Penulis: Mutiara Dinda Aisyah
JurnalPost.com - Ketika tren “romanticizing life” membuat kita mempertanyakan kembali hubungan antara realitas dan kehidupan yang kita tampilkan di media sosial.
Bangun pagi, membuat kopi, membuka jendela, membaca buku, lalu mengerjakan tugas sambil mendengarkan lagu. Atau mungkin pergi ke kafe sendirian, membeli bunga untuk diri sendiri, menikmati sunset, dan mengabadikan semuanya dalam sebuah video pendek. Belakangan, hal-hal sederhana seperti ini semakin sering muncul dalam konten “romanticizing my life”, “day in my life”, maupun “morning routine” di media sosial. Fenomena romanticizing your life sendiri menjadi sebuah tren untuk membuat hari-hari biasa terasa lebih spesial dan terlihat indah. Tapi menariknya, semakin sering kita melihat gambaran tentang kehidupan yang “indah” di media sosial, semakin mudah pula kita membayangkan bahwa kehidupan yang indah memang seharusnya terlihat seperti itu.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan itu. Justru ada sesuatu yang menyenangkan dari belajar menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin kita lewatkan begitu saja. Secangkir kopi bisa dinikmati lebih pelan. Perjalanan pulang bisa terasa lebih menyenangkan. Hari yang biasa saja bisa diberi sedikit ruang untuk dinikmati.
Tapi kemudian saya mulai bertanya: ketika kehidupan yang indah terus-menerus ditampilkan di media sosial, apakah kita masih hanya belajar menikmati hidup, atau mulai belajar seperti apa hidup yang seharusnya terlihat?
Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan sederhana, tetapi cukup rumit: realitas dan representasi.
Apa yang kita lihat di media sosial tentu bukan keseluruhan kehidupan seseorang. Sebuah video “productive morning” mungkin benar-benar menunjukkan pagi yang dijalani seseorang. Ia memang bisa saja bangun pagi, membuat kopi, berolahraga, kemudian belajar. Namun, apa yang muncul di layar tetap merupakan bagian kehidupan yang dipilih untuk direkam, disusun, dan ditampilkan. Kita melihat beberapa menit dari sebuah hari, bukan keseluruhan pengalaman seseorang.
Artinya, bukan berarti konten tersebut palsu. Masalahnya justru muncul ketika representasi yang hanya merupakan sebagian dari kehidupan mulai kita perlakukan sebagai gambaran utuh tentang kehidupan itu sendiri.
Bayangkan berapa kali kita melihat konten tentang kamar yang selalu rapi, meja belajar yang estetik, kopi di pagi hari, buku yang sedang dibaca, olahraga, traveling, atau self-care. Lama-kelamaan, benda dan aktivitas tersebut tidak lagi terasa seperti sekadar benda dan aktivitas. Mereka mulai membawa makna tertentu. Kopi dan buku bisa terlihat seperti tanda kehidupan yang tenang dan intelektual. Pergi ke kafe bisa terlihat sebagai bagian dari kehidupan yang produktif. Traveling dapat terlihat seperti tanda bahwa seseorang sedang menjalani hidup dengan bebas dan menyenangkan.
Di sinilah pemikiran filsuf Prancis, Jean Baudrillard, menjadi menarik untuk digunakan.
Baudrillard melihat bahwa dalam masyarakat konsumsi, kita tidak hanya berhubungan dengan benda berdasarkan kegunaan praktisnya. Benda juga memiliki nilai tanda (sign value): ia dapat membawa makna tentang identitas, gaya hidup, status, dan bagaimana seseorang ingin dilihat. Pemikirannya tentang masyarakat konsumsi juga berkaitan erat dengan budaya media massa dan cara makna dibentuk melalui objek serta tanda.
Kalau pemikiran ini dibawa ke media sosial, kita bisa melihat sesuatu yang menarik. Bunga tetaplah bunga. Buku tetaplah buku. Kopi tetaplah kopi. Tetapi ketika benda-benda tersebut terus muncul dalam konteks tertentu, kita belajar membaca makna di baliknya. Kita tidak hanya melihat apa yang ada dalam foto, tetapi juga kehidupan seperti apa yang ingin direpresentasikan melalui foto tersebut.
Pada titik tertentu, representasi tersebut bahkan bisa mulai memengaruhi pengalaman kita sendiri.
Awalnya mungkin sederhana: seseorang menikmati pagi, kemudian mengunggahnya.
Namun setelah kita berkali-kali melihat gambaran tentang “slow morning”, kita mulai memiliki bayangan tentang bagaimana pagi yang menyenangkan seharusnya terlihat. Kopi harus terlihat cantik, kamar harus rapi, cahaya harus bagus, dan mungkin ada buku yang terbuka di samping laptop. Akhirnya, kita tidak hanya menjalani pengalaman lalu merekamnya. Kita bisa mulai membentuk pengalaman agar sesuai dengan gambaran yang sebelumnya sudah kita lihat.
Di sinilah pemikiran Baudrillard tentang simulasi mulai terasa relevan. Menurut Baudrillard, sesuatu yang kita lihat sebagai gambaran tentang realitas lama-kelamaan bisa lebih dari sekadar “gambaran”. Apa yang terus kita lihat dan temui dapat ikut membentuk cara kita memahami kehidupan yang sebenarnya.
Kalau kita kaitkan dengan media sosial, kita bisa melihat bagaimana foto dan video yang terus menampilkan kehidupan yang estetik akhirnya membuat kita memiliki gambaran tertentu tentang seperti apa kehidupan yang “indah”, “bahagia”, atau “ideal”. Kita bukan hanya melihat kehidupan orang lain, tetapi perlahan belajar menggunakan gambaran tersebut untuk memahami kehidupan kita sendiri.

Hal ini juga terlihat dalam budaya Instagramable. Sebuah penelitian yang menggunakan pemikiran Baudrillard menunjukkan bahwa foto dan video di Instagram tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan suatu pengalaman, tetapi juga dapat menciptakan makna dan gambaran tertentu tentang pengalaman tersebut.
Jadi, persoalannya bukan apakah apa yang kita lihat di media sosial itu nyata atau palsu.
Justru media sosial sudah menjadi bagian nyata dari kehidupan kita. Banyak pengalaman yang memang benar-benar terjadi dan kemudian kita bagikan. Romanticizing life juga tidak selalu buruk. Ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak, menikmati makanan yang kita suka, membeli bunga untuk diri sendiri, atau membuat rutinitas biasa terasa lebih berarti.
Yang perlu dipertanyakan adalah kapan representasi tersebut mulai menjadi standar untuk menilai kehidupan kita sendiri.
Ketika melihat kehidupan orang lain, kita mungkin mulai bertanya, “Kenapa hidupku tidak seperti itu?” Hari ketika kita bangun kesiangan, makan seadanya, mengerjakan tugas sampai malam, atau hanya ingin rebahan bisa terasa kurang menarik dibandingkan kehidupan yang kita lihat di layar. Padahal, kehidupan tersebut tidak menjadi lebih buruk hanya karena tidak memiliki pencahayaan yang bagus atau tidak sempat direkam.
Mungkin karena itu, kita tidak perlu berhenti mengunggah kehidupan. Kita juga tidak harus menganggap semua konten sebagai sesuatu yang palsu. Yang perlu kita sadari adalah bahwa apa yang terlihat di layar hanyalah salah satu bentuk representasi dari kehidupan, bukan keseluruhan realitasnya.
Sesekali mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita pergi ke suatu tempat karena benar-benar ingin berada di sana, atau karena tempat tersebut terlihat bagus ketika difoto? Apakah kita menikmati sunset, atau justru sibuk mencari sudut terbaik untuk mengabadikannya? Apakah kita membeli bunga karena benar-benar ingin menikmatinya, atau karena bunga telah menjadi bagian dari gambaran tentang kehidupan yang “seharusnya” kita miliki?
Pada akhirnya, mungkin romanticizing life bukan tentang membuat hidup kita terlihat sempurna. Mungkin ia justru seharusnya menjadi cara untuk menyadari bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang sudah layak untuk dinikmati, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya.
Karena mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah hidupku cukup indah untuk diunggah?”
Melainkan,
“Apakah hidupku tetap terasa berarti ketika tidak ada seorang pun yang melihat?”
Tentang Penulis Mutiara Dinda Aisyah merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki ketertarikan pada kajian filsafat, khususnya dalam melihat fenomena kehidupan sehari-hari melalui perspektif filsafat dan pemikiran kritis.
Daftar Pustaka Baudrillard, J. (1994). Simulacra and simulation (S. F. Glaser, Trans.). University of Michigan Press. https://doi.org/10.3998/mpub.9904
Baudrillard, J. (1998). The consumer society: Myths and structures. SAGE Publications. (Original work published 1970).
Christanti, M. F., Mardani, P. B., Cahyani, I. P., & Sembada, W. Y. (2021). “Instagramable”: Simulation, simulacra and hyperreality on Instagram post. International Journal of Social Service and Research, 1(4). https://doi.org/10.46799/ijssr.v1i4.59
Lin, Zuilin. (2025). Chinese pop culture’s development in the United States among Generation Z compared to South Korean pop culture. Frontiers in Communication.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda