Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Romanticizing Life: Kita Sedang Menjalani Hidup atau Membuatnya Terlihat Indah?

Romanticizing Life: Kita Sedang Menjalani Hidup atau Membuatnya Terlihat Indah?

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
14 Agustus 2026, 19.01 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Source: Pinterest
Source: Pinterest

Penulis: Mutiara Dinda Aisyah

JurnalPost.com - Ketika tren “romanticizing life” membuat kita mempertanyakan kembali hubungan antara realitas dan kehidupan yang kita tampilkan di media sosial.

IKLAN

Bangun pagi, membuat kopi, membuka jendela, membaca buku, lalu mengerjakan tugas sambil mendengarkan lagu. Atau mungkin pergi ke kafe sendirian, membeli bunga untuk diri sendiri, menikmati sunset, dan mengabadikan semuanya dalam sebuah video pendek. Belakangan, hal-hal sederhana seperti ini semakin sering muncul dalam konten “romanticizing my life”, “day in my life”, maupun “morning routine” di media sosial. Fenomena romanticizing your life sendiri menjadi sebuah tren untuk membuat hari-hari biasa terasa lebih spesial dan terlihat indah. Tapi menariknya, semakin sering kita melihat gambaran tentang kehidupan yang “indah” di media sosial, semakin mudah pula kita membayangkan bahwa kehidupan yang indah memang seharusnya terlihat seperti itu.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan itu. Justru ada sesuatu yang menyenangkan dari belajar menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin kita lewatkan begitu saja. Secangkir kopi bisa dinikmati lebih pelan. Perjalanan pulang bisa terasa lebih menyenangkan. Hari yang biasa saja bisa diberi sedikit ruang untuk dinikmati.

Tapi kemudian saya mulai bertanya: ketika kehidupan yang indah terus-menerus ditampilkan di media sosial, apakah kita masih hanya belajar menikmati hidup, atau mulai belajar seperti apa hidup yang seharusnya terlihat? 

Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan sederhana, tetapi cukup rumit: realitas dan representasi.

Apa yang kita lihat di media sosial tentu bukan keseluruhan kehidupan seseorang. Sebuah video “productive morning” mungkin benar-benar menunjukkan pagi yang dijalani seseorang. Ia memang bisa saja bangun pagi, membuat kopi, berolahraga, kemudian belajar. Namun, apa yang muncul di layar tetap merupakan bagian kehidupan yang dipilih untuk direkam, disusun, dan ditampilkan. Kita melihat beberapa menit dari sebuah hari, bukan keseluruhan pengalaman seseorang.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

Artinya, bukan berarti konten tersebut palsu. Masalahnya justru muncul ketika representasi yang hanya merupakan sebagian dari kehidupan mulai kita perlakukan sebagai gambaran utuh tentang kehidupan itu sendiri.

Bayangkan berapa kali kita melihat konten tentang kamar yang selalu rapi, meja belajar yang estetik, kopi di pagi hari, buku yang sedang dibaca, olahraga, traveling, atau self-care. Lama-kelamaan, benda dan aktivitas tersebut tidak lagi terasa seperti sekadar benda dan aktivitas. Mereka mulai membawa makna tertentu. Kopi dan buku bisa terlihat seperti tanda kehidupan yang tenang dan intelektual. Pergi ke kafe bisa terlihat sebagai bagian dari kehidupan yang produktif. Traveling dapat terlihat seperti tanda bahwa seseorang sedang menjalani hidup dengan bebas dan menyenangkan.

Di sinilah pemikiran filsuf Prancis, Jean Baudrillard, menjadi menarik untuk digunakan.

Baudrillard melihat bahwa dalam masyarakat konsumsi, kita tidak hanya berhubungan dengan benda berdasarkan kegunaan praktisnya. Benda juga memiliki nilai tanda (sign value): ia dapat membawa makna tentang identitas, gaya hidup, status, dan bagaimana seseorang ingin dilihat. Pemikirannya tentang masyarakat konsumsi juga berkaitan erat dengan budaya media massa dan cara makna dibentuk melalui objek serta tanda.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Kalau pemikiran ini dibawa ke media sosial, kita bisa melihat sesuatu yang menarik. Bunga tetaplah bunga. Buku tetaplah buku. Kopi tetaplah kopi. Tetapi ketika benda-benda tersebut terus muncul dalam konteks tertentu, kita belajar membaca makna di baliknya. Kita tidak hanya melihat apa yang ada dalam foto, tetapi juga kehidupan seperti apa yang ingin direpresentasikan melalui foto tersebut.

Pada titik tertentu, representasi tersebut bahkan bisa mulai memengaruhi pengalaman kita sendiri.

Awalnya mungkin sederhana: seseorang menikmati pagi, kemudian mengunggahnya.

Namun setelah kita berkali-kali melihat gambaran tentang “slow morning”, kita mulai memiliki bayangan tentang bagaimana pagi yang menyenangkan seharusnya terlihat. Kopi harus terlihat cantik, kamar harus rapi, cahaya harus bagus, dan mungkin ada buku yang terbuka di samping laptop. Akhirnya, kita tidak hanya menjalani pengalaman lalu merekamnya. Kita bisa mulai membentuk pengalaman agar sesuai dengan gambaran yang sebelumnya sudah kita lihat.

Di sinilah pemikiran Baudrillard tentang simulasi mulai terasa relevan. Menurut Baudrillard, sesuatu yang kita lihat sebagai gambaran tentang realitas lama-kelamaan bisa lebih dari sekadar “gambaran”. Apa yang terus kita lihat dan temui dapat ikut membentuk cara kita memahami kehidupan yang sebenarnya.

Kalau kita kaitkan dengan media sosial, kita bisa melihat bagaimana foto dan video yang terus menampilkan kehidupan yang estetik akhirnya membuat kita memiliki gambaran tertentu tentang seperti apa kehidupan yang “indah”, “bahagia”, atau “ideal”. Kita bukan hanya melihat kehidupan orang lain, tetapi perlahan belajar menggunakan gambaran tersebut untuk memahami kehidupan kita sendiri.

IKLAN

Source: Pinterest

Hal ini juga terlihat dalam budaya Instagramable. Sebuah penelitian yang menggunakan pemikiran Baudrillard menunjukkan bahwa foto dan video di Instagram tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan suatu pengalaman, tetapi juga dapat menciptakan makna dan gambaran tertentu tentang pengalaman tersebut.

Jadi, persoalannya bukan apakah apa yang kita lihat di media sosial itu nyata atau palsu.

Justru media sosial sudah menjadi bagian nyata dari kehidupan kita. Banyak pengalaman yang memang benar-benar terjadi dan kemudian kita bagikan. Romanticizing life juga tidak selalu buruk. Ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak, menikmati makanan yang kita suka, membeli bunga untuk diri sendiri, atau membuat rutinitas biasa terasa lebih berarti.

Yang perlu dipertanyakan adalah kapan representasi tersebut mulai menjadi standar untuk menilai kehidupan kita sendiri.

Ketika melihat kehidupan orang lain, kita mungkin mulai bertanya, “Kenapa hidupku tidak seperti itu?” Hari ketika kita bangun kesiangan, makan seadanya, mengerjakan tugas sampai malam, atau hanya ingin rebahan bisa terasa kurang menarik dibandingkan kehidupan yang kita lihat di layar. Padahal, kehidupan tersebut tidak menjadi lebih buruk hanya karena tidak memiliki pencahayaan yang bagus atau tidak sempat direkam.

Mungkin karena itu, kita tidak perlu berhenti mengunggah kehidupan. Kita juga tidak harus menganggap semua konten sebagai sesuatu yang palsu. Yang perlu kita sadari adalah bahwa apa yang terlihat di layar hanyalah salah satu bentuk representasi dari kehidupan, bukan keseluruhan realitasnya.

Sesekali mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita pergi ke suatu tempat karena benar-benar ingin berada di sana, atau karena tempat tersebut terlihat bagus ketika difoto? Apakah kita menikmati sunset, atau justru sibuk mencari sudut terbaik untuk mengabadikannya? Apakah kita membeli bunga karena benar-benar ingin menikmatinya, atau karena bunga telah menjadi bagian dari gambaran tentang kehidupan yang “seharusnya” kita miliki?

Pada akhirnya, mungkin romanticizing life bukan tentang membuat hidup kita terlihat sempurna. Mungkin ia justru seharusnya menjadi cara untuk menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang sudah layak untuk dinikmati, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya.

Karena mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Apakah hidupku cukup indah untuk diunggah?” 

Melainkan,

“Apakah hidupku tetap terasa berarti ketika tidak ada seorang pun yang melihat?”

Tentang Penulis  Mutiara Dinda Aisyah merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki ketertarikan pada kajian filsafat, khususnya dalam melihat fenomena kehidupan sehari-hari melalui perspektif filsafat dan pemikiran kritis.

Daftar Pustaka  Baudrillard, J. (1994). Simulacra and simulation (S. F. Glaser, Trans.). University of Michigan Press. https://doi.org/10.3998/mpub.9904

Baudrillard, J. (1998). The consumer society: Myths and structures. SAGE Publications. (Original work published 1970).

Christanti, M. F., Mardani, P. B., Cahyani, I. P., & Sembada, W. Y. (2021). “Instagramable”: Simulation, simulacra and hyperreality on Instagram post. International Journal of Social Service and Research, 1(4). https://doi.org/10.46799/ijssr.v1i4.59

Lin, Zuilin. (2025). Chinese pop culture’s development in the United States among Generation Z compared to South Korean pop culture. Frontiers in Communication.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/romanticizing-life-kita-sedang-menjalani-hidup-atau-membuatnya-terlihat-indah/97105/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.59 WITA

  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

Pilihan Editor

  1. 1 Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia
  2. 2

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

  3. 3

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  4. 4

    Ketika Karhutla Mengancam Masa Kecil: Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Anak Sekolah Dasar

  5. 5

    Birokrasi Seharusnya Memudahkan, Bukan Justru Menambah Beban Masyarakat dalam Mengurus Pelayanan Publik

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.