JurnalPost.com - Di prestasi akademik dan jadwal kuliah yang padat, jutaan mahasiswa menanggung beban yang tidak terlihat, sendirian dalam diam.
Saat alarm berbunyi di pagi hari, banyak mahasiswa terbangun bukan dengan semangat – melainkan dengan kecemasan yang sudah menunggu sejak malam sebelumnya. Tenggat tugas kuliah, ekspektasi orang tua, tekanan nilai akademik, dan tidak lupa dengan ketakutan akan masa depan menyatu menjadi beban yang sulit untuk diungkapkan apalagi ditanggung bersama.
Universitas kerap digambarkan sebagai fase untuk menentukan dalam kehidupan seseorang. Namun dibalik narasi “masa muda yang penuh potensi”, terdapat banyak realita tersembunyi yang jarang disorot: kesehatan mental mahasiswa sedang berada dalam krisis yang sunyi.
Di kampus, mahasiswa terbiasa mengukur segalanya dari segi nilai, IPK, jumlah SKS, hingga waktu wisuda. Tapi ada satu hal yang hampir tidak pernah kita hitung – seberapa banyak mahasiswa yang sesungguhnya tidak baik-baik saja.
Berita ini adalah upaya untuk mendengar apa yang selama ini tidak terucap. Untuk memberi ruang bagi suara-suara yang terlalu lama hanya bergema di kepala sendiri.
Di balik tuntutan akademik dan kehidupan kampus yang padat, isu terkait kesehatan mental mahasiswa semakin menjadi isu yang perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI tahun 2024, sebanyak 36,5 % mahasiswa mengalami gangguan kesehatan mental, mulai dari kecemasan tingkat tinggi, depresi berat, hingga ke level sangat tinggi.
Kondisi tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Universitas Mulawarman pada tahun 2025 yang menunjukkan bahwa sekitar 15,5 juta remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, termasuk didalamnya mahasiswa.
Masa perkuliahan yang seharusnya menjadi fase tempat mahasiswa mengembangkan diri, mendapatkan pengalaman dan mencari relasi justru sering kali diiringi dengan tekanan dan kecemasan yang dipendam sendiri oleh para mahasiswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental di lingkungan pendidikan tidak lagi bisa dianggap sebagai isu sepele, dikarenakan dampaknya bisa sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan mahasiswa.

Faktor penyebab yang memengaruhi kesehatan mental mahasiswa cukup beragam. Salah satunya adalah beban akademik yang berat, seperti tugas, proyek, presentasi, dan ujian dengan tenggat waktu ketat yang dapat menyebabkan stres dan kelelahan mental. Selain itu, ekspektasi tinggi dari keluarga dan masyarakat membuat mahasiswa merasa takut gagal dan kehilangan rasa percaya diri.
“Persoalan mental health pada mahasiswa tidak bisa dipandang sebagai masalah individu semata. Fenomena kompleks ini dipengaruhi juga oleh tekanan sosial, psikologis, dan struktural yang saling berkaitan,” ujar Dr Yulina Eva Riani sebagai Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) Universitas IPB.
“Tentunya faktor lain menambah tekanan akademis entah dari keluarga ataupun organisasi juga ekspektasi sosial sendiri membuat saya sangat tertekan bahkan lebih tertekan daripada ekspektasi dalam kegiatan akademik,” ucap salah seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam wawancara singkat pada Minggu (10/5/2026).
Persaingan antar mahasiswa juga menjadi faktor penting karena lingkungan yang kompetitif dan pengaruh media sosial sering membuat mahasiswa membandingkan diri dengan orang lain. Kurangnya kesadaran tentang kesehatan mental serta stigma untuk mencari bantuan profesional membuat banyak mahasiswa memendam masalah mereka sendiri. Di sisi lain, tekanan finansial akibat biaya kuliah dan kebutuhan hidup yang tinggi juga dapat menambah stres dan mengganggu fokus akademik mahasiswa.
Tekanan dan tantangan yang dialami mahasiswa ini dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka. Banyak mahasiswa yang mengalami stress, anxiety, dan burnout akibat tekanan yang terus menerus yang kemudian berdampak pada psikologis dan perilaku mereka, seperti overthinking, ketakutan akan kegagalan, kehilangan motivasi, dan kesulitan berkonsentrasi. Beberapa orang juga cenderung menunda-nunda pekerjaan atau menarik diri dari interaksi sosial karena merasa kelelahan secara mental dan emosional akibat terus menerus menghadapi tekanan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit mental yang lebih serius seperti depresi. Karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran akan kesehatan mental serta menyediakan akses ke layanan dukungan emosional untuk membantu mahasiswa menjaga kesehatan mental mereka serta mengatasi tekanan akademik dengan lebih efektif. Hal ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Good Health and Well-Being dan SDG 4 tentang Quality Education karena kesehatan mental yang baik merupakan bagian penting bagi suatu individu dalam menempuh proses pendidikan yang optimal.
Seiring meningkatnya tekanan akademik di perguruan tinggi, sejumlah universitas di Indonesia mulai mengadakan program dukungan sebagai bentuk kepedulian kampus terhadap kesehatan mental mahasiswa. Di antara jajaran universitas tersebut meliputi Universitas Negeri Semarang, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Islam Indonesia, dan Universitas Raharja. Adapun program-program yang dilakukan seperti layanan konseling gratis, pelatihan mindfulness, dan ruang relaksasi. Adanya program layanan ini diharapkan mampu mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa.
“Menurut saya, di kampus saya sudah ada beberapa layanan kesehatan gratis yang diperuntukan untuk mahasiswa yang membutuhkan konseling. Seperti contohnya Fisip Wellnes Unit (FWU) yang fokus pada kesehatan mental dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus khususnya di UNDIP,” ujar salah satu mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) pada wawancara singkat Minggu (10/5/2026). UNNES, dll
Kesehatan mental bukanlah hal yang dapat dianggap remeh di tengah tekanan akademik dan kehidupan kampus yang padat. Faktor-faktor seperti beban tugas, ekspektasi keluarga, persaingan sosial, hingga tekanan finansial dapat menjadi penyebab masalah kesehatan mental pada mahasiswa. Kondisi ini menyebabkan banyak mahasiswa di Indonesia mengalami stres, anxiety, burnout, kehilangan motivasi, hingga gangguan mental yang lebih serius. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, dukungan dari lingkungan kampus, serta tersedianya layanan kesehatan mental menjadi hal yang penting untuk membantu mahasiswa menghadapi tekanan akademik.
Penulis: 1. Meisya Nabila Diyaana (2302040036) 2. Yasmin Alan Nooraliya (2302040041) 3. Fina Mazaya Zulfa (2302040048) 4. Refadina Putri Paramita (2302040059) 5. Hasanah Salsabila Rizkia (2302040063) 6. Clarida Zukhruf Miftahul Faza (2302040072) 7. Lutfiah Farah Rabani Lassintha (2302040180)
Organisasi: Universitas Negeri Semarang
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda