Malang, JurnalPost.com – Penggunaan bahasa gaul di kalangan generasi muda saat ini dinilai semakin masif. Fenomena tersebut tercermin dalam hasil penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Brawijaya (UB), yakni Nurqomariah Alia A., Marsha Khalisha, Abdiel Surya R., Elsa Ochtavia Filbinah, dan Elida Rossa Al Harby.
Penelitian yang melibatkan responden berusia 18–21 tahun itu mengungkap bahwa bahasa nonformal telah menjadi bagian penting dalam komunikasi sehari-hari generasi muda. Berbagai istilah populer seperti “mager”, “gabut”, “gacor”, hingga serapan bahasa Inggris seperti “literally” dan “healing” kerap digunakan dalam percakapan informal.
Berdasarkan hasil wawancara yang dihimpun Nurqomariah dan tim, terdapat dua faktor utama yang mendorong masifnya penggunaan bahasa gaul. Pertama, pengaruh lingkungan pertemanan yang membuat bahasa gaul dianggap mampu membangun keakraban sosial. Kedua, peran platform digital seperti TikTok dan Instagram yang menjadi ruang penyebaran kosakata baru secara cepat.
Selain itu, generasi muda juga menilai bahasa gaul lebih santai, fleksibel, dan efisien dibandingkan bahasa Indonesia baku. Tidak heran jika ragam bahasa ini semakin melekat dalam aktivitas komunikasi harian mereka.
Meski menjadi bentuk kreativitas berbahasa di era digital, penggunaan bahasa gaul yang berlebihan tetap menimbulkan persoalan. Beberapa mahasiswa mengaku mulai mengalami kesulitan ketika harus memilih kosakata formal dalam penyusunan tugas akademik atau karya ilmiah. Kondisi ini menunjukkan adanya interferensi bahasa gaul terhadap kemampuan berbahasa baku.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan adanya kesadaran situasional atau code switching yang cukup baik di kalangan mahasiswa. Mayoritas responden mengaku mampu membatasi penggunaan bahasa gaul saat berada dalam situasi formal, seperti forum perkuliahan, presentasi ilmiah, maupun saat berkomunikasi dengan dosen dan orang yang lebih tua.
Melalui studi ini, Nurqomariah, Marsha, Abdiel, Elsa, dan Elida menilai bahasa gaul tidak perlu dihilangkan sepenuhnya karena merupakan bagian dari dinamika bahasa modern. Meski demikian, generasi muda tetap perlu mengasah kemampuan berbahasa Indonesia baku dengan membiasakan diri membaca literatur ilmiah dan teks resmi.
Kesadaran dalam memilih ragam bahasa sesuai konteks komunikasi menjadi kunci agar kompetensi bahasa nasional tetap terjaga di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan bahasa digital.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda