Oleh: Hari Suciono
Penulis merupakan pegawai Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember, Jawa Timur.
JurnalPost.com - Agustus 2026 kembali memberikan satu pelajaran penting dalam pengelolaan ekonomi: stabilitas sering kali bekerja dalam senyap, tetapi manfaatnya dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat.
Ketika harga kebutuhan pokok relatif terkendali, rumah tangga memiliki kepastian lebih besar dalam mengatur pengeluaran. Pelaku usaha pun dapat menyusun rencana produksi dan investasi dengan lebih terukur. Sementara itu, inflasi yang terjaga membantu mempertahankan daya beli masyarakat.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, kondisi tersebut tentu tidak hadir dengan sendirinya. Stabilitas membutuhkan konsistensi kebijakan, koordinasi antarlembaga, serta kemampuan merespons berbagai tekanan yang muncul dari dalam maupun luar negeri.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Secara tahunan, inflasi berada pada level 3,19 persen year-on-year (yoy), masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa "suhu" perekonomian Indonesia masih berada dalam rentang yang relatif nyaman—tidak terlalu panas, tetapi juga tidak terlalu dingin.
Bagi sebagian masyarakat, inflasi mungkin hanya dipahami sebagai kenaikan harga barang dan jasa. Padahal, inflasi juga dapat menjadi salah satu cerminan keseimbangan dalam perekonomian.
Inflasi yang terlalu rendah dapat mengindikasikan lemahnya permintaan masyarakat. Sebaliknya, inflasi yang terlalu tinggi berpotensi menggerus daya beli dan meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku usaha.
Karena itu, sasaran inflasi dapat dianalogikan seperti termostat dalam sebuah ruangan. Tujuannya bukan membuat suhu serendah atau setinggi mungkin, melainkan menjaga temperatur pada tingkat yang membuat seluruh penghuni dapat beraktivitas dengan nyaman.
Terjaganya inflasi dalam kisaran sasaran menjadi salah satu sinyal bahwa koordinasi kebijakan ekonomi berjalan dengan cukup efektif. Konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia, sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta penguatan ketahanan pangan menjadi bagian penting dari upaya menjaga stabilitas harga.
Ketika Fondasi Tetap Kokoh
Jika ekonomi dianalogikan sebagai sebuah bangunan, inflasi inti dapat dianggap sebagai salah satu fondasinya. Komponen ini menggambarkan tekanan harga yang lebih mendasar karena tidak terlalu dipengaruhi faktor-faktor yang bersifat sementara maupun bergejolak.
Pada Agustus 2026, inflasi inti tercatat sebesar 0,21 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,14 persen. Secara tahunan, inflasi inti berada pada level 2,92 persen, meningkat dari 2,76 persen pada bulan sebelumnya.
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan, sejalan dengan meningkatnya harga emas di pasar global.
Meski mengalami kenaikan, inflasi inti masih menunjukkan kondisi yang relatif terkendali. Hal ini penting karena perkembangan inflasi inti turut memberikan gambaran mengenai ekspektasi inflasi masyarakat dan dunia usaha.
Ketika ekspektasi terhadap inflasi tetap terjaga, pelaku ekonomi memiliki ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusan secara rasional, baik dalam investasi, produksi, maupun konsumsi.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan pentingnya kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi. Dalam ekonomi modern, kepercayaan merupakan modal yang nilainya tidak kalah penting dari modal finansial.
Dunia usaha akan lebih berani melakukan ekspansi ketika memiliki keyakinan bahwa kondisi makroekonomi tetap stabil. Begitu pula masyarakat yang cenderung lebih percaya diri mengelola konsumsi ketika pergerakan harga tidak berlangsung secara ekstrem.
Di sinilah peran bank sentral menjadi penting. Menjaga stabilitas dapat dianalogikan seperti tugas seorang dirigen dalam sebuah orkestra. Berbagai instrumen kebijakan harus dimainkan secara harmonis untuk menghasilkan ritme perekonomian yang seimbang.
Apabila salah satu instrumen terlalu dominan atau respons kebijakan datang terlambat, harmoni tersebut dapat terganggu.
Kemampuan menjaga inflasi inti tetap terkendali sekaligus menunjukkan daya tahan perekonomian Indonesia dalam menghadapi berbagai gejolak eksternal. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia terus menghadapi ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga komoditas, perubahan rantai pasok, hingga dinamika kebijakan moneter negara-negara maju.
Ujian Datang dari Pangan
Jika inflasi inti merupakan fondasi sebuah bangunan, kelompok pangan bergejolak atau volatile food dapat dianalogikan sebagai bagian atap yang paling sering terkena hujan dan panas.
Komponen pangan memang sangat sensitif terhadap kondisi cuaca, musim panen, proses distribusi, gangguan produksi, serta perubahan ketersediaan pasokan.
Pada Agustus 2026, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 0,88 persen secara bulanan. Kondisi tersebut berbalik dibandingkan Juli 2026 yang mencatat deflasi sebesar 1,68 persen.
Kenaikan harga terutama berasal dari sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food mencapai 4,06 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,52 persen.
Sekilas, peningkatan tersebut dapat menimbulkan perhatian. Namun, dalam konteks pengelolaan inflasi nasional, dinamika harga pangan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kelompok barang dan jasa lainnya.
Gangguan cuaca maupun produksi pada satu wilayah bahkan dapat memengaruhi ketersediaan pasokan dan harga di daerah lain. Kondisi inilah yang membuat pengelolaan inflasi pangan membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
Kebijakan moneter saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan pangan. Diperlukan kerja sama pemerintah pusat dan daerah, petani, pelaku distribusi, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut selama beberapa tahun terakhir terus diperkuat melalui TPIP dan TPID serta berbagai program yang berorientasi pada keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif kepada masyarakat.
Di sisi lain, kabar positif datang dari kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah.
Pada Agustus 2026, kelompok ini mencatat deflasi sebesar 0,33 persen secara bulanan, berbalik dari inflasi sebesar 0,25 persen pada bulan sebelumnya.
Penurunan tarif angkutan udara serta harga bahan bakar minyak nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Turbo, menjadi beberapa faktor yang mendukung terjadinya deflasi pada kelompok tersebut.
Secara tahunan, inflasi administered prices juga melandai menjadi 3,32 persen dari 3,58 persen pada bulan sebelumnya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana dinamika antarkomponen inflasi dapat saling mengimbangi. Ketika sebagian kelompok komoditas mengalami kenaikan harga, kelompok lainnya dapat memberikan ruang penyesuaian sehingga inflasi secara keseluruhan tetap berada dalam koridor yang terkendali.
Stabilitas sebagai Penjaga Daya Beli
Menjaga inflasi pada akhirnya bukan sekadar menjaga angka statistik agar tetap berada dalam suatu rentang tertentu.
Di balik angka inflasi terdapat kehidupan sehari-hari masyarakat: harga beras yang dibeli keluarga, biaya transportasi pekerja, kebutuhan produksi pelaku UMKM, hingga keputusan perusahaan dalam melakukan ekspansi usaha.
Stabilitas harga berarti menjaga daya beli masyarakat, memberikan kepastian bagi dunia usaha, sekaligus menciptakan ruang yang sehat bagi pertumbuhan ekonomi.
Inflasi Agustus 2026 yang masih berada dalam kisaran sasaran memberikan gambaran bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap terjaga di tengah berbagai tantangan.
Ketika gejolak ekonomi global masih membayangi banyak negara, kemampuan mempertahankan inflasi dalam rentang yang terkendali menunjukkan pentingnya sinergi kebijakan dan koordinasi antarlembaga.
Tantangan tentu belum selesai. Harga pangan tetap perlu mendapat perhatian, ketidakpastian global masih dapat berubah sewaktu-waktu, dan dinamika ekonomi domestik akan terus berkembang.
Namun, seperti halnya menjaga suhu dalam sebuah ruangan, pekerjaan terpenting bukan membuat ekonomi menjadi terlalu panas ataupun terlalu dingin.
Yang dibutuhkan adalah menjaga keseimbangannya agar masyarakat dapat mempertahankan daya beli, dunia usaha memperoleh kepastian, dan aktivitas ekonomi nasional terus bergerak secara stabil serta berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda