Semarang, JurnalPost.com - Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (FK UNNES) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Model Pemberdayaan Kesehatan Kerja Berkelanjutan Berbasis Toksikologi Industri untuk Perlindungan Pekerja Rentan dalam Kerangka Asta Cita dan Sustainable Development Goals”. Kegiatan ini digelar di Semarang, Selasa (23/6/2026).
Program tersebut menjadi bentuk kontribusi FK UNNES dalam memperkuat perlindungan kesehatan kerja, terutama bagi pekerja rentan yang berpotensi terpapar bahaya di lingkungan kerja.
Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh Lutfi Muzaqi, S.K.M., M.K.K.K. Dalam pelaksanaannya, tim pengabdi memberikan edukasi, membuka ruang diskusi, serta melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi kerja di lapangan.
Berdasarkan dokumentasi kegiatan, tim pengabdi memberikan pemaparan materi kepada peserta, berdialog dengan pekerja, dan meninjau praktik kerja yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan, penggunaan alat pelindung diri (APD), hingga potensi paparan risiko kerja.
Program ini berangkat dari pentingnya peningkatan kesadaran pekerja terhadap risiko kesehatan akibat paparan bahan berbahaya, kondisi kerja yang tidak ergonomis, serta perilaku kerja yang belum sepenuhnya memperhatikan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja.
Melalui pendekatan toksikologi industri, para pekerja diberikan pemahaman mengenai potensi dampak paparan zat berbahaya terhadap kesehatan. Mereka juga diajak mengenali sumber risiko di tempat kerja serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan secara sederhana dan berkelanjutan.
Ketua tim pengabdi, Lutfi Muzaqi, mengatakan kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyuluhan. Menurutnya, program tersebut juga diarahkan untuk membangun kesadaran kolektif pekerja agar mampu melindungi diri dari risiko kesehatan kerja.
“Pekerja rentan sering kali menghadapi risiko kesehatan kerja yang tidak selalu terlihat secara langsung. Karena itu, kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman pekerja mengenai bahaya paparan di tempat kerja, pentingnya penggunaan alat pelindung diri, serta penerapan perilaku kerja aman sebagai bagian dari budaya kesehatan kerja yang berkelanjutan,” ujar Lutfi.
Lutfi menambahkan, pemberdayaan pekerja menjadi kunci dalam upaya perlindungan kesehatan kerja. Perlindungan terhadap pekerja, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian informasi.
Menurutnya, pekerja juga perlu didorong untuk mengubah perilaku, berpartisipasi aktif, serta memiliki kemampuan mengenali risiko di lingkungan kerjanya sendiri.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini dinilai sejalan dengan sejumlah agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Program tersebut mendukung SDG 3: Good Health and Well-being melalui upaya pencegahan gangguan kesehatan akibat paparan bahaya kerja.
Selain itu, kegiatan ini juga relevan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth. Perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerja menjadi bagian penting dalam menciptakan pekerjaan yang layak.
Aspek edukasi mengenai proses kerja yang aman dan bertanggung jawab juga berkaitan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production, terutama dalam mendorong praktik produksi yang memperhatikan kesehatan manusia dan lingkungan kerja.
Melalui kegiatan ini, FK UNNES menegaskan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi persoalan nyata di masyarakat.
Pemberdayaan kesehatan kerja berbasis toksikologi industri diharapkan dapat menjadi model intervensi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan pekerja, tetapi juga memperkuat budaya kerja sehat, aman, dan berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda