian seperti ini membuat keputusan ekonomi menjadi lebih sulit. Rumah tangga harus menentukan apakah akan tetap berbelanja atau meningkatkan tabungan, sementara perusahaan menghadapi pilihan antara melanjutkan ekspansi atau menunda investasi sampai situasi menjadi lebih jelas.

Energi dan Pangan Ikut Terseret

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Ketika jalur tersebut terganggu, tekanan terhadap pasar komoditas global meningkat.

Bank Dunia memperkirakan harga energi melonjak sekitar 24 persen pada 2026, menjadi kenaikan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Gangguan pengiriman juga disebut memicu guncangan besar terhadap pasokan minyak, dengan pengurangan awal pasokan global sekitar 10 juta barel per hari.

Sementara itu, IMF memproyeksikan harga minyak mentah meningkat sekitar 32 persen dan gas alam 22 persen dibandingkan 2025.

Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi. Pupuk menjadi salah satu jalur transmisi yang paling kuat menuju sektor pangan.

Sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia melewati Selat Hormuz, sedangkan gas alam merupakan bahan baku penting untuk memproduksi pupuk nitrogen.

Harga urea tercatat naik hingga di atas 850 dolar AS per ton pada April 2026, meningkat sekitar 80 persen sejak Februari dan mencapai tingkat tertinggi sejak April 2022.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO memperkirakan penurunan ketersediaan pupuk berpotensi memengaruhi produksi gandum, jagung, dan beras dalam enam hingga sembilan bulan berikutnya.

Kepala Ekonom FAO Máximo Torero menjelaskan petani menghadapi tekanan biaya dari dua arah sekaligus, yakni mahalnya pupuk serta kenaikan bahan bakar yang memengaruhi kegiatan pertanian dari proses irigasi hingga distribusi.

Alurnya bisa berlangsung bertahap. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi pupuk dan pertanian. Biaya yang lebih tinggi kemudian memengaruhi hasil panen dan harga komoditas sebelum akhirnya diteruskan kepada konsumen dalam bentuk inflasi pangan.

Indeks Harga Pangan FAO pada April 2026 tercatat rata-rata 130,7 poin, meningkat 1,6 persen dibandingkan Maret dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2023.

Pada akhirnya, konsumen menjadi pihak yang turut menanggung kenaikan biaya di sepanjang rantai pasok.

Kepala Ekonom Bank Dunia Indermit Gill menggambarkan tekanan tersebut sebagai rangkaian yang bermula dari energi, kemudian bergerak menuju pangan, sebelum akhirnya menghasilkan inflasi yang lebih tinggi.

Kelompok masyarakat berpendapatan rendah menjadi salah satu pihak yang paling rentan karena sebagian besar penghasilan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi.

Ruang Kebijakan Moneter Semakin Sempit

Lonjakan harga juga mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter global.

Pasar tidak lagi hanya berbicara mengenai peluang penurunan suku bunga di sejumlah negara maju. Dalam kondisi inflasi yang kembali mendapat tekanan, suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, situasi tersebut menciptakan tantangan tersendiri. Imbal hasil yang menarik di negara maju dapat mendorong investor mengalihkan dana menuju aset yang dianggap lebih aman.

Akibatnya, arus modal keluar dapat meningkat, nilai tukar mendapat tekanan, dan biaya impor energi maupun pangan menjadi lebih mahal.

Ekonom Hélène Rey pada 2013 menjelaskan bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat dapat menggerakkan siklus keuangan global yang memengaruhi berbagai negara.

Menurut Rey, kondisi tersebut lebih tepat disebut sebagai sebuah “dilema” dibandingkan “trilema”. Artinya, bahkan ketika suatu negara menggunakan sistem nilai tukar mengambang, ruang independensi kebijakan moneternya tetap dapat dibatasi oleh pergerakan siklus keuangan global.

Bank sentral negara berkembang akhirnya menghadapi pilihan yang tidak sederhana.

Menurunkan suku bunga dapat membantu pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat bersamaan berisiko memperbesar arus modal keluar dan memperburuk inflasi barang impor.

Pengalaman taper tantrum pada 2013, ketika Indonesia sempat masuk dalam kelompok negara yang disebut Fragile Five, menjadi salah satu pengingat terhadap risiko tersebut.

Persoalan lain yang harus diantisipasi adalah munculnya inflasi yang semakin mengakar dalam ekspektasi masyarakat.

Ketika masyarakat dan pelaku usaha percaya bahwa harga akan terus naik, pekerja dapat meminta kenaikan upah sementara perusahaan menaikkan harga lebih awal untuk mengantisipasi peningkatan biaya.

Dalam kondisi seperti itu, inflasi yang awalnya berasal dari guncangan eksternal dapat menjadi lebih sulit dikendalikan.

Pemikiran Frederic Mishkin menempatkan kredibilitas bank sentral dalam menjaga ekspektasi inflasi sebagai salah satu fondasi stabilitas harga.

Sementara itu, Blanchard dan Galí pada 2007 menemukan bahwa dampak guncangan minyak pada dekade 2000-an lebih ringan dibandingkan periode 1970-an, salah satunya karena ekspektasi inflasi telah lebih terjangkar.

Pertumbuhan Ekonomi Ikut Tertekan

Tekanan geopolitik juga memberikan konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi sekitar 3,0 persen pada 2026 sebelum kembali meningkat menjadi 3,4 persen pada 2027. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 3,5 persen selama 2024–2025.

Volume perdagangan dunia juga diproyeksikan melambat dari sekitar 5,0 persen pada 2025 menjadi 3,5 persen pada 2026.

Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menilai ekonomi dunia sebelumnya bergerak menuju jalur pertumbuhan yang relatif stabil, sekitar 3,3 persen, sebelum konflik di Timur Tengah mengganggu momentum tersebut.

Bagi Indonesia sebagai ekonomi terbuka, perlambatan perdagangan global dapat berarti melemahnya permintaan terhadap produk ekspor.

OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 5,0 persen dengan mempertimbangkan kenaikan harga energi dan meningkatnya risiko geopolitik.

Surplus perdagangan Indonesia pada Februari 2026 juga berada di bawah ekspektasi pasar ketika ekspor melemah dan impor tumbuh dua digit, yang antara lain dipengaruhi meningkatnya biaya energi.

IMF menilai risiko terhadap prospek ekonomi global masih cenderung berada di sisi negatif.

Dalam skenario yang lebih berat, apabila gangguan pasokan energi berlangsung hingga tahun berikutnya, pertumbuhan dunia dapat turun ke kisaran 2 persen sementara inflasi bisa melampaui 6 persen.

Proyeksi pemulihan pertumbuhan menjadi 3,4 persen pada 2027 memang membuka kemungkinan membaiknya permintaan ekspor. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada perkembangan konflik dan stabilitas ekonomi global.

Bagaimana Konsumen dan Perusahaan Bereaksi?

Teori ekonomi membantu menjelaskan mengapa ketidakpastian dapat memberikan dampak besar meskipun pendapatan atau penjualan belum langsung berubah.

IKLAN

Rumah tangga maupun perusahaan tidak hanya melihat kondisi hari ini. Mereka juga berusaha memperkirakan apakah perubahan yang terjadi bersifat sementara atau akan berlangsung dalam jangka panjang.

Hipotesis pendapatan permanen yang diperkenalkan Milton Friedman pada 1957 menyatakan bahwa keputusan konsumsi rumah tangga lebih banyak dipengaruhi oleh pendapatan yang mereka perkirakan dalam jangka panjang dibandingkan pendapatan sesaat.

Ketika ketidakpastian meningkat, masyarakat cenderung lebih berhati-hati.

Carroll pada 1997 menunjukkan bahwa rumah tangga dapat meningkatkan tabungan berjaga-jaga ketika menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi.

Inflasi kemudian memperkuat tekanan tersebut karena kebutuhan pokok menyerap bagian pendapatan yang semakin besar. Akibatnya, pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok berpotensi dikurangi.

Kondisi tersebut penting bagi Indonesia karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar separuh produk domestik bruto nasional.

Perusahaan menghadapi persoalan serupa.

Bernanke pada 1983 serta Dixit dan Pindyck pada 1994 menjelaskan bahwa investasi sering kali sulit dibatalkan setelah dilakukan. Karena itu, dalam situasi yang sangat tidak pasti, menunggu informasi tambahan memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Bloom pada 2009 menunjukkan lonjakan ketidakpastian dapat mendorong perusahaan menahan investasi maupun perekrutan tenaga kerja.

Penelitian Dissanayake dan koleganya pada 2018 serta Wang dan koleganya pada 2023 juga menemukan bahwa penurunan investasi cenderung lebih besar pada investasi yang sulit dibalik dan pada perusahaan yang menghadapi keterbatasan likuiditas.

Sebaliknya, perusahaan dengan cadangan kas yang lebih kuat memiliki kemampuan lebih besar untuk tetap menjalankan investasi.

Bagi sebuah perusahaan, menunggu mungkin menjadi pilihan yang rasional. Namun, apabila banyak perusahaan melakukan hal yang sama secara bersamaan, dampaknya dapat terlihat pada perlambatan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Tufaner dan Sözen pada 2025 mencatat risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan memberikan dampak negatif signifikan terhadap pertumbuhan produk domestik bruto.

Meski demikian, ketidakpastian tidak selalu membuat semua perusahaan berhenti bergerak. Studi Sakwaya dan koleganya pada 2025 menunjukkan bahwa sebagian perusahaan justru melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk melakukan inovasi.

Ekspektasi Bisa Menjadi Penggerak Ekonomi

Ekspektasi memiliki posisi penting dalam menentukan arah perekonomian.

John Maynard Keynes pada 1936 memperkenalkan istilah animal spirits untuk menggambarkan optimisme maupun pesimisme yang dapat memengaruhi keputusan investasi dan tidak selalu sepenuhnya didasarkan pada kalkulasi rasional.

Akerlof dan Shiller pada 2009 juga menekankan bagaimana kepercayaan dapat menggerakkan siklus ekonomi.

Karena itu, ekspektasi berpotensi berubah menjadi ramalan yang memenuhi dirinya sendiri.

Ketika rumah tangga dan perusahaan sama-sama memperkirakan kondisi ekonomi memburuk lalu secara bersamaan memangkas belanja dan investasi, pelemahan yang mereka khawatirkan justru dapat benar-benar terjadi.

Baker, Bloom, dan Davis pada 2016 menemukan ketidakpastian kebijakan yang tinggi berkaitan dengan tingkat investasi dan lapangan kerja yang lebih rendah.

Di Indonesia, data domestik memperlihatkan ruang penyangga rumah tangga yang perlu diperhatikan.

Survei Bank Indonesia pada Agustus 2026 mencatat porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi meningkat menjadi 74,2 persen. Pada saat yang sama, porsi pendapatan yang ditabung turun menjadi 15,8 persen dari sebelumnya 16,8 persen.

Bank Indonesia melihat perkembangan tersebut sebagai salah satu tanda membaiknya keyakinan konsumen.

Namun, dari perspektif ketahanan rumah tangga, porsi tabungan yang lebih kecil juga berarti bantalan menghadapi guncangan menjadi lebih terbatas. Jika harga kebutuhan pokok kembali meningkat, pengeluaran non-pokok berpotensi menjadi bagian yang pertama kali dikurangi.

Menjaga Agar Guncangan Tidak Menjadi Permanen

Lonjakan harga minyak merupakan contoh guncangan dari sisi penawaran. Dampak langsungnya dapat bersifat sementara apabila tidak berkembang menjadi efek putaran kedua atau second-round effect.

Masalah muncul ketika peningkatan biaya mulai diteruskan ke upah, harga jasa, dan berbagai komponen ekonomi lainnya.

Di Indonesia, inflasi inti pada Agustus 2026 tercatat naik moderat menjadi 2,92 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi kelompok pangan bergejolak mencapai 4,06 persen, salah satunya dipengaruhi kondisi El Niño.

Ekonom PermataBank Faisal Rachman memperkirakan inflasi Indonesia pada akhir 2026 berada di sekitar 3,13 persen dengan asumsi harga energi bersubsidi tidak mengalami perubahan.

Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah dan El Niño yang lebih kuat dapat membawa inflasi ke tingkat yang lebih tinggi.

Dampak kenaikan harga pangan pun tidak dirasakan secara merata.

Bank Dunia mencatat porsi pengeluaran untuk pangan sangat berbeda antarnegara, mulai sekitar 6,7 persen dari pengeluaran rumah tangga di Amerika Serikat hingga sekitar 59 persen di Nigeria.

Fenomena tersebut sejalan dengan Hukum Engel, yaitu semakin rendah pendapatan sebuah rumah tangga, semakin besar proporsi pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Artinya, lonjakan harga kebutuhan pokok memberikan tekanan yang jauh lebih berat terhadap kelompok berpendapatan rendah.

Indonesia juga menghadapi risiko dari sisi pasokan domestik. Studi Fajri, Siregar, dan Sahara pada 2019 menemukan bahwa El Niño secara signifikan meningkatkan harga beras dan kedelai di provinsi-provinsi Indonesia yang paling terdampak.

Kejelasan Kebijakan Menjadi Kunci

Dalam situasi penuh ketidakpastian, pemerintah dan bank sentral bukan hanya dituntut mengambil kebijakan yang tepat, tetapi juga mampu mengomunikasikan arah kebijakan tersebut secara jelas.

Bernanke pada 2007 menekankan bahwa pengelolaan ekspektasi publik merupakan bagian penting dalam kebijakan moneter modern.

Tufaner dan Sözen pada 2025 juga menilai kebijakan makroekonomi yang dapat diprediksi memiliki peranan dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Komunikasi yang konsisten, target inflasi yang kredibel, serta kebijakan yang tidak berubah secara mendadak dapat membantu menjaga ekspektasi masyarakat dan dunia usaha.

Bagi Indonesia, kepastian mengenai kebijakan harga BBM bersubsidi, efektivitas operasi pasar, koordinasi pengendalian inflasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta stabilisasi harga kebutuhan pokok menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan eksternal.

Ketidakpastian geopolitik global memang tidak dapat dihilangkan oleh Indonesia. Namun, dampaknya terhadap perilaku konsumen dan perusahaan masih dapat dikelola.

Ketika masyarakat dan pelaku usaha memiliki keyakinan bahwa guncangan harga hanya bersifat sementara dan pemerintah memiliki instrumen yang cukup untuk menjaga stabilitas, kecenderungan untuk menahan konsumsi maupun investasi dapat ditekan.

Pada akhirnya, menjaga ekspektasi sama pentingnya dengan menjaga indikator ekonomi itu sendiri.

Di tengah dunia yang bergejolak, kepastian arah kebijakan, stabilitas harga kebutuhan pokok, dan kesiapan menghadapi kenaikan biaya energi serta pangan menjadi kunci agar konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi Indonesia tetap bergerak.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-geopolitik-mengguncang-ekspektasi-energi-pangan-dan-ujian-bagi-ekonomi-indonesia/98040/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.16 WITA

  • #Ekonomi Indonesia
  • #Energi
  • #Geopolitik
  • #Pangan
  • #inflasi
  • #investasi
  • #kebijakan moneter

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.