• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Yakin Itu Pilihanmu? Belajar Memilih Jurusan dari Heidegger

Editor Redaksi
11 Agustus 2026
in Artikel

Penulis: Raissa Aliyarahman
Universitas Pendidikan Indonesia

JurnalPost.com – Ketika kita duduk di bangku SMA kelas 12, pasti ada dilema saat memilih jurusan di jenjang berikutnya alias perguruan tinggi. Sebuah fase yang hampir dialami oleh semua ‘agit’. Kenapa sih kita sering ngerasa bingung nentuin jurusan? Memang sih, keputusan ini jadi salah satu yang krusial karena menyangkut masa depan kita. Fenomena ini ternyata sangat menarik jika ditelisik dari sudut pandang eksistensialisme Martin Heidegger. Yuk kita bahas!

Heidegger menyebut manusia sebagai dasein, yang merujuk pada satu-satunya entitas yang dapat menyadari dan merefleksikan keberadaannya sendiri sebagai sesuatu yang ada. Namun, manusia (dasein) tidak hidup terpisah dengan orang lain. Sedari awal, manusia berada di tengah sosial yang dipengaruhi nilai-nilai di sekitarnya. Saat memilih jurusan, tentunya banyak pertimbangan dan pengaruh dari lingkungan terutama orang tua. Mereka seringkali kasih pilihan jurusan yang “bergengsi” di kalangan masyarakat, entah demi status sosial atau gengsi semata.

Bisa dibilang, banyak dari kita yang jatuh pada Das Man (the “they”) yang merujuk pada kerumunan anonim, di mana kita melebur mengikuti arus kebiasaan dan ekspektasi masyarakat tanpa merefleksikan diri sendiri. “Masuk jurusan kedokteran aja, kayak si A” “Pilih IT aja, biar nanti gajinya gede” akhirnya semua orang berbondong-bondong masuk jurusan tertentu karena didikte oleh standar kesuksesan di masyarakat. Padahal, jurusan itu mungkin sama sekali bukan keinginan kita, bahkan di bayangan kita pun enggak. Tapi karena adanya konformitas, kita secara sadar memilih sesuatu bukan atas kehendak kita melainkan atas dasar tuntutan dan ekspektasi lingkungan.

Salah satu cara kerja Das Man ialah Einebnung atau Levelling Down, yang berarti perataan. Semua hal yang unik atau berbeda akan disamaratakan sesuai dengan standar yang berlaku. Dalam konteks ini, keberagaman minat, bakat, dan tujuan hidup individu diratakan oleh standar sosial yang tak kasat mata namun terasa mengikat. Kita ngerasa ada sebuah pergolakan antara apa yang benar-benar kita inginkan dan ekspektasi yang diberikan lingkungan terutama keluarga. Manusia yang sekadar ngikutin apa yang dilakukan orang lain tanpa mempertimbangkan pilihannya sendiri dikatakan sebagai dasein inautentik oleh Heidegger. Ialah orang-orang yang menyelaraskan diri ke dalam dunia yang telah dibentuk oleh kebiasaan dan ekspektasi sosial tanpa mempertanyakan makna dibaliknya, sehingga keberadaannya hanya mengikuti arus yang sudah ada.

Kalau seseorang lebih condong untuk memilih jurusan sesuai apa kata orang lain tanpa mempertimbangkan minat dan bakatnya, ia melarikan diri kepada cara pandang yang sudah dibentuk oleh dunia sosial (das man) dan hidup secara inautentik (uneigentlich). Ada kalanya kita juga mempertanyakan pilihan kita sendiri, “Apa ini bener-bener pilihanku? Apa ini yang aku mau?” Pertanyaan ini bisa memunculkan apa yang disebut angst oleh Heidegger. Beda dengan perasaan takut biasa, angst yakni perasaan cemas yang muncul akan sesuatu yang tidak memiliki objek yang jelas. Akan muncul perasaan bukan sekadar takut salah jurusan, tapi karena muncul kesadaran bahwa keputusannya akan menentukan arah hidupnya dan orang lain gak bisa nanggung konsekuensi dari pilihannya.

Namun, Heidegger justru ngeliat angst sebagai pintu menuju kehidupan yang autentik. Kalau kita berani menghadapi rasa gelisah itu, kita jadi bisa lebih jujur tentang apa yang kita mau dan kita suka. Dari situ, keputusan yang diambil jadi benar-benar pilihan kita sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan.

Kalau menurut Heidegger, gimana sih cara memilih sesuatu tanpa terjebak dalam Das Man dan tetap hidup secara autentik? Jawabannya mungkin agak mengejutkan, salah satunya yaitu dengan menyadari akan kematian. Heidegger menyebutnya Sein zum Tode (being-towards-death). Dengan menyadari adanya akan kematian, manusia juga menyadari bahwa hidup ini terbatas dan kematian itu gak bisa diwakilin orang lain. Kesadaran ini bikin kita jadi lebih berani ambil keputusan dan dukung kita menjadi dasein yang autentik.

Bayangin kalau kita hidup berpuluh-puluh tahun ngelakuin suatu hal yang bukan buat diri kita sendiri di kehidupan yang singkat ini. Orang lain itu cuma cameo aja, kita yang ngejalanin. Kuncinya bukan tentang apa yang kita pilih, tetapi tentang apakah pilihan itu benar-benar datang dari diri kita sendiri dan berani kita pertanggungjawabkan. Bukan berarti kita harus tutup telinga sama masukan dari lingkungan, tapi pastiin bahwa kita memilih jurusan atas dasar kemauan kita dan bisa kita jalanin dengan penuh tanggung jawab, terlepas dari apapun alasannya. Toh, kita tokoh utamanya kan?

REFERENSI

Jena, Y. (2015). MARTIN HEIDEGGER MENGENAI MENGADA SECARA OTENTIK DAN RELEVANSINYA BAGI PELAYANAN KESEHATAN. MELINTAS, 31(2), 107–129. https://doi.org/10.26593/mel.v31i2.1621.107-129

Levan, V., & Hadiwono, A. (2023). KONSEP EKSISTENSI-OTENTIK HEIDEGGER DALAM ARSITEKTUR: SEBUAH RUANG UNTUK MEMAHAMI KEHIDUPAN MELALUI KEMATIAN. JURNAL STUPA, 5(2), 889–900. https://doi.org/10.24912/stupa.v5i2.24241

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.