
Penulis: Raissa Aliyarahman
Universitas Pendidikan Indonesia
JurnalPost.com – Ketika kita duduk di bangku SMA kelas 12, pasti ada dilema saat memilih jurusan di jenjang berikutnya alias perguruan tinggi. Sebuah fase yang hampir dialami oleh semua ‘agit’. Kenapa sih kita sering ngerasa bingung nentuin jurusan? Memang sih, keputusan ini jadi salah satu yang krusial karena menyangkut masa depan kita. Fenomena ini ternyata sangat menarik jika ditelisik dari sudut pandang eksistensialisme Martin Heidegger. Yuk kita bahas!
Heidegger menyebut manusia sebagai dasein, yang merujuk pada satu-satunya entitas yang dapat menyadari dan merefleksikan keberadaannya sendiri sebagai sesuatu yang ada. Namun, manusia (dasein) tidak hidup terpisah dengan orang lain. Sedari awal, manusia berada di tengah sosial yang dipengaruhi nilai-nilai di sekitarnya. Saat memilih jurusan, tentunya banyak pertimbangan dan pengaruh dari lingkungan terutama orang tua. Mereka seringkali kasih pilihan jurusan yang “bergengsi” di kalangan masyarakat, entah demi status sosial atau gengsi semata.
Bisa dibilang, banyak dari kita yang jatuh pada Das Man (the “they”) yang merujuk pada kerumunan anonim, di mana kita melebur mengikuti arus kebiasaan dan ekspektasi masyarakat tanpa merefleksikan diri sendiri. “Masuk jurusan kedokteran aja, kayak si A” “Pilih IT aja, biar nanti gajinya gede” akhirnya semua orang berbondong-bondong masuk jurusan tertentu karena didikte oleh standar kesuksesan di masyarakat. Padahal, jurusan itu mungkin sama sekali bukan keinginan kita, bahkan di bayangan kita pun enggak. Tapi karena adanya konformitas, kita secara sadar memilih sesuatu bukan atas kehendak kita melainkan atas dasar tuntutan dan ekspektasi lingkungan.
Salah satu cara kerja Das Man ialah Einebnung atau Levelling Down, yang berarti perataan. Semua hal yang unik atau berbeda akan disamaratakan sesuai dengan standar yang berlaku. Dalam konteks ini, keberagaman minat, bakat, dan tujuan hidup individu diratakan oleh standar sosial yang tak kasat mata namun terasa mengikat. Kita ngerasa ada sebuah pergolakan antara apa yang benar-benar kita inginkan dan ekspektasi yang diberikan lingkungan terutama keluarga. Manusia yang sekadar ngikutin apa yang dilakukan orang lain tanpa mempertimbangkan pilihannya sendiri dikatakan sebagai dasein inautentik oleh Heidegger. Ialah orang-orang yang menyelaraskan diri ke dalam dunia yang telah dibentuk oleh kebiasaan dan ekspektasi sosial tanpa mempertanyakan makna dibaliknya, sehingga keberadaannya hanya mengikuti arus yang sudah ada.
Kalau seseorang lebih condong untuk memilih jurusan sesuai apa kata orang lain tanpa mempertimbangkan minat dan bakatnya, ia melarikan diri kepada cara pandang yang sudah dibentuk oleh dunia sosial (das man) dan hidup secara inautentik (uneigentlich). Ada kalanya kita juga mempertanyakan pilihan kita sendiri, “Apa ini bener-bener pilihanku? Apa ini yang aku mau?” Pertanyaan ini bisa memunculkan apa yang disebut angst oleh Heidegger. Beda dengan perasaan takut biasa, angst yakni perasaan cemas yang muncul akan sesuatu yang tidak memiliki objek yang jelas. Akan muncul perasaan bukan sekadar takut salah jurusan, tapi karena muncul kesadaran bahwa keputusannya akan menentukan arah hidupnya dan orang lain gak bisa nanggung konsekuensi dari pilihannya.
Namun, Heidegger justru ngeliat angst sebagai pintu menuju kehidupan yang autentik. Kalau kita berani menghadapi rasa gelisah itu, kita jadi bisa lebih jujur tentang apa yang kita mau dan kita suka. Dari situ, keputusan yang diambil jadi benar-benar pilihan kita sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan.
Kalau menurut Heidegger, gimana sih cara memilih sesuatu tanpa terjebak dalam Das Man dan tetap hidup secara autentik? Jawabannya mungkin agak mengejutkan, salah satunya yaitu dengan menyadari akan kematian. Heidegger menyebutnya Sein zum Tode (being-towards-death). Dengan menyadari adanya akan kematian, manusia juga menyadari bahwa hidup ini terbatas dan kematian itu gak bisa diwakilin orang lain. Kesadaran ini bikin kita jadi lebih berani ambil keputusan dan dukung kita menjadi dasein yang autentik.
Bayangin kalau kita hidup berpuluh-puluh tahun ngelakuin suatu hal yang bukan buat diri kita sendiri di kehidupan yang singkat ini. Orang lain itu cuma cameo aja, kita yang ngejalanin. Kuncinya bukan tentang apa yang kita pilih, tetapi tentang apakah pilihan itu benar-benar datang dari diri kita sendiri dan berani kita pertanggungjawabkan. Bukan berarti kita harus tutup telinga sama masukan dari lingkungan, tapi pastiin bahwa kita memilih jurusan atas dasar kemauan kita dan bisa kita jalanin dengan penuh tanggung jawab, terlepas dari apapun alasannya. Toh, kita tokoh utamanya kan?
REFERENSI
Jena, Y. (2015). MARTIN HEIDEGGER MENGENAI MENGADA SECARA OTENTIK DAN RELEVANSINYA BAGI PELAYANAN KESEHATAN. MELINTAS, 31(2), 107–129. https://doi.org/10.26593/mel.v31i2.1621.107-129
Levan, V., & Hadiwono, A. (2023). KONSEP EKSISTENSI-OTENTIK HEIDEGGER DALAM ARSITEKTUR: SEBUAH RUANG UNTUK MEMAHAMI KEHIDUPAN MELALUI KEMATIAN. JURNAL STUPA, 5(2), 889–900. https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24241



